Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bab 74


__ADS_3

Adel ingin segera berlari mendekati tristan namun tangannya justru di vekal oleh Varel.


"Itu anaknya udah nangis! Emang ada yang lebih penting dari anaknya?" ucap adel yang sepertinya sengaja menghindari obrolan serius itu dengan Varel.


Adel langsung melangkah mendahului Varel.


Varel mendengus, "Ck, dia bukan anakku!" ucapnya frustrasi.


Adel menghentikan langkahnya lalu menoleh, "Kalau gini aja, nggak mau ngakuin anak, heran kenapa ria suka begitu!" ucaonya yang menganggap Varel iseng terhadap Tristan.


Varel melongo mendengarnya, "Beneran Adelia!" rengeknya sambil berjalan menyusul wanita itu.


Adel tak menghiraukannya, pria itu masih saja suka iseng pikirnya.


"Tristan kenapa, sayang?" Adel berjongkok, ia mengusap lembut kepala anak itu.


Varel yang melihatnya lanhsung mengatup, benar-benar sudah cocok menjadi ibu untuk anak mereka sendiri, pikirnya.


"Di didit cemut nih! Nakal cemutna!" jawab Tristan menunjuk kakinya yang putih mukus jadi merah karena di gigit semut dengan masih sesenggukan. Bagaimana tidak menggigit, kalau semut-semut yang berkoloni itu ia usik dengan sebuah ranting hingga bubar menyebar,L ada yang nerambat naik ke kakinya dan menggigit.


"Ya ampun, kasian. Sini kakak tiupin kakinya," Adel mengajak Tristan duduk lalu meniup kaki Tristan yang dirasa anak itu ada sensasi terbakarnya.


"Lagian kamu mainnya sama semut, sih!" omel Varel. Tristan hanya meliriknya sebal, ia kembaki fokus oada kakinya yang diusap-usap dan di tiup-tiup oleh Adel.


"Mau pulang!" ucap Tristan kemudian. Ia merasa trauma berada di tempat itu, takut kalau kawan-kawan semut tadi datang dan ikut menggigitnya karena ia sudah menganggu mereka.


Tristan merentangakan tangannya minta di bopong.


"Ya udah ayo! Tadi ngajak pergi merengek, mau pulang juga gitu aku tinggal tahu rasa!" ucap Varel iseng. Meski begitu, ia tetap mengulurkan tangannya untuk membopong adiknya tersebut.


Namun, tangan Tristan malah mengarah pada Adel, "Gendong!" Tristan menatap Adel, sorot matanya meminta wanita itu menggendongnya.


Adel tersenyum melirik Varel setengah meledek, lalu menggendong Tristan.


"Kayaknya aku udah nggak guna sekarang," keluh Varel.


"Makanya jadi orang jangan iseng, om!" ucap Adel tergelak. Varel balas tersenyum, melihat wanita yang berjalan di sampingnya tersebut bsia tertawa lepas seperti itu benar-benar sebuah anugrah untuknya.


.


.


.


"Aduh ini kenapa merah?" tanya bu Lidya khawatir saat melihat kaki Tristan.


"Didit cemut melah, catit mama!" adu Tristan.


"Mbak Sum!, ambilkan apa gitu yang bisa buat obatin ini!" ucap bu Lidya.


"Sayang sebentar ya, mama urus Tristan duku, kmu tunggu di meja makan aja sama Varel. Semuanya sudah siap,"

__ADS_1


Adel mengangguk.


Dan malam itu, Adel diantar pulang oleh Varel setelah makan malam bersama.


Di jalan, keduanya lebih banyak diam dengan pikiran masing-masing. Varel ingin sekali kembali menanyakan perihal pertanyaannya sore tadi di danau. Namun, ia tak tahu bahaimana caranya karena Adel sepertinya memang enggan membahasnya.


"Del..." panggil Varel.


"Kamu tinggal di rumah Shahila, apa...."


"Kak Gema tinggal di luar negeri, aku hanya tinggal dengan Shahila. Daripada aku sewa kost atau rumah karena aku disini nggak lama jadi Shahila mibta buat tinggal sama dia. Hanya berdua. Jika Itu yang ingin om tanyakan," ucap Adel el memotong klimat Varel.


Varel kembali mengatupkan bibirnya, ia lega dengan penjelasan Adel. Bagaimanapun ia was-was jika Adel tinggal dengan Gema. Mereka pernah memiliki hubungan solnya.


" Kamu tidak ada rencana untuk menetap di sini lagi?" tanya Varel.


Adel diam sejenak. Bukannya tidak mau, tapi Syafira yang tak mengijinkannya.


"Sementara ini bekum ada rencana, aku masih sibuk di Jakarta, om," ucap Adel kemudian.


Varel mengangguk, mencoba mengerti meski sebenarnya ia berharap wanita di sampingnya itu tidak pergi lagi.


Tak terasa, mobil Varel sudah sampai di depan rumah Shahila. Tahu giti tadi ia mengendarai mobilnya seperti siput saja, pikirnya yang tak terima harus berpisah dengan Adelia malam ini.


"Makasih, om udah antar aku. Aku turun!" ucap Adelia.


Varel mengangguk.


"Mungkin semesta tak mebginginkan kita berpisah malam ini," ucap Varel.


"Ck, om,"


Varel tersenyum, ia melepas seat beltnya lalu menggerakkan tangan dan tubuhnya untuk membantu melepas sabuk pengaman Adelia.


