
Setalah menjenguk Shahila, Varel mengajak Adelia untuk memeriksakan kandungannya sekalian untuk memastikan jika calon anak mereka baik-baik saja setelah menempuh perjalanan yang panjang kemarin.
"Tuh, kan. Apa ku bilang, anak kita pasti baik-baik saja. Dia strong kayak aku," ucap Adelia begitu keluar dari obgyn.
"Iya, abang percaya, sayang. Setelah ini mau kemana? Langsung pulang?" tanya Varel dan Adel mengangguk.
Saat keluar dari rumah sakit, mereka berpapasan dengan Rasel. Pria itu tampak berjalan menenteng plastik berlogo sebuah minimarket dua puluh empat jam sambil melamun hingga tak sadar saat Varel sengaja menghadang jalannya hingga hampir saja ia menubruk Varell.
"Ck, Rell, untung gak nabrak!" ucap Rasel.
"Lo yang jalan gak lihat-lihat, Met!" sahut Varell.
Rasel hanya nyengir kuda.
"Udah mau balik aja kalian? Tunggulah sampai calon kakak ipar pulang," ujar Rasel. Ia tak bisa bayangkan jika berada di ruangn yang sama dengan Gema tanpa adanya orang lain selain Shahila. Pasti akan merasa terintimidasi.
"Maaf ya mas Rasel, aku juga harus menyelamatkan rumah tanggaku. Kalau di sana terus yang ada rumah tanggaku yang akan terancam," ucap Adel lalu menyenggol lengan suaminya.
Rasel mencebik, "Cemburuan banget sih suami kamu, Del! Heran aku tuh, udah mau punya anak masih aja cemburu sama Gema. Atau... Suamimu sebenarnya kurang percaya diri sampai takut banget gitu kamu berpaling," kata Rasel.
"Heh, yang lo omongin orangnya di sini!" ucap Varel.
Adel terkekeh melihat tingkah dua sahabat tersebut, "Udah tuk ah!" ia menarik lengan Varel.
"Lebih berusaha lagi, Met. Lo tahu kan gimana gue sama Adel sampai bisa bersatu? Banyak banget rintangannya, but... see? Takdir tak akan tertukar, hanya tertunda saja. Jika jodoh, nggak akan kemana, akan kembali pada kita. Gue yakin, cuma Gema doang, lo bisalah yakinin dia. Jangan menyerah!" Varel menepuk bahu Rasel sebelum ia melangkah pergi meninggalkan sahabatnya tersebut.
Adelia menoleh, lalu tersenyum kepada Rasel," Semangat mas Rasel!" ucapnya menyemangati Rasel.
Rasel hanya mendengus melihat sepasang suami istri itu pergi.
.....
__ADS_1
"Kira-kira kisahnya Shahila dan mas Rasel bakal happy ending nggak ya, bang? Kayak kita?" Adel membuka percakapan dengan suaminya yang kini sedang fokus menyetir.
"Kalau memang jodoh nggak akan kemana, sayang. Seperti kita, sejauh apapun kamu pergi, tetap kembali ke takdirmu, aku," Varel meraih tangan Adelia lalu mengecupnya.
Adel tersenyum, "Terima kasih ya, karena abang tetap menjaga hati dan cinta abang buat aku selama ini," ucapnya.
"Kembali kasih, sayangku," balas Varel.
"Abang berhenti," ucap Adel Tiba-tiba.
"Kenapa sayang? Perut kamu sakit?" tanya Varel panik setelah ia mendadak mengerem mobilnya.
"Aku mau beli itu!" Adel menunjuk toko buah di pinggir jalan.
"Mau buah?" tanya Varel.
Adel mengangguk. Varel langsung tersenyum, "Ayo turun," ajaknya dan Adel mengikuti.
"Sayang, kok malah diem? Kamu pengin makan apa, yang mana? Hem?" tanya Varel.
"Aku cuma mau itu, abang. Timun suri," sahut Adel menunjuk tumpukan timun suri.
Varell mengernyit, "Pengin buat es buah?" tanyanya.
Adelia menggeleng, "Kucu aja, gemesin. Kayak bayi. Pak yang itu ya, pak. Yang mulus pokoknya, satu aja," Ucap Adel pada penjual buah.
Varell tertegun di tempatnya berdiri, apakah ini bagin dari ngidamnya sng istri. Okelah, kalau cuma beli timun suri masih wajar, pikirnya.
Tapi, ternyata di luar dugaan Varel. Karena kini setelah mendapat timun suri itu, Adelia malah merengek minta mancari rambut jagung.
"Mau buat apa emangnya, sayang? Nyarinya juga dimana?" tanya Varel lembut supaya istrinya tidak ngambek.
__ADS_1
"Ya mau buat rambut dia, bang. Kan lucu kalau di kasih rambut, mirip bayi jadinya," Ucap Adel menunjuk timun suri yang tadi di belinya.
Yassalaaaam, Varel menepuk jidatnya sendiri. Istrinya mulai bersikp absurd sekarang.
"Pakaikan wig aja gimana?" Varel mencoba memberi alternatif lain. Karena kalau wig dia akan lebih mudah mendapatkannya.
Adelia menggeleng, "Kurang asthetic, bagusan rambut jagung. Pokoknya aku mau rambut jagung, nggak mau tahu!" Adelia beranjak dari duduknya meninggalkan Varel di ruang tamu.
"Aduh , nak. Masih dalam perut aja udah bikin papa snawen gini sih," gumam Varel lemas. Jika tak di turuti pasti akan ngambek dan dia tidak akan bisa memeluk guking hidupnya itu malam ini. Ia memejamkn matanya untuk berpikir kemana ia akan mencari rambut jagung," Emang jagung punya rambut?" gumamnya tanpa membuka mata.
"Eh, donat gula, mau ngapain?" tanya Varel saat ia membuka mata karena merasa ada pergerakan di depannya. Dan ternyata benar, ada makhluk kecil bernama Tristan sedang memainkan timun suri milik istrinya.
"Mamaaaa, mau buat syegel-syegel. Tlistan aussss!" teriak anak itu.
"Eh eh eh, jangan. Itu bukan buat minuman. Nggak boleh!" ucap Varel, ia merebut timun suri itu.
"Telus, buwat apah?" tanya Tristan.
"Buat mainan kak Adel," jawan Varel.
Tristan menatap abangnya bingung, "Tlistan auus abang, mau itu, syegel! Itu buat minuman, syuegeellll" Tristan mulai merengek.
"Astaga!" sesal Varel karena tadi hanya membeli satu biji itu timun suri.
"Kamu yang lain aja, ya? Itu ada anggur, apel, pir, kiwi, tinggal pilih. Tapi jangan yang ini. Ini nanti mau di dandani biar cantik kayak bayi," kata Varel.
"Bayi? Itu jadi bayi?" mata Tristan langsung berbinar. Ia tak sabar melihat wujud bayi itu seperti apa.
Varell hanya mengangguk lemah. Entah siapa yang salah, dia yang berusaha mengikuti imajinasi sang istri. Atau imajinasi Tristan yang terlalu polos dan berpikir akan benar-benar di sulap menjadi bayi sungguhan.
...----------------...
__ADS_1
Novel ini beneran sudah tamat ya, hanya tambah bonus Chapter tipis-tipis....