Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bab 54


__ADS_3

Cukup lama pasangan ibu dan anak itu mengobrol. Tak terasa hari sudah menuju pagi.


Sementara di kamarnya, Syafira tengah menelepon Bara yang kini sedang berada di luar Negeri bersama om John.


"Kamu belum tidur sayang? Di sana pasti udah dini hari sekarang kan?" tanya Bara.


"Aku nggak bisa tidur, mas....," Syafira menceritakan apa yang terjadi di rumah itu kepada Bara. Tentu saja Bara tak kalah terkejutnya dengannya.


"Kok, bisa? Waktu mas ke sana perasaan Varel nggak ada cerita apa-apa," tanggapan pria itu setelah mendengar cerita Syafira.


"Ck, mas aja yang nggak peka. Aku yakin pasti Varel udah nunjukin gerak-gerik yang mencurigakan. Salah mas juga, kenapa mas nggak mampir ke sini coba waktu itu, " ucap Syafira.


"Kok jadi Mas sih? Kan yang salah mereka, yang tinggal serumah mereka. Waktu itu juga kan mas buru-buru, bahkan nggak sempat nemuin Adel gara-gara drama mama pingsan masuk rumah sakit. Aturan Varel yang di suruh pulang, tapi kan mama nggak mau Varel tahu yang sebenarnya, sampai kapan coba mau di sembunyikan," sahut Bara.


"Kok malah bahas itu, sih? Tahu ah, aku lagi mumet, mas malah gitu. Aku tidur ajalah,"


"Kok ngmbek? Jangan dong, sayang. Lagi kangen gini, malah kamu ngambek. Udah jangan terlalu di pikirkan, adik kamu itu udah dewasa. Dia berarti benar-benar bisa legowo, buktinya udah tahu Varel akan menikah dan dia bis bertahan tetap tinggal di sana dengan segala konsekuensinya kan? Termasuk patah hati kalau Varel benar-benar menikahi Andini. Pasti dia udah memikirkan sejauh itu sebelum mengambil keputusan untuk tetap tinggal di sana. Biarkn mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Kalau merasa butuh bantuan, pasti mereka akan bilang,"


Syafira sedikit lega setelah mendengar perkataan suaminya, mungkin hanya pikirannya saja yang terlalu berlebih mengkhawatirkan mental Adelia.


.


.


.


Pagi hari...


Tidak seperti biasanya, rumah yang biasanya sepi itu kini ramai oleh keempat anak Syafira.


Si kembar yang sudah memasuki jenjang SMP, Zio yang sudah SD dan juga si bontot yang memasuki TK, selalu saja membuat gaduh seisi rumah.


Pagi ini bukan perkara persiapan mereka yang akan berangkat ke sekolah, tapi soal menu apa yang akan mereka makan untuk sarapan. Keempatnya memeiliki makanan kesukaan masing-masing.


Meski ada pembantu yng mereka bawa dari Jakarta, namun urusan perut anak-anaknya tetap sering di lakukan Syafira sendiri. Apalagi Adel juga kangen dengan masakan sang kakak, jadilah dia yang bertugas masak pagi ini.


Setelah di sepakati, Syafira, Adel. Dan bu Lidya pergi ke dapur. Nala tak mau ketinggalan, gadis remaja itu sedang senang-senangnya membantu di dapur. Jadi, tinggalah para tuan muda Osmaro di meja makan.


Varel yang baru saja keluar dari kamarnya tersenyum melihat kegaduhan di meja makan, dimana Zio dan Zack memainkan sendok dan garpu seolah sedang memukul drum, yang mana membuat Nathan harus mengingatkan mereka berkali-kali untuk tidak bikin gaduh.


"Uncle, suruh mereka berhenti," pinta Nathan, namun Varel tak mengabulkannya, "Nggak apa-apa, biar ramai," ucapnya yang mana membuat Nathan mendengus dan memilih pergi menjauh ke ruang tamu yang lebih tenang, "Kalau sudah siap, tolong panggil aku," pesannya sebelum beranjak dari meja makan.


Sementara ibu mereka, Adel dan bu Lidya sibuk memasak di dapur. Adel sangat senang sekali dengan keberadaan kakak dan wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya tersebut.


" Apa yang bisa aku bantu, kak?" tanya Adel, tak mungkin ia hanya menonton kedua seniornya itu masak.


"Hueeek," belum juga Syafira menjawab, bu Lidya merasa ingin muntah, hal itu membuat Adel khawatir.

__ADS_1


"Ibuk, kenapa? Apa Ibuk sakit?" tanya Adel khawatir. Berbeda dengan Syafira yang tampak tak terlalu kaget, ia langsung mengambil air hangat untuk bu Lidya.


Bu Lidya menggeleng, "Tolong kamu lanjutin, ya Fir? Ibu rasanya mual, nggak tahan sama baunya," ucap bu Lidya.


"Iya buk, kan aku udah bilang tadi, ibuk tunggu aja di luar, tidak usah banyu masak, ada Adel yang bantu aku," sahut Syafira.


"Kayaknya ibuk sakit deh kak, mending ke dokter aja. Minta om Varel antar, ya buk?" ucap Adel.


"Nggak perlu, itu karena...."


"Ibu cuma kembung aja, kok. Tadi malam, Ibuk begadang sama Varel di luar, jadi ya gini. Nanti di olesi minyak kayu putih juga enakan," sergah bu Lidya cepat dan Syafira hanya bisa mengatupkan bibirnya.


