
Aku berpikir keras setelah kepulangan orangtua Tiar dari rumahku tadi pagi, hal apa yang bisa aku lakukan untuk membuktikan bahwa aku serius dengan ajakan ku.
Kami bertiga memutuskan untuk bermusyawarah, menentukan pilihan jalan terbaiknya.
"Sebelum orangtua Tiar berangkat ke Medan kamu sudah harus mendapat restunya Dam soalnya kalau nunggu orangtuanya balik pasti akan lama karena seminggu lagi" Ujar Mami.
"Benar juga ya Mi, terus gimana ?" Tanyaku bingung.
"Yaudah coba Mami hubungi Tante Vina siapa tau masih dikasih kesempatan"
Berdering.....
"Halo Jeng, maaf nih mengganggu sebentar, Jeng Vina lagi dirumah atau gak ya?" Tanya Mami setelah panggilannya terjawab.
"Dirumah Jeng ini lagi siap-siap, ada apa ya?" Suara Tante Vina terdengar jelas karena Mami mengaktifkan loadspeaker di ponselnya.
"Gini jeng rencananya nanti malam kami ingin bergantian datang untuk bersilaturahmi kesana apakah boleh?" Tanya mami kembali.
"Boleh Jeng, tapi besok pagi aja ya soalnya Papanya Tiar lagi gak dirumah karena ada pekerjanya yang mengalami kecelakaan kerja jadi untuk sementara menghandle dulu" Jawab Tante Vina.
"Yaampun, turut berduka ya Jeng, emangnya besok belum berangkat ke Medan Jeng?" Tanya Mami.
"Belum Ren, mungkin besok atau lusa." Jawab Tante Vina singkat.
"Alhamdulillah" Ujar Mami lega.
"Terus acara syukurannya gimana Ren?" Tanya tante Vina.
"Syukuran jadinya besok malam Vin, dirumah juga udah ada yang menangani, berarti besok bisa kesini dulu ya Vin?" Imbuh Mami.
"Semoga aja Mas Frans sudah selesai urusannya biar bisa kesana"
"Yasudah kalau begitu saya tutup teleponnya ya Vin, terima kasih atas waktunya"
"Iya Ren sama-sama"
Mami menyudahi panggilannya, besok pagi sekitar jam sepuluh kami akan kesana karena malamnya akan ada acara syukuran dirumah pasti akan sangat sibuk sekali.
Gelisah keringat dingin bercucuran ketika terus memikirkan akan ketemu dengan Om Frans bersama dengan orangtuaku, aku takut meskipun mereka ikut datang tapi Om Frans masih tetap kukuh dengan keputusannya.
Aku memutuskan untuk berkirim pesan kepada Tiar memberitahukannya bahwa besok pagi kami akan datang berkunjung.
[Selamat sore princess]
Send.....
[Apaan sih kamu]
Received....
[Gimana tidurnya semalam? nyenyak? kok tadi gak ikut kesini?]
Send.....
[Nyenyak kok, kamu gimana? ikut kesana siapa? :v]
Received....
[Aku susah tidur baru bisanya jam tiga dini hari makanya telat bangun, tadi orangtua kamu kesini]
Send....
[Jadi yang aku bilang keluar sejak pagi itu kerumah kamu? Mereka ngomongin apa Dam?
Received......
[Ya tetap bahas pertunangan kita]
Send.....
Lama tidak ada balasan dari Tiar, bahkan dia berhenti online, padahal aku belum sempat memberi tahunya tentang niatku berkunjung besok.
Keesokan harinya,
Pukul 09.30 Papi dan Mami bersiap-siap untuk berangkat ke rumah Tiar, kali ini kami pergi diantar oleh sopir pribadi keluarga.
Empat puluh lima menit kami sampai didepan gerbang besar rumah Tiar, dengan cekatan satpam membukakan gerbang untuk kami.
"Maaf pak dengan siapa dan cari siapa?" Tanya salah satu satpam yang menghampiri mobil kami.
"Kami tamu dari Bu Vina dan Pak Frans" Jawab Papi tegas.
"Maaf saat ini Tuan dan Nyonya besar sedang berada di luar rumah ada perjalanan bisnis" Jelas satpam lainnya.
