Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bab 45


__ADS_3

Untuk beberapa saat, keduanya saling diam merasakan hangatnya pelukan dari masing-masing. Hingga Adel mendorong pelan dada Varel, "Lampunya sudah menyaka, om," ucapnya, berharap pria yang masih mendekapnya tersebut mengurai pelukannya.


Namun, Varel tak menggubrisnya. Ia tetap mendekap tubuh Adel seolah takut kehilangan wanita itu lagi.


"Om, jangan begini," ucap Adel.


Varel tetap bergeming, "Aku tidak akan melepasmu lagi," ucapnya.


"Ooom..." Adel pun sebenarnya sama, ia tak ingin lepas dari dekapan pria tesebut. Namun, kini logikanya kembaki tersadar, pri yang sedang mendekapnya adalah calon suami orang.


Adel berusaha mendorong dada Varel, hingga pada akhirnya Varel mengurai pelukannya. Ia menangkup kedua pipi Adel yang kini tak berani menatapnya.


"Lihat aku, Adelia!" ucap Varel lembut.


"Aku nggk mau jadi orang ketiga," ucap Adel yang kini menatap kedua netra Varel dengan mata berkaca-kaca.


Varel menggeleng samar, "Kau bukan orang ketiga diantara kami. Karena kamu menjadi yang pertama, di sini!" Varel menunjuk dadanya sendiri.


"Tapi, di mata orang lain aku akan tetap jadi orang ketiga," cetus Adel.


Varel membenarkan ucapan Adel, dimata orang kini statusnya adalah sebagai calon suami Andini, bahkan sebentar kagi6 mereka akan menikah.


"Kamu tahu kenapa aku dan Andini bisa bertunangan?"


Adel menggeleng, "Mungkin karena om cinta. Kalau nggak cinta mana mungkin mau menikah," ucapnya sambil menahan sesak di dada.


"Salah. Di sini, nama kamu nggak pernah terganti," Varel menarik tangan Adel ke dadanya, "bahkan detaknya masih sama jika berhubungan dengan kamu," lanjutnya.


Adel mendongak, menatap mata Varel, tak ada kebohongan disana. Apalagi kini tangannya memang merasakan detak jantung pria itu yang seperti kena serangan jantung. Berdetak kencang.


"Mau tahu alasannya?" tanya Varel.


Adel menggeleng, "Itu tak akan merubah apapun. Pernikahan kalian sudah dekat. Aku nggak mau berharap atas apapun karena aku nggak mau menyakiti Andini. Dari awal memang semua salahku, aku yang egois,"


"Aku berhutang nyawan sama ibunya," ungkap Varel yang tak mempedulikan ucapan Adel barusan. Yanga mana membuat Adel mendongak kembali menatap kedua netranya.


"Jika ibunya tak menyelamatkanku waktu itu, mungkin aku nggak akan ada di sini sekarang. Sebelum ibunya meninggal, beliau menitipkan Andini kepadaku. Memintaku untuk menikahi putrinya. Dua tahun aku berusaha buat mengganti namamu dengan namanya di sini, tapi tetap tidak bisa. Kemarahanku% sama kamu karena memilih pergi tak lantas mampu membuatku membencimu. Tidak... Justru rasa rinduku semakin hari semakin menggila. Kenapa kamu harus datang di saat aku udah menaruhkan harapan atas kita dan pasrah akan takdir dengan wanita lain? Aku benar-benar tidak bisa lahi menahannya!" Varel menciumi tangan Adel.


Gadis itu masih tertegun mendengar penjelasan Varel barusan. Apa yang Varel katakan sama halnya dengan yang dia rasakn selama ini. Semakin berusaha untuk melupakan justru ras rindu itu semakin menumpuk hingga sering membuat dadanya sesak. Tapi, bagaimana dengan Andini?

__ADS_1


Melihat keresahan di mata Adel, Varel menyentuh bahunya, "Aku akan mengatakan semuanya kepada Andini. Kamu tidak usah khawatir, aku akan menyelesaikan ini dengannya,"


"Om... Kalian akan segera menikah. Bagaimana mungkin om tega melakukannya. Bagiamana perasaan Andini nanti?"


