
Kurang dari dua jam, Varel dan Adel sampai di Bandara kota B. Mereka langsung menuju ke rumah.
"Selamat datang, mbak Adel. Saya senang akhirnya mas Varel menikah juga. Sama mbak Adel lagi! Wanita yang selama ini mas Varel ucapkan saat mengigau kalau ketiduran di sofa, sampai ngiler kadang loh mbak, nggak tahu ngimpiin apa," sambut mbak Sum ramah. Tak lupa ia membongkar salah satu aib majikannya.
"Heh, mbak. Mulutmu! Sekalian aja bongkar semuanya! Nggak akan ngaruh, dia udah cinta mati sama Saya," ujar Varel sombong.
"Mosok? Di pelet tah mbak sampeyan sama Mas Varel?" tanya mbak Sum dengan logat jawanya pada Adelia.
Mbak Sum langsung mengatup melirik Varel yang langsung mendelik ke arahnya.
"Mbak...." bu Lidya memperingatkan mbak Sum.
"Hihi bercanda bu. Kan biar lebih akrab, bu. Biar nggak canggung gitu," ucap mbak Sum.
Sementara Adel hanya tersenyum,"Makasih, ya mbak atas sambutannya," ucapnya.
"Sama-sama, mbak. Semoga betah ya mbak jadi istri mas Varel. Kalau enggak, saya mau kok gantiin," ucap mbk Sum becanda.
"Dih, nggak mau! Sayang jangan dengarkan mbak Sum, dia kadang emang suk rada-rada, ayo kita ke kamar aja!" Varel menarik tangan Adel.
"Ke kamar siapa, bang?" tanya Adel. Karena selama ia tak tinggal di rumah tersebut, kamarnya tetap selalu di rawat dan tak boleh seorang pun menempatinya. Kecuali saat Varel rindu dengannya. Pria itu bisa menghabiskan waktunya di sana.
"O iya, maunya ke kamar siapa? Aku atau kamu? Mau coba kamar yang mana dulu?" di tanya seperti itu, pikiran Adel langsung ingat kejadian semalam. Membayangkan sakitnya, membuat miliknya terasa ngilu.
"Kamarnya sudah saya siapkan mas, di lantai Atas. Yang lebih luas dan aman!" ucap mbak Sum.
Mendengar ucapan mbak Sum, Varel kembali menarik tangan Adel.
"Abang itut!" Seru tristan. Anak itu langsung berlari menyusul Varel dan Adel.
Langkah Varel berhenti tepat di tatakan tangga kedua. Ia menoleh lalu mendengus. Ia lupa jika di rumah itu ada sebiji bocil yang pasti akan terus ngintilin dia kemanapun jika terlihat oleh Tristan di rumah itu. Mungkin karena Tristan kesepian, tak ada teman bermain sebayanya di sana.
"Kamu sama mama dulu lah! Abang ada urusan!" ujar Varel.
"Ulusyan apa?" tanya Tristan polos.
"Tapi, kak Adel boleh itut? Tenapa Tlistan ndak boleh?" sambung anak itu menatap tangan Adel yang di gandeng oleh Varel.
"Maaaa," Varel minta tolong kepada ibunya.
"Sayang, kita kan baru sampai. Tristan bersih-bersih dulu ya? Habis itu maem, mama buatin Tristan makanan, mau?" bujuk bu Lidya.
Tristan menggeleng, "Maunya mandi syama kak Adel!" ucapnya.
"Hish ini anak, lama-lama aku..." Varel langsung mengatup ketika Adel menatapnya tajam.
"Emangnya mau ngapain, sih? Kan baru sampai juga, abang? Biarlah Tristan ikut ke atas," kata Adel.
"Kan mau mesra-mesraan melepas lelah, sayang," ucap Varel dengan bibir mangatup.
Adel menggeleng, ia lepas kaitan tangannya dengan Varel lalu berjalan mendekati Tristan, "Ayo!" ajaknya sembari mengulurkan tangannya. Senyum di bibir Tristan langsung mengembang. Ia sambut tangan Adel dengan tabgan mungilnya. Dengan lincahnya kaki kecil Tristan melangkah menaiki anak tangga.
