Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bab 95


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, akhirnya pasangan yang masih bisa di bilang pengantin baru tersebut mendarat di negera yang masuk ke dalam wilayah benua Eropa tengah, yaitu Swiss. Mereka langsung menuju ke tempat dimana mereka akan menginap selama melakukan bulan madu di negara tersebut.


Hotel Villa Honegg di Ennetburgen, menjadi pilihan Varel dan Adel. Wajah lelah Adelia sirna seketika saat melihat betapa indahnya pemandangan yang tampak jelas terlihat dari kamar hotel mereka.


"Abang, lihat! Indah sekali!" seru Adelia ketika ia membuka jendela kamarnya. Varel yang sibuk dengan urusan koper langsung menoleh dan berjalan mendekati Adelia. Ia memeluk Adel dari belakang, "Kau suka?" tanyanya. Karena ini adalah hotel pilihannya.


Meskipun Gema ikut Andil dalam perjalanan bulan madu pasangan pengantin yang kini sudah genap sebulan menyandang status sebagai suami istri tersebut, tapi Varel tetap berperan penting untuk menyiapkan segalanya supaya berjalan sesuai keinginannya. Ia tak membiarkan Gema mengatur sepenuhnya, tatap dialah yang bertanggung jawab memberikan yang terbaik untuk istri tercintanya.


Varel yakin jika Adel akan suka dengan Villa yang memiliki asitektur bangunan bergaya Art Noveau tersebut. Karena hotel tersebut terletak di sepanjang Danau Lucerne yang di kelilingi oleh pegunungan. Varel ingin memberikan kenyamanan dan ketenangan untuk mereka berdua selama bulan madu di sana.


Tak hanya itu, demi membahagiakan sang istri, Varel memilih kamar dengan berbagai fasilitas mewah seperti bioskop pribadi, gym, serta kolam renang indoor yang nanti bisa mereka gunakan untuk mengeksplor kegiatan bulan madu mereka.


Adel mengangguk dengan senyum yang terus mengembang, "Suka sekali, terima kasih abang," ucapnya.


"Sama-sama sayang, sebagai imbalannya, apa kau tak ingin memberi sesuatu untuk suamimu ini?" tanya Varel.


Adel langsung memutar badannya menghadap sang suami, "Masih jetlag, abang. Nanti ya?" ucapnya sembari mengedipkan sebelah matanya.


"Something special?" tebak Varel.


"Tentu!" sahut Adel tersenyum penuh arti.


Varel mengusap puncak hidung Adelia, "Mulai nakal, ya?" ucapnya.


"Jauh-jau ke sini, masa nothing special, abang," sahut Adelia.


"Good Girl! Abang tunggu kejutannya!" timpal Varell.


Adel mengangguk, "Capek banget, lelah lemes, pengin tidur sekarang!" ucapnya dengan manja.


"Mandi dulu, baru istirahat," kata Varel.


"Mandi berdua?" tanya Adel yang mana membuat Varel langsung tersenyum.


"Hanya mandi, please!" rengek Adel. Ia terlalu malas mandi sendiri, jika bersama Varel kan ada yang membantu menggosok tubuhnya.

__ADS_1


"Abang takut tidak kuat nahan," bisik Varel.


"Abang...." rengek Adel. Hanya berdua di tempat asing dengan judul bulan madu tentu saja akan Adel gunakan untuk bermanja ria sepuasanya dengan Varel. Jika di rumah, ruang gerak mereka masih harus ada batasan karena ada bu Lidya dan yang si peniru ulung, siapa lagi kalau bukan si kecil Tristan. Sehingga mereka harus sedikit lebih berhati-hati. Tapi, di sini beda, mereka bebas mengekspresikan perasaan mereka.


"Baiklah, baiklah! Ayo!" Varel langsung menggendong tubuh Adel ala bridal style menuju ke kamar mandi.


Selang beberapa lama, keduanya keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sedikit fresh. Mereka benar-benar hanya mandi saat di dalam kamar mandi tadi, karena mereka sama-sama merasa lelah. Di sana waktu masih menunjukkan pukul satu dinihari, untuk itu mereka memutuskan untuk tidur terlebih dahulu setelah mandi.


"Abang nggak marah, kan?" tanya Adel. Saat ini keduanya berbaring di ranjang sambil saling berpelukan.


"Marah kenapa?" tanya Varel tak mengerti.


"Karena kita tidak langsung melakukannya," jawab Adel.


Raut wajah Varel langsung berubah, di buat sekesal mungkin, "Sebenarnya kecewa, kita ke sini buat bulan madu, kamu malah mau tidur!" ucapnya.


