
Adel memasuki kediaman Osmaro di Jakarta. Ia di sambut hangat oleh kakaknya.
"Dek, apa benar yang dikatakan oleh Reno. Kamu mengakhiri acara perkenalan kalian? Kenapa" tanya Syafira.
Adel tak menyangka ternyata cepat juga Reno menghubungi kakaknya. Tapi, baguslah, pikirnya.
"Iya, kak. Maafin Adel. Tapi Adel nggak bisa. Jujur, Adel masih cinta sama om Varel. Adel nggak bisa bohongi diri Adel sendiri, kak," ungkap Adel jujur.
"Tapi, dek..."
"Aku hanya berusaha jujur soal perasaanku, kak. Bukan untuk meminta kakak menerima perasaan kami. Maaf kak, aku lelah. Pengin istirahat. Sore nanti aku harus ke butik," ujar Adel. Ia menghindar untuk berdebat dengan sang kakak. Ia lebih memilih masuk ke dalam kamarnya.
Adel sengaja tak mengatakan jika kemungkinan Varel sudah di jodohkan dengan wanita lain oleh bu Lidya, ia tak ingin Syafira semakin kehilangan respek terhadap Varel.
Sementara Varel, ia tak langsung ke kediaman kakak iparnya, ia memilih check in di hotel terlebih dahulu untuk beristirahat. Barulah sore harinya ia akan menemui Syafira di kediamannya.
.
.
.
"Kamu dimana, Dek? Kok pergi nggak bilang?" tanya Syafira melalui telepon. Bersamaan dengan pulangnya Bara dari kantor. Syafira menyambut kepulangan suaminya dengan tetap menelepon Adel.
"Mas langsung ke atas, ya?" Bara mengecup kening Syafira, dan wanita itu mengangguk,"Aku udah siapkan air dan baju ganti mas Bara," ucapnya di sela menelepon. Dan Bara mengangguk.
"Aku di butik, kak. Kan siang tadi udah bilang sama kakak. Ada sesuatu yang harus aku urus di sini," jawab Adelia setelah ia mendengar ucapan sang kakak pada kakak iparnya.
Syafira menghela napasnya lega, ia sempat khawatir tadi karena Adel pergi tidak pamit dengannya. Ia takut jika sang adik yang ia tahu kecewa dengan keputusannya itu pergi lagi seperti sebelumnya.
"Ya sudah kalau begitu, mas Bara baru pulang. Kakak tutup teleponnya, ya. Jangan nanti makan malam di rumah, ya?" ucap Syafira.
"Iya, kak!" jawab Adelia.
Syafira mengakhiri panggilannya, saat itu juga ia menoleh ke pintu. Betapa terkejutnya dia saat melihat Varel sudah berdiri di sana.
"Varel?"
"Fir..." Varel tersenym tipis melihat keterkejutan Syafira.
__ADS_1
"Kamu buat aku kaget aja, kenapa nggak langsung msuk?" tanya Syafira.
Vare tersenyum. Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
"Duduk, Rel. Mau ketemu mas Bara, ya? Sebentar aku panggilkan, dia baru saja pulang, mungkin sedang mandi," ucap Syafira.
"Aku ke sini bukan untuk membicarakan pekerjaan dengan kakak ipar. Aku ke sini untuk menemuimu..... Soal Adelia," ucap Varel langsung pada intinya.
Syafira diam sejenak, "Aku buatkan kamu minum dulu sebentar. Sekalian untuk mas Bara," ucapnya. Ia langsung pergi ke dapur.
"Uncle!" seru Nala, gadis yang kini sudah remaja itu baru saja pulang dari les berkuda. Nathan, kemabarannya menyusul di belakangnya.
Nala langsung berlari menubruk unclenya tersebut.
"Ya ampun, bau keringat gini main peluk-peluk aja," keluh Varel.
Bukannya melepas pelukannya, Nala justru sengaja mengusel-usel Varel, "Biarin, nih biar uncle bau keringat wangi juga percuma, masa sampai Nala segede ini uncle masih aja jomblo. Nala aja udah punya gebetan! Om kalah!" celoteh Nala.
"Hei, siapa yang berani mendekati princess uncle ini? Kenapa lancang sekali nggak minta ijin sama uncle dulu?" ujar Varel.
"Jangan dengerin dia, uncle. Mana ada yang mau deketin dia di sekolah," kata Nathan.
Memang seposesif itu Nathan dengan kembarannya di sekolah. Hingga tak ada yang berani mendekati Nala.
