Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
31. Weekend Untuk Nenek


__ADS_3

Saat terbangun dari tidur badan ini rasanya segar sekali, karena ini weekend jadi aku berinisiatif akan mengajak nenek berkeliling di mall.


Aktivitas utama ku sebelum memisahkan diri dengan ranjang adalah mengecek ponselku, setelah kemarin aku cuekin habis-habisan Adam sama sekali tidak menghubungi untuk sekedar mengucapkan selamat atau apalah layaknya orang menjalin hubungan pada umumnya.


"Gak ada pekanya sama sekali, romantis juga engga! apa yang diharapkan dari dia sih Tiar" Aku membanting lirih ponselku diatas kasur.


Tok! Tok! Tok! Suara ketukan pintu kamarku.


"Iyaa" Jawabku dari dalam kamar.


"Mbak Lastri bangunin nenek non" Ujar Mbak Lastri dari luar kamar.


Karena ternyata pintu kamar nenek yang di ketuk, suaranya memang terasa di pintu kamarku karena kamar kami bersebelahan.


"Nenek dimandiin ya Mbak abis itu pakaikan baju yang cantik sekali, soalnya mau aku ajak jalan" Ujar ku dari daun pintu kepada Mbak Lastri yang masih bersandar di depan pintu kamar nenek.


"Belum di buka ya sama Bik Inah?" Tanyaku.


"Belum non, mungkin Bik Inah masih di kamar mandi" Jawabnya.


Oh iya kebetulan kalau malam nenek selalu minta ditemani Bik Inah jika tidak denganku.


Aku kembali masuk kedalam kamarku dan segera mandi, hari ini aku ingin full time bersama nenek di luar.


°°°°°°


"Nenek udah siap Mbak?" Tanyaku kepada Mbak Lastri yang membawa masuk piring kotor bekas makan nenek.


"Sudah non, beliau sedang di taman depan dengan Pak Muh" Jawabnya.


"Yaudah aku ke depan dulu" Pamit ku.


"Non gak sarapan dulu? udah dimasakin nasi goreng spesial loh sama Bik Inah" Ujarnya.


"Kalau gitu minta Bik Inah untuk membungkusnya ya Mbak, saya tunggu didepan" Perintahku.


"Siap non" Ucap Mbak Lastri sebelum pergi meninggalkanku.


Beberapa saat kemudian Bik Inah keluar dengan tas bekal ku.


"Ini non nasi gorengnya" Ujar Bik Inah sambil menyodorkannya kepadaku.


"Makasih ya Bik, yuk Mbak Lastri bantu dorong nenek terus kita langsung berangkat aja, Bik Inah jaga rumah ya bentar lagi mama pulang kok" Pamit ku kepada ART yang sudah lama bekerja bersama kami.


Tujuan pertamaku adalah ke mall mencari kebutuhan dapur, menyenangkan nenek, dan sekedar membelanjakan ART yang bekerja dirumah.


°°°°°°


Setelah sampai di mall sekilas aku melihat seseorang yang postur tubuhnya tidak asing bagiku, aku mendorong kursi roda nenek lebih cepat agar bisa mengejar seseorang itu.


Saat berada lebih dekat dengannya aku berusaha mengamati lebih jeli lagi.


"Nenek Sanah? eh iya benar, nenek kok disini?" Tanyaku kepada seseorang yang aku curigai sebagai orang yang aku kenal.


"Loh iya Sanah" Imbuh nenek.


"Tiar......oh ada Fatimah to? kalian disini juga ternyata" Tanya nenek Sanah.


"Iya aku diajak cucuku ini, biasa biar neneknya fresh katanya, kamu datang sendiri?" Jawab nenek.


"Enggak! itu cucuku lagi antri minuman" Jawabnya.

__ADS_1


"Aku kira sendiri, kamu masih kelihatan sehat ya?" Ujar nenek lagi.


"Ya beginilah, aku masih sering keluar masuk rumah sakit Fatimah" Jawab nenek Sanah.


"Ah masak? sepertinya kamu sangat awet muda dan sehat-sehat aja" Gurau nenek.


Mereka bercanda tawa berdua tanpa melibatkan aku dalam obrolannya, aku melihat pemandangan bahagia ketika dua orang sahabat muda yang sudah lama tidak saling bertemu.


"Yoga, ini kenalin sahabat oma dari SMP, namanya nenek Fatimah" Ujar nenek Sanah kepada laki-laki yang baru datang.


"Halo oma" Sapa nya dengan menyalami tangan nenek.


"Hai Tiar" Sapa nya singkat.


"Loh udah kenal to dengan cucuku?" Tanya nenek.


"Iya waktu itu saat ada olahraga bareng ibu-ibu komplek cucumu yang nganter saya sampai rumah" Jelas nenek Sana kepada nenek.


"Wah kebetulan kalau begitu kita jalan-jalan bareng aja, gimana?" Ajak nenek.


"Boleh, tapi gimana nih sama cucu-cucu kita? apa mereka mau?" Tanya nenek Sanah.


"Ya harus mau dong" Jawab nenek yakin.


"Yaudah iya kita jalan bareng, tapi Tiar mau belanja keperluan dapur dulu sementara nenek sama Mbak Lastri dulu ya nanti gantian" Izinku kepada nenek.


"Iya sayang, nanti ketemu dimana?" Tanya nenek.


"Nanti aku hubungin Mbak Lastri aja"


Aku berpisah dari mereka untuk membeli keperluan dapur yang habis seperti telur, bumbu dapur dan sayuran.


Aku membelanjakan Bik Inah, Pak Man, dan Pak Muh segala keperluan yang mereka butuhkan sehari-hari, seperti sabun, shampoo, odol, sikat gigi, dan lain-lain.


