Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bab 43


__ADS_3

Varel mengempaskan tubuhnya ke ranjang. Ia memijit pelipisnya yang terasa pusing. Entah keputusan yang tepat atau tidak ia menetima permintaan Andini untuk segera menikah.


Dulu memang iya, Varel mantap menikah dengn Andini karena tak memiliki gambaran masa depan dengan Adel. Namun, kini setelah wanit itu kembali, hatinya menjafi bimbang untuk terus melangkah bersama Andini.


Lalu, bagaimana dengan janji yang sudah terucap, ingatan tentng kecelakaan itu kembali berputar di kepalanya. Betapa ia melihat sendiri bagaimana ibunya Andini menyelamatkannya dari maut. Dan permintaan nyonya Rosa untuk menikahi dan menjaga putrinya bukanlah suatu hal yang jahat. Wajar saja seorang ibu yang sudh di ujung maut, dalam keadaan kritis memikirkan nasib kelanjutan hidup anak semata wayangnya.


Malam semakn larut, namun Varel tak bisa memejamkan matanya. Ia bangun lalu mengambil jaket dan kunci mobilnya.


Adel yang mendengar suara mobil Varel, mengintip dari jendela kamarnya, "Mau kemana dia malam-malam begini?" gumam Adel. Ia sendiri belum busa tidur karena masih ada beberapa pekerjaan penting.


.


.


.


Rupanya Varel mengajk Rasek untuk bermain basket. Setelah bermain beberapa kali keduanya merasa lelah.


"Capek gue!" ucap Rasel yang langsung terlentang di lantai di susul dengn Varel.


Mereka berdua mengatur napas mereka yang naik turun seraya memandangi langit berbintang malam ini.


"Lo kenapa? Tumben ngajak main malam-malam begini, pasti ada masalah? Cinta?" tebak Rasel dan Varel hanya diam yang mana membuat Rasel yakin tebakannya benar.


Beberapa saat mereka terdim dengan okirn masing-masing.


"Gue dulu yang curhat!" ucap Rasel dan Varel menoleh ke arahnya, "Tumben?" tanyanya.


"Ya sekali-kalilah, masa lo terus yang galau," sahut Rasel.


"Ya udah!" balas Varel.


"Gue tadi ketemu cewek, temannya my baby bening. Lo tahu nggak, hati gue mendadak dilanda gempa saat melihatnya pertama kali. Bergetar hebat!" Rasel bercerita antusias.


Varel kembali menokeh, memandang aneh sahabatnya tersebut, "Perasaan setiap ketemu cewek cantik hati lo gempa mulu," cebik Varel.


Rasel berdecak, "Ck, ya wajarlah pria normal ketemu cewek cantik ya pasti langsung on. Tinggal nanti pilih mana yng mau di seriusin. Emangnya elo, semua penginnya di seriusin!"


Varel menatap Rasel sebal, "Gue bukannya semua mau di seriusin, ki tahu sendiri gimana gue sama Andini, gue hutang nyawa!" ujar Varel.


Rasel mengembuskan napasnya, "Emang berat sih, nggak kebayng juga kalau gue di posisi lo. Saat lo udah kadung janji buat nikahin Andini, eh My baby bening muncul. Ambyar sudah yang pasti. Seambyar hati gue sekarang... Gue kayaknya bakal susah dapat restu dari kakaknya Shasha deh, gue udah menciptakan image buruk di depan kakaknya," keluh Rasel.

__ADS_1


" Shasha?" Varel mengernyit.


" Sahila, nama cewek itu, Shasa panggilan kesayangan gue," jelas Rasel.


" Semua dapat panggilan sayang perasaan," sindir Varel.


" Lah emng gue sayang, masa benci? Eh lo tahu nggak..."


"Nggak!"potong Varel cepat.


"Ck, dasar. Dengarin dulu gue curhat, baru giliran lo. Lo tahu nggak kalau Shasa tuh adiknya Gema, cowoknya my baby bening. Ntar kalau my baby bening sama Gema nikah, gue sama Shasa, kita jadi saudaraan ipar dong," Rasel tamoak berpikir, membayangkan apa yang baru saja ia katakan.


Varel masa bodih, mau Sahila adiknya Gema kek, ia tidak peduli. Mengajak Rasel ketemu sepertinya bukan ide yang bagus.


" Sekarang giliran lo, ada masalah apa? Kayaknya kali ini berat?" tanya Rasel.


Varel diam sekejap sebwlum ia membuka suara, "Andini ngajakin gue nikah," ucap Varel lirih namun masih bisa di dengar Rasel.


"Serius? Akhirnya... Tapi kenapa sekarng lo yang nggak semangat gini, bukannya lo yang udah siap sejak lama? Giliran Andini mau lo yang pusing, gimana sih?"


"Gue juga gak tahu, gue kira semuany akn muda dengan mengatakn ayo kita menikah, tapi sekarang gue ragu, gue nggak bis bohongi diri gue sendiri. Dua tahun gue mencoba, tapi nyatanya nggak bisa," ujar Varel, matanya menerawang ke langit.


"Pasti gara-gara cibta lam belum kelar kan? Adel kan?"


"Gue harus gimana?"


"Ya lo tentuin sikap dong, mau sama siapa. Eh tapi kan Adel udah sama Gema, lo nggak jadi sm Andini juga gak bisa sama Adel kayaknya. Ah tahu ah, pusing gue mikirin kisah cinta segi banyak lo. Gue aja cinta nggak bersegi alias satu aja nggak ada, ngapain pusing mikirin kisah cinta lo!" Rasel bangun dari tidurannya. Di susul oleh Varel dan mereka bermain sekali lagi sebelum kembali ke rumah masing-masing.


