
"Aku mau bicara sebentar!" ucap Varel saat Adel hendak pamit kepada Syafira dan bu Lidya. Ia mencekal lengan wanita tersebut.
Gema langsung mengarahkan pandangannya ke arah tangan Varel yang memegang lengan Adel.
"Lepasin, om! Bicara yang bicara saja, nggak perlu pegang-pegang gini. Nanti pacarku akan salah paham kalau om begini," ucap Adel manatap Gema, pria itu terlihat berusaha sekali bersabar melihat pemandangan di depannya.
Varel melihat Gema dengan sinis lalu melepas tangannya, "Ikut aku! Aku mau bicara sama kamu, berdua!" Varel menegaskan kata terakhirnya.
"Kalau mau bucara di sini saja, aku nggak mau Kak Gema salah paham," tolak Adelia.
"Del..." Varel terlihat memohon dengan sorot matanya. Seolah ia masih berharap Adel lebih Memilih dia dari pada Gema.
"Pergilah, Del. Nggak apa-apa, aku akan menunggu di sini," kata Gema.
Adel menatap Varel, "Soal apa? Kalau tidak terlalu penting, bisa di bicarakn di sini, aku nggak mau ada rahasia sama kak Gema, bagaimanapun aku harus jaga perasaan pacarku," ujar Adel.
"Tidak jadi, pergilah!" ucap Varel jutek. Ia terlanjur kecewa dengan ucapan Adel. Terlihat jelas wanita itu sengaja berkata demikian untuk menegaskan kalau mereka memang tidak ada hubungan apa-apa dan gemalah kekasih hatinya.
Bu Lidya menatap Syafira, ia bertanya melalui sorot matanya, ia terlihat bingung dengan drama di depannya dan Syafira berbisik akan menceritakan kepada bu Lidya nanti setelah semua terkindisikan.
Di sini Syafira Bisa tahu keputusan apa yang pada akhirnya di pilih oleh sang adik untuk kedepannya. Adel memilih mundur dan ingin menempatkan semuanya seperti sebelumnya saat ia tak ada di sana.
"Oh, ya udah kalau nggak jadi. Ayo kak!" Adel sengaja menggandeng lengan Gema, pemandangan yang selalu di benci oleh Varel. Wanita itu selalu berhasil membuat hatinya cemburu dan panas dengan tingkahnya tersebut.
Bu Lidya terkejut saat Adel pamit dan mengatakan kalau dia akan pergi makan malam dengan Gema, kekasihnya. Bu Lidya pikir, Gema hanyalah sebatas teman bagi Adel ternyata salah. Lalu bagaimana dengan hubungan Adel dan Varel? Bu Lidya kembali menatap Syafira.
Varel memilih masuk ke dalam kamarnya.
" Duduk, ma. Aku akan ceritakan sama mama yang sebenarnya terjadi," ucap Syafira setelah Adel dan Gema keluar.
__ADS_1
"Ada apa sebenarnya, Fir? Apa kamu tahu banyak tentang mereka? Mama jadi bingung," tanya by Lidya.
Belum juga Syafira memulai untuk menjelaskan, Varel keluar dari kamarnya dan berjalan dengan tergesa keluar.
"Mau kemana, Rel?" tanya bu Lidya namun putranya tersebut tak menyahut.
"Ya Tuhan, ada apa lagi dengan anak-anakku," gumam bu Lidya khawatir.
Di luar, ternyata mobil Gema baru putar arah dan akan melaju. Varel segera masuk ke mobilnya dan ia langsung mengegas mobilnya. Keluar halaman mendahului mobil Gema.
Adel sedikit terkejut melihat mobil Varel yang melaju dengan kecepatan tinggi saat melewati mobil Gema yang berjalan standart. Ada rasa khawatir dalam diri wanita itu sebenarnya.
.
.
.
Tak di pungkiri, selama berjalan-jalan di pinggir pantai sambil menikmati sunset, pikiran Adelia saka sekli tidak fokus dengan indahnya pemandangan di sana. Ia juga hanya sesekli menanggapi dan tersenyum saat Gema mengajaknya bicara.
