Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bab 62


__ADS_3

Varel dan Adel tidak pulang ke rumah mereka pergi ke butik Adel yang letaknya lebih dekat dari lokasi kecelakaan tadi.


"Sebentar, aku ambil kotak P3K dulu buat ngobatin luka om," ucap Adel sesaat setelah mereka sampai di lantai atas butik.


Varel mengangguk, memperhatikan setiap gerak wanita tersebut yang kemudian sibuk mencari kotak p3k yang di maksud.


"Kalau nggak ada nggak apa-apa, Del. Ini akan sembuh sendiri," ucap Varel yang melihat Adelia tak kunjung menemukan apa yang ia cari.


"Ada kok, aku ada nyimpen di sini. Tapi aku lupa naruhnya dimana," Sahut Adel tanpa menoleh.


"Ah iya, aku ingat. Kemarin Shahila mibta plester, mungkin di bawa sama dia ya, aku cari di ruangannya dulu, sebentar!" wanita itu langsung keluar ruangannya.


Tak lama kemudian, Adel kembali dengan memeluk kotak p3k, "Ketemu!" serunya tersenyum. Yang di balas anggukan oleh Varel.


"Om duduk sini, aku obati lukanya!" Adel menarik tangan Varel dan menyuruhnya untuk duduk. Pria itu hanya manut saja, ia tak pernah seklioun mengalihkan pandangannya dari Adel.


"Ini akan sakit sediki, tahan ya?" ucap Adelia dan Varel mengangguk.


"Sssshhh..." ternyata beneran perih sampai-sampai Varel meringis.


"Perih," ucap Varel ketika Adel menatapnya.


"Tahan sedikit, masa kalah sama Zio. Dia kemarin berkali-kali jatuh nggak nangis pas diobatin lukanya," ucap Adel. Varel langsung mengatupkan bibirnya.


Adel meneruskan mengileskan obat merah pada luka Varel, "Lagian, om ngapain sih tadi jauh-jauh kesana? Untung aja selamat, kalau nggak..." Adel menghentikan kalimatnya.


"Kalau enggak?" Varel menunggu lanjutan ucapan Adel.


"Kalu nggak, ya kasihan ibuk. Pasti sedih!" ucap Adel.


Varel menyentuh tangan Adel yang sedang mengobati lukanya, "Kamu sendiri, bagaimana? Apa akan sedih juga?" tanyanya dengan sorot yang serius.


Adel menatap Varel, "Om pikir ajalah sendiri!" ucapnya.


Varel tersenyum, "perasaan, tadi ada yang nangis-nangis nyariin aku deh. Takut kehilangan aku, bahkan bilang cinta sama aku. Eh, sekarang malah nggak mau ngaku," godanya.


"Jangan kayak gitu lagi, apapun yang terjadi, aku ingin om tetap hidup, menghirup udara yang sama denganku," kata Adel.


Varel mengangguk, ia menarik gadis yang kini menunduk sedih itu ke dalam pelukannya,"Malam ini kta tidur di sini aja, ya? Mama pasti ngomel kalau lihat wajah anak gantengnya hancur gini, mana belum laku ini," ucap Varel.


Adel sebenarnya ingin menolak, tapi di luar hujan sangat deras, di tambah tak ada kendaraan untuk pulang akhirnya ia mengangguk," Iya, kita di sini malam ini. Tapi, om hubungi ibuk. Bilang kalau baik-baik aja. Ibuk pasti khawatir apalagi kalau lihat berita di televisi,"


"Astaga! Iya lupa, pinjam hp kamu, sayang. Punyaku lowbat,"


"Pantes, dari tadi aku hubungi nggak bisa, uda kayak orang gila aku tuh!" Adel memberikan ponselnya," siniin ponselnya, aku charge dulu!"


Varel mengusap lembut rambut Adel," Maaf ya?" ucapnya sembari menempelkan benda pipih itu ke telinganya. Saat tersambung, ia langsung memberitahu kalau ia selamat dalam kecelakaan itu.


Setelah mencoba menjelaskan kepada ibunya yang benar-benar sedang di landa panik di rumah sana, akhirnya panggilan Varel akhiri.


"Bagaimana buk?" tanya Syafira yang juga ikut cemas dan khawatir.


"Syukurlah, Varel selamat, Fir. Tadi Adel sama Gema menyusul ke tempat kejdian, tapi mereka nggak bisa pulang malam ini, cuaca di sana sangat buruk katanya," ucap bu Lidya.


"Yang penting Varel baik-bqik saja, buk. Besok merek juga pulang," balas Syafira.


Mereka tidak tahu saja kalau saat ini Varel dan Adel hanya berdua di butik, tidak sama Gema.

__ADS_1


"Anak itu, selalu saja bikin ibuk jantungan, sampai mules ini perut karena khawatir dan kepikiran terus dari tadi," omel bu Lidya.


"Sabar, buk. Mending sekarang aku buatkan teh hangat lagi ya, yang itu udah dingin," Syafira menunjuk cangkir di meja.


"Maaf ya, tadi ibuk khawatir banget, mana ada selera untuk minum. Yang ada mules malahan ini," sahut bu Lidya.


Syafira tersenyum, lalu beranjak dari duduknya.


"Eh, fir!"


"Ya buk,?"


"Sepertinya ibuk harus ketemu sama Andini," ucap bu Lidya.


Syafira paham apa yang dimaksud bu Lidya, ia mengangguk setuju, "Iya, Syafira akan temani ibuk ketemu Andini, kita cari waktu buat ketemu dia, ya?" ucapnya.