.


.


.


Jadwal opening butik Adel yang seharusnya di lakukan minggu lalu, terpaksa harus di undur satu minggu kemudian. Karena ternyata masih banyak perintilan-perintilan yang harus di kerjakan sebelum butik benar-benar resmi di buka.


Dan setelah berusaha keras, akhirnya sekaranglah waktunya butik resmi di buka memang sengaja untuk umum. Ada beberapa kenakan Adel yang diundang secara khusus, seperti Andini, Varel, Rasel dan Gema yang pasti. Banyak pengunjung yang berdatangan ke butik. Selain karena ada promo yang menggiurkan untuk pembuka, juga ada salah satu gaun pengantin yang menarik perhatian mereka. Gaun yang terlihat sederhana namun sangat elegan, tak ada kesan wah dan mewah yng berlebihan namun mampu memikat mata siapa saja yang melihatnya.


Itu adalah gaun yang memang menyita waktu lebih lama pengerjaannya karena selalu mendapat kritikkan dari Varel. Dan ternyata benar yang di katakan pria itu sebelumnya. Gaun itu kini menjadi best mode di butik. Dan tentu saja untuk harga yang paling spesial. Ada beberapa gaun juga yang di beri masukn oleh Varel dan mendapat cukup banyak peminat. Mungkin untuk mereka yang budget untuk membeli gaun yang paling bagus tadi kurang, gaun yang lainnya bisa jadi alternatif.


Sementara beberapa gun yang lain, yang selalu di puji oleh Gema memang bagus juga. Cukup lumayan yang menyukai, namun tetap saja seperti ada yang kurang peminatnya. Dan hal itu akn menjadi pelajaran buat Adel dan Sahila ke depannya. Mungkin ide-ide dari para kliennya nanti juga akan sangat ia butuhkan supaya butiknya semakin maju dan bagus dalam pelayanan. Karena tidk mudah untuk membangun bisnis dari nol. Dan untung saja berkat kata-kata pedas Varel yang sempat membuatnya kesal justru malah membuat Adel kini tersenyum puas.

__ADS_1


"Wah nggak nyangka, baru openning udah seramai ini, ya?" ucap Sahila.


"Iya, yuk kita ke sana! Yang sini biar diurus karyawan," ajak Adel menunjuk ke teras belakang butik dimana para tamu undangan khusus berada.


"Selamat ya, untuk kesuksesan butik kalian," ucap Gema.


"makasih kak, semuanya huga berkat bantuan dan doa kalian," sahut Adel tersenyum. Ia memandang Varel mengucapkan terima kasihnya dengan sorot matanya dan Varel bisa menangkap hal tersebut. Ia sedikit menganggukkan kepalanya.


Baik Varel maupun Gema, diam-diam gencar mempromosikan butik yang baru buka sekitar satu jam yang lalu tersebut. Namun tentu saja tanpa sepengetahuan siapapun. Begitulah salah satu cara Varel dan Gema mendukung Adel.


"Selamat ya Adel, Sahila. Ini luar biasa, gaunnya indah-indah. Amazing!" ucap Andini.


"Terima kasih,"


"Ini semu berkat Adel, idenya yang cemerlang bisa menghasilkn karya-karya yang bagus, aku mah cuma ikut nanam modal doang," seloroh Sahila.


"Tapi, kadang aku kasih masukan juga sih," ralat Sahila cepat.


"Kmu kan emang bakatnya mengatur bidang keuangan, jadi kita seimbang," ucap Adel.


"Oh ya amoun, udah cantik, pintar hitung-hitungn lagi, kalau menghitung seberapa besar luas hati kamu biar bisa aku masuki, bisa nggak?" celoteh Rasel. Yang mana mendapat cibiran dari semuanya.


"Hati aku sangat luas, bahkan bisa di masuki beberapa hati sekaligus," balas Sahila yang langsung mengudng tawa yang lain.


"Mam pus lo! Muat banyak! Hati lo mah Nggak ada apa-apanya di sana!" bisik Varel di telinga Rasel. Rasel langsung mencebik sebal.


"O ya, Del. Berhubung aku sama Mas Varel mau menikah, aku mau pesn gaun sama kamu dong. Mirip yang jadi best icon di depan sana, tapi nanti buat yang baru, jangan yang itu soalnya aku mau yang beda. Gimana? Bisa kan?" ucap Andini.


Suasana yang tadinya ceria, kini mendadak seperti mendung buat adel dan Varel.


" Andin... Sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahas hal itu," peringat Varel. Ia tak ingin merusak suasana ceria siang itu.


" Mas setuju kan kalau Adel yang buat, ku lihat gaun yang itu sangat bagus, aku suka," ucap Andini tak mengindahkan ucapan Varel.


"Kita bisa bicarakan ini nanti, lagian Adel masih sibuk tidak mungkin dia.... ,"


"Aku mau!" potong Adel cepat.


"Benarkah? Tuh kan mas, Adel aja setuju kok. Oke kalau begitu kapan-kapan aku ke sini untuk membicarakan hal ini lebih lanjut ya?"


Adel mengangguk, "Baiklah. Kalian nikmati ya acaranya, aku ke depan dulu. Mau menyapa pengunjung yang baru datang,"

__ADS_1


"Saya temani!" ujar Gema.


Adel tersenyum, " boleh, Ayo kak!" ajaknya menggandeng lengan Gema.


__ADS_2