
Kedatangan Adel kembali ke butik di sambut hangat oleh para karyawannya, terutama Shahila. Sahabatnya tersebut sangat senang karena akhirnya mereka bisa bekerja bersama lagi untuk mengembangkan butik yang kini semakin maju tersebut.
Butik yang di Jakarta, sudah mulai berjalan dengan baik sehingga Adel bisa meninggalkannya dan mempercayakannya kepada orang kepercayaannya. Bahkan, sekarang ia dan Shahila sedang mempersiapkan cabang baru di kota lain.
Hari pertama bekerja, Adel sudah di sibukkan dengan sejumlah pekerjaan. Hal itu membuatnya belum memiliki waktu untuk sekedar mengobrol dengan Shahila. Tadi hanya saling menyapa dengan sahabatnya tersebut sebelum briefing dengan para karyawan.
Hingga di sela kesibukannya Shahila yang datang menghampirinya.
"Pengantin baru udah langsung sibuk aja, kenapa udah berangkat sih? emang nggak bulan madu gitu?" tanya Shahila sembari melangkah masuk.
"Ini juga ngebut kerja biar bisa di tinggal bulan madu, Sha. Lagian suami juga udah masuk kerja, mau di rumah aja nggak ngapa-ngapain," sahut Adel.
"Ya kirain kan, mau di kelonin terus sama suaminya. Secara kan perjalanan kalian buat bersatu itu susah banget, udah kayak lagu ninja hatori tahu nggak. Harus mendaki gunung, lewati lembah segala macam. Eh tahunya malah pada gila kerja,"
Adel menggeleng sembari tersenyum tipis," Kamu sendiri bagaimana sama Rasel?"
" Ya, nggak gimana-gimana, gini-gini aja. Maunya gimana emang?" Sahila menggedikkan bahunya.
" Ya, aku maunya kamu juga cepat nemuin pria yang sayang sama kamu dan nikah, biar kita bahagianya bareng-bareng, Sha," ucap Adel.
" Aku lihat sepertinya Rasel serius suka sama kamu, dia orangnya tulus, Sha,"
" Aku tahu dia orang baik, kalau jahat udah di penjara," sahut Shahila nyengir.
" Tahu ah, susah emnag ngomong sama kamu. Buang jauh-jauh trauma itu, Sha. Nggak semua cowok breng sek kayak mantanmu itu. Udah saatnya kamu benar-benar membuka hati untuk laki-laki lain," ucap Adel. Ia tahu betul, di balik sikap sok playgirlnya Shahila sebenarnya sahabatnya itu menyimpan trauma akibat ulah mantan kekasihnya dulu di New York yang hampir saja merenggut kesuciannya.
Sikap Shahila yang terlihat mudah bergaul dengan laki-laki hanya untuk menutupi rasa trauma itu. Ia sudah berusaha membuka hati untuk pria lain tapi selalu gagal, rasa traumanya masih saja menghantui, sehingga ia tak pernah lama menjalin hubungan dengan seorang pria.
"O iya, kan hampir lupa gara-gara bahas Rasel. Aku ke sini buat sampein pesan dari kak Gema," ucap Shahila sengaja mengalihkan pembicaraan. Karena sebenarnya ia mulai nyaman dengan Rasel, tapi masih takut untuk serius.
Ngomong-ngomong soal Gema, dimana pria itu sekarang. Saat acara pernikahan Varel dan Adel pun pria itu tidak datang. Padahal Adel mengundangnya melalui Shahila.
"Kak Gema? sekarang dia di mana? Bagaimana kabarnya?" tanya Adel. Bagaimanapun sampai sekarang ia masih menyimpan rasa bersalah terhadap pria baik itu. Ia akan benar-benar lega kalau pria itu sudah menemukan belahan jiwanya.
"Kak Gema sekarang menetap di London, dia menghandle semua pekerjaan dari sana. Hanya sesekali pulang kesini saat kamu di Korea waktu itu. Tapi, udah setahun ini dia nggak balik. Tahu tuh, nggak rindu kali sama adik semata wayangnya ini," Shahila malah curhat.
" Maaf, ya. Gara-gara aku kamu jadi jauh lagi sama kakak kamu. Kalau saja waktu itu aku nggak manfaatin dia, mungkin dia nggak akan pergi kayak gini. Emang susah banget ya, ngilangin pesan aku sampai kak Gema harus menetap di luar negeri buat move on,"
Shahila mencebik," Dih pedenya selangit. Dia emang udah rencana dari dulu mau menetap di sana, kecuali kalau kamu emang beneran mau sama dia, itu akan jadi pertimbangannya untuk tetap tinggal. Sedih tahu aku sebagai adik nggak di jadiin pertimbangannya juga,"
__ADS_1
"Ya karena kamu perempuan. Kalau udah nikah nanti, kamu pasti bakal bucin sama suami kamu dan ngintilin dia kemanapun maunya dekat terus. Jadi, nggak mungkin kaka Gema jadiin kamu pertimbangan karena dia tahu kamu akan meninggalkannya,"
"mungkin gitu kali ya. Ah kan jadi lupa sama intinya. Intinya kaka Gema minta aku sampaiin maaf sama kamu dan suami kamu karena nggak bisa datang ke acara pernikahan kalian,"
"Takut gagal move on, ya?" tebak Adel.
"Bisa jadi. Dia bilang ikut bahagia atas pernikahan kalian pokoknya. Satu lagi, dia kasih kalian hadiah tiket bulan madu ke Swiss,"
"Nggak boleh nolak! itu pesan kakak. Dia cuma mau kasih sesuatu buat kalian berdua, bukan cuma tiket doang tapi full fasilitas selama di sana seminggu," sergah Shahila cepat saat tadi Adel hendak menimpali ucapannya. Ia tahu pasti Adel akan menolak.
