
Varel kembali melajukan mobilnya. Sebelum. Ia pergi ke luar kota siang nanti, ia ingin menemui Andini terlebih dahulu. Namun, ternyata wanita itu tidak bisa, katanya sedang sibuk sekali saat ini. Sore nanti baru bisa bertemu karena sekalian ia akan ke butik katanya.
"Ya sudah kalau begitu, lain kali saja kita bicara. Hari ini aku harus ke luar kota," ucap Varel. Ia harus bersabar lagi untuk bicara dengan Andini.
"Apa ada yang penting, mas?" tanya wanita itu dari seberang telepon.
"Ah tidak, besok saja kalau aku sudah kembali dan kamu ada waktu kita ketemu,"
"Baiklah klu begitu. O Ya, jas untuk mas sudah pas ya? Nggak ada yang mau di rubah lagi kan? Mumpung masih ada waktu kalau Ada yang tidak sesuai keinginan mas," tanya Andini.
Varel terdiam sejenak. Ingin rasanya ia berterus terang sekarang, tapi alangkah lebih baik kalau mereka bertemu dan bicara baik-baik dari hati ke hati. Bagaimanapun ini pasti akan sangat menyakiti hati Andini.
"Tidak ada yang perlu di perbaiki," jawabnya kemudian.
"Oh, oke kalau begitu. Mas hati-hati, ya?"
"Hem, kamu juga jaga kesehatan, jangan capek-capek," pesan Varel. Tiba-tiba dalam hati ia merasa bersalah dengn Andini.
"Iya, enggak capek kok," sahut Andini.
Varel menutup teleponnya setelah tak ada lagi yang mereka bicarakan.
"Masih main rahasia soal penyakitmu? Dia berhak tahu, Ndin! Kalian akan segera menikah!" tegas dokter Renata.
"Iya, aku bakal kasih tahu dia, tapi nanti setelah kami menikah. Aku ingin ke Singapuranya di temenin mas Varel, biar bisa sekalian honeymoon!" ucap Andini tersenyum. Ia bukannya sedang sibuk bekerja, melainkan sedang berada di rumah sakit karena semalam ia kembali drop.
"Kamu terlalu memaksakam diri, Ndin. Seharusnya dari dulu kamu bilang sama tunangan kamu itu,"
"Dulu aku terlalu takut, Ren. Takut kalau dia nggak bisa terima aku yang penyakitan ini. Tapi, sekarang ketakutanku bertambah lagi. Takut kalau aku tak punya cukup banyak waktu untuk menjadi istrinya. Makanya aku ingin secepatnya menikah," ucap Andini.
"Apalagi, sekarang wanita itu sudah kembali dan perlahan menggoyahkan hati mas Varel.Dan yang paling aku takutkan sekarang adalah kehilangan mas Varel , sebelum dia kehilangan aku," lanjutnya dalam hati.
"Entahlah, aku terlalu pusing memikirkan kisahmu itu. Ku harap setelah menikah nanti, kalian segera ke Singapura,"
"Semoga saja belum terlambat, ya?" sahut Andini.
"Kamu harus kuat dan bertahan, melawan sakit ini. Kamu pasti bisa, dua tahun kamu sudah berjuang keras dan berhasil sampai sekarang, padahal penyakitmu sudah seperti ini. Semua karena kamu memiliki semangat untuk hidup, Andini. Kali ini kamu pasti bisa lebih lama lagi, apalagi setelah menikah nanti, ku harap semangat bertahanmu semakin bertambah juga,"
Andini tersenyum dan mengangguk," Sejauh ini mas Varel adalah obatku paling ampuh, yang mamou buat aku bertahan. Tapi, kali ini aku benar-benar merasa lelah, Ren. Tapi, kamu benar, aku harus semangat demi mas Varel," batinnya.
.
.
.
__ADS_1
"Telat lo?" tanya Shahila yang baru saja masuk ke ruangannya.
"Iya, kesiangan gue. Semalam nggak bisa tidur," sahut Adel.
Shahila duduk di depan Adel, "Nggak. Bisa tidur kenapa?" tanyanya curiga.
"Ya nggak bisa tidur aja," Adel tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya kepada Shahila. Bagaimanapun juga, wanita itu adalah adik dari pria yang berstatus sebagai kekasihnya.
