Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bab 40


__ADS_3

Hari ini Adel pulang dari butik lebih awal karena ia akan menjemput sahabatnya yang tak lain adalah adik Gema, Sahila di bandara. Ya, sahabatnya itu kembali ke Indonesia sesuai janjinya, yaitu sebelum opening Butik secara resmi yang akan di laksanakan besok malam.


Adel pulang ke rumah terlebih dahulu selamat untuk mandi dan berganti pakaian. Saat tiba di rumah, ia terkejut melihat Andini yang sudah berada di dapur, mungkin Varel sufah pulang, pikirnya.


"Eh, Del udh pulang?" tanya Andini saat Adel hendak mengambil air putih ke dapur seperti biasa.


"Iya, soalnya mau jemput teman habis ini," jawab Adel.


"Oh gitu, nanti makan malam di rumah bisa, kan?" tanya Andini.


"Nggak tahu, mungkin aku makan di luar nanti. Kenapa?"


"Yah, padahal aku ingin kamu ikut makan malam bareng aku sama mas Varel. Aku mau kamu jadi saksi," ujar Andini tesenyum.


"Saksi?" Adel mengernyitkan keningnya.


"Aku mau mengajak mas Varel menikah secepatnya, gimana?"


Seketika tubuh Adel terasa lemas mendengarnya. Sebenarnya bukan hal aneh jika mereka akan menikah, buknkah tujuan bertunangan memang untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Yang Adel tak habsi pikir, kenapa juga Andini harus memberitahunya sol hal ini kepadanya.


"Oh begitu, kalau begitu kau lanhsung katakan saja tanpa harus ada aku, bukan?"


"Bukan begitu, tapi selama ini aku yng sellu nolak kalau mas Varel ngajakin menikah. Jadi malam ini aku mau ngasih kejutan buat dia, aku mau kamu jadi saksi, tapi nggaj bisa ya?" Andini menampakkan wajah kecewa.


"Maaf ya aku udah ada janji sama teman soalnya. Aku harus segera bersiap, sebentar lagi kak Gema jemput aku, permisi!" Adel buru-buru meninggalkan Andini menuju kamarnya.


Blam!


Adel langsung menutup pintu kamarnya dan berdiri di belakang pintu tersebuy smnil berusaha mengatur napasnya yang terasa sesak. Kata-kata ' Setiap mas Varel ngajakin nikah' membuatnya tersenyum getir.


"Ternyata kamu yang ngebet buat menikah. Kamu yang memang sudah move on dari masa lalu kita," gumam Adelia.


.


.


.

__ADS_1


Saat Gema datang menjemput Adel, saat itu juga Varel baru saja sampai rumah.


"Mau kemana?" tanya Varel yng baru saja turun dari mobil dan berpapasan dengan Adel di depan pintu.


"Bukan urusan om!" sahut Adel. Adel muak, sikap Varel yang seolah mereka tak ada masalah apa-apa setelah kejadian semalam. Pria itu justru sengaja menghalangi langkah kaki Adel.


"Awas om, aku mau lewat. Pacar aku udah nunggu!" Varel menoleh, dimana mobil Gema memang sudah berada di halaman rumah. Seketika ia mengapalkan tangannya.


"Kalian mau pergi?" tanya Varel berusaha mengontrol diri.


"Aku bilang bukan urusan om! Tuh di dalam ada calon istri om, buruan masuk! Sapa gih!" ucap Adel ketus lalu mendorong tubuh Varel untuk berjalan.


Varel mencekal tangan Adel, "Lepas!" ujar Adel.


"Katakan kau mau pergi kemana dengan pria itu?"


"Kencan! Kenapa? Ad yang salah kalau aku pergi dengan kekasihku sendiri?" tanya Adel.


"Sudah ku bilang, jangan sembarangan menjalin hubungan dengan pria yang baru saja kamu kenal dan tidak jelas! Di sini, selama kmu tinggal di rumah ini, kamu itu tanggung jawab aku, ngerti!"


"Jadi, apakah Bisa tolong anda lepaskan tangan kekasih saya?" ucap Gema lagi karena Varel hanya diam menatapnya dengan tangan tetap mencekal tangan Adelia.


"Om lepas!" Adel mengayunkan tangannya dan Varel langsung melapasnya.


"Ayo kak!" Adel berjalan terlebih dahulu menuju mobil Gema.


"Tolong jaga dia dan jangan pulang larut malam," pesannya sudah seperti orang tua Adel saja dan Gema hanya mengangguk, "Anda jangan khawatir! Permisi!" pamitnya.


"Ck, dia pikir aku ayahnya Adel apa? Kenapa sikapnya begitu padaku?" gumam Varel menatap sebal kepada Gema yang berjakan cepat ke mobilnya.