Adel diam, ia tak tahu harus menerimanya atau tidak. Ia harus membicarakan ini dengan suaminya terlebih dahulu. Ia tahu watak suaminya seperti apa. Ia tahu niat Gema baik dan tulus, tapi mungkin suaminya akan mengartikannya beda. Bagiamanapun juga Gema pernah jadi saingannnya.
Terlebih lagi, Adel ingat jika suaminya mengatakan kepada Bara kalau mereka akan bulan madu setelah pekerjaan beres. Ia tak tahu kemana suaminya akan mengajaknya pergi.
"Terima ya? kakak akan sedih kalau kamu menolaknya," bujuk Shahila.
"Nanti aku bicarakan sama suamiku dulu, kalau dia terima aku manut," ucap Adel.
Shahila mendengus, "rayu dia, bujuk dia, bukan cuma bicara, Del. Kalau cuma diajak bicara aku yakin suamimu menolak. Gengsinya kan gede apalagi cemburunya," ucapnya.
Yang mana membuat Adel mengernyit, seolah Sahila paling tahu karakter suaminya saja.
.
.
.
Sementara di tempat lain, Varel gemas sendiri dengan Rasel. Mereka seperti sedang main kucing-kucingan. Sahabatnya tersebut selalu menghindar untuk bertemu dengannya.
"Met! Lo kenapa, sih?" teriak Varel gemas saat melihat Rasel dan pria itu langsung memutar badannya dan bersiap lari.
"Mules!" teriak Rasel beralasan, ia langsung berjalan ngibrit seperti sebelumnya. Namun, kali ini Varel berhasil mengejarnya. Ia menghentikan langkah Rasel dengan memegang kerah kemeja pria tersebut.
"ikut gue!" Varel menarik kerah Rasel supaya ikut dengannya.
"Gue mules Rel, sumpah! Mau ke toilet!" seru Rasel, namun langkahnya tetap mengikuti Varel karena tarikan pada kearahnya cukup kuat. Pikiran Rasel melihat sikap Varel seperti itu menebak pasti kalau pria itu marah, sudah pasti itu.
"Rel... Gue bisa jelasin...,"
__ADS_1
"Diem! Kalau mau berak, berak aja di sini nggak usah beralasan ke toilet segala!" Varel melepas cengkeramannya pada kerah Rasel setelah mereka sampai dalam ruangn Varel.
"ck, ya kali gue beol di sini. Yang ada lo makin ngamuk sama gue," Rasel membenarkan lehernya yang terasa kebas akibat ulah Varel tadi yang hampir mencekik lehernya karena tarikannya yang kencang.
"Lo kenapa sih? Dari tadi ngindarin gue? lihat gue udah macam lihat setan aja. Lo udah nggak sayang sama gue, met?"
"gue lebih sayang nyawa gue, Rel. Sumpah kaset itu gue kasi cuma buat iseng doang. Lo jang..." ucapan Rasel terhenti saat Varel memeluknya, ia sudah waspada kalau kalau Varel meninjau perutnya atau apa, tapi ia speechless mendengar kalimat yang diucapkan sahabatnya tersebut.
" Thanks, Met! Berkat lo, secara nggak langsung gue jadi bisa ngerasain enaknya kawin. Gue jadi bisa tahu seperti apa surga dunia yang bikin semua orang ketagihan. Lo harus cepat nikah juga, Met! Biar bisa tahu rasanya. Luar biasa, Met! Enak!"
Rasel yang merasa geli sendiri dengan ucapan Varel langsung mendorong tubuh pria tersebut," breng sek lo! seharian gue mati-matian buat ngindarin lo, kirain lo mau bunuh gue, tahunya cuma mau pamer habis bobol gawang! Gila lo!"
Varel terkekeh.
" Mana dampaknya ke gue lebih horor gini dari ketakutan gue sejak pagi tadi. Si al lo emang. Jadi pengin kawiiin..." rengek Rasel.
Varel semakin terkekeh karena berhasil pamer," lepas-lepas! geli gue di peluk-peluk gini, gue udah punya bini yang bisa peluk gue!" ucapnya sembari melepas tangan Rasel yang bergelayut manja memeluknya.
Namun bukan melepaskan, Rasel malah semakin iseng memeluknya.
"Thanks ya, met! ntar gue transfer bonus buat lo!" kali ini Varel serius.
"tahu gini gue kirim pemainnya langsung biar live show! biar bonus gue makin gede buat modal kawin," ucap Rasel.
"Nggak gitu juga konsepnya, Met!"
"Abang... Kalian ngapain?" suara yang sangat familiar itu membuat Varel sadar kalau dia dan Rasel masih berpelukan.
Varel menoleh, ia langsung lemas, pasti Adel berpikir aneh-aneh, "Met lepas! 'ucapnya.
" Nggak mau, gue terlalu sayang sama lo karena lo udah kasih gue bonus!" ucap Rasel yang memebelakangi pintu dimana Adel sedang berdiri dengan menenteng paperbag di tangannya. Shahila yang menyusul di belakang Adel langsung terperangah melihat adegan di depannya.
" Met! Lepas! Ada istri gue!" sentak Varel.
" Iya, dan gue istri pertama lo!" Rasel masih belum sadar, ia masih menikmati keisengannya.
"Sin ting nih orang!" Varel mendorong paksa Rasel hingga pria itu terjengkang ke lantai.
Saat itulah Rasel melihat Adel dan Shahila tentunya. Ia langsung menatap Varel, "Rel, mati aku!"
__ADS_1
...****************...