Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bab 79


__ADS_3

Sebenarnya Syafira tak tega melihat Varel sampai harus berlutut di hadapannya yang kini duduk di sisi kiri Bara tersebut.


Namun, entah kenapa rasanya sulit untuk menerima. Bukannya ia tak tahu atau menutup mata kalau mereka saling mencintai, tapi ia takut jika ke depannya akan ada masalah lagi yang membuat Adel terluka. Karena jika itu terjadi, Syafiralah yang paling sedih nantinya.


Mata Syafira semakin berkaca-kaca, ia tetap mempertahankan egonya. Tangannya saling meremat. Ia membuang pandangannya ke samping, sama sekali tak mau menatap Varel karena sebebarnya ia tak tega melihat wajah pria itu.


"Aku benar-benar mencintai Adelia, dan akan berusaha untuk menjadikannya seorang ratu dalam hidupku, Fir,"


Syafira semakin kuat meremat jari jemarinya, namun egonya masih kekeuh.


"Ikut mas sebentar, Fir. Mas mau bicara! Kamu duduk, Rel. Jangan seperti ini!" Bara menarik tangan Syafira pelan.


" Apa sih mas?" tanya Syafira saat mereka sudah berada di ruang kerja Bara.


" Kenapa istri mas sekarang jadi semakin keras kepala begini?" ujar Bara yang gemas dengan sang istri. Sejak tadi ia memilih diam, berharap sang istri mau mengerti dan menyadari kekeliruannya dalam Mengambil keputusan. Namun, ternyata harapannya tak terkabul. Syafira justru tetap kekeuh dengan egonya.


"Mas nggak ngerti bagaimana jadi aku," Syafira mulai terisak. Ia sebenarnya juga berat mengambil keputusan ini.


Bara menarik Syafira ke dalam dekapannya, "Justru karena mas tahu bagaimana perasaanmu, makanya mas ingin Kamu merestui mereka. Mas tahu, kamu ingin Adel bahagia bukan? Dan kamu harus terima kalau kebahagiaan Adel ada pada Varel, sayang. Mereka saling mencintai, jangan menghalangi kebahagiaan mereka yang sudah berada di depan mata. Jangan egois, sayang," Bara tahu betul bagaimana rasanya di posisi Varel, dulu ia pernah di posisi seperti adik iparnya tersebut, hanya sedikit beda cerita.


" Aku hanya takut, mas. Ayah pasti kecewa sama aku kalau sampai Adel terluka lagi," ungkap Syafira," Selama ini aku sengaja tak pernah kasih tahu Adel apapun tentang Varel, berharap dia benar-benar bisa sembuh lukanya dan mulai kehidupan yang baru dengan pria lain, tapi kenapa tetap seperti ini?" lanjutnya.


Bara menggeleng," Ayah pasti bangga sama kamu. Kamu adalah kakak terbaik di dunia buat Adel. Tidak ada yang perlu kamu takutkan. Kamu tentu tahu seperti apa Varel selama ini. Yakinlah jika setelah ini ia mampu membahagiakan Adel. Menjadikan adik kamu ratu dalam hidupnya. Kalau sampai Varel menyakiti Adel, bukan cuma kamu yang akan maju, tapi mas akan menjadi orang yang maju di garda paling depan untuk menghajar Varel,"


"Maasss..." Syafira mencubit pinggang Bara.


Pria itu tersenyum, "Buanglah rasa takut dan khawatirmu itu sayang. Lepaslah beban yang membuatmu takut akan bayangan ke depannya. Berilah mereka kesempatan untuk meraih bahagia bersama," ucapnya.


Syafira masih bergeming.


" Kamu tentu tidak lupa bagiamana dulu aku juga pernah berada di posisi seperti Varel. Luka yang aku goreskan padamu dulu juga tak kalah menyakitkannya, bukan? Bahkan lebih. Aku bahkan penyebab ayah mertuaku meninggal. Saat itu aku hampir kehilangan jamu, dan tahu rasanya? Duniaku berhenti seketika itu juga. Mendapat maaf dari Adel juga tidak mudah dan aku bisa memahami hal itu. Tapi, demi kebahagiaan kakak satu-satunya yang ia cintai, ia merelakan sakit hatinya terhadapku. Dengan lapang dada Adel memaafkan kesalahanku dan semua itu tak lepas dari peran Varel juga. Dan sekarang, Adel kembali memilih menahan lukanya sendiri demi kamu. Tidak bisakah kamu juga melakukannya, demi Adelia? Tidak bisakah kamu berlapang dada menerima kenyataan kalau mereka memang tidak bisa terpisah. Sesakit apapun luka yang pernah mereka rasakan, cinta mereka tetap tumbuh hingga sekarang dan kamu bisa melihatnya sendiri hal itu," ujar Bara panjang lebar dengan lembut dan hati-hati.

