
Adel yang menyadari di tatap oleh Varel tanpa berkedip langsung menoleh dan menatap pria itu jutek. Rasanya ia masih kesal jika ingat wanita Tadi padahal ia tahu bukan Salah suaminya.
.
.
.
Setelah serangkaian acara panjang di jalani, akhirnya selesai juga. Beberapa menit yang lalu Varel dan Adel sudah masuk ke dalam kamar hotel. Lebih tepatnya kamar pengantin yang sudah disiapkan oleh bu Lidya untuk acara unboxing mereka malam ini.
Baik Adel maupun Varel mendadak merasa aneh dengan atmosfer ruangan tersebut. Meski sudah menunggu untuk bersatu sekian lama, namun tetap saja ada rasa canggung dn deg-degan saat kini status mereka sudah menjadi suami Istri dan berada dalam sebuah kamar yang sama.
Adel tengah membersihkan sisa make up di wajahnya. Varel duduk di tepi ranjang dan terus menatap punggung wanita tersebut tanpa bersuara. Sesekali Adel melihat Varel dari cermin di depannya. Ia sengaja berlama-lama di depan cermin karena benar-benar gugup.
"Kamu nggak mau mandi dulu? belum selesai membersihkannya? mau aku bantu?" Adel terkejut karena tiba-tiba suaminya sudah berdiri di belakangnya lalu menunduk. Menempelkan dagunya diatas kepala Adel. Kedua tangannya menyentuh pundak Adel.
"I-ini juga lagi mau mandi!" refleks Adel langsung berdiri.
Dugh!
Varel meringis karena kepala Adel menyundul dagunya.
Maaf, nggak sengaja. Sakit banget ya? Adel menyentuh dagu Varel merasa bersalah. Karena grogi dia sampai tak melihat situasi.
Varel menyentuh tangan Adel,"tidak apa-apa," ucapnya lembut. Varel menatap wajah Adel penuh arti. Membuat wanita itu menelan salivanya lalu menunduk.
"Aku mandi dulu," ucap Adel saat Varel sudah mendekatkan bibirnya hendak menciumnya. Ia takut jika mereka berciuman sekarang akan kebablasan sedangkan dia belum membersihkan diri, yang mana mengurangi rasa percaya dirinya.
Meski kecewa, Varel tersenyum lalu menganggk.adel langsung ngiprit masuk ke kamar mandi. Tak lupa ia membawa paper bag berisi pakaian yang sudah di siapkan oleh Syafira.
Sebenarnya Varel tak kalah groginya dengan Adel, namun kalau dirinya juga sama malu-malunya seperti Adelia, maka sudah dipastikan malam ini mereka hanya akan saling salting sampai pagi tanpa adanya pergerakan sedikitpun.
Adelia terkejut saat hendak memakai bajunya setelah ia selesai mandi dan mengeringkan badannya dengan handuk. Pasalnya pakaian yang di berikan oleh Syafira adalah lingeri yang sangat terbuka dan seksi, berwarna merah menyala.
"Ya ampun, kenapa kakak kasih baju kayak gini. Ini mah bukan baju, tapi saringan tahu! mana bisa aku pakai ini. Apa kata om Varel nanti," gumam Adelia.
Tapi, mau tidak mau ia memakainya karena hanya itu baju yang ada di sana. Syafira sepertinya sengaja membawa seluruh baju gantinya pulang.
Varel tengah membolak balik sebuah kaset dvd di tangannya saat Adelia keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk kimono untuk menutupi tubuhnya yang hanya memakai lingeri tanpa outer tersebut.
__ADS_1
Varel menoleh, ia meletakkan dvd itu di kasur "gantian aku yang mandi," ucapnya dan Adel mengangguk.
Tak butuh waktu lama untuk Varel berada di kamar mandi. Ia keluar sudah memakai kaos bolong putih dan celana training panjang.
"Kamu nggak ganti baju, kalau pakai kimono terus nanti masuk angin," ucap Varel.
"Nggak kok. Ini dalamnya aku udah pakai baju," sahut Adel gugup.
"kimono kamu agak basah, lepas aja daripada jadi masuk angin," Varel menyentuh kimonoyang di pakai Adel. Tadi memang jatuh di kamar mandi jadi agak basah pada bagian tertentu.
"Nggak! jangan!" Adel beringsut," Aku nyaman begini," imbuhnya yang mana membuat kening Varel mengernyit.
Varel duduk di samping Adel," Masa todur pakai handuk kimono, sayang?"
Mendengar kata tidur entah kenapa pikiran Adel kemana-mana. Ia mengartikan kata itu adalah ajakan untuk melakukan sesuatu.
"Aku masih ngambek ya, sama om soal wanita di pesta tadi," ucap Adel.
