
Setelah merasa Adel sedikit tenang dan bisa menerima benda asing dalam intinya tersebut, perlahan Varel mulai bergerak. Berpacu dalam ritme yang teratur.
Emang dasarnya Varel yang belum Berpengalaman, penginnya gas aja cepat. Yang tadinya pelan langsung buru-buru. Membuat Adel teriak protes.
"Sakit abang!" Protes Adelia.
"Maaf,"
Akhirnya, Varel berusaha bermain sehalus mungkin demi menjaga keamanan dan kenyamanan bersama. Salah-salah malah dia bisa di tendang sama Adel dan permainan akan berakhir di tengah jalan.
Waktu terus bergulir, Namun, Varel masih belum menuntaskan apa yang sedang ia lakukan. Adel merasa seluruh tubuhnya remuk redam akibat ulah suaminya. Setelah ini panggil tukang pijat kayaknya enak, pikirnya. Tubuhnya benar-benar merasa lelah. Mungkin karena baru pertama kali.
Adel ingin segera menyudahi permainan mereka. Pasalnya, yang di katakan orang bahwa lama-lama ia akan merasa nikmat itu tak sepenuhnya benar. Nyatanya, ia tetap ada merasakan sakit di tengah rasa nikmat tersebut.
Adel berpikir, ia pasti akan segera pingsan jika Varel terus memompanya seperti ini. Tapi, untuk protes dan meminta berhenti, rasanya kasihan melihat wajah suaminya tersebut yang sudah nanggung.
Varel tahu kalau sebenarnya sang istri belum benar-benar menikmati permainan ini seutuhnya. Ia segera memacu tubuhnya lebih cepat. Adel pun tak malu-malu lagi mengeluarkan suara merdunya yang terpancing akibat gerakan Varel yang semakin tak beraturan tersebut. Sesekali pria itu mencium bibir Adel penuh napsu.
Varel terus memacu semakin dalam dan dalam hingga rasanya mentok. Tubuhnya tiba-tiba menegang dan...
Aaahhhh...
Varel mengerang, tubuhnya bergetar hebat saat sesuatu dalam dirinya meledak.
Akhirnya Varel berhasil menyelesaikan misi pertamanya. Yaitu menyemburkan lahar panas pada rahim sang istri. Rawa pun semakin banjir akibat muntahan lahar panas tersebut.
Varel memeluk erat tubuh polos penuh keringat Adelia, "Terima kasih, sayang. I love you!" bisiknya dengan nada parau lalu mencium kening Adel yang basah oleh peluh.
Adel hanya bisa mengangguk, ia terlalu lelah untuk bersuara.
Varel mencium bibir Adel sebagi sesi penutup sesi berkelananya di rawa milik sang istri.
Noda merah pada sprei berwarna putih bersih itu menandakan bahwa memang dialah pria pertama yang melakukannya.
.
.
.
Dua insan yang baru saja selesai memadu kasih itu kini sedang tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing dengan posisi dimana Adel kini menyandarkan kepalanya pada dada bidang Varel.
Tubuh mereka masih sama-sama polos. Sebuah selimut mereka gunakan untuk menutupi tubuh mereka.
Baik Varel maupun Adel saling diam. Mereka masih malu jika ingat apa yang baru saja mereka lakukan.
Varel terus mengatupkan bibirnya karena ia terlau senng malam ini karena setelah sekian purnama, akhirnya ia bisa merasakan juga apa yang sering orang sebut dengan surga dunia tersebut. Sementara Adel, wanita itu masih terngiang-ngiang kegiatan panas mereka barusan. Rasanya malu seka selamat kalau ingat.
Varel mengusap-usap lembut rambut Adel dalam diamnya.
Keduanya masih saling mengatur napas masing - masing. Hingga entah siapa yang merem duluan, tahu-tahu hari sudah pagi saja.
Varel bangun terlebih dahulu. Karena semalam mendapat vitamin, pagi ini ia semangat sekali. Wajahnya berseri mengalahkan sinar matahari yang mulai merangkak naik ke peraduannya.
