
"Kakak?"
"Syafira?"
Adel dan Varel sangat terkejut melihat Syafira yang sudah berdiri di depan pintu kamar Varel, wanita itu terlihat sangat syok melihat pemandangan di depannya.
Syafira langsung balik badan dan keluar, "Ayo buk, kita tunggu di sana saja," ucap Syafira kepada bu Lidya yang baru saja akan menyusulnya bersama dengan keempat anaknya. Kepalanya sudah berisi praduga yang tidak-tidak.
"Kenapa, Fir? Wajahmu kok jadi pucat begitu, Varel ada kan?" tanya bu Lidya.
"Ada buk, ada kok. Bentar lagi juga dia keluar, kita tunggu saja," ujar Syafira, ia masih sangat syok dengan apa yang dia lihat barusan.
Sementara itu, Varel dan Adelia masih terkejut dengan kehadiran Syafira yang sama sekali tak terduga. Menyadari posisi mereka yang saat ini sama sekali tidak menguntungkan, Adel langsung mendorong dada Varel.
"Kita harus jelasin! Aku nggak mau kakak salah paham!" ucap Adel, ia buru-buru bangun.
Namun, Varel kembali menahan tangannya.
"Om, aku harus bicara sama kakak! Dia pasti salah paham!" sentak Adel.
Bukannya melepas, tapi Varel malah menarik wanita itu kedalam pelukannya, "Bukankah kesalah pahaman Syafira sebuah kebenaran? Jangan takut, aku akan mengatakn yang sebenarnya kepada Syafira," ucapnya mencoba menenangkan Adel.
"Jangan, untuk sekarang jangan katakan apapun sama Kakak. Biar aku yang jelasin sama kakak. Om urus saja masalah Andini. Baru kita bicara sama kakak,"
Varel tampak tak setuju, ia menarik tangan Adel untuk mengajaknya keluar dan bicara dengan Syafira, "kita bicara sekarang," ucapnya. Namun, Adel tak bergerak dari tempatnya, ia menepis tangan Varel yang memegang pergelangan tangannya.
Varel mendengus, "Baiklah, ayo kita keluar sekarang. Kakakmu pasti sudah menunggu penjelasan," ucapnya mengalah.
Adel menatap Varel kesal, ia menyayangkan kenapa Syafira harus melihat apa yang terjadi di kamar itu tadi. Semoga saja penjelasannya nanti bisa sedikit mengurangi kekecewaan sang kakak. Ia memilih keluar duluan meninggalkn Varel.
.
.
.
"Kakak, ibuk," Adel terkejut, di ruang tamu bukan hanya Syafira tapi ada juga bu Lidya. Keempat keponakannya tengah asyik dengan rasa penasaran mereka dengan rumah itu di temani oleh dua orang pengasuh.
__ADS_1
"Apa yang ingin kamu jelaskan sama kakak?" tembak Syafira langsung tanpa basa-basi.
"Loh, Adel. Kok kamu bisa di sini?" bu Lidya langsung berdiri dan menghampiri Adelia. Wanita itu tidak menunjukkan keterkejutannya, ia justru langsung memeluk Andini, "Ya ampun, ibuk kangen banget," ucapnya.
Adel membalas pelukan bu Lidya, "Adel jug kangen , buk," balas Adel, namun sorot matanya menatap Syafira yang sedang menunggu penjelasannya.
Adel mengurai pelukannya terhadap bu Lidya.
"Rel, kok nggak cerita kalau Adel di sini, sih?" tanya bu Lidya pada Varel yang baru saja datang menyusul Adel.
"Tolong, siapa yang ingin menjelaskan, kenapa Adel bisa berada di sini?" suara Syafira terdengar berat dan kecewa.
Bu Lidya bukannya tak terkejut melihat Adel di sana, ia sama seperti Syafira, namun ia lebih bisa menahan diri dari pada Syafira.
"Duduk dulu, ya? Ibuk mau dengar ceritanya," ucap bu Lidya.
Varel dan Adel pun menurut, mereka duduk. Seketika suasana hening. Adel menunduk, mengadu kedua ibu jarinya di atas pahanya, tak berani mengangkat wajahnya menatap sang kakak yang sudah keluar tanduknya.
"Ehem, biar aku jelaskan..." Varel mulai bersuara.
"Tidak, biar ku yang jelaskan," sergah Adel cepat.
"Kakak jangan salah paham. Ini tidak seperti yang kakak pikirkan. Aku emang tinggal di sini, semuanya terjadi karena salah paham pemilik rumah. Tapi selama ini, aku tinggal di lantai atas sementara om Varel di bawah. Ada batasan diantara kami. Kami sama sekali tidak ada hubungan apa-apa. Tadi, aku ke kamar om Varel cuma mau ngecek apakah om Varel sudah baikan, karena semalam dia sakit, dan nggak sengaja om Varel tadi kesandung dan jatuh menimpa aku. Kakak tolong percaya sama aku," entahlah bagaimana Adel harus menjelaskannya.