°°°°°


#POV Mbak Lastri


"Waduh den ponsel saya mau habis baterainya, takut non Tiar menghubungi tapi ndak bisa, apa ada power bank?" Tanyaku kepada den Yoga.


"Enggak bawa mbak, biasanya sih selalu sedia di mobil tapi kemarin abis di cuci jadi di keluarkan semua" Jawabnya.


"Walah gimana ya kasin non Tiar, pasti nanti kebingungan nyari kita" Ujar ku khawatir.


"Ya udah sini biar saya catat nomernya nanti menghubungi lewat ponsel saya" Tawarnya.


"Serius ndak apa ini mas?" Tanyaku meyakinkan lagi.


"Iya serius, nih catat nomernya" Den Yoga menyodorkan ponselnya kepadaku.


"Den Yoga saja, saya ndak bisa pakai hp bagus" Balasku.


Aku mendiktekan nomor ponsel Non Tiar, belum selesai masih kurang empat angka lagi ponselku sudah mati, tapi untung saja aku mengingat empat digit nomor belakangnya.


"Sudah den, yakin itu benar nomornya" Ujar ku setelah merasa yakin.


Den Yoga mencoba menghubungi nomor non Tiar tapi katanya masih memanggil, dan memutuskan akan menghubungi lagi nanti.


°°°°°°°°


#POV Tiar

__ADS_1


Aku kembali mengantri di kasir, hal yang paling aku tidak sukai adalah menunggu dan mengantri terlalu lama.


Sambil menunggu aku memainkan ponselku, ketika membuka salah satu aplikasi online selalu tidak bisa terbuka, dan ternyata setelah aku cek data selularnya lupa belum aku hidupkan kembali setelah tadi mematikannya saat mengisi bensin di SPBU.


Segera aku hidupkan kembali datanya, di bagian layar atas ada notifikasi panggilan tak terjawab dari WhatsApp, saat aku buka ternyata nomor baru yang belum ada namanya dan foto profilnya juga tidak ada.


"Nomor siapa ya? apa Adam ganti nomor? tapi seharunya jika ganti nomor pakai nomor amerika, tapi ini kok masih nomor indonesia?" Gumam ku.


Aku tidak menelepon balik melainkan hanya mengiriminya pesan.


[Maaf dengan siapa? tadi menelepon tidak terangkat atau mungkin saat data selular saya mati]


Send....


Pesannya terkirim tapi belum dibaca oleh penerimanya, aku kembali memasukkan ponselku kedalam tas karena sudah giliran barang belanjaku di total oleh kasir.


Aku menelepon Mbak Lastri setelah selesai membayar total belanjaku, berkali-kali aku coba menghubungi tapi ponselnya tidak aktif.


"Apa aku ke mobil aja ya? barangkali mereka menunggu disana" Ujar ku kemudian berjalan menuju parkiran, kebetulan mobilku diparkirkan diluar oleh pak Muh.


"Pak! tolong bantu ini masukin mobil ya" Perintahku kepada pak Muh yang sedang menghisap rokoknya di bawah pohon.


"Oke siap non" Jawabnya sigap.


"Belum ada yang ke mobil dari tadi pak?" Tanyaku.


"Belum tu non, la memangnya non Tiar gak bareng tadi?" Tanyanya.


"Ya bareng tapi terpisah pas aku belanja kebutuhan dapur" Jawabku.


"Waduh, coba telepon Lastri non" Sarannya.


"Iya ini tadi udah telepon tapi gak aktif, yaudah ini masukin ya pak jangan lupa mobilnya dikunci" Perintahku lagi.


Drtt! Drtt! Drtt! ponselku didalam tas bergetar tanda ada telepon masuk, aku segera mengeluarkannya dari dalam tas dan melihat siapa yang menelepon.


"Loh ini kan nomor yang tadi, siapa ya?" Aku masih penasaran tapi tidak mengangkatnya sampai deringnya berhenti.


Beberapa detik kemudian ponselku berdering lagi, kali ini aku mengangkatnya takut ada berita penting yang akan disampaikan si penelepon karena menghubungi berulang kali.


"Halo, maaf dengan siapa?" Tanyaku setelah mengangkat telepon.


"Halo, apa benar ini Tiar?" Jawabnya dari seberang telepon.


"Iya! ini dengan saya sendiri" Jawabku sedikit ragu.


"Saya Yoga, cucu dari nenek Sanah mau kasih tau kalau kita tunggu di Cafetaria ya, maaf saya yang menghubungi karena ponsel Mbak Lastri mati karena habis baterai" Jelasnya.


"Ih iya mas, terimakasih sudah memberitahu saya" Jawabku.


"Iya sama-sama Mbak, segera kesini ya kami tunggu" Ujarnya lagi sebelum mematikan telepon


Aku bergegas menuju Cafetaria yang dia maksud tadi.


Mungkin ada sekitar lima menit aku baru sampai disana.


Kami makan bersama, tidak lupa aku menelepon pak Muh untuk ikut bergabung bersama.


Selesai makan kami lanjut pulang karena nenek sudah mengeluh lelah berkeliling, maklum akhir-akhir ini nenek sering tidak enak badan.


Akhirnya aku menuruti nenek untuk pulang, kami terpisah dari nenek Sanah karena beliau akan pergi membeli televisi.

__ADS_1


Aku memisahkan barang-barang keperluan dapur dengan barang-barang milik ART ku agar lebih mudah memberikannya.


Setelah selesai aku langsung naik ke kamar atas untuk mandi dan istirahat.


__ADS_2