Di kamar mandi, Varel melihat bekas cakarang dahsyat dari sang istri. Rasanya perih saat terkena air dan sabun. Tapi, tidak apa-apa, semuanya terbayarkan oleh kenikmatan tiada tara yang ia dapatkan semalam.
Saat Varel sedang membersihkan diri, Adel membuka kedua matanya. Ia langsung melihat ke dalam selimut yang menutupi tubuhnya. Ia langsung tersenyum mengingat kembali pergulatan semalam. Bersamaan dengan itu, Varel keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Karena malu, Adel langsung menenggelamkan wajahnya di balik selimut. Ia pura-pura masih tidur. Tapi, sayangnya Varel sudah melihat ia membuka mata tadi. Bahkan pria tersebut melihat tingkah lucunya barusan.
Varel medekati ranjang. Ia duduk tepat di samping Adel,"Morning," ucapnya sembari membuka selimut yang menutupi wajah sang istri. Ingin rasanya Varel tertaw melihat usaha Adelia yang masih berpura-pura tidur, padahal matanya berkedip-kedip.
"Bangun, ayo mandi! Atau mau lagi mengulang yang semalam?" bisik Varel di telinga Adel.
Plak!
Adel langsung menabok lengan Varel, "Apa sih, masih sakit juga ini," ucapnya langsung cemberut.
Varel terkekeh, "Kenapa? Bukannya enak ya? Buktinya samalam kamu teriak keenakan! Uh ah abang, berhenti terlalu enak!" Varel menggoda sang istri sembari merapikan rambut wanita itu.
"ish, nggak usah di bilangin juga kali, bang. Bikin malu aja! Lagian tetap aja sakit, bohong tuh yang bilang enak setelahnya, tetap ada sakitnya," keluh Adel.
"sepertinya abang harus berterima aksih sma slamet,"
"Justru aku mau kasih bogem sama dia, gara-gara dia aku jadi remuk semua badan, sakit pula ini rasanya,"
Varel meringis, "Tapi kan jamu duluan semalam yang bilang ayo lakukan!"
"Iya, itu kan juga karena film lucknut dari Rasel!"
" berarti harus berterima kasih dong. Setelahnya emang enggak sakit, mau coba lagi? Kita buktiin, gimana?" goda Varel.
"Ih, ini aja masih bengkak kayaknya, kayak ada yang ganjel gitu rasanya, abang. Juga belum sembuh, kayaknya perlu ke dokter deh, sampai berdarah gitu tadi malam. Abang tega!" ucap Adel. Mengingat sakitnya semalam, ia yakin ada yang luka di dalam.
"Mana sini coba abang lihat, apa yang ganjel? Bengkak beneran enggak? Abang periksa. Kalau di periksakan ke dokter, yang ada dokter nertawain kamu, sayang," Varel membelai rambut Adel penuh sayang.
"Ish, masa orang sakit di ketawain. Kan tugasnya dokter buat nyembuhin," omel Adel.
"Ya karena dokter akan tahu kalau semalam kita uah-uah . Emang kamu nggak malu? Udah biar abang aja yang sembuhin, jangan dokter, bahaya!"
Adel terdiam. Ia memang benar-benar awam soal begituan.
"Coba lagi, yuk?" ucap Varel iseng. Tapi, kalau istrinya setuju, dia juga nggak nolak. Senang malah.
Adel langsung melotot, "ini masih sakit, abang!"
"Iya iya, sayang becanda. Tapi nanti kita harus sering-sering ya melakukannya. Biar kamu terbiasa juga. Dan juga, abang oengin cepat punya baby yang lucu-lucu kayak kamu. Pengin punya Adelia dalam bentuk mini sachet," Varel menoel pipi Adel gemas. Wanita tersebut langsung bersemu merah pipinya.
" Emang abang mau secepat itu aku hamil?" tanya Adel. Sedikit banyak apa yang terjadi apdanya waktu kecil dimana ibunya dengan tega meninggalkannya sehingga mengharuskannya di asuh oleh kakaknya yang juga masih kecil menimbulkan rasa trauma pada dirinya.
" Umur abang udah nggak muda lagi, sayang. Kalau di tunda lagi lebih lama, abang takutnya nanti anak abang salah sebut waktu manggil abang. Bukannya panggil papa tapi opa. Cukup Tristan aja yang suka iseng begitu," ujar Varel.