"Ya udah, Adel antar ke depan, yuk!" tawar Adel dan bu Lidya mengangguk.


"Mama kenapa?" tanya Varel yang melihat Adel memapah bu Lidya ke meja makan.


"Nggak kenapa-kenapa, cuma sedikit kembung aja, kok, jadi agak mual sedikit," bukannya Adel, melainkan bu Lidya yang menjawab.


"Mual? Siapa yang hamil?" suara itu mengalihkan perhatian mereka untuk menoleh ke sumbernya.


"Ck, dasar, tau aja di sini akan ada banyak makanan. Ngapain ke sini, lo?" cebik Varel.


Rasel dengan gaya santainya melangkah maju dan langsung duduk.


"Dih, nggak punya dosa banget, datang-datang pasti minta makan ini bocah!" sambung Varel.


Syafira keluar dengan membawa hasil masakannya.


"Nah kan, benar! Sini sini, bu bos . Aku bantu," Rasel tergopoh-gopoh menjemput Syafira, lebih tepatnya masakan di tangan Syafira ia ambil alih untuk di letakkan di meja.


"Kelakuanmu, Met!" Varel menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya tersebut.


"Mat met, Rasel! Eh, ngomong-ngomong, siapa tadi yang mual? Roman-romannya mau ada baby nih," celetuk Rasel, yang mana membuat suasanya hening sejenak.


"Makanya kalau dengar tuh jangan setengah-setengah, mama mual karena kembung, bukan hamil! Ya kali gue setua ini mau punya adik, lagian mana mungkin mama hamil, ya kan ma?" ucap Varel kemudian.


"Hah? Em... Iya..." sahut bu Lidya kikuk.


"Oh, kirain hamil, ma. Kalau benar berarti jos itu om John, masih tokcer! Varel kalah, udah setua ini belum teruji kualitas cairannya, hahaha," Rasel tertawa sendiri, sementara yang lain hanya diam dengan pikiran mereka masing-masing.


"Sial, lo!" Varel melempat sendok yang ada di depannya untuk menyambit Rasel.


Syafira yang mengerti kecanggungan bu Lidya langsung mengajak Rasel untuk mengambil makanan yang lainnya di dapur. Dengan senang hati, Rasel melakukannya.


.


.

__ADS_1


.


Selesai sarapan, Adel yang bertugas untuk mencuci peralatan masak di dapur, sementara bu Lidya tak di perkenankan membantu. Padahal wanita paruh baya itu mengatakan jika ia baik-baik saja, mulnya sudh hilang, tapi Adel tetap tak mengijinkannya.


Sementara Syafira sibuk untuk memandikan Zack.


Saat Adelia tengah sibuk mencuci piring, Varel diam-diam mengendap masuk ke dapur, "Aku bantu, sini!" ia merebut piring di tangan Adel.


"Ish, om. Ngapain di sini, udah sana! Ada Rasel juga, temani dia, atau siap-siap ke kantor aja, ini biar aku yang ngerjain," ucap Adel, ia celingak celingak-celinguk takut Syafira melihat.


"Aman, Fira lagi sibuk ngurus anak-anak. Rasel lagi nemenin mama ngobrol tuh," Varel meletakkan piring di tirisan, lalu merengkuh pinggang gadis itu.


"Om jangan gini, nanti ada yang lihat," kata Adel.


"Siapa? Mama? Dia udah tahu kali,"


"Hah? Serius?" Adel terkejut hingga matanya membulat.


Varel mengangguk.


"Kok bisa?"


"Semalam mama lihat kita di taman," ungkap Varel.


"Hah?" lagi-lagi wanita itu membuka mulutnya tak percaya dengan mata membulat.


Gemas dengan reaksi Adel, Varel langsung mengecup bibir wanita itu. Yang mana membuat Adel melayangkan protes lewat sorot matanya, tangannya menabok lengan pria tersebut.


"Kok bisa ibuk bersikap biasa aja sama aku, beliau nggak marah?" tanya Adel.


Varel tersenyum, "Kamu lupa kalau mama dari dulu pengin kamu yang jadi mantunya? Dan nggak salah kan kalau aku ingin menyenangkan hati mama?" ucap Varel.


Adel langsung menunduk, menyembunyikan pipinya yang merona, ia senang jika ternyata bu Lidya merestui mereka jika bersama.


Varel mengangkat dagu Adel, "Jangan nunduk, aku suka lihat wajahmu kalau lagi malu-malu begini, Gemes kayak Moly," ujarnya.


Pandangan keduanya bertemu, mendapat restu dari bu Lidya, membuat Adel lebih percaya diri sekarang untuk bertahan dengan pria di depannya.


Varell kembali mencium bibir Adel, kali ini lebih dalam dan lama.


"Ya ampun! " suara Rasel membuat keduanya melepas pagutan mereka dan menoleh.


"Aku nggak lihat apa-apa. Mendadak buram nih mata, suer," ucap Rasel, ia langsung menutup mata dan balik badan, "Mamaaaaa, kenapa nasib jomblo begini amaaaaat," terdengar rengekan Rasel kepada bu Lidya.


"Sial, kenapa mendadak banyak cctv berjalan di rumah ini," umpat Varel. Ia memandang Adel yang sudah terlihat sangat khawatir. Wanita itu pasti terkejut dan takut. Bukan lagi kepada bu Lidya tapi kakaknya.


Varel menangkup wajah Adel, "Semua akan baik-baik saja," ucapnya meyakinkan Adel dan langsung keluar menyusul Rasel.

__ADS_1


__ADS_2