
Varel menemui Andini setelah wanita itu pamit kepada bu Lidya dan Syafira. Ia sama sekali tak menawarkan untuk mengantar Andini. Sejujurnya Varel masih kecewa masalah pagi tadi soal ketidakjujuran Andini.
"Aku pamit ya, mas. Kamu banyakin istirahat, biar cepat sehat, sebentar lagi kita menikah, loh," pamit Andini.
"Soal itu,..."
"Iya, kta bicara nanti kalau kamu udah benar-benar sehat, nggak usah antar aku, aku bawa sopir kok," potong Andini cepat.
"Hem, hati-hati," sahut Varel singkat.
Sementara di dalam, Syafira dan bu Lidya kembali mengobrol dengan Adel. Meski masih kecewa, tapi Syafira sudah mulai melunak.
Varel yang melihat keceriaan ketiga wanita itu mengobrol langsung bergabung.
"Aku nggak di buatkan minum sekalian, cil?" tanya Varel pada Adel.
Adel langsung melotot tak terima dengan panggilan Varel, "Buat sendirilah, biasa juga buat sendiri. Manja!" sungutnya.
"lah, kan aku lagi sakit, nggak ingat semalam..." Adel langsung mendelik, memperingatkan pria tersebut untuk menjaga ucapannya.
"Andini merawat aku! Kamu sih, keasyikan molor, jadi nggak tahu aku sakit, kan," lanjut Varel dengan santainya dan Adel hanya mencebik.
"Sudah, kalian ini. Dari dulu nggak berubah, kerjaannya berantem mulu kalau ketemu. Mama nggak habis pikir, selama tinggal berdua kalian apa nggak berantem terus kayak gini. Kok betah sih, del tinggal seatap sama dia," ucap bu Lidya.
"Emang ngeselin tahu anak ibuk yang satu ini. Tapi, kan kami jarang ketemu atau ngobrol. Aku kan menghabiskan waktu diatas dia di bawah sini, jadi masih amanlah buk, nggak sering-sering amat cek coknya," jelas Adel yang tak termakan dengan klimat jebakan bu Lidya.
"Iya, aku juga sibuk sama pekerjaan. Pulang-pulang udah capek, nggak ada waktu buat jahilin ini bocil. Apalagi nih bocil itung-itungan banget, kalau aku menginjakkan kaki di langai atas harus bayar. Padahal dia tiap hari lewat sini, aku diemin, nggak aku palakin," Varel menambahi.
Dan sore itu mereka mengobrol dengan di penuhi candaan. Syafira justru semakin khawatir dengan Adel. Bagaimanapun ia sangat paham dengan adiknya tersebut.
.
.
.
__ADS_1
Varel beberapa kali berdecak sebal, pasalnya wanita yang ia cintai itu yak kunjung datang menemuinya di taman, padahal ia sudah menunggu sejak setengh jam yang lalu.
"Awas aja kalau nggak datang, aku...."
"Aku apa?" suara itu, meski lirih tapi mampu membuat bibirnya yang sejak tadi manyun menjadi tersenyum. Namun ia segera memasang wajah juteknya kembali.
"Bisanya ngancem aja," lanjut Adel yang kini sudah duduk di depan Varel.
Varel masih diam, pura-pura ngambek, padahal dalam hati ia jingkrak-jingkrak kegirangan karena tak menyangka Adel bakalan datang menemuinya. Padahal tadi dia sudah pesimis, karena pasti Adel takut ketahuan.
"Aku harus nunggu Nala tidur dulu tadi, dia kan tidur di kamar aku malam ini. Lagian, aku juga harus mastiin semuanya juga udah tidur. Nggak lucu banget kan kalau ketahuan,"
"Aku malah senang kalau ketahuan, kita bisa langsung diarak ke KUA, jadi nikah gratis nggak pakai biaya," sahut Varel masih jutek.
"Dih mulutnya, kalau ngomong," cibir Adel.
"Terus sampai kapan? Apa aku harus menikah dulu dengan Andini, dan kamu akan mendapat status baru, yaitu sebagai selingkuhanku, begitu?" sindir Varel.
"Ya nggak gitu juga, om. Ah udahlah, kalau mau ngambek terus, mending aku balik ke kamar aja. Aku ke sini nggak mau berdebat, om malah begini. Nggak bisa apa kita menghabiskan waktu tanpa bahas yang bikin mumet kepala?" sungut Adel.