"Ini memang suka susah begini, makanya Rasel nggak pernah mau pakai," ucap Varel yang sedang berusaha.


Wajah Varel yang terlalu dekat dengan wajah Adel membuat wanita itu samoai harus menahan napasnya dengan dada yang sudah bergemuruh hebat.


Menyadari Adel hanya diam mematung, bahkan tak bernapas, membuat Varel menoleh dan pandangan mereka bertemu, sedekat itu memang, hampir tak berjarak malah.


Adelia menelan salivanya, ia benar-benar merasa kaku dan mati kutu. Pun dengan Varel, jakunya naik turun karena menelan salivanya. Ia beranikan diri menempelkan bibirnya pada bibir Adelia. Bersamaan dengan lepasnya seat belt Adelia.


Seketika wanita itu membelalak. Ia hanya bisa diam, tak berani membalas pagutann Varel. Tangannya mencengkeram pinggiran jok yang ia duduki.


"Maaf!" ucap Varel menyesal karena tak bisa mengendalikan diri. Adel diam tak menyahut.


"Maaf, tidak seharusnya aku lepas kendali seperti ini. Harusnya aku tahu diri mungkin kamu sudah..."


"Tidak ada!" sergah Adel cepat. Membuat Varel mengernyit, memibta penjelasan lebih atas ucapan Adelia barusan.


"Sejauh ini, cuma om yang melakukannya. Hanya om!" ucap Adelia. Hal itu membuat Varel tersenyum.

__ADS_1


Wajah Adel pun merona saat mengatakannya, "Aku turun, selamat malam!" dengan salah tingkah Adel membuka pintu mobilnya.


"Del, tunggu!" cegah Varel. Adel menoleh.


"Kamu belum jawab pertanyaanku tadi. Apa doa dan harapanmu masih sama denganku?" tanya Varel.


Adel menunduk, ia tak menjawabnya. Tangannya saling meremat satu sama lain. Varel yang memperhatikannya mengerti, "Turunlah! Kita bahas lain kali saja," ucapnya.


Adel mengangguk, ia turun dari mobil. Kaca mobil Varel turunkan, "Nomorku tidak pernah ganti, aku harap kamu mai menghubungiku lagi. Atau sini aku minta nomer kamu!" Varel mengulurkan pinselnya kepada Adel melalui celah kaca mobil.


"Nanti aku yang hubungi om!" ucap Adelia. Membuat Varel menarik kembali ponselnya, "Beneran, jangan bohong. Waktu itu aku titip pesan ke karyawan kamu di butik, tapi kamu nggak ada hubungi aku sama sekali,"


Adelia mengangguk,"Aku masuk ya? Om boleh pergi!"


"Kamu masuk duluan!"


Adel menurut, ia masuk setelah satpam rumah Shahila membukakan gerbang.


Baru melaju sebentar, Varel ingat soal surat dari Andini. Ia langsung putar balik mobilnya. Adel yang mendengar klakson mobil di depan sana, menoleh. Ia mengurungkan niatnya membuka pintu dan berlari keluar.


"Om kenapa balik?" tanya Adel.


"Aku lupa sesuatu," Varel merogoh saku celananya lalu menyodorkannya pada Adel.


"Titipan surat dari Andini. Maaf bentuknya lusuh, kemarin nggak sengaja di buat mainan pesawat sama Tristan," ucapnya.


Adel menerimanya, "Tidak apa-apa, nanti aku baca,"


Varel mengangguk, "Aku pamit, ya?" ucapnya. Adel mengangguk.


Namun, nyatanya Varel kembali menoleh, rasanya tidak rela pergi. Masih ingin kangen-kangenan dengan sang pemilik rindu dan hatinya.


"Jangan lupa hubungi aku!" Varel mengatakannya dengan isyarat, ia menggerakkan tangannya di samping telinga. Adel tersenyum sembari mengangguk.


Tak di sangka, Vare kembali berlari ke hadapannya.


"Apa lagi, om?" Adel tanya lewat sorot matanya, ia melihat Varel memandangnya lekat lalu tersenyum, "Sekarang aku beneran pamit, ya?" ucapnya.


"Iya," jawab Adel lembut.


"Malam, mimpi indah!" ucap Varel.


Adel melambaikan tangannya kepada pria tersebut. Ia menahan tawanya saat Varel tak sengaja menabrak kaca spion mobilnya karena tak melepas pandangannya dari Adel sama sekali. Pria itu langsung menggaruk tengkuknya salah tingkah.


" Ya ampun, Rel! Sadar umur! Masih kayak abg aja lagakmu!" batin Varel merasa malu sendiri dengan kelakuannya.


Sejenak ia terdiam di belakang kemudia, "Adelia, kenapa kamu ragu menjawab pertanyaanku tadi? Padahal aku bisa merasakan kalau kamu masih menyimpan rasa yang sama. Apa kita bisa bersama, Adelia?" gumamnya.


Varel Menoleh, menatap rumah dimana sekarang Adelia berada sebelum akhirnya ia melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.


Adel yang melihat mobil Varel melaju melalui celah gordyn rumah Shahila, wajahnya yang tadi ceria tampak berubah sendu. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Ponselnya tiba-tiba berdering, "Halo, kak!" ucapnya, ternyata Syafira yang menelepon.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2