Varel menghela napasnya dalam, "Lalu bagaimana dengan perasaanmu? Dan juga perasaanku? Enam tahun kamu pergi nyatanya tak mengubah apapun. Dan aku benci dengan perasaan ini, Del. Karena aku nggak bisa mencintai tunanganku seperti seharusnya," Ia menarik Adel kembali ke dalam pelukannya.


" Lalu bagaimana demgan pernikahan kalian. Aku nggak mau nyakitin Andini," Adel benar-benar dilema. Ia mencintai Varel tapi tak mungkin menghancurkan pernikahan pria itu dengan Andini. Itu akan membuatnya menjadi semakin egois dengan mementingkan perasaannya sendiri.


" Justru karena aku ngggak mau nyakitin dia lebih dalam lagi dengan tetap menikahinya tapi hanya sebatas atas kertas. Karena untuk lebih, aku nggak bisa. Dan itu tidak adil buat dia. Kita bertiga akan sama-sama terluka," ucap Varel.


Adel terdiam , ia tak tahu lagi harus bicara apa. Hatinya bergejolak, antara membenarkan kalimat Varel dan juga rasa bersalah karena ia hadir di saat yang tidk tepat. Saat Varel dan Andini sudah terikat satu sama lain.


" Dengar aku, di sini kamu sama sekali tidak bersalah. Bukankah kamu kembali memang untukku?" tanya Varel lembut menyentuh pipi Adel.


Adel menggeleng, "Aku datang ke sini karena untuk melupakan om, untuk move on dari om," jawab Adel jujur, "Tapi gagal, seolah takdir memang tak berpihak padaku, kita malah ketemu di sini," lanjutnya cepat.


Varel tersenyum tipis mendengar kejujuran Adel, "See? Bahkan semesta tak mendukungmu untuk move on dariku," Varel tersenyum tipis. Tangannya bergerak menyelipkan rambut Adel yang sedikit berantakan ke belakang telinga.


Entahlah, apa yang harus Adel lakukan sekarang seharusnya pengakuan Varel membuatnya senang dan lega karena ternyata ia tak sendiri tersiksa dalam kisah ini. Varel pun merasakan yang sama dengannya. Lalu, jika memang mereka di takdirkn untuk tetap saling terikat hati satu sama lain, kenapa harus ada andini dintara mereka. Sungguh, Adel tak ingin menyakiti wanita lain.


"Apa yang membuatmu masih ragu, Adelia?" Varel menarik dagu Adel.


"Aku...,"


Entah siapa yang memulai, kini keduanya tengah larut dalam ciuman yang hangat dan menuntut.


Entah benar atau salah, Adel benar-benar tak bisa menyangkal perasaannya saat ini. Ia menikmati ciuman bersama pria yang berstatus tunangan wanita lain tersebut. Meski dalam hati ia juga merutuki kelakuannya tersebut.


Varel masih memegang bagian belakng kepala Adel saat mereka mengurai ciuman masing-masing. Ia sedikit menunduk demi menempelkan keningnya di kening Adel. Napas mereka masih terengah setelah kegiatan silturahmi bibir mereka barusan.


"Aku akan cari waktu yang tepat untuk bicara kepada Andini," ucap Varel masih dengan posisi yang sama. Seolah perpisahan enam tahun ini menimbun begitu banyak rindu hingga rasanya tak pernah cukup untuk mengurai rasa rindu itu.


"Tapi waktu kalian menikah tinggal kurang dari dua minggu lagi, apa tidak terlalu kejam jika tiba-tiba di batalkan sepihak? Bahkan aku udah hampir menyelesaikan gaun pernikahan kalian," ucap Adel yang masih menyimpan sejuta keraguan.