Pada akhirnya, Nala dan Nathan berdebat. Membuat Varel tergelak. Satu macam kanebo kering, yang satunya ceriwis. Belum lagi di tambah dengn dua keponakannya yang lain Zio dan Zack. Jika sudah bertemu mereka, dunianya yang sebenarnya sepi akan sedikit lebih ramai.
"Kalian ini, bukannya langsung mandi habis pulang," Syafira datang membawa minuman dan snack.
Bara yang sudah mandi pun turun dan bergabung dengan mereka, "Boy, princess, mandi dulu! Kalian bau?" ucap Bara.
"Ish, daddy, Nala kan masih kangen sama uncle," ucap Nala. Tanpa bicara, Nathan menarik tangan saudara kembarnya tersebut. Ia paham situasi, para orang dewasa itu pasti ingin membahas sesuatu yang ia dan Nala tak boleh ikut campur.
Dengan cemberut Nala mengikuti langkah Nathan," Uncle nggak boleh pergi, besok harus temenin Nala jalan-jalan dulu pokoknya!"
"Siap princess!" sahut Varel tersenyum.
" Bagaimana pekerjaanmu, Rel?" tanya Bara setelah Nathan dan Nala pergi.
"Semuanya lancar, kak," sahut Varel.
__ADS_1
"Tapi, aku ke sini bukan untuk membicarakan pekerjaan sama kakak ipar. Aku ke sini, karena aku ingin meminta restu dari kalian terutama Syafira. Fir, aku tahu aku udah buat Adel kecewa, tapi aku mohon ijinkan aku menebus semuanya. Tolong restui kami untuk bersama, aku ingin menikahi Adel," ucap Varel.
Syafira masih bergeming, ia masih dengan pendiriannya.
" Semarah itu kamu sama aku, Fir? Sampai kamu tidak mengijinkan kamu untuk bersama?" tanya Varel.
"Rel, aku sama sekali nggak pernah marah maupun benci sama kamu atas apa yang terjadi dengan kalian. Tapi, untuk kalian menikah, maaf aku nggak bisa kasih restu!" jawab Syafira.
"Apa karena statusku sekarang?" tebak Varel.
Bara ikut penasaran dengan jawaban Syafira, bukankah dia dulu juga duda saat menikahi Syafira.
"Kenapa mas Bara liatin aku begitu? Bukan karena duda, bukan mas!" ucap Syafira.
Syafira kembali melihat Varel, "Sama sekali bukan karena kamu duda, Rel. Sebagai kakak, aku ingin yang terbaik untuk Adel,"
"Apa aku kurang baik untuknya?"
"Kamu baik, sangat baik. Tapi bukan untuk Adel. Tolong mengertilah, Rel. Aku jauh lebih sakit saat melihat adikku hancur tapi tidak bisa berbuat apa-apa untuknya," ungkap Syafira.
"Untuk itu, aku mohon ijinkan Aku untuk membahgiakannya kali ini, Fir. Kami masih saling mencintai. Tapi , Adel ingin jadi adik yang berbakti sama kamu, jadi dia memilih kembali terluka demi kamu,"
"Maaf, tapi mungkn ini lebih baik. Kalian lebih baik mencari kebahagiaan masing-masing,"
"Bukankah selama ini kami sudah mencobanya? Tapi tetap saja tidak bisa, fir. Tolong mengertilah, aku tahu sedalam apa rasa kecewamu terhadapku, tapi kali ini aku tidak akan menyerah sampai Kamu memberikan restu," ujar Varel.
"Rel, please!" Syafira memohon.
"Aku tidak akan nyerah, Fir," kekeuh Varel . Ia tahu selembut apa hati wanita itu. pasti akan luluh jika ia terus memohon.
"Terserah, tapi aku tidak akan merubah keputusanku!"
"Kamu tega membiarkan Adelia lebih lama lagi menderita hatinya? Padahal kamu tahu, akulah kebahagiaan adikmu yang sesungguhya. Apa aku harus menikah lagi dengan wanita lain supaya kamu tahu bagaimana hancurnya Adel saat itu terjadi lagi?"
Mata Syafira sudah berkaca-kaca," Silahkan saja kamu melakukannya. Adel hanya butuh kami untuk bahagia," ucapnya meski sebenarnya hatinya membenarkan ucapan Varel.
Varel tak menyerah, ia maju dan berlutut didepan Syafira, wanita itu sedijit tersentak dengan apa yabg di lakukan Varel, "Aku mohin, Fir. Beri aku kesempatan untuk membahagiakan Adelia," ucapnya, sorot matanya begitu sendu dan penuh harap.
...****************...
__ADS_1