"Loh tadi udah telepon katanya ada dirumah kok Vina nya" Jawab Mami sedikit kesal kepada satpamnya.
"Maaf Bu tapi memang saat ini sedang keluar" Sangkal sang satpam.
"Ya sudah telepon dulu Mi tante Vina nya" Pintaku untuk meyakinkan.
__ADS_1
Mami mengambil ponsel dari tas hitamnya kemudian memencet dial panggilan nomor Tante Vina pada layar ponselnya.
Lama Mami menghubungi tante Vina tidak ada jawaban akhirnya aku inisiatif untuk menelepon Tiar.
"Biar Adam bantu telepon Tiar Mi" Kataku.
"Yaudah coba Dam" Perintah Mami.
Selama lima menit aku berusaha menelepon nomor Tiar tapi tidak ada satupun yang terjawab, bahkan aku sempat mengirim ratusan pesan ke WhatsApp.
Kemana mereka semua sebenarnya, jika memang tidak ingin menemui keluargaku kenapa caranya seperti ini.
Drrt...!Drrtt!...ponsel Mami berdering tanda ada panggilan masuk.
"Oh ini tante Vina telpon mami Dam" Ucap Mami setelah melihat layar ponselnya.
"Halo Vin, iya ini aku udah ada didepan rumah tapi kata satpamnya kamu lagi keluar rumah" Jelas Mami.
"Coba loadspeaker Ren" Ujar Tante Vina.
"Udah ini aku udah aktifkan pengeras suaranya" Jawab Mami.
"Pak Tarno tolong ini tamu istimewa saya dipersilahkan masuk" Perintah Tante Vina kepada satpamnya.
"Baik Bu" Jawabnya.
"Yaudah ya Ren aku tunggu didepan teras ya" Mami meletakkan kembali ponselnya didalam tas setelah koneksi panggilan terputus.
Pak satpam mempersilahkan kami masuk ke, tidak lama kemudian Tante Vina keluar rumah dan menunggu di teras.
Supirku melajukan mobil menuju carport, disana ada tiga mobil, yaitu mobil yang biasa dikendarai Tiar dan dua mobil milik orangtuanya, sepertinya keluarga Tiar sudah berada dirumah seluruhnya.
"Halo Ren" Sapa Tante Vina kepada Mami setelah kami turun dari mobil.
"Yaampun Vin aku kira gak dirumah, soalnya satpamnya bilang katanya pergi semua" Balas mami dengan bersua pipi dengan tante Vina.
"Jadi ceritanya aku sengaja bilang ke mereka kalau ada tamu suruh stop didepan bilang kami gak dirumah karena akan kedatangan tamu istimewa eh malah tamu istimewanya di stop, aku juga sih lupa bilang kalau kalian yang mau datang, maaf ya" Ujar Tante Vina.
"Iya gak apa Vin" Jawab Mami.
"Yaudah yuk masuk yuk, Papanya Tiar juga sudah ada didalam" Kami berjalan mengikuti langkah tante Vina dari arah belakang.
°°°°°°°
Pembicaraan serius
Pov Tiar
Dengan tidak menghiraukannya aku tetap fokus mengisi air minum dari dispenser.
Ketika hendak melangkah keluar Mama menyudahi panggilannya dan memanggilku untuk kembali.
"Sayang kesini sebentar Nak" Panggil Mama.
"Ada apa Ma? Tiar mau joging nih udah ditungguin" Jawabku malas.
"Hari ini gak usah joging dulu ya, libur. Kita bikin kue aja bentar lagi mau ada tamu spesial datang" Ujarnya.
"Siapa Ma? tamunya Mama atau Papa? males ah Tiar kan gak ada urusannya"
"Eh....ini tamu buat kamu sayang, udah jangan bantah ayo bantu Mama masak dan bikin kue"
"Kan udah ada Mbak Lastri sama Bik Inah Ma, Tiar males ah" Bantahku.
"Kamu harus belajar beradaptasi dengan dapur mulai sekarang, ayo gak usah banyak protes! kita akan masak banyak dan tamunya datang jam sepuluh kalau cuma Mak dan Bibik dibelakang gak akan selesai kasian mereka capek sendiri"
"Yaudah deh" Dengan terpaksa aku menuruti Mama, saat melangkah ke pintu dapur ponselku berdering, ternyata pesan dari Adam.