Varel menarik Keningnya yang menempel pada kening Adel," Dengar aku... "


Belum juga Varel selesai bicara, terdengar suara dari perut Adelia. Yang mana membuat wanita itu langsung menunduk malu. Karena terlalu fokus pada gaun milik Andini, ia sampai lupa mengisi perutnya sejak siang tadi.


Varel tersenyum, ia mengangkat satu alisnya seraya melirik wanita yang tersenyum malu di depannya tersebut.

__ADS_1


"Aku belum makan dari siang, karena fokus sama gaun Andini," ucap Adel jujur.


Varel mendengkus, "Sesibuk apapun, jangan lupa makan," Varel mengambil ponselnya lalu memesan makanan.


"Lima belas menit lagi makanannya barus datang, ayo!" Varel menarik tangan Adel supaya mengikutinya.


"Mau kemana?" tanya Adel.


"Rooftop," jawab Varel.


Tak butuh waktu lama mereka sampai lantai paling atas butik. Tempat itu terbuka tidak ada apapun di sana. Seolah alam. Memang sedang berpihak padanya, hujan tak lagi turun dan langit berubah menjadi cerah.


Adel masih bingung, Entah apa tujuan Varel mengajaknya kesana. Mereka berhenti pada satu titik. Adel masih saja diam sambil mengamati sekitar.


Varel yang berdiri di sampingnya meraih tangan Adel dan menyelipkan jari jemarinya diantara jemari Adel. Adel hanya menatap pria itu tanpa melayangkan protes.


Adel menatap lekat pria yang diam sambil mendongak ke atas, menikmati langit luas yang kini mulai bertabur bintang. Ia mengikuti pandangan Varel lalu tersenyum, "Indah sekali. Aku nggak tahu kalau dari atas sini bisa melihat pemandangan sebagus ini kalau dkalau malam," ucapnya.


"Makanya aku ajak ke sini. Biar tahu," balas Varel, ia menoleh dan tersenyum hangat. Mengalahkan hawa dingin malam itu.


Hati Adel benar-benar menghangat, ia balas tersenyum, "Kok om tahu tempat ini? Diam-diam suka stalking aku, ya?" ucapnya curiga.


"Gedung ini tuh dulunya cafe, yang cukup ngehits dan ramai. Bahkan samoai di rooftop ini juga di desain sedemikian rupa buat tempat nongkrong, aku sama Rasel dulu sering ke sini. Tapi nggak tabu kenapa dua tahun lalu cafenya tutup. Mungkin karena persaingan, dan tahu-tahu malah di sewa kamu buat jadi butik," tutur Varel menjelaskan.


Adel mendengarkan Varel bercerita dengan terus memandanginya dari samping, pria itu masih sama seperti enam tahun lalu, dan ia menyukai Varel yang tidak berubah tersebut.


" Kenapa? Jangan lihatin aku begitu, nanti naksir lagi," goda Varel.


"ish, siapa juga yang lihatin," Adel menunduk malu karena ketahuan.


Hal itu membuat Varel gemas, "Adelia yang dulu kemana? Kok jadi ada malu-malunya begini. Padahal dulu suka malu-maluin," goda Varel lagi. Yang mana membuat Adel melotot kepadanya. Tak lupa kakinya menginjak kaki Varel.


"Aw, ternyata masih sama, bar-barnya. Cuma tambah ada malu-malunya aja," Varel meringis menahan sakit di kakinya.


"Habisnya om gitu," Adel cemberut dan bersidekap dada.


Varel menarik tangan Adel dan kembali menggenggamnya, "Dibilangin jangan di lepas!" ucapnya.


Adel mencebik lalu suasana hening, mereka berdua menikmati keindahan langit dari rooftop tersebut dengan perasaan haru dan sedikit lega setelah tahu isi hati masing-masing.

__ADS_1


Varel melirik Adelia, merasa di perhatikan, Adel pun menoleh. Varel menarik lengan wanita itu untuk mengikis jarak. Varel mencium puncak kepala Adel, "Aku kangen," ucapnya.


Adel tersenyum, "Aku juga," balasnya.


__ADS_2