Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bab 52


__ADS_3

Kedatangan Andini menunda waktu istirahat Syafira dan bu Lidya. Mereka tak lagi membahas soal keberadaan Adel di sana, baik Syafira dan bu Lidya berusaha menjaga nama baik Adel dan Varel di depan Andini, mereka juga ingin menjaga perasaan Andini dengan tidak melanjutkan pembicaraan masalah tadi.


Adelia memilih untuk pergi ke dapur untuk membuatkan mereka minum. Ia menolak ketika Andini menawarkan diri untuk membantunya dengan alasan pasti banyak hal yang ingin mereka diskusikan soal pernikahan nanti.


"Kamu di sini saja, Ndin. Temani kakak dan ibuk, kalau cuma buat minumam saja aku bisa kok," ujar Adel tersenyum saat Andini mempertanyakan apakan dirinya bisa membuatkan minum. Maski wanita itu tersenyum saat bertanya, tapi entah kenapa terdengar sangat meremehkan di telinga Adelia. Apakah Adelia seburuk itu? Adel tak mau ambil pusing soal hal itu. Kedepannya, ada hal yang lebih penting yang harus ia pikirkan.


Adelia memilih untuk pergi ke dapur untuk membuatkan mereka minum. Ia menolak ketika Andini menawarkan diri untuk membantunya dengan alasan pasti banyak hal yang ingin mereka diakusikan soal pernikahan nanti.


Sepeninggal Adel ke dapur, Andini memgibrol dengan syafira dan bu Lidya. Karena memang jarang sekali bertemu, mungkin terakhir kali, sekitar satu tahun yang lalu ketika Syafira memboyong keluarganya untuk berlibur di kota tersebut.


Varel yang sejak tadi banyak diam, mulai tidak nyaman berada diantara tiga wanita yang sedang berbincang itu. Ia memilih untuk keluar melihat anak-anak Syafira. Ia tak peduli dengan apa yang di bahas oleh Andini dan ibunya.


.


.


.


"Apa aku sebodoh itu, sampai buat minuman saja di ragukan," gumam Adel, tak bohong jika ia mulai memiliki rasa kesal kepada Andini.


Tanpa sadar, ada Varel yang bersandar pada daun pintu sedang menyaksikan wanita itu ngedumel sambil menuang air ke gelas. Pria itu sengaja masuk ke lewat pintu belakang dapur untuk menemui Adelia.


"Ish, om! Ngagetin aja, ngapain? Kok malah di sini?" tanya Adel yang berjingkat saat mendengar decakan dari Varel.


Pria itu tak menyahut, ia justru merangsek masuk ke dapur, mendekati Adel yang sedang membuat minuman.


"Kenapa kamu mengatakan itu tadi? Tidak ada hubungan? Bukankah kita udah sepakat untuk..."


"Memang begitu kan?" potong Adel cepat.


"Kita memang tak ada hubungan apa-apa selain saudara. Status kita sekarang masih terikat dengan orang lain," sambung Adelia.


"Baiklah, aku akan menyelesaikan urusanku dengan Andini sekarang. Dan kamu.... Selesaikn urusanmu dengan Gema!" ucap Varel tegas. Ia langsung putar badan untuk kembali ke ruang tamu.


Adel buru-buru mencegah Varel, ia memeluk pria itu dari belakang, "Jangan sekarang," ucapnya.


"Aku sudah tidak bisa menahannya lagi, ini Bisa membuatku gila, Del. Aku ingin semua ini segera berakhir," ungkap Varel.


"Aku mohon, om. Setidaknya biarkan kakakku tenang dulu. Lihat kan tadi gimana syoknya dia, aku udah buat kakak kecewa. Nggak bisa bayangin bagaimana perasaan kakak kalau kita bilang sekarang juga. Aku takut, benar-benar takut buat kakak marah apalagi kecewa sama aku," ucap Adel.


Varel mendengus,"lalu, bagaimana dengan perasaanku, Del? Aku ingin semua ini cepat selesai. Aku nggak mau lagi berpura-pura baik-baik saja tanpa kamu. Atau kamu memang ingin melihat aku menikahi Andini?" tuduhnya.

__ADS_1


Adel menggelengkan kepalanya di punggung Varel, "Itu hal paling tidak aku inginkan," ucapnya lirih.


Varel melepas tangan Adel yang melingkar di perutnya, ia llu memutar badannya menghadap Adel. Mata gadis itu sudah merah hampir kembali menangis. Ia menarik gadis di depannya tersebut ke dalam pelukannya.


Tak ada yang bicara, keduanya hanya saling menikmati pelukan tersebut untuk sedikit mengurangi rasa sesak di dada keduanya.


"aku harus membawa minuman ke luar, om. Bisa lepaskan dulu?" ucap Adel dan Varel menggeleng.


"Aku nggak mau lepasin kamu lagi, aku takut kamu pergi lagi dariku,"ujar Varel.