Adel langsung duduk bersila, "Maaf. Yaudah ayo kita lakukan!" ucapnya dengan wajah merasa bersalah. Sudah syukur Varel berlapang dada mau menerima hadiah yang di berikan oleh Gema, padahal sebenarnya Varel memiliki rencananya sendiri untuk bulan madu mereka. Ia tak ingin mengecewakan sang suami.


Varel yang tak tega melihat wajah Adelia langsung mencubit pipinya gemas sembari tergelak, "Lucu banget sih istri abang, nih!" ucapnya.


Adel hanya diam, tak tahu maksud suaminya.


"Abang cuma bercanda. Kalau cuma untuk itu saja fokusnya, ngapain jauh-jauh ke sini? Dimanapun bisa. Kamar, dapur tapi harus kilat, kantor, mobil, butik dan..."


"Abang..."Adel menyentuh bibir Varel dengan jari telunjuknya lalu kepalanya menggeleng, meminta sang suami untuk tak meneruskann kalimatnya. Ia malu dengan pengabsenan tempat dimana mereka pernah melakukannya tersebut.


" Baiklah baiklah, abang nggak akan bilang kalau kita juga pernah melakukanhya di taman rumah saat semua orang tidur,"


"Abaaaaang!" Adel melotot yang mana membuat Varel semakin terkekeh.


Di sentuhnya jari telunjuk sang istri yang masih menempel di bibirnya lalu ia kecup beberapa kali. Varel menarik tangan Adel supaya memeluknya, "Tidurlah, besok kita akan jalan-jalan," ucapnya.


Adel mengangguk dan langsung meringkuk ke dada Varel.


.

__ADS_1


.


.


"Nyonya Pradana, bangunlah! Sudah waktunya jalan-jalan!" bisik Varel tepat di telinga Adelia.


Adel sedikit membuka matanya saat mendengar suara merdu nan sensual sang suami. Saat memastika benar itu suaminya, Adel tersenyum lalumengangkat kepalanya supaya bisa rebahan di atas paha Varel dan menenggelamkn wajahnya di perut Varel sementara angannya memeluk erat pinggang pria yang kini duduk di tepi ranjang tersebut.


"Masih ngantuk, abang!" ucap Adel.


Varell membelai rambut Adelia, "Makan dulu, sudah siang. Katanya mau jalan-jalan," ucapnya lembut.


Dengan malas, Adel menggerakkan kepalanya hingga mendongak menatap sang suami, "Emangnya jam berapa, bang?"


"Hampir jam sepuluh," jawab Varel.


Adel tersenyum," Pantes abang udah rapi, wangi dan genteng banget," ucapnya. Ia malu karena jam segini belum bangun sementara suaminya sudah begitu wangi dan semakin tampan.


"Aku mandi dulu, habis itu kita sarapan," Adel bangun dan mengusap pipi Varell. Pria itu langsung mengangguk, "Mau berdua lagi mandinya?" tanyanya menggoda.


"Enggak deh, kalau sekarang beda cerita, kayaknya baterai abang udah full charge, buat nanti malam aja!" sahut Adel sebelum akhirnya berlari ke kamar mandi sebelum Varel mengejarnya.


Selesai mandi, Adel membongkar isi kopernya yang belum sempat ia rapikan di walk in closet yang ada di kamar tersebut.


"Pakaiannya yang tertutup sayang, abang nggak rela bagi-bagi tubuh kamu sama pria lain," ucap Varel yang kini sednag duduk memperhatikan setiap gerak gerik sang istri.


Adel menemukan lingeri berwarna merah di dalam kopernya, ia iseng angkat benda tersebut lalu memperlihatkannya pada sang suami," Padahal rencana mau pakai yang ini," ucapnya iseng.


Varell langsung berdiri dan mendekati Adelia, "Jangan macam-macam, ya! Yang ini simpan dulu, ini khusus buat abang seorang," Varel merebut baju seksi tersebut lalu menyimpannya ke dalam koper. Ia lalu memilih baju mana yang akan di pakai oleh Adel.


Adel hanya berjongkok membiarkan suaminya mengacaukan kopernya.


"Sekarang kamu pakai.... Ini saja! Nanti pakai outer yang ini biar nggak dingin, " Varel menemukan dress bermotif bunga dengan warna dasar putih, senada dengan kaos yang ia kenakan di tambah jaket tebal karena d8 sana sedang musim dingin.


"Baiklah, tidak sekalian abang pakaikan?" Adel menerima dresa tersebut lalu berdiri, matanya mengedip menggoda sang suami. Ia sengaja membuka tali handuk kimononya di depan Varel, hingga memperlihatkan dadanya yang ranum.

__ADS_1


Tentu saja Varel terpancing, ia berdiri, "Istri abang semakin nakal! Awas, ya!" Varel hendak meraih tangan Adel, namun wanita itu keburu lari ke kamar mandi sambil tertawa.


...****************...


__ADS_2