Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bab 46


__ADS_3

Rasanya enggan untuk keduanya berpisah saat mereka sampai di rumah. Padahal sepanjang perjalanan ke rumah, Varel tak pernah melepas genggaman tangannya dari Adel.


"Lepas dulu, om. Aku mau ambil kunci buat buka pintu," ucap Adel.


"Biar aku aja yang buka," Varel mengeluarkan kunci pegangannya dari saku lalu membuka pintu dengan tangan kanannya, sementara yang kiri terus menggandeng tangan Adel.


Adel menghela napas, mau heran tapi ini Varel. Ia hanya tak menyangka akan sebucin ini dalam waktu semalam. Ralat, butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa mengeksplore dengan lepas kebucinan seorang Varel yang ada. Selama ini ia selalu menyembunyikan sisi itu dari orang lain, termasuk Andini.


"Aku keatas dulu, om," ucap Adel berusaha melepas tautan tangannya dengan Varel.


"Emang udah ngantuk, nggak mau ngobrol dulu?" tanya Varel yang masih enggan melepas tangannya.


"Udah jam dua belas, besok masih harus bekerja, kan?" Adel berusaha membuat Varel mengerti walaupun sebenarnya ia juga tak ingin berpisah dengan pria itu.


"Jadi pengin segera halalin kamu, biar bisa bersama terus," ceplos Varel begitu saja. Ia langsung mengatup menahan senyum. Kenapa rasanya seperti kembali merasakan jatuh cinta, macam abg saja. Padahal usianya sudah kepala tiga. Pantas bu Lidya selalu menerornya untuk segera menikah karena takut putra semata wayangnya menjadi bujang lapuk.


Berdesir hati Adel mendengarnya, meski itu mungkin hanya bercandaan Varel, tapi terselip doa dan harapan yang sesungguhnya di dalamnya, yang ia amini dalam hati.


Adel tersenyum tipis, selama hubungan Varel dann Andini belum jelas, ia tak mau terlalu berharap.


"Aku ke atas dulu," pamit Adel.


Terpaksa, Varel melepas tangan Adel, "Hem," ia mengangguk, matanya tak lepas memandang Adel yang meniki anak tangga hingga tak terlihat lagi.


"Aku seperti merasa hidup kembali," gumamnya. Bibirnya yang tersenyum tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya malam ini. Ia lalu masuk ke dalam kamarnya.


.


.


.


Sampai pukul satu dini hari, baik Varel maupun Adel masih belum bisa memejamkan mata mereka. Keduanya terus mengukir senyum mengingat apa yang baru saja mereka alami. Rasanya seperti mimpi. Adel tak menyangka jika Varel benar-benar masih memiliki perasaan yang sama dengannya.


Setidaknya, Varel dan Adel sama-sama merasa plong setelah mereka jujur dengan perasaan satu sama lain. Meski Adel sendiri belum secara terang-terangan menyatakan perasaannya kepada Varel karen masih terganjal perasaan bersalah pada Andini.


Varel bertekad akan segera mengajak Andini bersitatap untuk membicarakannya secara langsung.

__ADS_1


Varel ingat kata Rasel, jika balas budi tak harus dengan menyiksa diri, karena mereka akan sama-sama terluka dan tersiksa dalam keterpaksaan. Ia bisa melakukannya dengan tetap menjaga Andini sesuai janjinya kepada bu Rosa tanpa menikah. Ya, ia bisa melakukannya dengan cara lain, yaitu menjadi saudara.


Varel mengambil ponselnya. Dilihatnya kontak Adelia yang sedang online. Rupanya wanita itu juga sama belum tidur. Ia segera mengetik pesan.


"Belum tidur? Tadi katanya ngantuk?" Varel segera mengirimnya.


Adel yang masih berguling-guling di kasur karena tak bisa tidur sangking senangnya layaknya anak gadis yang baru pertama kali merasakan cinta terbalasnya, langsung membuka pesan Varel.


"Aduh,. Kok langsung kebuka sih, padahal kan belum mau aku balas, biar centang abu-abu dulu, kan jadi ketahuan belum tidur," gumam Adel.


"Wa-mu masih online, buruan balas. Atau aku naik ke atas," muncul satu pesan lagi dari Varel.