Varel mendengus, bukan soal marahnya Adel tapi panggilan wanita itu yang belum juga berubah.
Varel berdiri, "Om? emang aku siapnya kamu? om kamu?" tanya serius.
Adel mendongak lalu menggeleng.
"suami akulah, masa tanya," sahut Adel.
Varel tersenyum, ia menunduk dan memegang dagu Adel supaya menatapnya, "kalau begitu, aku menunggu kamu memanggilku sesuai statusku. Dulu kamu bilang belum waktunya. Apa sekarang juga belum waktunya, sayang?" tanya lembut.
"A-aku masih kesal sama abang...." Adel segera meralat kalimatnya tadi.
Varel mengering.,"coba sekali lagi, abang nggak dengar,"
Adelia manyun, jelas-jelas pria itu mendengarnya bahkan sudah membahasakn dirinya sendiri abang,"tahu ah. Besok aja aku panggilnya kalau nggak dengar!"
"panggil abang sekali lagi, sayang, ayolah! Pengin dengar," rengek Varel.
"Apa sih, bang. Nggak dengar beneran loh nanti. Aku nggak mau punya suami bolot," rajuk Adel. Yang, mana membuat Varel terkekeh. ia duduk dan langsung memeluk sang istri," akhirnya abang punya panggilan kesayangan, setelah sekian tahun lamanya," ucapnya gemas.
" Emang aku panggil om selama ini, itu bukan panggilan kesayangan aku buat om?"
__ADS_1
"lah, emang iya?" tanya Varel sok terkejut. Padahal ia tahu.
"tahu ah!" cebik Adel. Varel tersenyum. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada Adel. Tiba-tiba saja suasana hening dan canggung. Apalagi saat Varel menyadari apa yang di pakai sang istri di balik handuk kimononya.
Adel mendorong dada Varel, "jangan macam-macam. Aku masih ngambek loh ini!" ucapnya gemetar. Ia tahu kalau suaminya sedang memperhatikan sesuatu di balik kimono handuknya.
Varel tahu, itu hanya alasan sang istri sejak tadi karen gugup dan takut.
"Kita ngobrol santai aja dulu ya biar sama-sama rileks, sambil nonton," Varel mengambil dvd pemberian Rasel.
"Nonton apa?" tanya Adel.
"Abang juga nggak tau. Di kasih Rasel ini. Katanya film bagus buat sepasang suami Istri baru seperti kita," sahut Varel. Ia mulai menyalakannya lalu kembali naik ke ranjang.
"sini deketan abng duduknya!"
Adel merangkak naik, "film romantis kali, ya?" tanyanya plos.
"palingan," sahut Varel tak kalah polosnya.
'lepas aja kimononya, sayang, "
" Nggak ah. Aku malu. Abang tau yang aku pakai di dalam kan?
Varel mengangguk. Bibirnya mengatup menahan senyum.
"Ini kakak yang bawain aku baju kayak gini. Jangan di ketawain!"
Mana bisa menertawakan, yang ada Varel justru harus bekerja keras untuk mengusir pikiran liarnya yang membayangkan bagaimana penampilan Adel jika kimono handuk tersebut di lepas.
Sambil menunggu film loading, yang entah kenapa harus menunggu beberapa saat, Varel menarik selimut untuk menutupi tubuh Adel, "di lepas aja, ya? abang takut kamu malah masuk angin nanti. Kalau belum boleh abang lihat, di tutup pakai selimut aja. Biar enakan nontonnya," ucapnya. Ia membantu Adel melepas handuk kimono dari tubuh Adel dengan tanpa melihatnya. Ia menelan salivanya ketika tangannya tidak sengaja menyenggol sesuatu yang kenyal di balik selimut.dadanya ser-seran tapi ia tahan.
"begini nyaman kan?" tanya Varel setelah ia membenarkan selimut yng melilit tubuh Adel.
Adel mengangguk, "kayaknya udah mau mulai, abang duduk!"
Film mulai berputar. Awalnya sih tampak biasa saja, dimana sepasang laki-laki dan perempuan berdialog mesra, tak ada yabg aneh. Namun lama-lama berubah menjadi adegan yang membuat Varel dan Adel sama-sama terkejut. Mereka masih diam mencoba mencermati adegan demi adegan yang mana lama-lama adegan itu semakin menjurus, membuat keduanya gelisah. Keduanya menelan saliva mereka masing-masing bersamaan saat melihat seorang pria tengah bermain di lahan yang sangat subur milik si wanita. Sementara si wanita sedang asyik berkaraoke.
Varel dan Adel saling tatap, "Kok jadi gini sih filmnya? Tadi katanya romantis?" tanya Adel lesu. Wajahnya sudah merah karena film yang ia lihat.
__ADS_1
Slameeeeettttt!!!!!
...****************...