Sementara itu, Varel yang merasa hatinya begitu sesak, terus melajukan mobilnya tanpa arah. Ia benar-benar marah dan kecewa. Bukan hanya kepada Adel saja, tapi juga kepada dirinya sendiri dan juga Andini yang sampai sekarang tak ada kabarnya.
"Kemana kamu, Ndin? Apa dengan cara seperti ini kamu mau menjeratku. Kenapa kamu menghukumku begitu berat atas apa yang terjadi dengan ibumu, aku tidak pernah meminta beliau untuk mengorbankan nyawanya demi diriku. Inikah yang kamu mau, memanfaatkan rasa bersalahku dengan menjeratku seumur hidupmu? Beginikah caramu menghukumku atas kematian ibumu?" gumam Varel dalam hati.
.
.
.
__ADS_1
Setelah dari pantai, Gema mengajak Adel makan malam. Bukan di tempat mewah apalagi dinner privat, mereka berdua hanya makan malam biasa di sebuah cafe yang letaknya tak jauh dari pantai.
Setelah makan malam nanti, Gema berniat untuk melamar Adel malam ini. Ia tahu ini sangat buru-buru, apalagi ia tahu betul kalau Adel belum mencintainya. Namun, ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Ia yakin suatu saat nanti bisa membuat wanita itu mencintainya dengan tulus. Ia sudah menyiapkan sebuah cincin berlian di saku celananya.
Saat makan, tanpa sengaja Adel mendengar berita kecelakaan beruntun yang terjadi di salah satu tempat yang saat ini sedang di guyur hujan.
Penasaran, ia pun menoleh untuk melihat televisi yang memang sengaja di pasang di cafe tersebut untuk tontonan para pengunjung.
Ada salah satu mobil yang ia kenali jenis dan nomor platnya. Matanya langsung terbelalak tak percaya. Itu adalah mobil Varel. Ya, dia paham sekali dengan mobil itu.
"Om..." mata Adel sudah berkaca-kaca. Apalagi ia mendengar beberapa korban kecelakaan meninggal dunia di tempat dan beberapa luka parah.
Adel ingat tadi pria itu melajukan mobiknya dengan kecepatan tinggi, kini pikirannya langsung ngeblank.
"Ada apa, Del?" tanya Gema.
Adel tak menyahut, ia masih berusaha mengatur napas karena dadanya terlalu sesak. Pikirannya sudah tak karuan rasanya.
Gema berdiri lalu mendekati ke kursi Adel, ia menepuk bahu wanita itu, Adel mendongak, menatap Gema dengan air mata yabg sudah mengalir begitu saja"Kamu kenapa? Apa ada salah satu korban yang kamu kenal?"
" Itu... Mobil om Varel, kak. Dia... Dia salah satu korban kecelakaan itu! Aku harus ke sana sekarang! Aku harus memastikan dia selamat. Ya dia harus selamat, dia nggak boleh ninggalin aku!" Adel segera menyelempangkan tali tasnya di bahu sembari beranjak dari duduknya.
Gema menahan tangan Adel, gadis itu menoleh," Maaf kak, harusnya aku jujur dari awal sama kakak soal perasaanku dn nggak manfaatin kak Gema buat kepentingan aku. Maafin aku, semoga kak Gema memaafkan aku. Lebih baik kita akhiri saja hubungan kita yang tidak sehat ini, aku tidak ingin melibatkan kak Gema lebih jauh lagi. Aku harus kesana cari om Varel," ucapnya.
Seharusnya Gema sudah siap dengan kejujurn Adel ini, bukankah di sebenarnya juga sudah tahu akan perasaan wanita itu dan dia terima hanya di jadikan pelarian saja. Namun, rasanya tetap saja sakit di dadanya saat Adel mengatakannya sendiri.
"Kamu tidak bisa pergi dalam keadaan begini, tenangkan pikiranmu," Gema tak ingin membahas rasa sakitnya atas kejujuran Adel.
Adel tak mendengarkan ucapan Gema. Ia berlari keluar cafe. Gema langsung menyusulnya, "Masuklah ke mobil! Aku akan mengantar kamu ke sana," ucapnya.
__ADS_1
...****************...