Sementara Varel? Jangan di tanya, dia terus manyun sambil sesekali menjahili sang adik.
"Mbak, siapkan makanan ya? Saya ke kamar dulu sebentar, nanti saya bantu," ucap bu Lidya pada mbak Sum.
"Baik bu, mereka kalau begini terlihat seperti pasangan orang tua dan anak ya bu, udah cocok mereka punya anak,"
Bu Lidya tersenyum, "Cocokan mereka ya yang jadi orang tuanya, saya lebih pantas jadi oma kece, kan?"
__ADS_1
"Eh bukan begitu maksudnya, bu. Ibu juga masih pantas kok. Ibu tetap kelihatan awet muda. Maksud saya, semoga Mas Varel segera di kasih momongan sama Gusti alloh, kasihan bu. Umur udah segitu juga," mbak Sum langsun menutup bibirnya, tak bermaksud meledek, tapi hanya mewakili perasaan para pembaca yang setia menemani kisah mereka.
"Doain yang kenceng ya mbak, saya juga udah gatel pengin pamer cucu. Biar nggak ada yang meragukan kejantanan Varel," ucap bu Lidya, "Udah sana, malah ghibah pengantin baru di sini. Masak yang enk, buat nyambut mantu kesayangan ini," imbuhnya.
"Siap buuuu,"
.
.
.
Saat malam tiba, barulah Varel ada kesempatan untuk bermesraan dengan sang istri. Ia yang baru saja mandi langsung merangkak naik ke ranjang di mana Adel sudah menunggunya.
"Akhirnya, bisa lepas dari bocil itu. Tahu gini, kita jangan balik dulu ke sini, ya sayang? Nginep aja di hotel seminggu atau sebukan gitu," ucap Varel sembari merangkak naik.
Adel hanya tersenyum, "Emang mau ngapain nginep lama-lama di hotel?" tanyanya iseng.
"Masa nggak tahu sih, mau itu lah!" Varel mencubit hidung Adel gemas.
"Itu apa?" Adel pura-pura tidak tahu.
"Sini, biar abang kasih tahu!" Varel langsung menarik tengkuk Adel dan melu mat bibirnya.
"Udah tahu belum? Kalau belum abang kasih tahu, abang lanjutin nih!"
Adel menangkup pipi Varel, "Masih sakit, abang. Masih kebayang ngilunya. Takut!" ucapnya jujur.
"Beneran sesakit itu, ya? Maaf ya?" balas Varel menyesal, "padahal udah janji buat nggak nyakitin kamu, ini malah nyakitin secara fisik," imbuhnya.
Melihay raut bersalah dari pria yang baik dua hari menjadi suaminya tersebut, membuat Adel tak tega.
"Sakit, sih... Tapi...enak! Abang buat aku senang!" ucap Adel malu-malu.
Adel menggeleng, masih malu-malu.
"Berarti, mau lagi?" terka Varel.
Dengan masih malu-mlu Adel mengangguk. Yang mana mengundang gelak tawa Varel. Adel langsung membenamkan wajahnya di dada sang suami.
Varel mengangkat dagu Adel dan kembali mengecupnya mesra, "Besok aja, kalau udah enakan. Sekarang tidur," ucapnya.
"Abang yakin?" tanya Adel.
Sebenarnya Varel ingin mengulang indahnya surga dunia, tapi ia tahu jika sang istri benar-benar masih belum siap melaukannya lagi, "Iya," ucapnya mengangguk.
"Beneran? Serius aku nggak apa-apa, kalau abang mau," ucap Adel.
"Kenapa? Kok kayak kecewa gitu? Atau kamu yang mau?" goda Varel.
"Ish, abang!" Adel memukul pelan dada Varel yang mana langsung di tangkap oleh tangan Varel. Ia mencium tangan sang istri.
"Terima kasih, abang udah jadiin aku ratu dalam hidup abang. I love you!"
"I love you more, sayang!" Varel merengkuh tubuh Adel dan memposisikan untuk tidur. Ia mengecuk kening Adel berkali-kali. Adel memejamkan matanya. Mulai menapaki alam mimpi dalak dekapan sang suami.
.
.
__ADS_1
.
Pagi hari...