Kekasih? Ah iya, Adel ingat jika dirinya dan Gema bahkan sudah resmi berpacaran. Astaga, kenapa bisa jadi serumit ini, pikirnya.
"Lo kenapa? Ada masalah? Tadi gue lihat lo senyum-senyum tuh pas baru datang. Sekarang muka lo udah kayak baju yang numpuk di pojokan dinding, kusut! Ada masalah?" tanya Shahila.
"Masalah?" Hah, seandainya saja Adel bisa curhat kepada Shahila, ia ingin sekali meminta pendapat sahabatnya tersebut. Tapi, posisinya kini sebagai pacar kakaknya tidak memungkinkan.
"Enggaklah, masalah apa emangnya. Everything is fine, oke?" sambung Adel meyakinkan.
"Really? Tapi aku lihat kayaknya enggak tuh. Masalah om-om lo yang mau married?" tebak Shahila.
"Om Varel? Enggaklah, ngapain pusing mikirin. Toh jodoh nggak ada yang tahu," sahut Adel.
"Semakin lo berkilah, semakin kentara tahu nggak. Gue tadi lihat lo dianter dia ke sininya. Gue lihat lo senyum-senyum pas turun dari mobil dia tadi," ujar Shahila.
Mata Adel terbelalak, ia tak menyangka jika Shahila memergokinya tadi.
"Aku nggak tahu ya apa yang terjadi, karena sekarang lo lebih tertutup sama gue, nggak kayak dulu lagi. Tapi, sebagai sahabat, gue mau yang terbaik buat lo. Dan sebagai seorang adik buat kakak gue, gue juga mau yang terbaik buat dia, dia satu-satunya saudara yang aku punya, lo paham kan maksud gue? Gue nggak mau diantara kalian ada yang terluka, Del, " ucap Shahila.
" Gue nggak pernah berniat jahat sama kak Gema, Sha. Lo tahu itu," ucap Adel.
"Iya gue tahu, dan lo tahu kan kalau kak Gema itu beneran tulus sama lo. Padahal gue yakin, dia tahu kalau masalah masa lalu lo belum kelar, hati lo masih nyangkut di calon jodoh orang. Dan anehnya, dia sadar cuma lo jadiin pelarian, tapi di udah kelihatan bahagia banget. Kakak gue emang sebaik itu. Tapi, gue justru nggak suka liat dia begini, hati gue sebagai adiknya nggak terima, gue yang sakit lihatnya.
Adel mengangguk," Maafin gue, Sha," ucap Adel tulus.
" Gue cuma mau bilang itu, masih banyak pekerjaan gue. Gaun Andini gimana?" Shahila mengganti topik pembicaraan. Ia tak ingin terlalu ikut campur juga urusan kakak dan sahabatnya itu. Mereka sudah sama-sama dewasa, sudah mengerti akan tanggung jawab dengan apa yang mereka lakukan.
" Dikit lagi, nanti sore dia mau cek lagi katanya," jawab Adel.
"Ribet banget sih tuh orang, padahal udah perfect, sesuai mau dia di awal, eh giliran udah jadi malah minta di ganti ini itu. kayaknya sengaja deh," ungkap Shahila.
"Hus, pelanggan adalah raja. Kalau memang belum sesuai keinginan dia ya harus di perbaiki. Ini kan buat momen sekali seumur hidup, Sha. Pasti Andin juga mau yang terbaik versi dia," sahut Adel.
Shahila geleng-geleng kepala lalu mendesaah, "Gue nggak ngerti deh sama jalan pikiran lo. Gue kira lo bakal kesel sebel benci gitu sama Andini, eh malah mau buatin gaun sebagus itu, dah ah mikirin nasib cinta lo, gue bisa ubanan dini tahu nggak! gue balik ke ruangan guelah, mending ngitung duit dari pada mikirin kisah cinta orang, ribet, ruwet, rumit!," ucapnya lalu berdiri dan pergi dari sana.
Adel menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya itu melenggang pergi dari hadapannya. Kisah percintaan Shahila memng tak serumit dirinya. Shahila wanita yang nggak mau ribet dengan urusan hati, makanya ia selalu santai setiap kali putus dengan pacarnya. Entah sudah berapa kali ia ganti pacar saat mereka di luar negeri.