Aku sempat berbalas pesan dengan Adam, namun karena mama terus mengomel akhirnya aku matikan data di ponselku dan langsung menuju dapur.
Kami berdua disibukkan dengan pembuatan kue sedangkan mbak Lastri dan bik Inah memasak lauk pauk serta sayur mayur nya.
Tidak terasa kami sudah dua jam peluh keringat bertempur didalam dapur.
Setelah semuanya beres aku memutuskan naik ke atas untuk mandi dan meminta Bik Inah membereskan sisanya.
Ketika sampai dilantai atas aku langsung mandi karena badan rasanya sangat lengket karena keringat.
Tin.....!Tin.....!Tin......!
Sebelum masuk kedalam kamar mandi sempat terdengar klakson mobil yang masuk ke halaman depan sepertinya ada mobil yang baru datang, tapi aku tak menggubrisnya dan tetap melanjutkan aktivitasku.
Usai mandi aku menghidupkan kembali data internet pada ponselku, ternyata sudah ada puluhan pesan dan beberapa telepon yang masuk dari Adam.
[Tiar kamu dimana? aku tadi lupa mau bilang kalau mau berkunjung kerumah, sekarang aku udah ada didepan pagar tapi satpam kamu gak bolehin masuk] Satu persatu aku mulai membuka isi pesannya.
Kenapa Adam bilang kalau udah didepan rumah, katanya Mama mau ada tamu? apa jangan-jangan tamunya adalah Adam? batinku bertanya-tanya.
Sesaat kemudian Bik Inah memanggil dari luar kamar meminta agar aku segera turun.
__ADS_1
Sebelum turun aku coba mengintip dari jendela kamarku yang kebetulan langsung menghadap halaman depan rumah.
Mobil yang datang masih asing bagiku, Alphard keluaran terbaru berwarna hitam mengkilap, jika memang benar Adam tidak mungkin karena mobil Adam Pajero hitam keluaran terbaru.
Karena lama tidak turun kini gantian Mbak Lastri yang memanggil dan menunggu didepan pintu sampai aku keluar.
Pov Adam
Berkumpul dalam Satu Ruangan,
Kami masuk ke dalam ruang tamu bersama dengan tante Vina, tidak lama kemudian ART mengeluarkan minuman dan camilan yang sepertinya sengaja disiapkan Tante Vina untuk menyambut kedatangan kami.
"Dicicipi Vin, ini enak lo kue buatan Tiar" Ucap Tante Vina mempersilahkan.
"Tiar sendiri yang buat Ren?" Tanya Mami menimpali.
"Iya Vin tadi pagi Tiar yang bikin, sebentar ya aku panggilkan Tiar dan Papanya dulu, diminum dan dicicipi makanannya ya santai aja" Ujar Tante Vina.
"Oh iya Vin" Jawab Mami.
"Nah itu Tiar sudah turun, berarti aku panggil Papanya dulu ya" Imbuh Tante Vina.
Tiar turun dari tangga, hari ini dia kelihatan sangat cantik dan dewasa dengan balutan celana kulot berwarna cream dipadukan baju berkerah warna putih tulang.
"Om,Tante" Sapa Tiar kemudian menyalami orangtuaku.
"Wah cantik sekali Tiar, gimana kabarnya?" Ujar Mami sepertinya tau isi pikiranku.
"Alhamdulillah kabarnya baik Tante" Jawabnya simpel.
Dia mengambil posisi duduk disebelah Mami, lebih tepatnya berada di seberang tempat dudukku.
Beberapa menit kemudian Tante Vina dan Om Frans bergabung bersama kami diruang keluarga.
"Selamat pagi Daru, gimana kabarnya? sepertinya baru kemarin ya kita bertemu" Ujar Om Frans ramah.
"Iya ini sudah kangen saja dengan kamu, hari ini gak kekantor?" Tanya Papi kepada Om Frans dengan sedikit mengajak bercanda.
"Ada-ada saja, kebetulan tadi pagi sudah kelapangan karena ada mandor yang izin istrinya melahirkan" Jawab om Frans.
"Di rumah kalian katanya mau ada acara syukuran hari ini, kok malah sempat berkunjung kesini?" Imbuh om Frans.