" Aku nggak kemana-mana, cuma bawa minum ke depan. Nanti mereka akan curiga. Om ke sana dulu tapi lewat belakang lagi, aku susul,"


"Nggak mau, di sana ada Andini. Aku lagi males, nanti kamu nggak nyaman kalau ikut gabung di sana. Aku nggak tega, di sini pasti sakit," Varell menunjuk dada Adel tanpa menyentuhnya. Dan Adel tak menyanggah hal itu.


"Del, minumnya mana. Tadi katanya mau buati minum buat kami, kok lama?" suara bu Lidya yang datang mendekati dapur membuat Adel refleks mendorong dada Varel. Untung pria itu tidak terjengkang. Varel langsung melayangkan protes lewat matanya,"Kok di dorong sih?"


"Om pergi sana, itu ibuk ke sini, nanti ketahuan," usir Adel, ia merasa cemas.


"Nggak mau, biar aja mama tahu," ujar Varel cuek.


"Oommm," Adel memohon.


Adel menggeleng, "Belum waktunya," tolaknya.


"Yaudah kalau gitu, aku di sini aja. Peluk kamu gini, biar mama lihat , kita langsung di nikahkan pasti," Varel malah memeluk Adel.


"Ish, nggak akan semudah itu, yang ada justru badai angin topan. Udah sana pergi dulu," usir Adel lagi tapi pria itu tetap bergeming,


"Ommm....,"


"Nggak mau, Adelia,"


Dugh! Adel menginjak kaki Varel.


"Aduh, sakit. Kok diinjak sih? Katanya sayang, tapi di sakiti gini? Harusnya di sayang-sayang," Protes Varel.


Adel melotot, "bukan waktu yang tepat untuk mendiskusikan itu. Cepat keluar!" ucapnya.


"Permintaan di tolak!"


Varel hendak memeluk Adel kembali, namun wanita itu dengan sigap menghindar. Yang mana membuat Varel berdecak sebal.

__ADS_1


Sialnya, suara langkah kaki bu Lidya terdengar semakin mendekat, "Ibuk masuk, ya Del. Ibuk bantu kalau belum selesai," sedikit aneh, kenapa bu Lidya harus memberi kode terlebih dahulu untuk masuk ke dapur. Dan suara itu membuat Adel semakin was-was. Pasalnya, Varel kekeh tak mau pergi dari sana.


Adel memutar badannya saat bu lidya melangkah masuk ke dapur. Jantungnya berdebar sangat kencang saat bu Lidya muncul di depannya, seperti orang yang sedang ketahuan selingkuh "Ib-ibuk...." Adel mencengkeram erat meja dapur.


"Kok lama sih, sayang? Ibuk bantu, ya?" tawar bu Lidya.


Adel mengerutkan Keningnya, kenapa ekspresi bu Lidya biasa saja, apa beliau tidak curiga dengan keberadaan Varel di sana, pikirnya. Ia menoleh dan sudah tak mendapati Varel di sana. Ia tak tahu jika Varel melesat pergi bersamaan dengan masuknya bu Lidya tadi.


Adel menghela napas lega.


" Kamu kenapa? Mencari siapa?" tanya Bu Lidya yang ikut celingak celinguk.


"Ah enggak kok buk, ini minumnya udah jadi. Biar aku yang bawa ke sana, ibu kesan dulu saja, aku mau beresin ini dulu sebentar," Adel menunjuk botol sirup raaa jeruk di atas meja.


"Baiklah, ibu kesana lagi, ya? Ibuk kira kamu kenapa kok lama tadi. Itu Andini mau pamit, ke sini cuma antar bubur buat Varel aja. Ngomong-ngomong anak itu kemana, ya? Mau di pamitin sama calon istri kok malah ngilang," kata bu Lidya.


"Aku juga nggak tahu buk, dimana. Mungkin lagi main sama si kembar di taman," ucap Adel.


Bu Lidya tersenyum, seolah ia tak percaya dengan apa yang dikatakan Adel, "Suruh dia ke depan, ya? Andini mau pamit. Ibuk ke depan dulu," ucapnya lalu pergi.


Ucapan bu Lidya membuat Adel merasa aneh, atau dia saja yang terlalu curiga?


"Kok malah bengong, nanti mama ke sini lagi, loh!" Varel tiba-tiba muncul lagi dari bali pintu.


"Astaga, om. Seneng banget bikin jantungan," ia pikir pria itu sudah pergi, ternyata hanya ngumpet di belakang dapur.


" Udah sana, dengar kan tadi ibuk ngomong apa? Andini mau pamit," lanjutnya.


"Malas ah," Varel malah bersandar pada daun pintu.


"Terserahlah, tapi jangan salahkan aku kalau aku ngambek!"


"Dih bocil ngambekan!"


Cup!


Varel memberik kecupan di pipi Adelia, "Nanti malam Aku tunggu di taman," bisiknya lalu pergi.


"Ck, dasar!" Adel menyentuh pipinya yang merona. Ia buru-buru mengambil minuman yang sudah penuh dengan gelas berisi minumn segar rasa jeruk tersebut.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2