
" Ndin, apa yang kamu lakukan? kamu mau kemana?" tanya nenek Andini yang melihat cucunya melepas jarum infus di tangannya.
"Aku mau ketemu seseorang, nek," sahut Andini. Ia mengambil kapas di laci nakas samping ranjang untuk menutupi luka bekas jarum infus yang ia tarik paksa tersebut.
"Tapi, sayang. Kondisi kamu sangat lemah seperti ini. Kamu jangan kemana-mana, nak, setelah kamu membaik, kita akan ke Singapura, pernikahan kalian bisa di tunda sampai kamu sehat," ucap sang nenek.
"Aku harus menemui wanita itu nek, aku harus mempertahankan apa yang selama ini aku perjuangkan, nek. Aku nggak mau kehilangam mas Varel," ujar Andini. Ia mengambil blazernya untuk menutupi baju rumah sakit.
Ya, sejak kembali dari rumah Varel waktu itu, Andini ngedrop dan tak sadarkan diri dua hari, baru kemarin ia sadar. Neneknya yang berniat datang lebih awal untuk pernikahannya justru mendapati sang cucu tengah berada di rumah sakit.
"Jangan seperti ini, nak. Kalau memang Varel tidak mencintaimu, lepaskan dia. Kamu harus fokus sama kesehatan kamu sendiri. Di saat kamu sakit seperti ini, dia tidak pernah ada di sisi kamu. Nenek nggak mau kamu kenapa-kenapa," nenek andini mulai terisak.
" Justru aku bisa bertahan sajauh ini karena mas Varel, nek. Dia nggak tahu aku sakit. Bukan salah dia yang tidak pernah ada saat aku drop seperti ini. Cuma dia yang buay Andini semangat dan bisa bertahan dengan penyakit ini sampai sekarang. Kalau harus kehilangan dia, Andini nggak sanggup? "
" Apa hanya dia yang penting buat kamu, apa nenek, om dan tante kamu, mereka juga tak berarti untukmu, sayang? Sehingga Kamu mengabaikan kepedulian dan kesedihan perasaan kami?"
" Maafkan Andini, nek. Tapi, Andini harus pergi. Sebentar saja, nanti Andini kembali ke sini, tolong jangan beritahu om. Dan tante jika mereka telepon,"
"Andini, kau mau kemana?" tanya dokter Renata yang baru saja masuk ke ruang rawatnya. Mereka berpapasan di depan pintu.
"Aku harus pergi sebentar, Ren. Ada urusan penting!"
Dokter Renata melihat nenek Andini menangis, "Apa ada yang lebih penting dari kesehatanmu saat ini?" tanyanya menyindir.
"Biarkan dia pergi, dok. Kalau itu bisa membuatnya kembali semangat untuk tetap bertahan," ucap nenek Andini. Bukan tanpa alasan ia memberi ijin Andini pergi. Wanita berusia senja itu khawatir cucunya akan pergi dengan penyesalan jika tidak melakukan apa yang ingin ia lakukan jika. Ia sudah merasa psimis dengan penyakit sang cucu yang kian hari menggerogoti kesehatan Andini.
Nenek ingin Andini bahagia, ia tak ingin ada penyesalan di kemudian hari karena mengekang sang cucu.
__ADS_1
Dokter Renata menghela napasnya dalam, "Biar aku temani!" ucapnya.
Andini menggeleng, "Tidak perlu, ren," ucapnya.
"Aku antar, atau aku tidak ijinkan kamu pergi!" kekeuh Renata dan Andini mengangguk
...----------------...
Andini meminta Renata menunggu di dalam mobil sementara ia akan masuk ke cafe yang pemiliknya sedang tak berada. Ditempat tersebut sendiri.
"Kamu yakin akan masuk sendiri?" tanya Renata, ia khawatir dengan kondisi sahabatnya tersenyum.
"Hem, aku akan baik-baik saja. Kamu tunggu di sini saja. Aku tidak akan lam," ucap Andini sebekum ia turun dari mobil Renata dan melangkah masuk ke cafe.
Di sana, Adel terlihat sudah datang dan memesan minuman rasa strawberry yang sudah ia minum hampir setengah. Rupanya wanita itu sudah sejak tadi menunggu Andini.
"Mau pesan apa?" tanya Adel mencoba seramah mungkin meski ia sudah melihat wajah jutek dari Andini, tidak ramah seperti biasanya.
"Tidak perlu, aku ke sini hanya untuk meminta kamu menjauhi mas Varel!" ucap Andini to the poin. Ia berusaha kuat meski sebenarnya tubuhnya sangat lemah.
Adel mengernyit, "Ma-maksud kamu?" Adel pura-pura tak mengerti.
