
Pov Adam
Acara pertunangan kemarin berjalan dengan lancar, rasanya sangat lelah sekali tapi aku merasa lega karena hubungan kami sudah satu langkah lebih serius.
karena aku tidak akan pernah menyesal telah menggandeng wanita cantik dan pintar seperti Tiar, laki-laki mana yang tidak beruntung bisa memiliki sang primadona di kampus.
Pagi ini sekitar jam sepuluh aku sudah harus berangkat ke Amerika, karena tiket pesawat sudah dipesan.
Setelah acara kemarin aku sempat menikmati waktu yang tersisa di Indonesia bersama Tiar, kami menghabiskan waktu dengan berkeliling tempat favorit waktu kecil, menonton dan berbelanja hingga larut malam.
Hal itu sengaja aku lakukan karena entah dua tahun atau lebih kita tidak akan bisa bertemu.
"Halo sayang udah siap?" Sapa ku kepada lawan bicaraku dari seberang ponsel.
"Udah sayang, kita ketemu di Bandara aja soalnya aku sama Papa dan Mama" Ujarnya.
Setelah mematikan ponsel aku kembali memasukkan barang yang akan aku bawa kedalam mobil, tidak banyak hanya satu buah koper besar dan tas kecil.
Sejam kemudian kami sekeluarga memasuki halaman Bandara, jam menunjukkan pukul 08.15, aku meminta keluargaku untuk masuk terlebih dahulu kedalam Bandara. Sementara, aku menunggu kedatangan Tiar dan keluarganya didepan pintu masuk.
Dua puluh lima menit berlalu terlihat mobil Alphard keluaran terbaru dengan plat nomor yang sama dengan milik Tiar memasuki pelataran Bandara, dengan sigap sopir pribadinya turun dan membukakan pintu.
Sekarang semuanya sudah lengkap, ada Papi dan Mami juga kedua orangtua Tiar, tapi sayangnya lagi-lagi Kak Widya tidak bisa ikut karena sedang hamil muda anak ketiganya.
"Terima kasih ya Tante Vina mau menyempatkan diri mengantar keberangkatan Adam" Ucapku setelah mereka turun dari mobil.
"Gak apa Dam, kan kamu calon mantu Tante" Balas Tante Vina membuat wajahku memerah.
"Kamu yakin gak mau ikut ke Amerika?" Tanyaku kepada Tiar sembari berjalan kedalam lobi Bandara.
"Yakin! nanti kalau liburan aku kesana, sekarang mau fokus kuliah disini aja" Jawabnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 09.30, aku sudah harus masuk kedalam untuk menunggu jadwal keberangkatan.
"Yaudah, jangan nakal ya disini? jaga diri baik-baik selalu kabarin aku" Pesanku kepada bayi kecil ini.
"Siap bos" Jawabnya mantap.
"Aku masuk dulu ya, kamu nanti hati-hati pulangnya" Aku mendaratkan kecupan di kening Tiar dengan sangat tulus.
__ADS_1
"Om tante terimakasih sudah percaya sama Adam, titip Tiar untuk Adam ya?" Pamit ku kepada kedua orangtua Tiar.
"Sudah pasti kalau itu Nak" Jawab Om Frans ramah, kali ini berbeda jauh dengan respon beliau ketika belum merestui kami.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Pov Tiar
Setelah pesawat yang ditumpangi Adam berhasil lepas landas, kami semua keluar dari Bandara untuk pulang kerumah masing-masing, tapi terlebih dahulu menyempatkan mampir kerumah makan lesehan andalan keluargaku.
Selesai makan aku meminta Pak Muh mengantar ke kampus karena hari ini ada kuliah penting tapi siang hari, kedatanganku disambut baik oleh Dina yang baru juga datang.
Seperti biasa kami selalu pergi ke kantin sebelum masuk kelas, rasanya belum lengkap kalau gak makan mie ayam Bude Wati langganan kami, rasa dari mie ayamnya memang selalu bikin nagih di lidah.
"Bude Mie Ayam dua ya?" Pesanku.
"Kok baru kelihatan neng? Neng Tiar abis dipinang ya?" Tanya Bude Wati setelah aku dan Dina mengambil duduk dimeja yang berdekatan dengan gerobak mie ayamnya.
