
Selesai makan siang yang penuh dengan canda tawa karena siang itu semua keluarga berkumpul kecuali om John yang sedang ada urursan di luar, Bara mengajak Varel dan Adel mengobrol di ruang keluarga.
Di sela-sela obrolan mereka, Bara ingat sesuatu, "O ya, Ada sesuatu yang ingin aku berikan kepada kalian sebagai hadiah pernikahan, sebentar!" ucapnya. Ia langsung berdiri dan berlari kecil menuju ruang kerjanya dan kembali dengan sebuah map kecil di tangannya.
Bara kembali duduk di samping sang istri. " Ini hadiah dari kami buat kalian, bukalah!"ucapnya. Menyodorkan map yang ia bawa ke atas meja yang ada di depan mereka.
Varel mengambil map yang tergeletak di atas meja tersebut. Ia membukanya dan....
" Kak, ini?" Varel merasa perlu mempertegas dugaannya.
" Ya, hotel yang ada di kota B, aku berikan untuk kamu. Anggap ini sebagai hadiah atas pernikahan kamu sama Adel," jelas Bara.
Tentu saja, baik Varel maupun Adel terkejut mendengarnya. Terutama Varel. Bagimana bisa hotel yang selama ini ia kelola di berikan kepadanya begitu saja oleh sang kakak.
Varel dan Adel saling tatap tak percaya. Varel kembali menatap Bara, "tapi, kak... Ini terlalu berlebihan. Maaf aku tidak bisa menerimanya," ucapnya. Ia merasa tidak pantas menerima hadiah sebesar itu. Selama ini, Bara sudah begitu baik kepada dia dan bu Lidya. Bahkan Varel pernah di kasih sebagian saham yang ada di Osmaro Corp.
"Iya kak, ini terlalu berlebihan.kami...."
belum Adel selesai bicara, Syafira sudah memotongnya. "Terimalah Rel, dek! Anggap ini sebagai bonus atas kerja keras Varel selama ini membantu mas Bara," ucapnya.
"Tapi, Fir... Aku tidak bisa menerimanya. Aku tetap akan mengelolanya dengan baik, tapi bukan berarti aku harus memilikinya, ini terlalu berlebihan, aku nggak bisa," Varel tahu, hotel tersebut adalah milik Syafira sebenarnya. Bara memberikannya kepada Syafira sebagai hadiah ulang tahunnya. Tapi, karena Syafira tak mungkin mengurusnya sendiri, ia mempercayakannya pada Varel selama ini. Dan sekarang ia memberikannya secara utuh pada Varel. Varel merasa tak pantas menerimanya. Ia tidak seserakah itu.
"Kami tidak menerima penolakan. Aku sudah membicarakan ini sama Syafira. Dia sendiri yang ingin memberikan hotelnya padamu, Rel," ucap Bara. Sebelumnya ia mengatakan jepada Syafira akan memberi Varel salah satu properti miliknya, tapi Syafira bilang lebih baik hotek ybg ada di kota B saja karena nantinya Varel dan Adel akan menetap di sana dan Bara setuju.
__ADS_1
"Iya, aku akan senang kalau kalian mau menerimanya. Hanya ini yang bisa aku berikan untuk kalian. Terima, ya?" ucap Syafira.
Varel kembali menatap sang istri. Adelia mengangguk, meskipun ia juga merasa tak pantas menerimanya. Tapi, mungkin dengan Varel mnerimanya akan membuat sang kakak bahagia.
"Baiklah, aku menerimanya. Aku... Nggak tahu lagi harus bicara apa. Rasanya ucapan terima kasih saja takk cukup," ucap Varel. Ia jadi ingat almarhumah kakaknya. Meski sang kakak sudah lama tidak ada, tapi Bara selalu memperlakukannya layaknya adik kandung. Di tambah lagi Syafira yang begitu baik, wanita yang tak pernah berusaha menyingkirkan nama sang kakak dari hidup Bara. Ia benar-benar merasa beruntung memiliki keluarga sebaik mereka.
