Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
19.Kedatangan Orangtua Tiar Ke Rumah Adam


__ADS_3

Pov Adam


Tiar selalu menghindar sejak aku memintanya untuk berbicara kepada orangtuanya mengenai ajakan bertunangan sebelum pergi mengurus bisnis di Amerika.


Sebelumnya entah oleh sebab apa aku tidak tahu, jika memang dia tidak menginginkannya mengapa tidak langsung menolak mengapa justru malah menghindar, akhirnya aku mencari cara untuk membuatnya terbuka kepadaku.


Ternyata Papanya lah alasan dari Tiar menghindar, dengan alasan belum menyetujui ikatan pertunangan diusia kami.


Hari ini aku memutuskan untuk mengajak kedua orangtuaku mendatangi kediaman Tiar, aku ingin langsung berbicara kepada Papanya yang tentu saja akan dibantu oleh Papi dan Mami.


Alarm ponselku berdering menunjukkan hari sudah pagi, aku mengambil ponselku untuk mematikan alarm ketika ku tatap layar ternyata jam sudah menunjukkan pukul 08.45.


Kembali aku letakkan ponselku diatas meja, aku bergegas bangun dan pergi mandi, karena jam 09.00 nanti aku akan pergi kerumah Tiar.


Selesai mandi aku melirik kearah ponsel karena layarnya menyala,ku tatap dengan lekat hal apa yang membuat nya menyala, ternyata balasan pesan dari Tiar.


Semalam sebelum tidur aku mengirim pesan kepada Tiar tentang jadwal orangtuanya, dan pagi ini dia membalas dengan mengatakan kalau orangtuanya sudah pergi pagi-pagi sekali entah kemana.


Tin!...Tin!.....Tintin!.... Suara klakson mobil didepan teras rumahku.


"Disuruh keluar Den sepertinya ada tamu penting yang mencari Den Adam" Ucap Mbok Inem setelah mengetuk pintu.


Aku menyahut baju yang belum sempat ku kenakan, sambil berjalan menuruni tangga aku melanjutkan memakai baju.


"Loh Dam rambut kamu kok masih basah? baru mandi ya?" Tanya Mami yang berdiri di meja makan menyiapkan hidangan untuk tamu.


"Siapa Mi yang datang?" Tanyaku penasaran.


"Tante Vina, sana ke depan dulu salaman. Tadi mereka nyariin kamu" Jawab Mami.


"Selamat pagi Om, Tante" Aku menyalami mereka, kemudian duduk di seberang Om Frans.


Aku celingukan mencari keberadaan Tiar, dan tanpa sengaja Om Frans menyadarinya.


"Tiar gak ikut Dam, tadi waktu kita kesini dia belum bangun, mungkin kecapekan karena kemarin habis dari ngerjain tugas seharian" Jawab Tante Vina.


"Maaf ya jeng pagi-pagi sekali kita datangnya, jadi ngerepotin gini" Ujar Tante Vina.

__ADS_1


"Oh gak repot sama sekali kok jeng, malah seneng jeng bisa silaturahmi kerumah kami, silahkan diminum dulu Jeng" Balas Mami dengan bersikap ramah.


Tin!....Tin! Suara klakson dari kendaraan Papi terdengar di luar pagar rumah, Mbok Inem langsung berlari keluar untuk membukakan pagar karena satpam dirumah sedang izin mengantar istrinya melahirkan.


Setelah memarkirkan mobil di carport Papi langsung masuk kedalam ruang tamu.


"Wah...ada angin apa ini kedatangan tamu istimewa" Sapa papi kepada orangtua Tiar.


"Halo pak Daru, sepertinya baru datang ini sepertinya sibuk sekali?" Om Frans berdiri dan menyalami Papi bagai sahabat yang sudah lama tidak bertemu.


"Yah beginilah buruh Pak Frans, selalu dikejar-kejar oleh bos" Canda Papi.


"Ah jangan merendah Pak, orang bos besar kok bisa bilang buruh, dari mananya coba?" Balas Om Frans.


"Kita ini meskipun punya usaha sendiri ya tetap buruh pak, pekerjaan yang jadi bosnya" Jawab Papi.


"Hahaha" Mereka tertawa bersama.


"Duduk dulu kita Pak supaya ngobrolnya lebih enak, udah dari tadi nih?" Papi mempersilahkan Om Frans untuk duduk kembali.


"Yah beginilah kondisi saya pak Daru, rencananya saya akan menyerahkan semua usaha kepada Adam, tapi terlebih dulu saya akan memintanya untuk menghandle di Amerika yang baru supaya tau kemampuan bisnisnya" Ujar Papi.


