Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
27. Nenek Pulang Dari Rumah Sakit, Aku Mendapat Kabar Duka Dari Dita


__ADS_3

Pagi ini nenek sudah bisa dibawa pulang karena di cek semuanya sudah normal, hanya masalah penyakitnya bisa berobat jalan seperti biasa dan harus rajin checkup.


Setelah mengantar mama dan nenek pulang, aku langsung berangkat ke kampus untuk mengikuti ujian semester, tidak terasa aku sudah setengah perjalanan kuliah disini.


Seperti biasa sebelum masuk kelas aku menuju kantin untuk sarapan, kali ini aku makan nasi uduk Bude Tinah karena perutku belum terisi makanan sejak tadi pagi.


"Bude, nasi uduk komplit ya?" Pesanku kepada bude Tinah.


"Tumben komplit non? belum sarapan ya?" Tanya bude Tinah sambil menyiapkan pesanan ku.


"Iya Bude, dari pagi perut ini belum terisi makanan sama sekali" Jawabku.


Beberapa detik kemudian Bude Tinah menghampiriku dengan sepiring nasi ditangannya.


Saat sedang makan tiba-tiba saja aku tersedak, di hati timbul perasaan tidak enak entah karena apa aku tidak tau sebabnya.


Sepuluh menit aku makan akhirnya jam mata kuliah akan segera dimulai, segera aku membayar makananku kepada bude Tinah dan beranjak pergi dari kantin.


Aku belajar didalam kelas seperti biasa tidak merasa ada yang aneh sama sekali, jam berlalu begitu cepat mata kuliah bergantian secara acak.


Selesai kuliah aku tidak langsung pulang melainkan mampir ke makam kakek, sudah lama sejak lebaran lima bulan yang lalu aku tidak berkunjung ke makamnya.


Ternyata setelah sampai disana ada tante Andra adiknya mama yang juga sedang berziarah, beliau ditemani oleh si kecil Natalia.


"Assalamuallaikum kakek" Ucapku setelah sampai didepan makam kakek.


Seketika tante Andra dan Natalia menengok kearah ku secara bersamaan.


"Loh Tiar?" Ujar tante Andra terkejut.


"Iya tante, udah lama disini?" Tanyaku basa-basi.


"Baru aja sampai" Jawabnya singkat.


"Tante kapan sampai?" Tanyaku penasaran.


"Baru kemarin Tiar, nenek gimana keadaannya?" Tanyanya kepadaku.


"Nenek baik-baik aja setelah kepergian tante dan om Roy" Jawabku menahan emosi yang membuncah.


"Maafin tante Tiar" Ujarnya.

__ADS_1


"Nanti setelah nenek tiada tante pasti akan sadar,permisi" Aku sedikit memberi penekanan pada ucapan ku ke tante Andra.


Untuk sementara aku kembali kedalam mobil menunggu tante Andra pergi dari pemakaman, karena rasanya aku sangat muak dengannya.


Sejak saat itu kami tidak pernah bertemu dengannya, beliau tidak pernah pulang menemui nenek, jika berkunjung ke kota ini tujuannya pulang adalah rumah mertuanya.


Memang sudah seharusnya seorang istri menurut dengan suaminya, tapi jika suaminya seperti om Roy sudah tidak pantas lagi dipertahankan sebagai kepala rumah tangga.


Beberapa waktu berlalu tante Andra dan Natalia keluar dari pemakaman, dia melewati mobilku tanpa memperhatikan.


Setelah tante Andra tidak terlihat lagi dari kaca spion mobilku, aku kemudian turun dan kembali ke makam kakek.


"Maafin Tiar yang bersikap tidak baik dengan tante Andra di hadapan kakek" Ujar ku di samping makam kakek.


"Tiar tau belum cukup dewasa untuk melakukan hal itu, tapi Tiar juga gak bisa menahan diri jika orang yang sangat berarti dalam hidup Tiar merasa tersakiti" Imbuh ku lagi.


"Kek....! Tiar kangen sama kakek, Tiar pengen cerita banyak hal tentang kehidupan Tiar" Tak terasa butiran bening mengalir dari sudut mataku.


"Tiar sekarang sudah besar, sudah punya pacar dan bahkan sudah bertunangan" Ujar ku mulai bercerita.


"Namanya Adam, sekarang dia ada di Amerika sibuk dengan pekerjaannya" Ucapku lagi.


