
Sepulang dari kantor, Varel menjemput Adelia sesuai janjinya. Mereka tak langsung pulang, Varel mengajak Adel mampir ke apartemen milik Andini terlebih dahulu.
"Kok ke sini, bang?" tanya Adelia saat mereka sampai di parkiran apartemen.
"Abang mau cek apartemen Andini sebentar," jawab Varel.
"Nggak apa-apa, kan?" tanya Varel, ia takut sang istri keberatan di ajak ke sana.
"Nggak apa-apa, kok," balas Adel.
Varel tersenyum, ia menggandeng tangan Adel dan mengajaknya melangkah menuju apartemen Andini yang sudah tiga tahun di tinggalkan oleh pemiliknya tersebut.
Saat membuka pintu apartemen, mereka di sambut kucing kesayangan Andini.
" Molly!" seru Adel, ia langsung mengangkat anabul mengemaskan tersebut.
Adel menoleh pada suaminya, "Molly yang tinggal di sini, bang?" tanyanya.
"Iya, ada mbak yang datang setiap hari untuk membersihkan apartemen dan mengurus Molly. Abang hanya datang sesekali. Setelah Andini meninggal, nenek jadi sering sakit-sakitan dan selang beberapa bulan nenek menyusul Andini. Om dan tante Andini meminta abang untuk mengecek sesekali karena mereka tidak tinggal di kota ini," ucap Varel.
Adel yang mendengarkan merasa ikut berduka atas meninggalnya Andini dan juga neneknya.
" Kalau restaurannya bagaimana, bang? abang juga yang mengelola?"
Varel menggeleng," Kalau restauran di kelola oleh orang kepercayaan om dan tantenya Andini. Apartemen ini juga sedang dalam proses penjualan. Om dan tantenya Andini memutuskan untuk memjualnya. Atua minimal mungkin di seakan, " jawabnya.
Adel mengangguk paham. Mereka masuk ke apartemen. Setelah mengecek keadaan apartemen, mereka memutuskan untuk pulang. Namun, saat hendak keluar, Molly terus mengikuti. Kucing itu menatap Adel seolah meminta untuk di bawa.
Adel, berjongkok dan mengusap kepala Molly, "Abang," Ia memanggil suaminya.
"Apa, sayang?" sahut Varel.
"Kita bawa aja Molly pulang, gimana? kasihan dia di sini pasti kesepian. Lagian nanti kalau ini apartemen laku, penghuninya belum tentu mau menampung dia," ujar Adel.
Varel terlihat berpikir sejenak. Ia memang tidak terlalu suka dengan anabul yang suka membuat berantakan tersebut. Varel suak kebersihan. Itulah kenapa selama ini ia tak membawa Molly bersamanya setelah Andini meninggal.
__ADS_1
"Baiklah, terserah apa kata nyonya PRadana saja. Nanti kita sewa pengasuh buat jaga Molly," putus Varel kemudian.
Adel mengerutkan keningnya, "Dia anabul, bukan bayi. Apa perlu sampai mempekerjakan pengasuh? Kayaknya enggak perlu deh, abang," cetus Adel.
"Baiklah, baiklah. Terserah kau saja sayang," sahut Varel sembari mengusap rambut Adelia.
Sampai di rumah mereka di sambut oleh balita yang menggemaskan, siapa lagi kalau bukan Tristan. Anak itu sudah menunggu kedatangan Varel dan Adel di depan pintu.
" Pulangna lama, napa?" tanya Tristan menginterogasi. Tangannya yang memegang biskuit bersedekap di dada.
Adel tersenyum melihat anak laki-laki tampan yang wajahnya seperti donat gula tersebut,"Karena, kakak tadi mampir dulu buat ambil Molly. Tristan baru mandi, ya? Udah wangi," ucapnya.
Tristan tak menjawab pertanyaan terakhir Adel. Ia penasaran sosok Molly yang di maksud kakak iparnya tersebut, "Mana? tantik, ndak?" tanyanya sambil melongo ke arah Varel yang sedang mengambil Molly.
"tuh!" Adel menunjuk kandang berisi anabul yang baru saja Varel keluarkan dari dalam mobilnya. Pria itu membawa Molly yang ada di dalam kandangnya mendekat.
"Butan cewek? Tucing?" tanya Tristan tampak kecewa.
Adel langsung menatap sang suami tak percaya dengan pikiran Tristan.