.


.


.


"Om..." panggil Adel. Saat ini posisi mereka sedang duduk di sofa, Adel menyandarkan kepalanya di dada Varel.


"Hem..." sahut Varel. Ia mengusap-usap kepala wanita tersebut.


"Kalau om harus memilih, antara nyawa dan cinta, om pilih yang mana?" tanya Adel.


"Kenapa tanya begitu?" tanya Varel curiga.


Suasana hening.


"Om,"


"Hem?"


"janji ya sama aku, om harus hidup dengan baik setelah ini,"


Varel tak ingin menanggapi omongan Adel yang dirasanya mulai ngelantur, "Tidurlah, kamu pasti lelah kan?" ucapnya mengalihkan pembicaraan.


Adel mengangguk, "Om juga," ucapnya, ia mencari posisi ternyaman dalam dekapan pria tersebut.


Hingga larut malam, Varel tak kunjung bisa memejamkan matanya. Banyak sekali yang ia pikirkan saat ini, termasuk cara untuk mengakhiri semuanya dengan Andini tanpa menyakiti wanita itu.


Sesekali Adel menggeliat, sepertinya gafis itu mimpi buruk, mungkin efek dari kepanikannya tadi saat tahu Varel kecelakaan. Varel berusaha menenangkannya, di tepuk-tepuknya dengan pelan punggung gadis tersebut,"Ssstt, tenanglah. Aku di sini," gumam Varel. Ia mengecup puncak kepala Adelia.


.


.


Keesokan harinya....


Adel mengerjapkan matanya, ia baru sadar kalau ia tertidur dalam dekapan Varel yang kini sedang terlelap dengan posisi duduk di sofa.


Dengan pelan-pelan, Adel menyingkap selimut yang menutupi kakinya lalu menurunkn kakinya dari atas sofa. Ia gantian menyelimuti Varel yang sama sekali tak terusik karena pria itu baru bisa terpejam dini hari tadi.


Adel mengambil ponselnya, ia memesan makanan melalui aplikasi.

__ADS_1


"Del, gue mau ngomong sama lo, ini soal kak Gema!" Shahila yang baru saja datang langsung nyelonong masuk ke ruangan Adel tanpa permisi. Karena pagi ini ia mengetahui jika Kakaknya sedang patah hati.


"Ssssttt, jangan keras-keras!" Adel menempelkan jari telunjuknya di depan bibir.


Shahila curiga, ia celingak-celinguk dan mendapati alasannya, "Astaga, jadi kalian...."


"Jangan mikir aneh-aneh, kak Gema pasti udah cerita kan kejadian semalam. Nanti gue cerita detailnya, sekarang lo keluar dulu, gih!" usir Gisell. Ia tak ingin tidur Varel terusik karena pria itu pasti kelelahan.


"Intinya beneran kan lo sama kakak gue udah game over?"


Adel mengangguk.


"Jujur gue senang, bukannya apa-apa. Gue nggak tega lihat kakak gue bucin sendirian, kalau kalian putus itu lebih baik," ucap Shahila.


"Lo nggak marah sama gue?"


"Marah sih, tapi ya mau gimana lagi, masalah hati, terlalu riskan dan komplek, gue mencoba berpikir positif aja, kalau di posisi lo juga mungkin gue akan melakukan hal yang sama.


Intinya, thanks udah melepaskan kakak Gue dari harapan palsu. Sekarang emang dia lagi patah hati, tapi gue yakin ntar lama-lama juga sembuh, ya udah gue ke ruangan gue dulu!"


Shahila melenggang pergi. Wanita itu melangkah seolah tanpa beban.


" Siapa, Del? " suara Varel membuat Adel menoleh.


"Itu, Shahila. Om kebangun gara-gara suara cempreng dia ya?" Adel mendekat.


Varel menggeleng, "Aku bangun karena kamu nggak di sini," Varel menyentuh dadanya.


Adelia langsung mencebik, "Apa sih, aku udah pesan makan, sebentar lagi datang. Kita sarapan terua pulang," ucapnya dan Varel mengangguk setuju.


.


.


Dengan bergandengan tangan Varel dan Adel masuk ke dalam rumah. Dimana bu Lidya dan Syafira sudah menunggu. Adel langsung melepas pegangan tangannya namun ditahan oleh Varel.


"Aku mau mengatakan sesuatu sama kamu, Fir!" ucap Varel. Ia pikir Syafira belum mengetahui apa-apa.


"Om Varel tetap akan menikah dengan Andini!" sela Adel, ia melepas paksa tautan tangannya dengan Varel.


Tentu saja ucapan Adel membuat semuanya terkejut setelah apa yang terjadi. Terutama Varel, pria itu meatapnya tak percaya.


Belum juga keterkejutan mereka mereda, kini ponsel Varel berdering. Panggilan dari kontak Andini.


"Halo, ndin..."


"Ini nenek, Rel. Bukan Andini. Andini..."


"Andini kenapa nek?" suara nenek yang terisak membuat Varel menyimpulkan jika terjadi sesuatu dengan Andini.


Entah apa yang di bicarakan oleh nenek selanjutnya hingga membuat Varel bengong sesaat, "Aku akan segera ke sana!" ucapnya sebelum sambungan telepon terputus.


"Kenapa, Rel? Tanya bu Lidya.


" Andini masuk rumah sakit, setelah pulang dari sini waktu itu ia tak sadarkan diri," ucap Varel," urusan kita belum selesai! Aku harus ke rumah sakit dulu , sekarang," ucap Varel pada Adel.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2