
"Kenapa sih, hidup ini nggak adil. Manusia kayak Varel aja bisa di rebutin banyak cewek, masa aku satupun nggak ada yang nyangkut, ya ma? Salahku dimana, coba?" Varel mendengar Rasel sedang mengeluh soal nasibnya pada bu Lidya.
"Kondisikan tuh bibir!" peringat Varel yang berlalu begitu saja menuju ke kamarnya untuk bersiap ke kantor.
"Halah, iya iya, aku nggak akan ngadu sama mama soal apa yang mendadak buat mataku burem tadi di dapur," ucap Rasel.
Varel menghentikan langkahnya, ia balik badan dan memberi peringatan keras lewat tatapannya pada Rasel.
"Udah udah, kalian ini ribut aja kalau jadi satu. Kamu cepat siap-siap, Rel," ucap bu Lidya.
"Mama nggak penasaran apa yang buat mataku mendadak burem tadi, ma?" bisik Rasel setelah Varel tak terlihat lagi.
"Enggak, tuh!" sahut bu Lidya. Karena ia sudah menangkap apa yang terjadi.
"Ish, mama mah gitu. Nggak asyik. Harusnya kan penasaran, ma. Biar aku senang. Nyenengin anak yatim apalagi jomblo kayak aku ini dapat pahala loh," cetus Rasel.
"Apa calon jodoh aku doanya terlalu kenceng ya, ma. Makanya aku jomblo terus. Kalau iya, tega banget ya dia, nggak muncul-muncul, tapi nggak kasih ruang buat cewek lain singgah dulu, ya ampun jodohku, jangan kenceng-kenceng napa doanya," sambung Rasel. Yang mana membuat bu Lidya terkekeh.
"Kamunya juga kencengn doanya buat calon makmum, jangan cuma ngandelin doa calon makmummu aja, iya kalau dia doa, kalau enggak? Kalian nggak ketemu-ketemu," ujar bu Lidya.
"Nah, itu dia masalahnya ma. Gara-gara anak mama juga nih kayaknya aku jomblo terus. Tahu nggak ma...,"
"Enggak!" jawab bu Lidya cepat.
"Ish , dengarlah dulu, baru komen, budayakan tahu sampai akhir dulu baru komen, jangan setengah-setengah...kebiasaan emak-emak. Aku tuh sebenarnya udah ketemu calon makmum, tapi dia masih gagal move on sama cinta pertamanya. Aku dong jadinya yang move on, eh nemu lagi dong calonnya,"
" Cepet amat move onnya," celetuk bu Lidya.
" Lah, dilama-lamain juga aku yang rugi. Sakit hati kok di pelihara. Mending gercep cari ganti, giliran udah dapat, kayaknya nggak mudah deh, karena aku sohib anak mama, kakaknya Shahila kayaknya nggak bakalan ngebolehin Sahila sama aku, dia sama Varel kan...."
"Nggak usah di dengerin, ma si ember!" potong Varel yang sudah selesai bersiap.
""Lambe, lambeku! (mulut, mulutku!)" cebik Rasel.
Varel berjalan mendekati bu Lidya sambil mengancingkan lengan kemejanya,"Lo ngapain masih di sini? Udah jam berapa ini, pergi lo. Itu kantor bukan punya bapak lo, Met! Seenaknya aja!"
"Lah, bukan punya situ juga, kan?" balas Rasel tak mau kalah.
"Lo mau gue sunat gaji, lo?" ancam Varel. Yang mana membuat Rasel langsung berdiri, "Lihat kan, Ma. Anak mama ini ngeselin, heran kenapa cewek-cewek pada nempel! Aku berangkat dulu, ma. Salim!" Rasel menyalami bu Lidya, ia mencium punggung tangan wanita itu layaknya seorng anak terhadap ibunya sendiri. Ya, memang sedekat itu mereka, pembawaan Rasel yang rame dan juga bu Lidya yang sebelas dua belas dengannya membuat mereka dekat meski jarang bertemu.
"Ma gue nggak salim?" ledek Varel.
"Dih, siapa elu!" cebik Rasel dan langsung melangkahkan kakinya.
"Ayo, Rel. Lo malah duduk, gimana sih?" Protes Rasel saat ia sudah sampai pintu.
__ADS_1
"Lo duluan!"
"Ck, jauh-jauh gue ke sini, ujung-ujungnya berangkat sendiri juga nih jomblo," keluh Rasel.
"Lo, kesini Buat numpang makan bukan buat jemput gue! Pergi lo, udah kenyang juga!" usir Varel.
Rasel berdecak, baru satu langkah kakinya melangkah, ia berhenti lalu kembali menoleh, "Ma, beneran nggak hamil? Kok mama kayak yang lagi mager gitu, biasa bar-bar. Varel juga, kayak yang sensi gitu sekarang, kayak mau sundulen bayi gitu,"
Varel langsung melotot, ia melempar bantal sofa kepada sahabatnya tersebut, "Minggat lo Met!" ucapnya kesal. Yang mana membuat Rasel tergelak, "Rasain, satu kosong. Salah sendiri pagi-pagi udah buat gue gigit jari gara-gara lo nyosor my baby Bening," gumamnya lirih sembari berkacak pinggang menuju ke mobilnya.