"Ya ampun, nggak sabaran banget sih, mau bales kan juga mikir dulu mau nulis apa," gumam adel. Setelah membaca pesan dari Varel.


Tak sabar mengunggu balasan, akhirnya Varel meneleponnya.


"benar-benar ya, ini orang... Nggak sabaran!" gerutu Adel namun bibirnya tersenyum menunjukkan betapa bahagianya dia.


"Halo," ucap Adel setelah menggeser ikon gambar telepon berwarna hijau.


"Kok nggak di balas?" tanya Varel langsung.


"Sekarang mau tidur?" tanya Varel.


Adel menggeleng, jujur ia masih ingin ngobrol dengan Varel.


"Kok diam? Beneran mau tidur? Ya sudah, aku tutup teleponnya kalau begitu," kata Varel.


"Eh bukan gitu! Maksudku, emmm aku belum bisa tidur," ucap Adel cepat. Ia menepuk jidatnya sendiri, merutuki kebodohannya, bagaimana Varel bisa melihat tadi dia menggeleng, mereka bicara hanya melalui telepon.


"Kenapa? Bukannya besok masih harus kerja? Tadi bilang gitu mau di ajak begadang," ujar Varel.


Adel mengganti posisi tidurnya miring dan mengambil guling lalu memeluknya, "Iya sih, penginnya gitu. Tapi nggak tahu kenapa nggak bisa merem," keluhnya. Sebenarny ia lebih kepada takut jika apa yang baru saja terjadi hanyalah sebuh mimpi dan saat terbangun nanti, semua akan kembali seperti semula. Pada tempatnya. Dimana ia dan Varel terasa begitu sangat sukit menggapai satu sama lain pada jarak yang begitu dekat.


Varel tersenyum tipis, "Sama, aku juga nggak bisa tidur. Mau di temenin ngobrol sampai ngantuk?" tawarnya.


"Boleh," jawab Adel.

__ADS_1


"Oke, mau di luar?" tanya Varel.


"Lewat telepon aja, om," sahut Adel cepat.


"Kenapa? Bukannya ngobrol langsung lihat orangnya lebih enak?"


"Nanti malah nggak tidur sampai pagi, lewat telepon aja ya?"


Varel mendengus pelan, "Baiklah, ayo ceritakan, apa saja yang kamu lakukan di luar negeri sana dan bagaimana caramu mengalihkan rasa rindu kepadaku?"


Adel mengernyit, "Ck, aku nggak pernah rindu, ya," decaknya dusta.


"Bohong, aku tahu kamu pasti setiap malam selalu nyebut namaku biar aku hadir dalam mimpimu, iya kan? Ngaku!"


"Astaga, om! Narsisnya nggak berubah deh!"


"Kenapa? Apa kamu ingin aku berubah, kalau aku berubah takutnya aku juga merubah rasaku padamu,"


Adel tergelak mendengarnya.


Dan obrolan pun terus berlanjut hingga tanpa sadar Adel tertidur setelah lelah mengobrol dan kenyang dengan gombalan receh ala Varel.


" Del... Tidur?" suara Varel tak lagi di jawab oleh Adel.


" Adelia.... " tetap hening.


Varel mendengus, egois memang jika ia menginginkan untuk tetap terjaga bersama Adel.


"Cil, bocil! Beneran udah tidur?" Varel sedikit meninggikan suaranya. Dan ternyata samar-samar masih bisa di tangkap oleh telinga Adel.


"Ck, jangan panggil aku bocil! Aku bukan Adelia enam tahun lalu!" protes Adel di tengah kantuknya.


Varel tersenyum mendengarnya, "Oh, oke... Sayang...," sahutnya.


Yang mana membuat Adel melotot sempurna. Di suruh untuk tidak memnghil bocil malah ganti sayang.


Varel memang tidak melihat mata Adel yang melotot, tapi ia tahu wanita itu sedang merah pipinya.

__ADS_1


"Hahaha, udah ah, sana kalau mau tidur, nice dream.. " ucap Varel tergelak awalnya namun bwgitu lembut di akhir kalimatnya, lalu ia menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Adel.


"Ya ampun, iseng banget sih, om," gumam Adelia. Ia lalu menutup kepalanya dengan bantal.


__ADS_2