Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
29. Kabar Duka


__ADS_3

Sampai di rumah aku langsung masuk kedalam kamar, kembali aku melihat ponselku yang ternyata jam sudah menunjukkan pukul 18.05 sore, segera aku mandi dan berganti pakaian kemudian sholat maghrib.


Selesai sholat aku sempatkan untuk membaca kitab suci Al-Qur'an terlebih dahulu agar hati ini lebih tenang dan nyaman.


Drtt....!Drtt...!Drtt....! Baru menyelesaikan lima ayat ponselku berdering terus menerus tanpa henti, karena sudah tidak fokus akhirnya aku menyudahi tadarus ku dan berjalan menghampiri ponselku.


"Dina? ku kira Adam" Gumam ku.


"Halo Din, ada apa?" Tanyaku setelah mengangkat telepon.


"Tiar! kamu mending ke rumah sakit sekarang deh" Suaranya terdengar gelisah.


"Ada apa Din? jawab aku! jangan bikin panik deh" Aku sedikit meninggikan nada bicaraku.


"Dita Ti, dia drop lagi" Jawab Dina gugup.


"Yaampun, yaudah aku segera kesana" Ujar ku sebelum mematikan sambungan telepon.


Tanpa berpikir panjang lagi aku langsung bergegas menuju rumah sakit tempat Dita dirawat.


Malam ini jalanan macet karena besok weekend jadi semua orang lembur dan pulang malam.


Dengan posisi panik aku mengendarai mobilku seorang diri, saat dekat perempatan lampu merah hampir saja aku menabrak kendaraan lain yang ada didepan, setelah melewati lampu merah akhirnya aku putuskan menepikan mobilku dan berhenti sejenak untuk menenangkan diri agar pikiranku juga kembali fokus.


Dina terus menghubungiku yang membuat aku semakin gelisah karena khawatir terjadi apa-apa dengan sahabatku Dita.


Aku kembali melajukan mobil ketika sudah agak tenang, perlahan tapi pasti karena keadaan juga sudah malam jadi mata minus ini sedikit tidak bisa meraba jalan.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️


"Dina!" Panggilku kepada wanita yang berdiri di depan pintu masuk UGD.


"Yaampun Ti kamu darimana aja kok lama banget aku telepon gak diangkat?" Tanyanya setelah aku mendekatinya.


"Aku nyetir sendiri Din, tadi hampir nabrak orang karena panik" Jawabku.


"Tapi kamu gak apa kan? maaf ya Ti aku panik banget soalnya disini sendirian" Ujarnya lagi.


"Kok sendiri, orangtua Dita kemana?" Aku terkejut mendengar pernyataan Dina.


"Mungkin sekarang masih dijalan, tadi ibunya Dita pamit pulang sebentar, tapi udah aku kabarin" Jawabnya.


"Terus sekarang Dita dimana?" Tanyaku lagi.


"Di dalam Ti lagi ditangani sama dokter, sekarang keadaannya kritis Ti" Jawab Dina yang membuatku semakin gelisah, namun tidak aku tunjukkan dihadapan Dina.


"Yaudah kita masuk lagi ya sambil nunggu orangtuanya datang" Ajak ku.


Aku dan Dina masuk ke ruang tunggu yang berada di depan UGD, sesekali Dina terisak dan terlihat lemas, aku berusaha menguatkan diri agar bisa menguatkan Dina.


Beberapa detik kemudian orangtua Dita datang dengan tergesa.


"Dimana Dita, saya mau ketemu sama Dita" Tanya ibu Dita kepada kami.


"Tenang bu, Dita masih di tangani dokter didalam" Jawabku.


"Yaampun anakku......!!" Teriak ibu Dita dalam isak tangisnya.


"Sabar bu, pasti Dita baik-baik aja" Aku berusaha menenangkan beliau, yang padahal dalam lubuk hati ini rasa sesak juga sangat terasa.


Sesekali ibunya Dita pingsan dalam rangkulan ayahnya, begitu juga dengan Dina yang masih menangis terisak-isak.


Beberapa waktu berlalu dokter keluar dari ruangan, beliau menghampiri kami dan memberitahukan agar kami menjenguk keadaan Dita karena bisa saja ini saat terakhirnya.


Tangis ibunya Dita dan ayahnya pecah, mereka memberontak menyalahkan dokter, ibunya jatuh pingsan terus menerus, aku berusaha untuk menenangkan situasi yang runyam dengan caraku.


Sekitar ada lima belas menit keadaan mulai membaik, perlahan aku mengajak mereka masuk ke dalam ruangan tempat Dita berbaring.


Mata terpejam, tubuh yang dipasang banyak peralatan medis membuat kami semua menangis melihatnya.


"Ya tuhan jika memang engkau masih mengizinkan Dita hidup bersama kami maka sembuhkan dia seperti sedia kala, namun jika engkau lebih menyayanginya jangan siksa batin kami atas keadaannya, sudah cukup sakit yang dia tanggung selama hampir satu tahun tanpa tersadar dari tidurnya, kami mohon karena hanya engkaulah yang maha penolong"


"Dita? kamu janji kan kita mau liburan bareng ke Kota Bali di akhir semester ini? ayo dong bangun! gak capek tidur terus?" Ujar Dina sambil terus memeluk tubuh Dita.


