Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bab 75


__ADS_3

"Kamu lagi apa sih, dek? Dari tadi kakak telepon nggak diangkat-angkat?" tanya Syafira dari seberang telepon.


Adel menarik ponselnya dari telinga sebentar untuk mengecek ponselnya. Ternyata benar, ada beberapa panggilan dari Syafira yang terlewatkan.


"Maaf kak, dari tadi aku nggak pegang hape, jadi nggak tahu kakak telepon. Maaf, ya?" ucapnya kemudian. Ia sengaja memasang mode silent pada ponselnya tadi.


"Emangnya habis ngapain, sampai nggak sempat cek ponselmu?" tanya Syafira.


"Emm,, itu aku baru pulang kak, habis dari tempat klien, hp aku silent tadi biar nggak mengganggu, soalnya klien aku orangnya disiplin banget," Adel terpaksa berbohong, ia tahu seperti apa ekspresi sang kakak jika tahu kalau dia habis jalan dengan Varel.


"Sampai malam begini? Klien yang mana? Kok sampai malam?" tampaknya Syafira mulai curiga.


"Em, itu kak. Soalnya Klien aku ada waktunya sore, jadi aku pulangnya sampai malam," balas Adel. Ia tidak berbohong, karena memang tadi sudah agak sore saat ia bertemu kliennya. Hanya saja, bagian ketemu Varelnya ia skip, tak ia ceritakan pada sang kakak.


"Oh gitu, kamu di sana nggak ketemu Varel, kan? Awas loh, jangan sampai kalian ketemu, kakak nggak mau kalau kamu sampai terluka lagi. Sudah waktunya kamu bahagia sama cowok lain," Syafira selalu mewanti-wanti Adel untuk tak lagi berhubungan dengan Varel.


Adel meneguk ludahnya sendiri, "Kok kakak tanya gitu? Aku di sini sibuk kerja lo padahal," ucapnya, ada rasa sedih di hatinya.


"Ya, tanya aja. Soalnya ibuk kemarin sempat nanyain kamu, kakak khawatir kalau kamu ketemu Varel dan kembali jatuh cinta sama dia. Mungkin memang sebaiknya kalian mmeilih jalan masing-masing daripada saling menyakiti lagi. O ya, ingat Reno?" ucap Syafira.


Bukannya takut jatuh cinta lagi, tapi memang cinta itu sama sekali belum hilang.


"Reno? Siapa sih?" tanya Adel, ia benar-benar lupa.


"Itu, anak rekan bisnis mas Bara, yang pernah mau kakak kenalkan sama kamu? Dia kebetulan juga lagi di kota B, temui dia ya? Kakak mau kamu mencoba mengenal dia, siapa tahu cocok," ucap Syafira.


"Tapi kak...."


"Ayolah, dek. Sudah waktunya kamu membuka diri untuk pria lain. Tiga tahun kamu berusha untuk mengikhlaskan, dan sekarang buat buktiin kalau kamu benar-benar sudah merelakan. Ingat janji kamu buat nurut sama kakak setelah kakak ijinin kamu pergi? Kakak hanya ingin yang terbaik buat kamu, tapi tidak dengan Varel,"

__ADS_1


"Kakak masih marah sama om Varel?" tanya Adel.


"Kakak nggak pernah marah sama dia, apalagi benci. Sama sekali enggak. Kakak juga nggak nyalahin dia. Tapi kalau untuk bersama dengan kamu, kakak nggak setuju. Seharusnya apa yang pernah terjadi bisa buat pembelajaran buat kalian berdua, mungkin memang kalian tidak di takdirkan untuk bersama. Kakak harap kamu ngerti, dek. Semua kakak lakukan demi kamu, kamu satu-satunya yang kakak punya. Amanah dari ayah yang harus kakak jaga dan pastikan kebahagiannya," ungkap Syafira.


Tes....


Satetes air mata jatuh membasahi pipi Adel, ia langsung mengusapnya. Ia tahu seberapa besar Syafira menyayanginya. Wanita yang sudah merawatnya dari kecil layaknya seorang ibu bagi Adel tersebut pasti jauh lebih sakit saat melihat dirinya terluka.


" Iya kak, aku akan menemuinya besok," akhirnya Adel memutuskan untuk menyetujui permintaan sang kakak.