"Mas, udah pulang?" sapa Andini dan Varel langsung menoleh, "Kamu di sini?" tanya Varel.


"Iya, aku sengaja masak untuk makan malam nanti. Ayo masuk!" Andini menarik tangan Varel bersamaam dengan terdengarnya bunyi klakson mobil Gema sebagai tanda pamit.


"Kamu kenapa, apa ada masalah?" tanya Gema yang melihat wajah Adel sedikit murung.


"Nggak apa-apa, nggak ada masalah kok," sahut Adel berusaha tersenyum. Sedikit banyak kalimat Andini tadi memperngaruhi pikirannya. Jika Varel dan Andini segera menikah, itu artinya ia benar-benar kehilangn pria itu. Dan itu membuat hatinya benar-benar sakit.

__ADS_1


Gema hanya tersenyum maklum. Ia tahu jika Adel masih belum menerimanya sebagai kekasih sepenuhnya. Namun ia berusaha mengerti.


Sesampainya di Bandara, sorang wanita memakai kaca mata hitam dan juga topi langsung berdiri begitu Adel dan Gema mendekat, "Aku kira kalian nggak jadi jemput aku!" ucap Sahila cemberut.


"Maaf, tadi aku pulang dulu ke rimah but mandi dan ganti baju," balas Adel. Mereka pun langsung berpelukan.


"Ck, kau ini. Kakak... Kau tak ingin memeluk adikmu ini? Kau tak merindukan aku?" rengek Sahila kepada Gema setelah menguri pelukannya dengan Adel.


"Ck, dasar! Bocah nakal!" Gema langsung memeluk adik satu-satunya tersebut, "Ngapain pulang? Harusnya tetap di sana dan lupakan kakakmu ini!" sungut Gema.


"Aku kan cuma cari pengalaman aja, kak. Jangan marah, yang penting kan aku kembali," Sahut Sahila serius tersenyum semanis mungkin, tangannya tetap melingkar di pinggang Gema manja.


Adel hanya tersenyum. Melihat interksi kedua kakak beradik tersebut, membuatnya rindu dengan kakak satu-satunya yang ia punya yaitu Syafira.


"Lepaskan kakak, kalau kau teris begini orang akan mengira kamu pacar kakak. Nanti Adel cemburu lagi!" ucap Gema bercanda.


Sahila mencebik, "Gila aj kalau cemburu sama aku, tapi ngomong-ngomong aku senang loh kalian jadian. Ya walaupun Adel ini nggak bisa masak, kerjaannya ngerecokin aku muku minta di masakin, but... It's okelah buat jadi ipar," seloroh Sahila.


"Nggak masalah nggak bisa masak, kan restoran masih buka, atau kakak yang masak," ucap Gema tersenyum mentao Adel. Yang di tatao hanya tersenyum tipis. Ternyata sesenang itu Gema sampai berita mereka jadian langsung sudah sampai ke telinga sahabatnya. PAdahal ia sendiri masih merasa canghung dan aneh dengan statusnya sebagai kekasih Gema. Yang itu artinya, Gema adalah pacar pertamanya, meskipun bukan cinta pertamanya.


"Tuh, kurang baik apa coba kakak gue, pokoknya lo harus baek-baek ma dia, kakak gue satu-satunya nih!" ucap Sahila tersenyum.


"Udah jangan goda pacar kakak terus, ayo!" Gema mengambil alih koper yang di bawa Sahila.


"Mau makan malam di rumah biar Sahila yang masak atau di luar?" tanya Gema kepada Adel.


Mendengar kata rumah, Adel langsung kepikiran rumahnya. Bukannya Andini bilang mau membicarakan soal pernikahan dengan Varel? Padahal maksud Gema adalah rumahnya.


"Di luar aja, kak. Kasiha Sahila kalau di surih amsak, dia kan baru sampai," sahut Adel.


"Emang deh calon kakak ipar paling pengertian!" Sahila mengacungkan jempolnya kepada Adel.


"Ck, apaan sih lo. Gak jelas!" balas Adel terkekeh.


"Eh tapi aku masih penasaran deh! Kok bisa sih kalian jadian, bukannya lo masih bekum bisa mobe on dari pria yang photonya selau lo lihatin tiap malam itu?" bisik Sahila ketika mereka berjalan menuju ke mobil.


"Sssst, jangan keras-keras, nanti kak Gema dengar, aku nggak enak!" sahut Adel, ia melirik Gema yang tampak biasa saja sambil menarik koper Sahila. Bukannya Gema tak mendengar, ia hanya pura-pura tak mendengar.

__ADS_1


__ADS_2