"Kamu gak kangen kita main bareng lagi? main hujan dan kejar-kejaran seperti dulu kita waktu masih kecil, kamu masih ingat kan?" Imbuh Dina.


"Apa udah gak mau ketemu sama aku dan Tiar lagi? kamu marah sama kita?" Lagi-lagi ucapan Dina membuat aku tidak kuat menahan sesak yang sejak tadi aku tahan.


"Din udah, biar Dita istirahat dulu ya kita keluar, kasih waktu untuk orangtuanya" Ujar ku kepada Dina.


Kami berdua keluar dari ruangan untuk memberi kesempatan kepada orangtua Dita bersama dengan putrinya didalam.


"Kamu yakin Dita pasti sembuh kan Tiar?" Tanya Dina secara tiba-tiba.


"Pasti dong, Dita kan kuat" Ucapku berusaha tegar didepan Dina.

__ADS_1


"Kalau kata dokter benar gimana Ti?" Tanyanya lagi.


"Semuanya udah ada yang mengatur Din, dokter hanya memperkirakan, tapi takdir hanya tuhan yang menentukan" Jawabku lantang.


Dina memelukku erat, tampak ada rasa takut yang mendalam terlihat dari pelukannya yang erat.


"Aku gak mau kehilangan kalian berdua" Imbuhnya lagi.


"Gak akan, kita akan selalu ada buat kamu" Jawabku mantap.


"Dita sadar! tolong panggilkan dokter" Ujar ibu Dita yang tiba-tiba keluar dari ruangan.


Spontan aku dan Dina berdiri mendekatinya karena belum percaya dengan apa yang dikatakan beliau.


"Ini serius tante?" Tanyaku yang masih tak percaya.


"Iya serius, cepat panggilkan dokter!" Perintahnya.


Aku berlari mencari dokter di ruangan dokter, tanpa meminta izin dan mengetuk terlebih dahulu aku langsung membuka pintunya lalu masuk kedalam.


"Dokter sahabat saya sadar" Dengan nafas yang masih tersengal aku berusaha berbicara kepada dokter.


"Tenang dulu, ini diminum lalu bicara pelan-pelan" Ujarnya.


Ceguk..ceguk..ceguk.. aku meminum air putih yang diberikan oleh dokter dengan beringasnya.


"Sudah tenang?" Tanya dokter.


"Sudah dok" Jawabku.


"Silahkan" Dokter mempersilahkan aku berbicara.


"Sahabat saya atas nama Dita sudah sadar dok" Jelas ku.


"Syukurlah ada keajaiban, kalau begitu mari kita kesana" Ajaknya.


Kami berjalan menuju ruangan tempat Dita dirawat, saat sampai didalam kami dikejutkan dengan posisi Dita yang duduk bersandar diatas ranjang tempat tidur tanpa bantuan oksigen lagi, dia seperti sudah sehat.


Dokter berjalan mendekati ranjang Dita dengan ekspresi yang masih tertegun.


"Boleh saya periksa terlebih dahulu" Izin dokter kepada ibu Dita yang duduk disebelahnya.


"Boleh dok, silahkan" Jawab beliau.


Setelah memeriksa perkembangan Dita, dokter keluar dari ruangan.


Kami bercengkerama bersama Dita, tidak banyak yang kami obrolkan karena dia belum boleh banyak berbicara oleh dokter.


Teleponku berdering, ternyata itu dari mama yang memintaku pulang karena nenek mencari sejak tadi.


Akhirnya aku izin pamit pulang dulu dan berjanji besok akan kembali lagi.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Setelah sampai di rumah aku langsung masuk ke kamar nenek, beliau sedang dibujuk mama agar mau tidur karena hari sudah menunjukkan pukul 20.45 malam.


"Ada apa ini ma?" Tanyaku keheranan.


"Biasalah lagi bujuk nenek biar mau tidur" Jawab mama.


"Yaudah mama istirahat aja pasti capek seharian ngurus toko, biar nenek Tiar yang jaga" Pintaku kepada mama.


"Kamu gak capek baru pulang dari rumah sakit?" Tanya mama.


"Engga dong, Tiar kan masih muda" Jawabku enteng.


"Bisa aja kamu ah, oh ya gimana keadaan Dita sayang?" Tanya mama lagi.


"Tadi dia sempat drop ma, terus sekarang udah sadar" Jawabku dengan nada bahagia.


"Alhamdulillah, semoga lekas pulih ya" Ujarnya.


"Amin, yaudah sana mama ke kamar terus tidur" Pintaku.


"Mama tinggal dulu ya sayang, good night" Mama berlalu pergi setelah memberi kecupan di keningku.


"Nenek kenapa belum tidur?" Tanyaku kepada nenek yang sejak tadi memperhatikan aku dan mama.


"Nenek nungguin kamu, pengen tidur bareng" Jawab beliau.