"Jadi Adam mau ke Amerika? lalu ajakannya kepada Tiar?" Tanyanya.


Papi dan mami hanya saling pandang mendengar pernyataan dari Om Frans, sepertinya orangtua Tiar baru tahu jika aku akan pergi ke Amerika.


"Langsung aja ya Ma?" Tanya Om Frans.


Aku terkejut dengan pertanyaannya, kode apa yang dimaksudkan oleh Om Frans? apa akan membahas mengenai penolakannya.


"Jadi begini Pak Daru, besok kan disini ada acara syukuran? kita sengaja bawa ini untuk oleh-oleh acara besok, sekalian mau pamit karena akan ada perjalanan bisnis ke Medan selama seminggu, jadi maaf kalau tidak bisa mengikuti acaranya" Jelas Om Frans.


"Loh kok dadakan sekali Pak? gak bisa datang dulu ya? sayang banget lo kalau Jeng Vina gak bisa datang padahal mau kumpulin semua teman lama kita aku udah undang khusus buat sekalian reuni" Jawab mami sedikit kecewa.


"Ya gimana ya Jeng? soalnya Papanya Tiar ini gak terbiasa pergi sendiri tanpa dampingan ku " Jelas Tante Vina.


"Em...begitu ya? ya udah aku gak maksa Jeng, lagian kan udah menjadi kewajiban istri nurut kemanapun suaminya pergi, gimana kalau besok diwakilkan Tiar saja Jeng?" Imbuh mami.

__ADS_1


"Maaf Bu Reni, sepertinya Tiar juga tidak bisa hadir besok" Pungkas Om Frans.


"Oh...Tiar nya sibuk ya Pak?" Tanya Mami kembali.


"Tidak, tapi ini maksud kedua dari kedatangan kami kesini" Ucap Om Frans.


"Maksudnya bagaimana ya?" Tanya Mami kebingungan.


"Apa kamu belum bicarakan dengan orangtuamu Dam?" Tiba-tiba papa Tiar melemparkan pertanyaan kepadaku dan memberi tatapan tajam.


"Bicarakan apa Dam?" Mami menoleh ke arahku.


"Biar saya saja yang jelaskan, dua hari yang lalu Tiar meminta izin kepada saya untuk bertunangan dengan Adam dan saya tolak, tapi bukan berarti saya tidak suka dengan Adam, hanya saja ini terlalu cepat bagi putri saya yang umurnya baru menginjak dua puluh satu tahun belum genap" Jelas Om Frans.


"Kalau masalah itu kami memang sudah tau dari awal, itu berupa niat yang baik lo Frans, kalau mereka sama-sama suka mengapa tidak?" Jawab Papi.


"Kamu benar Daru! tapi bagi saya ayah dari seorang putri niat baik seperti ini tidak perlu terburu-buru harus dipikirkan dengan matang, bukan kah benar seperti itu Bu Reni?" Ujar Om Frans.


"Saya juga seorang ayah dari anak perempuan Frans, jangan lupa saya juga punya anak perempuan. Tapi sekalipun saya tidak pernah memaksakan kehendak saya kepadanya" Balas Papi.


"Jangan menggurui saya, apapun yang saya lakukan itulah yang terbaik untuk anak saya" Jawaban Om Frans sangat lantang.


"Apa salahnya bertunangan Om?" Tanyaku mulai memberanikan diri.


"Oh enggak Dam, pertunangannya gak salah tapi usia kalian yang masih terlalu muda apalagi kamu kaan pergi ke Amerika, mau jadi apa hubungan kalian kedepannya" Jelasnya.


"Saya yakin bisa setia sama Tiar Om, meskipun saya jauh di Amerika" Ucapku meyakinkan Om Frans.


"Kita sama-sama lelaki Dam,kamu sebaiknya pikirkan matang-matang sebelum mengambil suatu keputusan. Pernikahan gak main-main lo" Ujar Om Frans.


"Percaya sama anak saya Frans, la Bapaknya aja setia masak anaknya gak nurun sifat Bapaknya?" Imbuh Papi membelaku.


"Ya kita liat saja nanti kedepannya dia bisa gak buat saya yakin dan percaya" Tantang Om Frans.


"Saya akan buktikan Om" Jawabku dengan mantap.


Setelah mendapat jawaban dari tantangannya Om Frans meminta izin untuk pamit pulang.

__ADS_1


__ADS_2