"Kamu nggak berangkat sekalian, Rel?" tanya bu Lidya.
Varel menoleh ke lantai atas, "Bentar lagi, ma. Direktur mah, bebas!" jawabnya kemudian.
Bu Lidya paham kemana arah pikiran putranya tersebut, "Selesaikan dulu dengan Andini, jangan buat Adel menjadi wanita ketiga, dia pasti tak nyaman dengan ini," ujarnya dan Varel mengangguk.
Tak lama, Adel turun, ia sudah siap pergi ke butik.
"Mau berangkat, sayang?" tanya bu Lidya.
"Iya buk, maaf nggak bisa nemenin ibu sama kakak, hari ini aku sibuk banget," ucap Adel.
"Nggak apa-apa. Kakakmu masih di paviliun depan kalau mau pamit," kata bu Lidya.
Adel menyalami bu Lidya, "Assalamualaikum," pamitnya.
Adel langsung melayangkan protes lewat sorot matanya yang tajam, "Om..."
"Kenapa? Bukannya aku udah bilang kalau mama udah tahu, iya kan, ma?"
Bu Lidya tersenyum dan mengangguk.
"Maafin Adel, buk!" Adel merasa bersalah. Ia tak tahu harus bicara apa, mendadak lidahnya kelu.
"Nggak ada yang perlu di maafkan, sayang. Nanti ngobrol lagi, sekarang berangkatlah, udah siang," kata bu Lidya.
Adel mengangguk, "Aku berangkat," pamitnya.
"Aku antar, sekalian!" ucap Varel sembari berdiri.
"Nggak usah, aku udah pesan taksi, sebentar lagi sampai," tolak Adel, ia langsung meninggalkan Varel dan bu Lidya.
"Aku berangkat dulu, ma!" Varel buru-buru menyalami bu Lidya untuk segera menyusul Adel.
"Ma, apa yang di katakan Rasel nggak benar kan? Kalau mama..."
__ADS_1
"Udah sana berangkat, keburu Adel naik taksi!" bu Lidya tak menjawab pertanyaan Varel.
"Pokoknya aku nggak mau punya adik, harusnya aku udah jadi bapak, bukan kakak," ucapnya yang langsung berlari kecil keluar.
Varel menunggu di luar pagar rumah karena Adel sedang pamit dengan kakaknya.
Saat keluar gerbang, taksi yang ia pesan pas baru datang. Varel langsung turun dari mobilnya. Ia membuka pintu belakang taksi dan menarik pelan tangan Adelia untuk keluar.
"Om, Apaan sih?" Protes Adel.
" Maaf, pak. Pacar saya tidak jadi naik,
Tapi tetap saya bayar," Varel mengeluarkan beberapa uang lembaran berwarna merah.
"Sisanya buat bapak dan nanti di kasih bintang lima dan review yang bagus, tenang saja. Maaf sudah buat bapak sia-sia datang kemari," lanjutnya lalu menutup pintu taksi. Taksi itupun pergi meninggalkan mereka.
Adel menekuk wajahnya kesal, "Om bukan pacarku, ya?"
Varel tak peduli, "Masuklah, kita jalan-jalan dulu sebentar," ucapnya lembut.
"Kemana?" tanya Adel.
"Masuk aja, kalau kelamaan di sini nanti Syafira lihat," jurus jitu Varel berhasil membuat Adel masuk ke mobil.
Varel tersenyum lalu mengitari mobil dan masuk ke belakang kemudi.
"Kita kencan dululah, sebelum ke butik," ucap Varel dam Adel hanya diam tak menyahut.
.
.
Kini, mereka sampai di sebuah danau buatan yang sangat indah, mereka duduk di bawah pohon rindang. Tak banyak kata mereka ucapkan, hanya menikmati keindahan danau di depan mereka dengan saling berpegangan tangan. Mereka mengekspresikan perasaan mereka dalam diam.
Tiba-tiba, Varel melepas tangannya dari tangan Adel, Ia mendekati pohon di belakangnya,"Bawa bolpoin permanen nggak, sayang?" tanyanya pada Adel.
"Ada, mau buat apa?" tanya Adel,ia mengambil benda Itu dari tasnya.
Varel menerima bolpoin itu, ia menarik tangan Adel, "Sini, dekat aku!" katanya.
"Om, mau apa?" Adel penasaran.
Varel mulai menulis di pohon tersebut.
"Dear anakku. Nak, ketahuilah. Saat papa menulis ini, papa sama mama sedang berjuang untuk bersama. Memperjuangkan cinta kami supaya dirimu, buah cinta kami, hadir di kemudian hari nanti. Saat kamu melihat tulisan ini, itu artinya perjuangan kami berhasil. Semoga kelak papa dan mama benar-benar bisa mengajakmu kemari. Tertanda orang tuamu Varel love Adel,"
__ADS_1
Mata Adel berkaca-kaca membaca tulisan Varel pada pohon berusia puluhan tahun tersebut," Ommm... "