__ADS_1


Syafira terisak dalam dekapan suaminya. Ia mencoba mencerna kalimat demi kalimat sejak tadi suaminya katakan.


.


.


.


"Awas kalau kamu sampai menyakiti Adel lagi, aku nggak Akan pernah maafin dan kasih kamu kesempatan lagi," ujar Syafira tiba-tiba saat kembali ke ruang tamu.


Varel berdiri, ia tahu maksud Syafira. Entah apa yang sudah kakak iparnya itu lakukan sampai bisa membuat Syafira berubah pikiran. Ia tersenyum lebar penuh kelegaan.


" Pasti, pasti aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk kebahagiaan Adelia. Aku akan kembali ke kota B sekarang, aku ingin mengatakannya pada Adelia. Thanks fir!" Varel sangat senang sekali hingga ia tak sabar untuk menemui Adel.


"Tidak perlu, Adel ada di Jakarta. Kamu bisa menemui dia di butiknya!" ucap Syafira. Hal itu membuat Varel semakin melebarkan senyumnya. Karena ia tak butuh waktu lama untuk bertemu pujaannya tersebut.


Bara melempar kunci mobilnya pada Varel, "Pergilah! Jemput kebahagiannmu!" ucapnya.


Bara meraih pinggang Syafira, ia mengecup pelipis sang istri, "You are the best my wife! Di kasih enak sedikit langsung luluh, mau nambah lagi?" bisiknya di telinga Syafira.


Plak!


"Bukan karena itu ya aku berubah pikiran!" sahut Syafira melotot. Ia kesal. Jika ingat tadi dalam ruang kerja Bara. Waktu yang singkat mereka di ruang kerja itu sempat-sempatnya bara bercocok tanam. Kilat dan cepat.


.


.


.


.

__ADS_1


Varel langsung menuju ke butik yang di maksud. Namun, ternyata wanita itu tak ada di sana.


"Mbak Adel, baru saja keluar beberapa menit yang lalu, mas," kata karyawan butik. Raut wajah Varel langsung berubah kecewa. Namun ia tak putus asa.


Varel langsung pergi untuk mencari Adelia ke setiap sudut kota Jakarta. Bahkan ke ujung dunia atau kolong semutpun kali ini akan ia cari sampai ketemu.


Hari sudah gelap, Varel masih belum menyerah mencari Adel. Hingga ia melewati sebuah taman. Ia menghentikan mobilnya saat melihat sosok mirip Adelia tengah duduk membelakanginya.


Ternyata memang itu Adelia. Padahal ia sudah melewati tempat itu tadi, tapi mungkin tadi Adel belum di sana.


Varel tersenyum lega saat memastikan itu benar-benar Adel. Ia duduk di samping wanita itu, "Kebiasaan suka ngilang. Untung ketemu lagi dan lagi," ucapnya. Hal itu membuat Adel kaget karena tiba-tiba ada orang di sampingnya.


Adel menoleh, "Om...? Kok bisa?" ucapnya terkejut.


"Kali ini bukan kamu yang kembali, tapi aku yang datang mencarimu," sahut Varel.


Adel terdiam sejanak, "Kenapa om kesini, bukannya aku udah buat om menyerah juga, bahkan dengan cepat om sudah memiliki calon istri lagi," ujarnya kemudian dengan nada bergetar.


Varel mengernyit, "Calon istri?" tanyanya bingung. Berita meresahkan dari mana itu, pikirnya.


Adel mengangguk, "Kemarin aku ketemu ibuk, katanya calon om mau datang ke rumah," ungkapnya sedih.


Mama, benar-benar ya wanita tua itu, pikir Varel.


Tapi, Varel juga senang karena ucapan bu Lidya akhirnya Adel memutuskan untuk cepat balik ke Jakarta sehingga kini ia tidak perlu balik ke kota B untuk menemui wanita tersebut yang pastinya akan butuh waktu lagi, semakin lama.


"Dan kamu cemburu? Sedih? Kecewa? Makanya balik ke sini?" terka Varel.


Adel menoleh, wajahnya berubah sendu, "Nggak perlu aku jelaskan juga om tahu, kan?," ucapnya mencebik,.


Varel tersenyum," Masih ada cemburu, masih ada cinta berarti. Tapi kok nyerah?" ucapnya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2