"Ah belum Bude, baru bertunangan soalnya dianya mau ke Amerika" Jawabku.
"Wah LDR dong? semoga langgeng ya Neng" Ujarnya.
"Tau lah Neng kan itu bahasa anak muda jaman sekarang, Bude Wati kan ya gak tua-tua amat" Ujarnya.
"Iya deh Bude" Aku mengiyakan saja.
"Calonnya Neng Tiar apa Mas-Mas yang sering ikut makan mie ayam disini itu? yang ganteng kekar, tinggi putih mirip opa-opa Drakor ya Neng?" Tanya Bude Wati sambil menyodorkan dua mangkok mie ayam yang sebelumnya sudah dimasak sebelum kami datang.
"Hahahaha" Kembali aku tertawa, kali ini Dina ikut tertawa bersama.
"Kok ketawa sih Neng?" Tanya Bude Wati keheranan.
"Ya kali Bude Wati bilang mirip opa-opa drakor, memangnya sering nonton? kok tumben Bude bikinnya cepet?" Tanyaku.
"Bude Mah langganan nonton drakor Neng, itu sebenarnya pesanan mahasiswa lain yang gak jadi karena buru-buru mau masuk,tapi masih barusan kok " Jawabnya percaya diri.
Sambil berbincang dan bercanda dengan Bude Wati kami berdua menikmati mie ayam yang sudah hampir dingin.
"Bude Aslinya orang mana sih kok enak bener mie ayamnya? murah lagi" Tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Orangtua Bude aslinya Boyolali tapi Bude lahir dan besar di Medan Neng, dulu pernah ikut orang kerja dagang mie ayam juga tapi di Medan jadi ya alhamdulillah sedikit-sedikit bisa" Jawabnya.
"Tapi asli enak lo Bude, seger" Ujar Dina.
"Alhamdulillah kalau banyak yang suka, di medan mah mie ayam cuma lima sampai enam ribu Neng harganya, disana jual makanan apa aja laris manis orangnya juga baik-baik" Ujar Bude Wati.
"Wah pantesan ya bude jual cuma delapan ribu disini, kalau dirumah apa jualan juga Bude?" Tanyaku lagi.
"Iya jualannya sepulang dari sini Neng, kecil-kecilan didepan gang masuk kontrakan gitu" Jawabnya.
"Pasti laris juga ya Bude disana? oh ya katanya di Medan laris, tapi kenapa Bude pindah kesini?" Tanya Dina tak kalah penasaran.
"Ceritanya panjang Neng" Jawabnya singkat.
"Oh...yasudah gak di ceritain juga gak apa Bude" Ujar Dina.
"Bisa nih di rekrut untuk buka didepan toko Mama, biar deket langganannya" Saran ku.
"Iya ada benarnya juga tuh Ti, kan masih ada lahan kosong tuh, bisa menambah omset toko Mama kamu juga loh" Setuju Dina.
"Nanti coba aku ngomong sama Mama dulu ya Bude" Tawar ku.
"Iya Neng" Jawabnya.
Setelah selesai menikmati mie ayam Bude Wati, aku dan Dina bergegas menuju kelas.
Kami berpisah jalur ketika di koridor kampus, karena jurusannya berbeda.
Hari ini aku ada mata kuliah Pak Toni, dosen matematika baru yang di rekrut oleh Universitas khusus untuk mengajar di kelasku.
Tidak memperhatikan dosen aku malah sibuk melirik ke tempat duduk yang dulunya dipakai Adam, biasanya jika jam seperti ini kami selalu saling pandang dan bertukar kertas, tapi hari ini suasana kelas rasanya hampa.
🌞🌞🌞🌞🌞🌞
Jam kuliah usai, aku langsung pulang kerumah tidak mampir kemana-mana karena pulangnya sudah sore.
Setelah sampai dirumah aku pun langsung menuju kamar, merebahkan diri sambil sesekali menatap layar ponsel berharap Adam sudah menghubungi.
Perkiraan Adam menempuh perjalanan selama delapan belas jam sampai ke Amerika, dan sekarang masih jam lima sore berarti baru tujuh jam perjalanan, pantas saja dia belum menghubungi.
__ADS_1