Adel hanya tersenyum tipis dan mengangguk.
" Sekarang mandi, ya? Abang udah siapkan air hangat buat kamu. Berendam sebentar mungkin bisa membuat tubuh kamu lebih rilexs sebelum nanti kita melakukannya lagi. Karena abang mau kejar setoran!"
"Abaaaang,"
"Becanda, sayang!"
.
.
.
__ADS_1
Siangnya, Adel dan Varel sudah cek out dari hotel. Mereka kini sedang menuju ke kediaman Osmaro.
Saat sampai, rupanya keluarga Bara sedang makan siang. Karena ini weekend, makan semuanya kumpul makan siang di rumah.
"Helooo every body!" seru Varel yang baru saja datang dan menyapa kakk ipar dan keponakannya di meja makn.
"Roman-romannya ada yang berhasil belah duren nih, cerah bener auranya!" goda Bara.
"Iya dong, siapa dulu, Varel! Aw!" ucap Varel yang langsung mengaduh di kalimat terakhirnya karena mendapat cubitan dari Adel.
"dih, baru juga merasakan aja udah pamer. Aku loh, udah pengalaman diam aja," ucap Bara.
Varel hanya mencebikkan bibirnya mendengar sindiran Bara.
"Nyesel kan, kenapa baru skarang nikah? Setelah merasakan enaknya belah duren,"
"Nggaklah! Kalau dari dulu ngerasainya, mungkin nggak sama Adelia, beda cerita beda pula nanti rasanya!" sahut Varel.
"Kok udah pada pulang? Nggak nginap lagi di hotel? Kakak pikir mau beberapa hari lagi di sana," tanya Syafira, menyela obrolan absurd dua pria tersebut.
"Nggak kak, abang harus udah kembali ke kota B sore nanti. Jadi sengaja cek out siang ini biar bisa ke sini dulu," jawab Adel.
"Mas Nggak kasih cuti Varel emangnya?" Syafira menatap suaminya.
"Dia kan bisa cuti semaunya tanpa minta ijin sama mas," sahut Bara.
"Aku sengaja nggak ambil cuti sekarang, mau kebut kerjaan, biar nanti kalau di tinggal honeymoon lebih tenang, Fir," ujar Varel. Adel langsung menatapnya, ia tidak tahu kalau Varel berencana akan melakukan honeymoon.
"Maksudnya, kak," ralat Varel cepat. Ia merasa aneh memanggil Syafira kakak ipar, karena biasanya hanya memanggil nama saja.
"panggil kayak biasanya aja, aneh dengar kamu panggil aku kayak gitu, tuaan kamu juga,"
Varel mencebik, kenapa kata tua selalu saja di layangkan padanya.
"Udah pada makan belum, kebetulan tu a baru mau mulai," tanya Bara.
"Kebetulan belum, kesini emang sengaja mau numpang makan. Maklum habis belah duren bawaannya laper terus! Tenaga kan kekuras banyak!" ucap Varel. Ia lupa jika para keponakannya juga berada di sana.
"Ish, uncle! Belah duren pamer! Tapi nggak bagi-bagi!" sungut Nala.
"Iya, uncle pelit! Zio mau durian juga! Enak!"
"Zack juga suka!" imbuh si bungsu.
"Tlistan syuka dulian, papa mana dulian?" Tristan yang baru saja ganti baju karena habis jatuh bermain pesawat bersama bu Lidya langsung ikut nimbrung.
Hanya Nathan yang Diam. Entah paham atau tidak dengan maksud para tetua di sana, atau karena dia memang tidak suka durian.
Para orang dewasa di sana langsung diam sambil saling menatap satu sama lainnya.
"Mas sih, kalau ngomong nggak lihat sikon!" ucap Syafira.
"Em... Nanti daddy belikan durian, ya? Sekarang makan dulu. Jangan bahas duren lagi," ucap Bara.
"Emang bahas apa sih? Siapa yang makan duren? Kamu Rel?" tanya bu Lidya dan semua bungkam malas menjawab atau akan semakin panjang persoalan duren ini.
...****************...
__ADS_1