Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
21. Mendapat Restu, Hari Pertunangan Adam Dan Tiar Tanpa Dita


__ADS_3

Pov Tiar


Setelah kepulangan Adam dan keluarganya, Papa terus menerus mengunci dirinya didalam kamar bahkan Mama sekalipun tidak diizinkan masuk.


Aneh sekali seperti anak perawan yang sedang mutung minta dinikahkan, padahal seharusnya aku yang marah karena keinginannya ditentang.


Tapi meskipun begitu aku tetap khawatir dengan Papa, takut terjadi apa-apa kepada beliau karena mengingat usia beliau sekarang sudah tidak muda lagi.


"Pa keluar yuk makan siang dulu" Rayuku kepada papa yang masih mengunci diri didalam kamar.


"Papa gak laper Tiar, tinggalin Papa sendiri!" Teriaknya dari dalam kamar.


"Jangan ngambek ih Pa inget usia, masak Tiar yang di larang Papa yang ngambek? Mama mau masuk nih mau mandi" Mama ikut merayu.


"Mandi di kamar tamu atau kamar Tiar aja, Papa masih pengen sendiri Ma" Tolak Papa atas permintaan Mama.


"Ya sudah kalau begitu Mama pulang kerumah Ibu aja, Mama mau mandi disana toh juga Mama lebih nyaman banyak temennya daripada disini dicuekin Papa" Ancam Mama.


Sepuluh menit kami menunggu tanpa ada reaksi apapun dari Papa.


"Oke, ayo Tiar antar Mama kerumah nenek, biar Mama nginep disana aja, lagian juga ngapain kita disini" Ucap Mama dengan suara yang sengaja dikeraskan.


"Kenapa harus begini sih ma" Aku berbisik kepada Mama.


"Biar Papa mu mau dibujuk" Balas Mama dengan berbisik.


"Kalau papa gak keluar nanti Mama juga yang repot, gak usah ya?" Ucapku sedikit ragu.


"Gak akan, lagian dirumah masih ada Bik Inah dan Mbak Lastri, kita juga gak lama" Ucap mama yakin.


"Ya sudah Ma biar Tiar anter, Tiar sekalian ikut aja" Teriakku agar terdengar oleh Papa.


Lima menit kami terdiam didepan pintu kamar namun masih tidak ada reaksi apapun dari dalam.


Setelah yakin kami bergegas turun kebawah menuju carport, saat mesin sudah aku nyalakan dan mobil mulai berjalan ternyata Papa keluar memanggil kami berulang kali, aku pun dengan sengaja tak menghiraukannya.


Ketika sudah mulai keluar dari komplek barulah terlihat mobil Papa mengikuti dari belakang.


Mama memintaku untuk berhenti karena mobil Papa berusaha memojokkan kendaraan kami, aku berhenti tepat dijalan keluar menuju Jalan Raya.


Papa terlihat turun dari mobilnya dan menghampiri kami.


"Ma buka! jangan pergi kita bicarakan bersama dirumah" Ucap Papa dari luar kaca mobil.


"Tiar gimana ini? kasian Papamu" Tanya Mama nampak kebingungan juga kasian kepada Papa.


"Yaudah Ma kita turun aja" Ujar ku.


Kami berdua turun dari mobil secara bersamaan, terlihat wajah Papa berseri kembali.


Setelah bujuk rayu Mama akhirnya kami memutuskan untuk kembali kerumah, aku mengemudikan mobilku seorang diri karena Mama ikut naik ke mobil Papa.

__ADS_1


Sesampainya dirumah kami bertiga bicara dari hati ke hati, menyampaikan apa yang menjadi unek-unek kami.


"Sebenarnya sebab itulah Papa belum berani melepas mu Nak, Papa belum sanggup kehilangan putri semata wayang Papa" Jelas nya.


"Tapi Pa, Tiar hanya bertunangan aja belum menikah, lagi pula sekarang atau nanti pasti akan tetap menikah dan pergi meninggalkan rumah ini dan juga Papa, semua hanya masalah waktu" Aku berusaha meyakinkan Papa.


"Papa tau, yang selalu khawatirkan apa Adam bis setia sama kamu selama di Amerika? Papa gak mau putri kesayangan Papa terluka atau sampai menangis" Terlihat butiran bening keluar dari sudut mata Papa.


Papa dan Mama tidak henti menitikkan air mata, suasana menjadi hening tanpa ada kata yang keluar dari mulut kami.


"Tiar janji akan selalu menjaga diri, Tiar akan kuat" Ucapku mantap.


"Janji sama Papa kamu tidak akan terluka dan menangis, jangan siksa dirimu, jangan tahan apapun yang membuat jiwamu lemah, ceritakan semuanya sama Papa" Ujarnya.


"Pasti! karena Papa cinta pertama dan terakhir Tiar" Senyumku merekah ketika mengatakan itu.


"Janji jangan lupakan Papa ya Nak?" Ucap Papa sendu.


"Tiar akan selalu ingat Papa, selalu sayang dengan Papa" Aku kembali membuat hati Papa yakin.


"Yasudah sekarang kamu hubungi Adam, lusa kalian tunangan, biar nanti Papa yang mengurus segalanya" Kalimat Papa kali ini membuatku bahagia.


Aku menangis sejadi-jadinya karena terharu Papa sudah mengizinkan pertunangan kami.


Segera aku beranjak ke kamar untuk mengambil ponsel, dengan sigap aku mencari kontak nama Adam dan langsung memberitahunya.