Ada yang beda tentunya pagi itu di rumah tersebut. Karena kini ada sosok istri yang melayani Varel. Adel berusaha menjadi istri yang baij. Ia sejak pagi sibuk menyiapkan keperluan Varel bekerja. Mulai dari air untuk mandi hingga pakaian.
"Sayang, mana pakaian dalam aku? Masa aku pakai celana langsung? Nggak pakai daleman?" tanya Varel.
"Abang Bisa ambil sendiri untuk yang itu," ucap Adel.
"Kok nggak sekalian ambilin? Kan udah lihat isinya, Masa ambil pembungkusnya malu. Risih ya?"
"Masih merasa aneh aja, maaf. Sebentar aku ambilin! Mau yang mana?" Adel langsung melesat masuk walk in closet. Taoi, di sana ia kembali diam, hanya memandang benda serupa segitiga itu.
Varel langsung melingkarkan tangannya di pinggang Adel, padahal masih bekum oakai baju, hanya handuk yang menutupi bagian bawahnya. Adel bisa merasakan sesuatu di balik handuk itu. Ia langsung merinding.
"Jangan kaget, kalau pagi emang suka bangun dia," bisik Varel. Tangannya yang satu mengambil benda berbentuk segitiga tersebut, "Mau bantu pakein nggak?"
"Abang ih! Udah sana pakai bajunya. Aku mau mandi!"
"Tadi, di ajak mandi bareng nggak mau? Harusnya kan mandi bareng, biar selesai bareng,"
"Masih belum terbiasa, abang," Adel tersenyum. Ia meninggalkan Varel yang tak lama langsung menyusulnya. Tapi, sayang. Pintu kamar mandi tertutup sebelum Varel berhasil masuk.
Varel terkekeh, ia benar-benar merasa. Hidupnya kini sempurna. Ia juga bersyukur, meski lama menghabiskan waktu di luar negeri tanpa pengawasan, Adel bisa menjaga diri. Terbukti wanita itu masih sangat polos dalam hal ranjang.
.
.
.
"Makasih abang, udah antar aku," ucap Adel. Ketika mobil suaminya sampai di depan butik.
"Sama-sama, istriku! Nanti pulangnya abng jemput ya?" sahut Varel.
Adel mengangguk. Ia hendak turun tapi di tahan oleh Varel. Membuat Adel bertanya lewat tatapannya.
"Udah jadi istri sah, harus cium tangan suami dong kalau pergi," ucap Varel lembut.
Adel tersenyum, "Lupa, maaf!" ia mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Varel.
Setelah Adel mencium. Punggung tangnnya, Varel bukannya melepas tangnnya malah menariknya dan menahan tengkuk Adel. Ciuman panas pun terjadi meski hanya beberapa saat. Terpaksa Adel harua kembali memeriksa penampilannya. Terutama bibirnya.
Varel terkekeh melihat Adel, "Udah rapi sayang, jangan cantik-cantik. Nanti di lirik cocok lain, abang nggak rela!" ucapnya.
"Apa, sih! Aku turun dulu!" kalau tidak segera turun, bisa-bisa orang yang lewat akan melihat mobil bergoyang pagi itu.
Dengan perasaan riang, Varel kembali mengemudikan mobilnya menuju ke kantor yang kini sudah menjadi sah miliknya tersebut.
Sambil bersiul, satu tangan di masukkna ke sku celana, sementara yang satu memainkan kunci mobilnya, Varel berjalan menuju lobi. Ia memberikan kunci mobilnya supaya di parkirkan oleh petugas, "Tolong ya, pak!" ucapnya ramah. Wajahnya tak bisa menunujukkan betapa bahagianya dia saat ini yang mana membuat auranya bersinar dan terlihat semakin muda.
Namun, di balik kebahagiaan itu, ada ya g ketar-ketir saat melihat kedatangannya di lobi.
Rasel langsung menutup wajahnya dengan map di tangannya dan berjalan melipir untuk menghindari bertemu bos sekaligus sahabatnya tersebut.
"Met!"
Sial, ternyata Varel melihatnya, alhasil Rasel memutar badan dan berjalan ngibrit lebih cepat.
__ADS_1
Varel mengernyit, "Kenapa dia? Kayak habis lihat setan?" gumamnya.
...****************...