Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bab 81


__ADS_3

Setelah mendengar kabar dari Varel, bu Lidya langsung terbang ke Jakarta. Ia akan menyiapkan lamaran untuk Adelia.


Lamaran akan dilakukan di kediaman Osmaro. Sebenarnya, baik Varel maupun Adelia tak ingin ada acara lamaran. Mereka ingin langsung menikah saja. Namun, bu Lidya tak setuju. Ia tak ingin membedakan antara Adelia dan Syafira dulu.


Suasana kediaman Osmaro begitu ceria siang itu. Adelia terlihat begitu cantik mengenakan kebaya berwarna merah yang sangat pas di tubuhnya. Ia gelisah menunggu rombongan dari calon suaminya yang kini sedang dalam perjalanan menuju ke sana.


"Minum dulu, dek. Biar sedikit rileks. Sebentar lagi mereka sampai," ucap Syafira sembari menyodorkan segelas air minum.


"Makasih, kak," balas Adel. Ia menerima gelas itu lalu meminumnya.


"Cieeeeee yang mau di lamar," goda Shahila.


"Sumpah, Sha. Deg-degan banget gue!" Adel menggenggam tangan Shahila. Tangannya benar-benar dingin. Padahal acara belum di mulai.


"Ya ampun, Del. Ini acara cuma formalitas aja.lo nggak usah parno. Nggak mungkin acaranya nggak jadi. Lagian kalian kan sekeluarga, kenapa mesti pakai acara lamaran gini sih. Langsung gas KUA aja kan beres."ujar Shahila.


Bersamaan dengan itu, mobil rombongan dari bu Lidya tiba. Varel turun dari mobil memakai batik lengan panjang bercorak sama dengan kain batik lilit yang di kenakan oleh Adelia. Pria itu terlihat sangat tampan dan gagah. Berjalan di antara bu Lidya dan om John.


Varel tersenyum melihat Adel yang tampak cantik dan anggun memakai kebaya dengan kepala di sanggul.


Mereka tak saling bicara karena duduk berseberangan dengan jarak yang cukup jauh sepanjang acara. Hanya bisa saling melempar senyum. Hingga tiba saat dimana Varel akan mengutarakan niatnya untuk meminang Adelia sebagai istrinya.


Setelah menghela napasnya beberapa kali, Varel mantap melangkah ke depan. Adelia juga berdiri dari duduknya dan maju beberapa langkah hingga mereka bertemu pada satu titik. Saling menyapa dalam senyum.


Varel mulai mengutarakan isi hati an niatnyadatang ke sana setelah mengucapkan salam.


"Ada nama yang selalu bersemayam di hati ini selama bertahun-tahun lamanya, yaitu namamu, Adelia. Hanya namamu. Aku pernah mencoba untuk melawan hatiku untuk melupakanmu. Namun gagal. Tak hanya sekali, tapi berkali-kali. Semakin aku ingin melupakanmu, semakin sulit untukku melakukannya namamu begitu abadi di dalam hatiku, Adelia.


Aku sudah menunggu saat ini untuk waktu yang sangat lama. Untuk bisa berhadapan denganmu dalam momen ini, tidaklah mudah. Banyak hal harus kita lewati. banyak air mata yang harus kita relaka. Maaf untuk setiap tetes air mata yang sudah kamu keluarkan untukku. Ijinkan aku untuk mengganti setiap tets air mata itu dengan senyuman kebahagiaan seperti yang ku janjikan pada kakakmu.


Adelia Shafitri, bersedikah kamu untuk menjadi ratu dalam hidupku? bersedikah kamu menjadi orang yang selalu ada saat aku membuka mata untuk menyambut pagi? Dan menjadi ibu dari anak-anakku kelak?"


Varel berbicara dengan nada bergetar dan mata berkaca-kaca. Padahal banyak kata yang sudah ia siapkan, namun ia hanya mampu mengatakan hal itu.