Dia menyambut bahagia kabar gembira yang telah aku sampaikan, karena hanya ini yang dia tunggu.


šŸŒžšŸŒžšŸŒžšŸŒž


Kami pergi ke sebuah mall terbesar di kota, mencari perhiasan dan juga baju seragam untuk hari H acaranya nanti.


Adam membelikan lima gram cincin emas, tujuh gram gelang emas, dan sepuluh gram kalung emas sebagai hantaran pertunangan kami.


Untuk masalah seragam aku memilihkan baju yang sama dengan kami untuk orangtua masing-masing.


Selesai berbelanja kami langsung pulang karena di rumahku sangat repot mempersiapkan ruang dekorasi dan juga simbolis untuk besok.


ā˜˜ļøā˜˜ļøā˜˜ļøā˜˜ļøā˜˜ļø


Hari yang ditunggu Telah tiba


Pov Author


Hari ini adalah kebahagiaan bagi Adam dan Tiar, karena Frans sudah memberi lampu hijau kepada hubungan mereka.


Sebenarnya Frans mengizinkan Tiar bersama dengan Adam, namun karena Tiar anak semata wayang maka Frans menahan agar Tiar tidak dahulu menikah dan meninggalkan beliau.


Sedari kecil perjuangan orangtua Tiar sampai pada titik ini sangat berat demi kebahagiaan sang putri, beliau sempat mengalami bangkrut dan menjadi seorang pedagang kaki lima hingga dituduh sebagai pencuri bahkan dijatuhkan hukuman penjara selama dua bulan namun atas berkat dari Yang Maha Kuasa kasus itu selesai dengan ditemukannya bukti pencuri yang sebenarnya.


Frans belum rela jika Tiar akan dimiliki oleh orang lain, karena beliau ingin menjadi satu-satunya pria yang dicintai oleh putrinya, namun dengan perlahan beliau sadar tidak bisa egois dengan kehendaknya karena kini putrinya sudah beranjak dewasa dan sudah waktunya menata masa depannya sendiri.

__ADS_1


°°°


Pov Tiar


Pertunangan kami akan dilaksanakan pada jam satu siang, sedari pagi semua orang sudah sibuk mempersiapkan hidangan dan menatap tempat di ruang yang sudah didekorasi, Papa terlihat yang paling sibuk dan sangat antusias.


Aku tidak menyangka Papa akan setuju dengan pertunangan kami.


"Tiar ini sudah jam dua belas kamu siap-siap dandan yang cantik ya" Teriak Mama dari dalam dapur cantik.


"Iya Ma sebentar lagi nanggung masih potongin kue" Balasku.


"Gak usah sayang, nanti biar Bik Inah yang lanjutin, kamu siap-siap aja" Ujarnya lagi.


Karena tidak mau Mama menyuruh untuk yang ketiga kalinya, aku langsung menuruti perintahnya.


Sesampainya dikamar aku sempatkan untuk mengecek ponselku, ternyata tidak ada satupun pesan dari Adam.


"Sama sekali gak ngabarin ya dia?" Kesal ku saat kembali menyimpan ponselku di laci, kemudian beranjak ke kamar mandi dan segera bersiap.


šŸŒžšŸŒžšŸŒžšŸŒžšŸŒž


Pukul 13.15 menit rombongan sekitar ada lima mobil memasuki halangan rumah kami, aku hanya berani mengintip dari jendela kamarku.


Rasa berdebar, haru dan sedih bercampur aduk, andaikan saja Dita bisa ada disini pasti menambah kebahagiaan tersendiri untukku.


Aku tetap bersyukur walaupun Dita tidak bisa hadir tapi masih ada yang menemani yaitu Dina dan Winda.


Winda ini teman dari kecilku setelah pindah di komplek ini, kebetulan Winda kuliah asrama di kota Jedah jadi kami sangat jarang bertemu bahkan hampir tidak pernah, beruntungnya karena dihari pertunangan ku dia bisa menyempatkan hadir karena sedang libur kuliah.


Tok!..Tok!...Tok!... Terdengar ada yang mengetuk pintu kamarku dari luar.


"Masuk aja gak dikunci" Ucapku memberi isyarat.


Suara pintu kamar terbuka, ternyata Mama yang datang.


"Sayang, Adam dan rombongannya sudah datang ayo cepat turun" Ucap Mama dari ambang pintu.


"Iya Ma sebentar lagi aku turun" Ucapku.


"Sekarang aja Mama temenin juga, ayo cepat! udah ditunggu acaranya udah mau mulai nanti keburu sore kasian tamunya lama menunggu"


Kami berempat menuruni tangga yang langsung berhadapan dengan ruang keluarga tempat para tamu rombongan berkumpul, seluruh pasang mata memandangku dengan takjub, tidak luput dari pandangan Adam.


Aku duduk disebelah kiri Papa tepatnya berseberangan dengan tempat duduk Adam.


Rangkaian acara demi acara dilaksanakan dengan hikmat dan penuh haru bahagia, sayangnya hari ini kakak perempuan Adam yang tinggal di Jakarta tidak bisa hadir.


Acara selesai sekitar pukul 15.45 menit, banyak sekali rangkaian acara yang Papa siapkan.


Tamu Undangan langsung digiring menuju prasmanan untuk menikmati hidangan yang telah kami siapkan.

__ADS_1


Tiga puluh menit selesai makan seluruh keluarga berbincang-bincang santai sebelum akhirnya berpamitan, Aku sengaja meminta Adam tinggal disini karena akan ada sesi pemotretan untuk mengabadikan momen bahagia kami.


__ADS_2