"Dia orangnya baik dan bertanggung jawab, kakek kalau masih hidup pasti suka dengan dia"


Ponsel yang aku kantongi di saku celana kulot ku bergetar hebat menandakan panggilan WhatsApp.


Ketika aku mengambil dan akan mengangkatnya ternyata dilayar ponselku tertera nama Dina, seketika jantungku berdegup kencang seperti akan lepas dari tempatnya.


"Ada apa Dina menelepon? YaAllah semoga ini karena kabar perkembangan baik dari Dita" Gumam ku.


Saat akan mengangkat telepon dari Dina tiba- tiba saja ponselku mati, karena tadi pagi sebelum berangkat aku lupa mengisi dayanya.


Segera aku berpamitan kepada kakek kemudian bergegas naik kedalam mobil, aku mencari kabel charger didalam mobilku tapi aku lupa kemarin sudah mengeluarkannya sebelum dibawa ke tempat servis.


"Ada-ada aja sih" Umpat ku kesal.


Dengan kecepatan tinggi aku melajukan mobil untuk pulang ke rumah.


Begitu sampai di rumah aku langsung memarkirkan mobil didalam carport dan berlari menuju kamar untuk mengisi daya ponsel.


Aku mengaktifkan ponsel lain milikku dan memindahkan kartu SIM nya agar bisa mengabari Dina balik.

__ADS_1


Sesaat setelah ponsel berhasil aku nyalakan dan akan memencet papan panggilan tiba-tiba ponselku sudah berdering mendapat panggilan dari Dina.


"Iya halo Din, maaf tadi handphone ku habis baterai dan lupa bawa charger mobil" Jelas ku setelah mengangkat telepon dari Dina.


"Halo Ti, iya gak apa" Suara Dina tiba-tiba terputus karena susah jaringan.


"Din, halo Din, kamu masih dengar kan?" Tanyaku kepada lawa bicaraku di telepon.


"I...iya Ti, kenapa sih ya susah sinyal?" Tanyanya balik.


"Gak tau ini, kamu ada perlu apa telepon aku?" Tanyaku saat sinyal suara sudah mulai membaik.


"Ini mau ngasih kabar kalau Dita hari ini dibawa pulang ke Indonesia" Jawabnya.


"Alhamdulillah, dia udah sehat Din?" Tanyaku terharu.


"Enggak Ti, semakin hari kondisi Dita memburuk" Ujarnya.


"Kalau memburuk kenapa malah mau dibawa pulang ke Indonesia?" Tanyaku tak kalah penasaran.


"Dokter disini sudah angkat tangan, sudah gak ada jalan lain lagi makanya keluarga pasrah dan di sarankan untuk pulang ke Indonesia aja" Jelasnya.


"Rumah sakit sebesar itu gak bisa menyelamatkan nyawa Dita?" Ujar ku penuh penyesalan.


"Gak semudah yang kita bayangin selama ini Ti, kondisi Dita berbeda jauh dari" Jelas Dina.


"Tapi masak iya gak ada jalan lain lagi?" Tanyaku tak percaya.


"Aku juga gak tau lagi Ti, intinya orangtuanya juga udah menyerah sama keadaan Dita saat ini, mereka berharap pulang ke Indonesia malah bisa memberi kesembuhan untuk Dita" Jawab Dina.


"Kasian ya orangtuanya? anak bungsu kesayangan mereka harus bernasib seperti ini" Tak terasa butiran bening kembali membasahi pelupuk mataku.


"Maka dari itu Ti, ya udah dulu ya aku mau bantuin ibunya Dita beres-beres barang bawaan yang akan dibawa pulang" Pamit Dina.


"Iya Din, terus kabari perkembangan Dita ya, nanti kalau udah sampai Indonesia kabarin aku yang akan jemput dari bandara" Pintaku.


"Iya Ti pasti, tadi orangtuanya udah menelepon ambulance jadi mungkin dari bandara langsung ke Rumah Sakit atau pulang kerumah aku belum tau" Jelasnya.


"Yaudah yang penting kabarin selalu ya" Pintaku lagi.


"Oke siap, yaudah dulu ya?"

__ADS_1


Setelah menutup telepon aku segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri, selesai mandi aku memutuskan untuk pergi ke ruang tamu bersantai sambil menunggu kabar dari Dita.


__ADS_2