
Varel langsung mengeluarkan mobilnya yang lain dari garasi karena mobil kesayangannya berada di bengkel akibat kecelakaan semalam. Ia masih tak mengerti apa yang menyebabkan Andini sampai tak sadarkan diri seperti yang di bilang oleh nenek andini tadi.
Sepanjang jalan, Varel terus menduga-duga, apakah selama ini ia terlalu cuek dengan tunangannya tersebut hingga kini ia merasa menjadi pria paling jahat yabg sama sekali tidak tahu kondisi Andini yang nitabennya adalah tunangannya.
Varel terus mengklackson mobilnya karena jalanan cukup macet. Ia ingin segera sampai di rumah sakit dan mengetahui kondisi Andini yang sebenarnya.
Saat sampai di rumah sakit, Varel langsung mencari ruang rawat Andini, melihat nenek Andini sedang tertunduk menangis seorang diri di samping cucunya yang tak berdaya, pucat dan di pasang beberapa alat medis.
Tubuh Varel lemas ketika melihat kondisi Andini yang memprihatinkan tersebut. Rasa bersalah langsung menghampirinya.
"Apa yang terjadi dengan Dini, nek?" tanya Varel kepada nenek.
"Harusnya kemarin nenek nggak ijinkan Andini pergi menemui pacar kamu, harusnya nenek larang dia kalau akhirnya jadi begini," ucap sang nenek sambik terisak.
Varel sedikit mencerna kalimat nenek, berarti Andini memang menemui Adel setelah dari rumah waktu itu seperti dugaannya. Mungkin nenek pikir Andini menemui Adel di rumahnya sehingga tadi bilang Andini drop sehabis dari rumahnya.
Entah apa yang Andini katakan kepada Adel karena sampai detik ini Adel juga tak menceritakan apapun kepadanya.
"Nenek sudah bilang kepada Andini buat ikhlasin kamu kalau memang kamu nggak bisa nerima dia, tapi dia memilih menahan rasa sakitnya sendiri saat melihat kamu bersama pacar kamu itu. Berkali-kali nenek bilang supaya Andin fokus sama penyakitnya saja, kenapa harus di tambah memikirkan hubungan kalian,"
Tunggu, fokus dengan penyakit? Varel masih tak mengerti maksudnya, bukankah sela ini Andini baik-baik saja?
"Rel, bisa kita bicara sebentar?" suara dokter Renata yang baru saja masuk ke ruang VVIP tersebut membuyarkan pikiran Varel. Pria itu menoleh.
"Ini soal Andini," imbuh dokter Renata. Varel kembali menatap wanita yang sampai detik ini masih bersetatus sebagai tunangannya tersebut sebentar sebelum akhirnya mengikuti dokter Renata ke ruangannya.
"Sebenarnya Andini sakit Apa? Kenapa tiba-tiba kondisinya seperti ini?" tanya Varel langsung begitu mereka samoai di ruangan dokter Renata.
"Sebenarnya bukan tiba-tiba Andini seperti ini, Rel," jawab Dokter Renata.
__ADS_1
"Maksudnya?" Varel tak mengerti.
"Andini sebenarnya sudah lama sakit leukimia. Tepatnya ia mengetahui hal itu saat kalian hendak bertunangan dua tahun lalu. Makanya dia menunda pernikahan kakian dengan harapan dia bisa sembuh terlebih dahulu baru kalian menikah. Dia nggak ingin kamu menikahinya karena kasihan kalau tahu penyakitnya waktu itu. Tapi, semakin ke sini, penyakitnya justru kian parah, bahkan kini sudah stadium akhir. Aku udah sering meminta dia buat berobat di Singapura, tapi Andini menolak. Karena menurutnya harapan berobat ke sana pun sama saja, sedangkan disini dia memiliki obat yang lebih manjur yaitu kamu. Selama ini kamulah yang menjadi alasan dia untuk bertahan, tapi sejak kedatangan wanita itu kembaki dalam hidup kamu, Andini merasa usahanya selama ini untuk bertahan sia-sia.... "
Dokter Renata menjeda kalimatnya untuk menghela napas. Varel yang tentu saja terkejut mendengar ucapan dokter Renata masih menunggu dokter Renata melanjutkan kalimatnya.
"Tapi, Andini tidak mau menyerah, padahal dia tahu kalau kamu masih belum usai dengan masa lalu kamu hingga ia memutuskan untuk menikah denganmu secepatnya karena dia benar-benar tidak ingin kehilangan kamu, Rel. Tapi, akhir-akhir ini, Andini seperti berada pada titik terlemahnya dan akhirnya menyerah, ia sudah berusaha mati-matian buat pertahanin kamu tapi sangat mustahil. Selama ini dia sudah berusaha keras dan pura-pura baik-baik saja dengan sikap kamu, bahkan dia mengabaikan rasa sakit di tubuhnya juga di hatinya. Tolong kembalikan semangatnya untuk bertahan, Rel.