"Iya tapi sudah ada yang menghandle" Jawab Papi.
"Kalau begitu perihal apa yang membuat kalian sampai kemari?" Tanya Om Frans kebingungan.
"Jadi begini langsung saja pada intinya, seperti yang sudah pernah kita bicarakan kemarin, maksud kedatangan kami kemari untuk mendukung penuh keseriusan Adam atas hubungannya dengan Tiar" Jelas Papi setelah berhasil merangkai kalimat.
"Apa masih belum jelas Daru?" Pungkas Om Frans.
"Maaf Om saya menyela, saya hanya ingin bertanya satu pertanyaan saja apakah boleh?" Tanyaku di sela-sela pembicaraan Papi dan om Frans.
"Silahkan" Jawab om Frans singkat tapi masih dengan nada ramahnya.
"Sebenarnya apa yang membuat Om Frans berat untuk mengizinkan saya bertunangan dengan Tiar?" Tanyaku berharap mendapat jawaban yang sesuai dari Om Frans.
"Kamu tau usia Tiar saat ini berapa? perjalanan karir hidupnya masih panjang, aku tidak ingin fokus anakku terbagi aku tidak ingin melihat putriku terluka bahkan menangis hanya karena cinta sesaat" Jelas om Frans.
"Om kenal keluarga kami sudah sejak lama, apakah tidak bisa mempercayakan kepada Tiar kepada kami?" Ucapku berusaha meyakinkan.
"Saya tetap tidak percaya" Jawab Om Frans kukuh dengan keputusannya.
"Kita jangan egois lah Frans demi kebahagiaan anak kita, Apa kamu mau mereka tertekan bahkan sembunyi-sembunyi menjalin hubungan dibelakang?" Ucap Papi berusaha mengetuk pintu hati Om Frans dengan lembut.
"Justru saya lebih egois jika tidak melindungi putri semata wayang saya" Jawab Om Frans tegas.
"Maaf Pa Tiar menyela sebentar, tolong sekali aja dengarkan! karena aku juga berhak mengutarakan keinginan dan perasaan ku! aku sudah besar, mungkin Papa menilai belum cukup dewasa tapi bukan waktunya lagi diatur berlebihan seperti ini, Tiar pasti bisa menjaga diri! Tiar pengen tentuin sendiri pilihan Tiar, lagipula kita juga masih tunangan saja! apa salahnya?" Ujar Tiar.
Om Frans hanya terdiam tanpa mengutarakan sesuatu, kami semua yang ada di ruangan itu ikut terdiam.
"Pa apa salahnya sih kita kasih kesempatan buat mereka?" Ucap tante Vina memberi dukungan.
"Jadi mama juga dukung?" Tanya om Frans kepada istrinya.
"Mama hanya ingin yang terbaik untuk Tiar Pa" Imbuhnya.
"Ini bukan yang terbaik namanya ma" Kalimat Om Frans kali ini sedikit meninggi, beliau kemudian meninggalkan kami semua yang masih berada di ruang tamu.
Seketika Papi dan Mami saling pandang, kami tidak mendapatkan jawaban yang pasti, Tante Vina sudah merestui namun om Frans masih saja kukuh menolak niat baik kami.
Akhirnya karena merasa tak enak hati kami memutuskan untuk segera pamit pulang.
☘️☘️☘️☘️☘️
Pov Author
Ketika Adam menghubungi Tiar ponselnya mati karena sibuk dengan kue yang akan disajikan kepada tamu yaitu keluarga Adan, dan saat itu juga ponsel Tante Vina lupa jika mode silent aktif jadi ketika Tante Reni menelepon tidak ada jawaban.
Sementara hal yang membuat Om Frans masih kukuh dengan keputusannya adalah peperangan antara dirinya sendiri dengan hatinya, tidak heran karena hal seperti itu biasa terjadi kepada orangtua yang sangat menyayangi putrinya apalagi Tiar adalah anak semata wayang.
__ADS_1
Namun berbanding terbalik dengan Tante Vina, beliau lebih mengerti perasaan anaknya karena kedekatan hati seorang ibu tidak pernah salah, beliau tahu apa yang diinginkan putrinya.
Saat meninggalkan ruang tamu OM Frans langsung mengunci diri di kamar, beliau menangis dan merenung seorang diri.