Meski tahu apa jawaban yang akan Adel berikan, Varel tetap merasa deg-degan. Siapa tahu Adelia berubah pikiran, kan?


Adel mengusap air matanya yang tak mampu ia tahan dengan tissu. Varel menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan kepada Adel untuk tidak menangis. Adelia tersenyum, ia tak bisa menghentikan air mata bahagianya. Bukan hanya Varel yang menunggu momen ini, tapi dirinya juga.


Setelah berhasil menetralkan perasaannya. Adel siap menjawab lamaran dari Varel. Ia mengucapkan basmalah terlebih dahulu sebelumnya.


"Ya, aku mau!" ucap Adelia mengangguk tersenyum. Air mata kembali menetes di pipinya dan segera ia seka.


"Mau apa?" tanya Varel.


"Mau jadi istri dan ibu untuk anak-anak, om," sahut Adel.

__ADS_1


Varel tersenyum bahagia. Akhirnya, tinggal selangkah lagi Menuju halal. Jika tidak ingat situasi, pasti Varel sudah langsung mendekap tubuh Adel dengan sangat erat.


Semua ikut terharu menyaksikan momen tersebut. Tak terkecuali Shahila.


Shahila ikut terharu dengan momen tersebut. Air matanya ikut menetes. Ttayu betul bagaimana perjuangan keduanya untuk bisa sampai pada titik ini, membuatnya terharu. Shahila berharap semoga kelak ia mendapat calon suami seperti Varel. Jika tidak bisa sama ganteng dan kayanya, setidaknya setianya.


Shahila menoleh ketika ada sebuah tangan mengulurkan tissu kepadanya.


"Mau juga di lamar begitu?" ucap Rasel, pria yang menyodorkan tissu tersebut.


Dengan sewot, Shahila menerima tissu tersebut lalu ia gunakan untuk mengelap ingusnya.


"iyalah, siapa yang nggak pengin di lamar coba."ucap Shahila.


Rasel langsung tersenyum. Ia hendak menimpali omomgan wanita itu barusan, namun terlambat.


" Tapi, kalau ada cowok setampan dan sekaya calon suaminya Adel, bonus setia banget lagi, konsisten sama perasaannya. setia lagi! Baru aku mau!" ujar Shahila ia mengusap ingusnya sekali lagi lalu mengembalikannya pada Rasel sebelum akhirnya ia beranjak dari duduknya.


Rasel menerima tissu bekas itu sambil meringis" bekas ingusmu aja aku terima, Sha. Kurang apalagi coba," gumamnya.


.


.


.


"Nggak, aku nggak setuju kalau sebukan lagi, terlalu lama!" tolak Varel tak setuju dengan kesepakatan antara Syafira dan bu Lidya untuk menggelar acara akad sebulan lagi dari sekarang.


"Cuma sebulan, Rel. Lama apanya. Sebukan itu empat minggu! Lagian, semuanya butuh persiapan nggak bisa seperti bangun candi yang hanya dalam semalam bisa terwujud," sergah bu Lidya.


"Nggak usah yang mewah-mewah, yang penting sah. Aku udah nunggu bertahun-tahun dan masih harus nunggu lagi? Tega kalian!" protes Varel.


"Ck, ngebet banget sih!" cebik Rasel.


Varel menoleh, "Lo nggak ngerasain yang gue rasain selama ini, jadi lo diem Met!" ucap Varel sebal.


Rasel langsung mengatup.


Sementara Adel diam, ia ikut bagaimana baiknya saja.


"Nunggu bertahun-tahun aja kamu mampu, masa cuma sebulan enggak bisa?" ucap Syafira.


"Beda cerita dong, ma, ah! Besok aja kenapa sih! Tinggal jalan ke KUA, kelar!" kekeuh Varel.