"Tidak perlu bersandiwara lagi, aku udah tahu semuanya. Sejak awal, aku sudah tahu diantara kalian ada sesuatu. Dan aku minta kamu jauhi mas Varel. Tinggalkan dia, kedatanganmu kembali hanya membuat masalah diantara kami. Bagaimana pun, aku tidak akan melepas mas VAREL," ujar Andini.
Andini mengingat bagaimana ia mulai curiga dengan tatapan kedua orang itu, interkasi di antara Varel dan Adel yang tidak seperti sudara biasa seperti yang merek katakan hingga saat ia memergoki mereka berdua sedang berciuman. Ia memendam dan memilih pura-pura tidak tahu selama ini. Sakit ia rasakan jika mengingatnya.
Deg! Adel tak menyangka kalau Andini selama ini tahu. Mau mengelakpun rasanya percuma. Mungkin sekaranglah waktu yang tepat untuk mengungkap semuanya.
__ADS_1
"Maafkan aku, ndin. Tapi, perasaan tak bisa kami bohongi. Aku dan om Varel saling mencintai, itu kenyataannya. Maaf kalau ini menyakitimu," Adel bicara dengan penuh hati-hati.
"Ck, saling mencintai? Kamu nggak malu mengakui cinta dengan calon suami wanita lain? Nggak nyangka, kamu segitu bangganya jadi pelakor," Andini berkata dengan sinis.
Jleb! Sakit rasanya hati Adel mendengar tuduhan Andini, meski ia juga tak menyangkalnya.
"Aku tak menyangkal tuduhanmu. Diantara kita belum ada yang halal buat dia, Ndin. Belum ada yang sah dan berhak mengklaim om Varel sebagai miliknya,"
Andini hanya berdecak sinis mendengarnya.
"Aku benar-benar minta maaf. Kamu tentu tahu, kalau pria yang berstatus sebagai calon suami kamu itu mencintai wanita lain. Maaf kalau aku tidak tahu malu, tapi jika kamu melanjutkan ini semua, bukan hanya om Varel yang akan menderita tapi kamu juga, Ndin. Kamu akan menikah dengan pria yang jelas-jelas mencintai wanita lain. Apa kamu bisa terima itu? Kamu berhak bahagia, menikah dengan pria yang juga mencintai kamu bukan karena terpaksa seperti om Varel. Kamu tidak bisa memanfaatkan rasa bersalahnya untuk mengikat om Varel dengan hidupmu, menjadikannya suami penebus hutang budi, ini tidak adil buat dia juga,".ucap Adel panjang lebar.
"Sebelumnya kami baik-baik saja, karena kedatanganmu yang kembali menggoda Mas Varel, membuat dia menjauhiku, bahkan pernikahan kami terancam batal!" kata Andini.
Adel menggeleng, "Aku tidak pernah menggodanya. Dia yang masih mencintaiku, sejak dulu. Dia tidak berubah sama sekali. Tapi, kamu yang terlalu memaksakan diri seolah kalian adalah pasangan bahagia sebelumnya. Dulu, aku pernah membuat kesalahan besar, meninggalkannya karena keegoisanku. Dan kamu tahu? Karena keegoisanku itu pada akhirnya kami berdua sama-sama terluka. Dan hal itu tak menutup kemungkinan akan berlalu denganmu. Kalau kamu tetap egois untuk mempertahankan om Varell, kalian berdua sama-sama akan terluka juga,"
Andini tercenung, dalam hati ia membenarkan perkataan Adel, namun tujuannya kesini bukan melepas Varel, melainkan sebaliknya.
"Aku tidak ingin mendengar apapun dari mulut kamu. Aku ke sini cuma minta kamu pergi dari hidup mas Varel. Dan jangan pernah usik kami lagi," tegas Andini.
Adel tak menyangka, ternyata Andini sekekeh ini. Apa wanita ini benar-benar mencintai Varel melebihi dirinya sendiri, atau justru ini adalah obsesi. Sudah tahu tidak akan bahagia, masih saja kekeh.
"Seperti yang tadi aku katakan, dulu aku pernah buat kesalahan, dan sekarang aku tidak ingin mengulanginya lagi. Jadi, maaf Ndin. Permintaanmu untuk meninggalkan dia aku tidak bisa kabulkan. Kalau tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, aku permisi!" Adel tahu, ini akn menyakiti hati Andini. Tapi jika Varel tak ada kesempatan untuk menemui Andini, biarlah dia yang mengatakan kepada wanita itu. Toh sama saja, sama-sama membuat wanita itu marah, kecewa dan benci.
"Aku sakit, Del!" suara Andini menghentikan langkah Adel.
"Aku sakit parah, tidak tahu akan bertahan sampai kapan. Aku hanya ingin menghabiskan sisa hidupku dengan orang yang aku cintai, mas Varel. Ku mohon, lepaskan dia!"
__ADS_1
...****************...