Varel menggelengkan kepalanya tak setuju dengan penjelasan Adel yang mengatakam jika mereka tak ada hubungan. Ia ingin jujur kepada Syafira dan bu Lidya, namun Adel memohon dengan sorot matanya yang mana membuatnya luluh dan mengalah.
"Kakak kecewa sama kamu, dek. Kamu menyembunyikan hal ini dari kakak? Kamu udah buat kakak pusing karena memilih ke sini daripada pulang ke Jakarta, dan sekarng apa? Astaga, dek!"
"Maafin Adel, kak, buk," ucap Adel menatap Syafira dan bu Lidya bergantian , matanya sudah mulai menangis.
"Atau jangan-jangan kamu ke sini karena tahu Varel juga ada di sini, iya dek?" tuduh Syafira.
Adel menggeleng, "Enggak kak, aku sama sekali nggak tahu kalau om Varel di sini. Sama sekali nggak tahu. Semuanya terjadi secara kebetulan, kak,"
"Kamu tahu kan, kalau Varel akan menikah? Terus kenapa kamu masih tinggal di sini?! Kamu perempuan, dan dia laki-laki, calon suami orang!" Syafira hampir kehilngan kesabarannya.
"Sssat, sabar sayang. Biar Adel selesai menjelaskan dulu. Jangan emosi, tahan sayang". Bu Lidya mencoba menenangkan Syafira.
__ADS_1
"Aku tahu kak, Andini juga tahu kalau aku tinggal di sini, kok. Rencana kalau mereka udah menikah, aku akan pindah,"
Varel berdiri, ia lagi-lagi tak setuju dengan ucapan Adel. Mereka sudah sepakat untuk memperjuangkan cinta mereka. Tapi, kenapa Adel alah berkata demikian. Ia ingin bicara jujur sekarang.
" Om,. Ngomong dong, jangan diam aja! Bantu jelasin ke kakak kalau kita emang nggak ngapa-ngapain! Aku tinggal di lantai atas dan om di bawah, kita nggak ada apa-apa!" ucap Adel, sorot matanya begitu memohon kepada Varel.
Varel mengpalkan tangannya, "Iya, apa yang dia katakan benar," ucapnya kemudian. Ia duduk kembali dan menatap kecewa pada Adel.
"Tapi, tetap saja, ini nggak di benarkan, kalian tinggal satu rumah tanpa ada ikatan pernikahan," ujar Syafira yang masih tetap merasa kecewa.
"Tapi kan kita nggak ngapa-ngapain kak," Adel tahu, membela diripun kakaknya sudah kecewa.
"Sudah, sudah. Adel sudah menjelaskan, ibuk percaya sama dia. Kita baru saja ketemu setelah sekian lama, jangan habiskan waktu untuk berdebat," ucap bu Lidya.
"Tapi, buk..."
Bu Lidya menganggukkn kepalanya, berharap Syafira meredam amarahnya.
"Pokoknya kakak nggak mau tahu, setelah pernikahan Varel dan Andini, kamu ikut kakak pulang ke Jakarta," putus Syafira kemudian.
"Tapi, kak. Aku baru merintis bisnis butik di sini, kalau aku ke Jakarta, bagaimana dengan usahaku?" protes Adel.
"Kakak nggak mau tahu," jawab Syafira.
"Kita bicarakan ini nanti lagi, sekarang kamu sama ibuk istirahat dulu, anak-anak pasti juga capek hanis perjalanan jauh. Kalian bisa istirahat di kamar Adel dulu. Nanti aku suruh orang untuk membersihkan kamar paviliun depan, ada dua di sana, di sana lebih luas untuk anak-anak," ucap Varel.
Syafira diam tak menyahut, ia juga kecewa dengan pria tersebut karena juga merahasiakan hal ini. Padahal beberapa kali Bara ke kota ini, tapi Varel tak juga cerita apapun. Ia merutuki Bara yang sama sekali tidak pernah mampir ke rumah Varel saat berkunjung ke hotelnya.
"Fir...ayolah..." panggil Varel karena Syafira mengabaikan ucapannya.
"Apa sih, dari dulu nggak berubah. Ngeselin emang," ucap Syafira.
Varel mendengus, "Aku lagi sakit, kalian datang bukannya menanyakan kesehatanku malah begini. Tanya kabar kek, peluk atau apa gitu, perhatian sedikit napa. Ma, anakmu lagi sakit ini," rengeknya pada Bu Lidya yang meski tak banyak bicara sejak tadi tapi wajahnya mengatakan apa yang ia rasa, kecewa juga.
"Dih, kamu tuh, udah mau nikah juga masih manja sama ibuk . Nggak malu sama calon istrimu?" cebik Syafira.
Adel hanya diam mendengarkan, ia tahu Varel sedang berusaha mencairkan suasana diantara mereka. Jika melihat Varel seperti ini, ia merasa kembali melihat Varel yang dulu.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, mbak. Mas Varel emang gitu, manja kalau lagi sakit, tapi aku senang kok kalau dia begitu," suara Andini yang baru saja masuk membuat semua orang yang ada di sana menoleh kepadanya.