Syafira tersenyum mendengarnya, "Kamu cukup bahagiakan Adel. Aku akan senang dan tenang. Maaf atas sikapku kemarin yang kemarin sempat menentangmu, Rel," ucapnya.
Bagi Syafira, hotel tersebut tak lebih berharga daripada kebahagiaan sang adik. Lagipula, ia masih punya properti yang lain yang ia miliki atas namanya sendiri. Dan semua itu tak lepas dari bukti cinta Bara untuknya yang telah menjadi ibu untuk keempat anak mereka.
"Kalau itu, pasti Fir. Aku akan selalu berusaha yang terbaik!"
"Kakak, makasih,'' Adel memeluk Syafira. Ia tak bisa menahan air matanya.
Dalam hati, Syafira berkata, "Ayah, lihatlah! Syafira berhasil mengurus Adelia sesuai amanah ayah. Dan sekarang, Syafira menyerahkannya pada Varel yang akan melanjutkan tugas Syafira. Ayah tenang ya, di sana. Di sini anak-anak ayah sudah bahagia,'' air matanya menetes ketika mengingat almarhum sang ayah.
.
.
.
Sore harinya, pasangan pengantin baru itu benar-benar akan kembali ke kota B. Sebenarnya Syafira berat untuk kembali melepas sang adik. Tapi, kali ini berbeda, Adelia pergi bersama kebahagiannya, bukan lukanya seperti yang sudah-sudah.
__ADS_1
Varel, Adel, bu Lidya dan Tristan tengah bersiap menuju bandara. Sembari menunggu koper di masukkan ke mobil, mereka berpamitan pada Syafira dan Bara yang tidak bisa mengantar ke bandara. Om John yang akan mengantar mereka ke bandara.
"Apa kalian tidak bisa tinggal di sini saja? ibuk kenapa harus kembali ke sana juga?" Syafira masih belum rela melepas kepergian Adel dan yang lainnya. Pasalnya bu Lidya dan Tristan juga akan meninggalkan Jakarta sore itu. Ia benar-benar akan merasa kehilangan.
"Maaf, Fir. Tapi, aku tetap harus membawanya pergi. Aku tidak bisa jauh darinya mulai sekarang. Masa iya, kamu tega membiarkan pengantin baru ini LDR kalau Adel tetap tinggal di sini, '' ucap Varel bercanda.
" ish, iya iya percaya yang pengganti baru! '' cebik Syafira.
"Kakak kan bisa sering-sering berkunjung ke sana, atau aku yang akan ke sini,"
"iya, Fir. Nanti kan ibuk juga sering-sering ke Jakarta. Atau... Kalau nggak, kamu aja yang pindah ke kota B?"
"Nggak! Itu bukan ide yang bagus, ma. Biarpun Bara dan Fira pengantin lama, tapi juga nggak mau LDRan. Bara nggak setuju! Jangan jasih ide yang aneh-aneh! Nanti Fira benar-benar kepikiran buat menetap di sana lagi,"
"Ya, kamu ikut menetap disanalah, kok susah amat! kan orang kaya bebas!"
Bara mendengus, ia menoleh melihat om John yang sedang menggendong Tristan, "ajarin istri om nih buat nggak ngadi-adi. Jangan buat aturan baru!'' ucapnya. Tentu saja bercanda. Sikapnya pada ibu mertuanya memang tak berubah. Pun dengan bu Lidya kepadanya.
Om John hanya dam tak benar-benar menanggapi ucapan Bara. Ia memilih fokus pada putra kecilnya karena sebentar lagi akan berpisah. Om John belum bisa ikut ke kota B karena pekerjaan di Jakarta masih banyak.
"Sudah-sudah! Lagian siapa juga yang mau pindah ke kota B sih? Mas Bara iseng banget sama mama!" lerai Syafira.
Sedangkan Varel dan Adel, sepasang pengantin baru yang sedang di mabuk cinta itu tak mempedulikan keributan yang terjadi. Mereka kini sudah masuk ke dalam mobil yang akan mengantar ke bandara dan sayang-sayangkan di dalam. Benar-benar lagi dalam fase seakan dunia milik mereka berdua. Yang lainnya ngontrak.
__ADS_1
...****************...