Akhirnya, setelah terjadi perdebatan sengit antara Varel, bu Lidya dan Syafira. Varel tetap kalah, kedua wanita itu tetap kekeuh. Sebulan adalah waktu paling cepat. Itu saja termasu sudah sangat mepet waktunya untuk memersiapkan semuanya. Baim Syafira maupun bu Lidya ingin yang terbaik untuk Varel dan Adel.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, om. Sebukan itu sebentar, kita pernah melewati yang lebih dari ini bukan?" ujar Adel mencoba menenagkah calon suaminya yang kini tampak gusar. Ia menyentuh pundak pria tersebut yang sedang duduk sendiri di teras belakang. Kesal dengan keputusan yang biat para tetua rumah.


"Aku penginnya kita cepat-cepat sah, takut kamu pergi lagi, sayang," ujar Varel.


Adel tersenyum, "Aku nggak akan kemana-mana lagi. Karena kamu adalah rumahku untuk menetap," ujarnya.


Varel tersenyum, ia menyentuh tangan Adel yang berada di pundaknya, "Aku akan berusaha jadi rumah yang paling nyaman untukmu, hingga kamu enggan untuk beranjak sedikitpun dari sisiku,"


"Kalau begitu, buktikan!" sahut Adelia tersenyum. Ia ikut duduk di samping Varel lalu menyandarkan kepalanya di bahu calon suaminya tersebut.


.


.


.


Sebulan telah berlalu....


Kini hari yang di tunggu-tunggu oleh Varel dan Adel tiba juga.


Acara di adakan di salah satu hotel bintang lima milik Bara yang ada di Jakarta. Ya, pernikahan mereka di gelar di Jakarta, meski nanti mereka akan tinggal di kota B.


Di tuntun oleh Syafira dan Shahila, Adekia berjalan pelan menuju ke meja akad, dimana Varel sudah duduk dengan pakaian serba putih yang di padukan dengan kain batik senada dengan kebaya yang di kenakan oleh Adelia.


Varel bahkan tak berkedip saat melihat calon istrinya berjalan mendekat. Adelia trelihat snagt cantik dengan memakai kebaya putih berbahan brokat dengan detail payet berwarna silver, yang di padukan dengan kain batik. Siger khas Sunda menghiasi kepalanya dengan sanggul melati tradisional, semakin membuatnya terlihat cantik.


Tak ada alasan khusus kenapa Adelia memikih adat sunda sebagai akadnya. Ia memang bercita-cita sejak dulu jika menikah ingin memakai siger khas sunda tersebut.


Tiba-tiba saja, Varel ia merasa gugup saat adel semakin mendekat kearahnya.


Varel yang sebelumnya sudah menggebu tak sabar untuk meminang Adelia, kini ia justru merasa gugup. Padahal kalau di pikir, ini bukan pertama kali dirinya akan mengucap ijab. Tapi, baginya ini sama saja seperti pertama kali melakukannya.


Adel menunduk malu saat ia sampai, dan di minta untuk duduk di samping Varel. Pria itu terus menatapnya tak berkedip. Bahkan penghuku sampai harus memanggilnya tiga kali Sampai ia dengar.


"Bisa kita mulai sekarang? Memandang dia memang indah. Taoi alangkah lebih indah jika di lanjutkan nanti setelah sah? Mau lebih dari sekedar memandang juga boleh, sangat boleh! Tapi, sahkan dulu ya, mas Varel? Di tinggal lihat ke sini, mbak Adelia tidak akan hikang, tenang saja!" goda sang penghulu. Yang mana membuat Varel tersenyum malu.


Penghulu mukai membacakan khutbah nikah. Di susul dengan membimbing Varel membaca doa-doa.


Setelah itu, Varel mulai menjabat tangan penghulu. Dengan lantang dan dalam sekali tarikan napas ia mengucapkan qabul.


"Saya terima ninah dan kawiinnya Adelia Shafitri binti Agung Setiaji untuk diri saya sendiri dengan mas kawin tersebut, tunai!"


" Saaaahhhh!" teriak Rasel langsung begitu Varel selesai mengucapkan qabul.


"Masnya semangat sekali, apa mau saya nikahkansekalian?" seloroh penghulu.

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


__ADS_2