"Nah, gitu donk. Nanti kakak ngomong sama mas Bara, biar dia aturkan jadwal untuk kalian ketemu di sana. Ya udah kakak tutup dulu ya, mas Bara baru pulang soalnya. Kalau urusan kamu di sana udah selesai, cepat balik ke Jakarta! Kakak nggak mau kamu ketemu Varel di sana,"


" Iya kak, salam peluk cium buat anak-anak, aku merindukan mereka," Adel menutup telepon Syafira. Matanya kini menerawang jauh. Ia akui, kalau masih mencintai Varel. Sampai detik ini, belum ada yang bisa menggeser posisi pria itu di hatinya, entahlah kenapa sulit sekali untuk move dari pria itu. Tapi ia juga ingin membahagiakan sang kakak. Selama ini, Adel merasa ia sudah banyak membuat kakaknya bersedih karena ulahnya. Sekarang dia ingin berbakti pada Syafira.


.


.


.


Apalagi saat ia ingat Adel mengatakan, pria yang pernah menciumnya hanya Varel seorang. Itu artinya, wanita itu memang selalu menjaga dirinya dari pria lain. Atau mungkin karena cuma Varel yang berani nyosor duluan, entahlah...


Meski ciuman tadi hanya terjadi sebentar, namun itu cukup membuat dirinya yakin jika wanita itu masih mencintainya, sama seperti dirinya. Hanya saja, sikap Adel yang masih belum mau menjawab pertanyaannya untuk melangkah bersama, menjadi ganjalan sendiri di hatinya, yang jika ia pikirkan akan membuat kesenangannya hari ini berkurang. Untuk, itu, Varel memilih untuk tak terlalu memikirkannya dulu, ia akan mencari tahu penyebabnya.


Hal itu tak luput dari pengamatan bu Lidya," Cieeee, kayaknya ada yang CLBK-nya berhasil nih, cerah bener auranya?" godanya.


Varel tersenyum lebar, ia memeluk bu Lidya dari samping. Meletakkan dahunya di bahu sang mama, "Seratus persen sih belum, ma. Tapi, Varell yakin kalau Adelia masih cinta sama Varel. Doain ya ma, semoga kali ini kami bisa bersama, selamanya. Nggak ada halangan-halangan lagi. Terus terang aja, Varel capek! Mama setuju kan, kalau Adelia jadi mantu mama?" ucapnya dengan manja.


"Selalu! Tanpa kamu minta pun, mama selalu mendoakan kalian. Mama ingin lihat kalian bahagia bersama. Mama juga udah nggak sabar pengin ounya cucu dari kalian," balas bu Lidya tulus. Ia mengusap lengan Varell.

__ADS_1


"Makasih, ma. Mama. Emang terbaik!"


Cup!


Varel mencium pipi bu Lidya, namun detik kemudian ia menyesalinya.


"Ya ampun, ma!" keluh Varel, ia menyentuh bibirnya sedih.


"Apa sih? Nyium mama udah kayak habis nyium pan tat kerbau aja! Langsung lemes gitu mukanya!" omel bu Lidya kesal dengan tingkah sang putra, dia yang nyium, dia juga yang menyesal.


"Udah untung papanya Tristan nggak lihat, kalau lihat cemburu bisa-bisa!" imbuh bu Lidya.


"Dih, sama anaknya masa cemburu!" sungut Varel.


"Masalahnya anaknya udah tua juga, duda, masih ting-ting lagi!"


"Astaga! Jangan bahas itu, makin buat Varel sebal jadinya, ini bibir gimana?" keluh Varel.


Bu Lidya mencebik, "Ini anak, takut banget rabies habis nyium mamanya sendiri, jangan durhakim kamu!"


"Bukan gitu ma, masalahnya...." Varel malu menceritakan sebenarnya pada bu Lidya.


"Apa?"


"Masalahnya.... Ah adalah pokoknya! Mama nggak akan ngerti! Ini rasanya jadi pipi mama, udah bukan lahi bibir.... Tau ah, Varel ke kamar dulu!" pamit Varel kemudian dengan langkah lesu.


Bu Lidya mengerti sekarang, "Ya udah sih, besok minta di cium lagi, jangan kayak orang susah!" teriaknya lalu terkekeh.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2