"Heh, anak bayik! Cewek, cewek! tidur aja masih ngompol udah ngomongin cewek! Nggak boleh siapa sih yang ngajarin?" tegur Varel.
"Ohhh, gitu ya rupanya? Hem? Abang teryata, ya?" Adel bersedekap menatap sang suami.
"Apa sih, sayang? Anak bayik gini di percaya. Tahu sendiri kan, ini anak kalau ngomong suka semaunya, mirip mamanya!" ucap Varel.
Adel hanya tersenyum maklum, "Lihat ini, lucu kan kucingnya? Kayak kamu!" ujarnya pada Tristan. Anak itu langsung cemberut. Tangannya bersedekap dengan sewotnya.
"Heh, donat gula! Jangan drama deh, kenapa muka langsung di tekuk gitu?" tanya Varel, karena memang Tristan baru saja mandi dan kebiasaab bu Lidya kasih Tristan bedak sudah mirip donat di kasih gula halus.
"Tlistan di camain tucing! Ndak syuka! Tucing kan bau, ndak pelnah mandi, takut ail! Eeknya bau lagi!" protes anak itu.
"Lah menurutmu, eekmu wangi, harum gitu?" tanya Varel.
"Ndak tau! Ndak pelnah cium! Tana mama cana! Mama suka cebokin Tlistan! Kalena wangi kali!"
__ADS_1
"Astaga, ini anak random banget! Bukan karena wangi! Tapi emang harus di bersihin, dasar donat gula!"
"Dih, abang dalak! Pulang kelja malah-malah. Capek? Istilahat! Jangan malah-malah. Cana mandi! Bau kelingat! Ntal ndak di cayang kakak cantik, loh!" Tristan berkacak pinggang.
Varel hanya mencebik.
"Sudah, sudah! Benar kata Tristan, sana abang mandi! Pulang bukannya langsung bersih-bersih malah ngajak adiknya debat. Mending kalau adiknya hampir seumuran, ini pantasnya jadi anak loh!" ucap Adel.
Tristan terkekeh, "Tacihan... Di malahi ya?" ledeknya.
"Sssttt, anak bayik diem! Ntar nggak abang ajak jalan-jalan loh!" kata Varel.
"Temana?" tanya Tristan. Ia kembali menggigit biskuitnya.
"Ada deh, abang mau bulan madu sama kakak Adel cantik! Nakal sih, nggak mau ajak!" goda Varel.
Tristan langsung berkaca-kaca, "Huaaaaaa, abang yang nakal! Ndak mau ajak tlistan! Kan adiknya, imut, ganteng, comel! Huaaaa!" tangisnya langsung pecah.
"Abang ih! Iseng banget sama adiknya, heran deh. Ini mana yang tua mana yang balita sih!" Adel menabok lengan sang suami.
Bukannya merasa bersalah, Varel malah terkekeh lalu memilih kabur, "Anak bayik nggak diajak, abang mau buat bayik sendiri, wleeeek!" ia masih saja iseng.
Memang begitulah, Varel suka sekali menggoda Tristan. Itu akan menjadi hiburan tersendiri untuknya, terutama dulu saat ia berpisah dengan Adel. Hanya Tristan hiburannya. Anak itu menjadi sedikit penerang dalam hidupnya yang gelap.
"Sayang! Tolong siapin air dong, abang mau mandi!" teriak Varel sembari menaiki anak tangga.
"Huuuuuaaaa, Tlistan baik abang! Tlistan mau ikut beli madu! Mau ikut beli bayik!" rengek Tristan. Yang mana rengekannya justru membuat Adel terkekeh karena anak itu asal mengartikan ucapan sang kakak. Masa iya dia harus menjelaskannya kepada balita itu.
" Ada apa sih, nak? Kok nangis? Nanti bedaknya luntur loh! Tuh, kan benar!" bu Lidya yang baru datang langsung memrikasa wajah Tristan yang sudah cemong kerena bedak tebalnya sudah di lewati air mata.
"Mama nih, bedakna ketebalan, Tlistan jadi jelek, abang jadi ndak mau ajak beli madu!" omel anak itu.
Bu Lidya menatap Adel heran, menanyakan maksud anak bungsunya tersebut.
"Biasa bu, abangnya iseng! Tristannya drama," kata Adel, "Kayak ibunya!" lanjutnya, namun hanya berani ia katakan dalam hati.
__ADS_1
...****************...
Maaf baru update lagi šš