"Jangan, dong," Varel menahan tangan Adel," Jangan pergi, duduk sini. Sejak kamu pulang, kita belum kencan. Duduk sini, sebelah aku," sambungnya. Ia menepuk tempat kosong di sebelahnya.
"Kan semuanya udah tidur, sini nggak akan ada yang lihat," rengek Varel dan Adel menurutinya. Pria itu langsung meletakkam kepalanya di paha Adel setelah wanita itu duduk.
"Om, jangan gini, bangun ih!"
Varel tak mempedulikan perkataan Adel. Ia bersedekap dada lalu memjamkan matanya.
"Ommmm,"
"Sssttt, jangan berisik. Atau emang mau ketahuan?" ucap Varel tanpa membuka matanya.
Adel terdiam, ia memandangi wajah pria yang memejakan matanya itu lekat-lekat.
"Kok diam?" tanya Varel kemudian.
__ADS_1
"Omnya aja merem, aku suruh ngomong apa," jawab Adel. Varel membuka matanya, ia tersenyum melihat wajah Adel yang manyun.
"Aku nggak tidur beneran, Adelia. Cuma merem aja, menikmati suasana, di sini rasanya tenang kalau kamu di dekatku," Varel menaruh tangan Adel di dadanya. Wajita itu langsung tersipu, "Dari dulu om. Nggak pernah berubah, tulang gombal, ya?"
"Aku kayak gini cuma sama kamu aja,"
"Masa?" Adel tak percaya.
"Apa perlu aku membelah dadaku dan melihatkan isinya padamu, biar. Kamu percaya?"
Adel tersenyum lalu menggeleng, "Nggak perlu, aku bisa merasakannya," ucapnya.
Varel tersenyum, ia mencium tangan Adel.
"Sabar sedikit lagi, ya. Aku akan menyelesaikan semuanya," kata Varel. Adel hanya bisa mengangguk.
Malam semakin larut, Varel menyuruh Adel untuk masuk terlebih dahulu. Ia masih ingin menghabiskan waktu di sana.
Sepeninggalnya Adelia ke kamar, bu Lidya datang menghampiri Varel.
" Ma-mama? Kok mama bisa ada di sini?" tanya Varel gugup.
Bu lidya duduk di samping putranya, "Mama nggak bisa tidur," ucapnya.
"Kangen sama om John, ya? Baru juga sehari berpisah, udah kangen aja," goda Varel. Ia mencoba mencari pengalihan topik.
"Mama kepikiran putra mama," jawab bu Lidya, yang mana membuat Varel terdiam sejenak,"Aku? Memangnya anak mama yang ganteng ini kenapa? Perasaan, Varel baik-baik saja deh!"
"Kalau orang lain, mungkin percaya sama perkataan kamu ini, tapi ini mama. Yang melahirkan kamu, mama tahu kamu sedang tidak baik-baik saja, sayang," kata bu Lidya.
Varel diam, ia lalu meletakkan kepalanya di pangkuan bu Lidya, "Bagaimana rasanya? Apa sama nyamannya dengan rebahan di pangkuan Adel?"
Tentu saja pertanyaan bu Lidya mengejutkan Varel, ia bahkan hampir mengangkat kepalanya, namun bu Lidya tahan," udah, tiduran aja di sini. Mama masih jadi tempat paling nyaman dan aman buat keluh kesahmu, sayang," ucap bu Lidya.
Varel langsung membenamkan wajahnya di perut sang ibu, "Aku masih mencintainya, ma. Aku nggak bisa lupain dia. Aku udah coba, tapi tetap nggak bisa. Tapi, aku terlanjur berjanji sama ibunya Andini. Ini nggak akan Adil untuk kami bertiga. Kenapa dia baru kembali saat Varel sudah akan menikah? Kenapa nggak dari dulu? Sebelum Varel bertunangan dengan Andini, supaya pada akhirnya tidak ada yang tersakiti," akhirnya, ada tempat untuk Varel menumpahkan keresahannya selama ini, yaitu ibunya.
__ADS_1
Bu Lidya mengusap punggung Varel yang bergetar, ia audh menduganya sejak pertama kali melihat Adel di rumah itu tadi.
"Mama tahu, sebenarnya kamu berat memilih antara tanggung jawab dan cinta. Tapi, mama yakin, apapun keputusanmu, itulah jalan yang terbaik. Sebagai seorang ibu, mama ingin kamu bahagia. Mama nggak mau lihat anak mama tersiksa batinnya. Meski berat, cobalah berkata jujur,"