"Yaudah kalau gitu Tiar temenin tidur ya" Balasku.


🌞🌞🌞🌞🌞🌞🌞


Keesokan paginya.

__ADS_1


"Sayang bangun udah pagi" Ujar mama membangunkan aku, kulihat nenek juga sudah tidak ada di sebelahku.


"Nenek kemana ma?" Tanyaku kepada mama.


"Di taman, katanya pengen sarapan disana" Jawab mama.


"Mama tunggu di meja makan ya, kamu cepat mandi terus turun" Ujar mama yang berlalu pergi keluar kamar nenek.


Aku mencari ponselku didalam tas, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 08.07 pagi, aku segera menuju kamarku sendiri untuk mandi kemudian turun sarapan.


Saat dimeja makan aku sering tersedak entah minuman atau makanan yang masuk kedalam mulutku, rasanya perasaanku menjadi tidak enak.


Karena sudah tidak nyaman makanannya jadi mubasir karena tidak habis, aku meninggalkan mama yang masih menyantap makanannya dan berjalan menghampiri nenek di taman.


Hari ini nenek manja sekali, makan juga minta disuapi olehku tidak seperti biasanya.


"Tiar, ponsel kamu berdering ada panggilan dari Dina" Panggil mama.


Spontan aku langsung berdiri dan berlari menghampiri mama.


"Yah udah mati" Ujar mama begitu aku sampai didepannya.


"Apa katanya ma?" Tanyaku penasaran.


"Mama belum sempat angkat sayang" Jawabnya.


"Nih berdering lagi" Mama menyerahkan ponsel yang ada ditangannya.


"Halo Din, ada apa? semua baik-baik aja kan?" Tanyaku khawatir.


"Dita drop lagi Ti, dan sekarang semakin kritis" Ujar Dina sesekali terisak.


"Semalam udah baik-baik aja kan?" Tanyaku.


"Mending kamu cepat kesini dan liat sendiri kondisinya" Jawab Dina kemudian mematikan sambungan telepon.


Aku bergegas masuk dan menyahut kunci mobil yang ada di belakang pintu masuk, ternyata aku menyahut kunci mobil Pajero milik mama, tanpa berlama-lama aku langsung melajukan mobil menuju rumah sakit.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️


"Dimana Dita?" Tanyaku kepada Dina.


"Ada didalam" Jawabnya singkat.


"Keluarga saudara Dita" Panggil dokter yang baru saja keluar dari ruangan.


Kami semua bergegas menghampiri dokter.


"Gimana dok keadaan anak saya?" Tanya Ibu Dita.


"Kami sudah melakukan yang terbaik, tapi tuhan berkehendak lain, saudara Dita kami nyatakan meninggal hari jum'at pukul 09.45" Ujar sang dokter.


"Maksud dokter apa?" Dengan nada emosi ayahnya Dita menarik kerah baju sang dokter.


"Om tolong om jangan seperti itu" Aku menahan ayahnya Dita agar tidak lepas kendali.


Beliau mengendurkan pegangannya kemudian terjatuh ke lantai.


Tangis kami berempat pecah di luar ruangan, ibu Dita sampai pingsan mendengar kenyataan yang menyakitkan ini.


🌞🌞🌞🌞🌞


#Prosesi pemakaman


Jenazah Dita dibawa pulang ke Palembang tempat kelahirannya dulu karena nenek dan seluruh keluarganya berada disana, mama datang melayat saat masih dirumah sakit karena tidak bisa ikut ke Palembang karena kondisi nenek juga sedang tidak baik.


Hanya teman lama Dita, aku dan Dina yang ikut mengiring jenazah Dita, didalam mobil tidak hentinya kami menangis karena masih tidak percaya dengan kepergian Dita.


Dina adalah yang paling terpukul, karena Dita sahabatnya dari semasa kecil.


Sampai dirumah duka, seluruh keluarga mengerumuni jenazah Dita, mamanya tak sadarkan diri dari datang sampai prosesi sholat jenazah bahkan sampai Dita akan diberangkatkan ke pemakaman mamanya harus dibopong oleh ayahnya.


Prosesi pemakaman Dita berjalan lancar, begitu juga dengan cuaca sangat mendukung, cerah tapi redup tidak turun hujan juga, sepertinya alam mengerti dan ikut mengiringi kepergiannya.


Setelah pelayat pulang, kami dan keluarga besar Dita tinggal sejenak untuk membacakan surat yasin di sekeliling pusara.


☘️☘️☘️☘️☘️


Aku dan Dina berada di Palembang sampai habis acara pengajian tujuh harian, kami disambut baik oleh keluarganya sebelum akhirnya kami memutuskan untuk pulang.


Kami berdua berpamitan dan menyempatkan diri mengunjungi makam Dita terlebih dahulu.


Orangtua Dita memilih tinggal karena masih berat meninggalkan anaknya sendiri disini.


Untuk kembali ke Kota kami, perjalanan kami tempuh dengan pesawat agar lebih cepat sampai karena besok akan ada ujian akhir semester.

__ADS_1


__ADS_2