.
.
.
Varel mengusap wajahnya kasar, beberapa saat lalu ia baru saja keluar dari ruangan dokter Renata. Ia memilih duduk sebentar di kursi panjang yang letaknya tak jauh dari ruang rawat Andini.
Setelah mendengar semua penjelasan dokter Renata lengkap dengan rekam medis Andini selama ini, membuat Varel semakin merasa bersalah pada tunagannya tersebut.
"Maafin aku, Ndin. Aku benar-benar egois. Maafin aku. Padahal aku yang menawarkan diri untuk menikahimu, menjadi imam dan melindungi kamu, tapi malah begini," gumamnya penuh penyesalan.
Padahal bisa saja waktu bu Rosa memintanya menjaga dan menikahi Andini, dia menolaknya jika memang merasa tak sanggup. Tapi, dengan kesadarannya, Varel menyanggupinya dan kini ia malah tak hanya mengingkari janjinya tapi juga menyakiti wanita tersebut.
"Om, bagaimana keadaan Andini?" tanya Adel yang baru saja datang menyusul dengan napas naik turun karena tergesa.
Varel tak menjawab, ia hanya mampu menggelengkan kepalanya tanpa harapan. Seperti yang dikatakan oleh dokter Renata sebelum ia jekuar tadi jika kemungkinan Andini bertahan kali ini sangat kecil. Tapi, sekecil apapun itu ia berharap masih ada keajaiban untuk tunangannya tersebut.
Adel tidak tahu harus bicara apa. Sama seperti Varel, rasa bersalah menghantuinya, bahkan sejak pertemuannya dengan Andini tempo hari. Ia sama sekali tak menyangka jika setelah itu Andini benar-benar drop.
Tiba-tiba saja, dokter Renata berjakan ceoat melewati Varel dan Adel, membuat Varel langsung berdiri. Ia melihat dokter Renata masuk ke dalam ruangan Andini di rawat. Ia langsung menyusul, khawatir terjadi sesuatu yang tak diinginkan dengan Andini.
__ADS_1
Adel mengikuti Varel, tapi langkahnya tertahan di depan pintu. Ia sadar, kedatangannya kesana pasti tidak di terima oleh keluarga Andini.
Rupanya Andini baru saja sadar, hal itu membuat Adel bernapas lega di luar ruangan.
Sementara Varel dan nenek, mereka menunggu dokter Renata memeriksa kondisi Andini dengan sabar.
"Mas... Kamu di sini?" tanya Andini yang melihat Varel. Ia sama sekali tak mengindahkan permintaan Dokter Renata untuk tidak banyak bicara dulu.
Varel berjalan mendekat, "Ini bukan mimpi kan?" lanjut Andini.
Varel memegang tangan Andini," Tidak, ini aku. Aku di sini, Ndin," terlihat jelas dari sorot matanya, Varel begitu sedih da oenuh penyesalan, apalagi melihat wanita yang ia kenal sangat ceria tak pernah mengeluh tersebut kini terlihat rapuh dan sangat lemah.
Andini tersenyum, "Maafin aku, mas," kata Andini lemah.
Varel menggeleng, "Harusnya aku yang minta maaf, kamu sampai begini aku sama sekali nggak peka. Kenapa nggak bilang saka aku?" tanya Varel lembut.
"Mas udah tahu?"
Varel mengangguk, "Kenapa kmu simpan semuanya sendiri?" tanyanya sedih.
"Maaf. Aku nggak mau mas kasihan sama aku, berharap mas bisa cinta sama aku, tapi nyatanya tidak bisa," ucap Andini tersenyum. Hal itu membuat Varel lagi-lagi merasa bersalah.
"Kamu jangan banyak bicara dulu. Supaya kondisi kamu lebih cepat membaik dan kita akan menikah, setelah itu aku temni kmu ke Singapura buat pengobatan di sana, ya sayang?" ucap Varel.
Andini mengangguk lemah. Ia senang karena untuk pertama kalinya Varel memanggilnya sayang. Meskinia tahu itu bukan dari hatinya.
Varel tersenyum, namun hatinya teriris. Ia tahu, Adel pasti mendengar perkataannya barusan.
Sementara Adel yang mendengar perkataan Varel dari luar, mengusap wajahnya yang basah karena air mata yang tiba-tiba menetes
__ADS_1
meski ia tahan. Ia tersenyum, kemudian memilih untuk pergi dari sana.
...****************...