Berbeda dengan Adel yang terlalu larut dalam kisah cinta pertamanya hingga gagal move on. Padahal ia juga ingin sekali mencoba seperti Shahila, yang cuek soal asmara, putua cinta hal biasa, putus nyambung lagi atau putus cari lagi, tapi selalu gagal.
__ADS_1
Adel mengetuk-ngetukkan pulpen di meja, ia teringat Gema. Tiba-tiba ponselnya berdering, nama Gema memenuhi layar ponselnya.
"Panjang umur, baru di pikirkan langsung telepon," gumamnya.
"Assalamualaikum, kak," ucapnya.
"Waalaikumsalamsalam, lagi apa?" tanya pria itu dari seberang telepon.
"Baru aja sampai di butik ini, kak,"
"Udah sarapan?" tanya Gema.
Adel menoleh, melihat kotak bekal pemberian Varel.
"Belum, tapi ini bawa bekal dari rumah. Kak Gema udah makan?"
"Nggak sempat, sayang. Ini lagi di jalan mau meeting,"
"Ya sempetin buat makan dong kak, nanti sakit," Adel meurutki dirinya sendiri, harusnya nggak usah tanya, nanti Gema malah semakin baper, pikirnya.
"Iya, sayang. Udah perhatian gini, udah mulai sayang, ya?" tanya Gema.
"Aku..." Adel nggak tahu harus bilang apa. Ia mengetuk-ngetuk kepalanya, menyesal karena sudah buat anak baik orang baper.
"Nggak apa-apa, pelan-pelan aja, aku masih sabar menunggu. Aku tutup ya teleponnya, nanti kalau senggang aku telepon lagi," ucap Gema. Ia tak ingin merusak suasana paginya dengan rasa kecewa.
Benar kata Shahila, sebaik itu memang Gema, dan bodohnya dia yang tetap tidak bisa berpaling dari Varel, "Iya kak, kapan kak Gema kembali?"
"Belum tahu, kalau pekerjaan di sini sudah selesai aku langsung balik. Nggak apa-apa kan? Siapa tahu kalau aku pergi lama kamu merasa rindu, udah dulu ya, sayang. Aku beneran tutup teleponnya. Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam, kak," balas Adel.
Adel menghela napasnya dalam. Kenapa saat pria yang berstatus sebagai pacarnya memanggilnya sayang merasa biasa saja. Tapi justru terasa begitu istimewa saat pria yang berstatus calon suami wanita lain yng memanggilnya seperti itu ia merasa berbunga-bunga. Dan Adel tak henti merutuki kebodohannya tersebut. Cinta memang sering bersanding dengan luka, namun juga dekat dengan kebodohan logika.
"Kenapa sih kamu terlalu baik, tetap baik padahal tahu kalau cuma buat pelarian aku saja. Maafkan aku, kak Gema," gumamnya lirih. Ia memgambil kotak bekal yang ia bawa tadi. Ia akan memakannya sambil bekerja.
"Enak, masakan om emng selalu enak," gumamnya tersenyum saat mulai mengunyah.
Jika Varel sudah memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Andini, ia juga harus segera jujur kepada Gema. Mendadak selera makannya hilang, "Kenapa serumit ini sih?" keluhnya.
"Jangan lupa bekalnya di habiskan, ya sayang," sebuah chat dari Varel masuk. Yang mana membuat selera makan Adel kembali lagi, ia tak ingin mengecewakan Varel yang sudah bersusah payah mask untuk dirinya.
Adel mengambil potret makanan yang sedang ia makan tersebut lalu mengirimkannya kepada Varel, "Iya, ini lagi di makan. Enak... Makasih omm," caption yang menyertai photo yang ia kirim.
"Manis bnget sih... Yang makan." balas Varel lagi. Membuat pipi Adel yang mengembung karena makanan di mulutnya menjadi bersemu merah.
__ADS_1
"Apa sih, om. Suka nggak jelas!" batinnya, ia kirim photo makanannya tapi yang di komentari orangnya. Ia tak lagi membalas pesan Varel dan memilih menyimpan ponselnya di tas. Atau ia akan lupa dengan pekerjaannya jika sudah memegang ponsel dan berkirim pesan dengan pria pujaannya tersebut.
"Ada pria sesempurna dansebaik kak Gema di depan lo, Adelia! Tapi kenapa lo malah memilih cinta sama calon suami orang? Apa logika lo emang sedangkal ini?" protes Adelia pada dirinya sendiri.