Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bab 44


__ADS_3

Malam harinya...


Varel baru selesai masak untuk makan malam. Ia melihat Adel turun menuju ke dapur. Sekembalinya dari dapur, Varel mengajaknya untuk makan bersama.


"Aku udah kenyang, om makan sendiri saja!" tolak Adel namun perutnya malah bunyi.


"Duduklah dan makan, ini terlalu banyak untuk aku makan sendiri," ucap Varel.


Karena memang sangat lapar dan belum memesan makanan, Adel pun menurut.


"Om...," panggil Adel di sela-sela makan mereka. Varel memandangnya.


"Makasih karena selama ini udah bantu aku. Ternyata kritikan om sangat membantu," ucap Adel tulus.


Varel hanya tersenyum tipis, "Ini makanlah, kamu terlalu kurus sekarang. Makan yang banyak," kata Varel.


"Mungkin karena banyak yang aku kerjakan akhir-akhir ini, jadi aku kurang makan, kurang tidur juga," sahut Adel. Obrolan mereka memang terkesan kaku dan canggung namun keduanya sangat merindukan suasana seperti ini. Dimana mereka hanya mengobrol berdua tanpa gangguan.


"Kalau kelelahan, kenapa kamu terima permintaan Andini, kenapa kamu harus menyiksa diri seperti ini?" kalimat Varel tersirat sindiran untuk Adel. Ia tahu wanita itu terpaksa menerimanya yang sebenarnya perasaannya sakit dan kecewa.


"Kenapa aku harus menolak? Bukankah bagus kalau Andini pesan gaun sama aku, dia pelanggan pertamaku untuk gaun itu!" sahut Adel.


"Kamu tidak harus memaksakan diri seperti ini, Del. Selain Andini akan ada banyak pelanggan yang lain, kenapa harus Andini? Tolak permintaan Andini!" pinta Varel.


"Om nggak berhak melarangku. Jangan mentang-mentang om udah bantu aku menciptakan gaun bagus itu, om jadi seenaknya mengatur aku!" Adel bangkit dari duduknya.


"Mau kemana?" tanya Varel.


"Mau ke kamar!" sahut Adel.


"Makananmu belum habis," seru Varel.


"Udah kenyang!" Adel langsung meninggalkan meja makan.

__ADS_1


"Sulit di kasih tahu!" gumam Varel kesal. Ia juga langsung kehilangan selera makannya.


.


.


Waktu terus berjalan, tak terasa pernikahan Andini dan Varel tinggal kurang dari dua minggu lagi. Adel sibuk mempersiapkan gaun pernikahan Andini dan juga seragam keluarga yang akan di kenakan oleh keluarganya sesuai permintaan Andini.


Andini sendiri, mengurus segala sesuatunya sendiri, ia ingin menciptakan pernikahan impiannya sendiri. Namun ternyata hal itu sangat menguras tenaga dan pikirannya, hingga ia merasa tubuhnya yang memang sedang sakit terasa semakin melemah.


"permisi mbak, Adelnya ada? Saya sudah janji buat ketemu dia, buat fitting gaun pengantin," tanya Andini kepada karyawan butik yang ia temui.


"Oh mbak Andini, ayo mbak ikut aku naik ke atas, Adel ada di atas, gaun mbak Andin juga udah sembikan puluh persen jadi," Sahila yng kebetulan baru kembali dari luar mengajak Andini naik ke atas.


Saat sampai di atas, Adel. Menyambut Andini ramah layaknya pelanggan setia.


"Kamu terlihat pucat, Ndin? Apa kamu sakit?" tanya Adel.


Andini tersenyum," Mungkin karena kecapean mengurus semuanya, tapi nggak apa-apa kok," sahutnya. Padahal sebenarnya ia tidak merasa tubuhnya baik-baik saja akhir-akhir ini. Dokter lebih sering mengingatkannya untuk segera terbang ke Singapura, namun Andini terus saja menolak.


"Oh ya ampun, mungkin karena aku sering lupa makan dan kurang istirahat kali, ya?" kilah Andini, "Maaf ya, kamu jadi harus ngepasin lagi sama badan aku," lanjutnya.


"Its oke, nggak masalah. Tinggal di kecilin sedikit, akan pas kok," sahut Adel. Berusaha profesional.


.


.


.


Varel pulang saat waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lebih karena lembur. Namun, saat ia kembali kerumah, ia tak melihat tanda-tanda kehidupan selain dirinya. Itu artinya, Adel belum pulang.


" Udah jam berapa ini? Kenapa belum pulang?" gumamnya sembari melihat jam yang melingkar di tangan kirinya.

__ADS_1


Tidak biasanya Adel pulang malam, biasanya sore wanita itu sudah berada di rumah. Kecuali jika pergi dengan Gema, pikirnya. Tapi... Tunggu... Saat perjalanan pulang tadi, Varel berpapasan dengan Gema saat take away makan malam di sebuah restoran. Gema mengatakan jika ia membelikan makan malam untuk Adiknya. Itu artinya, Adel tidak bersama pria itu.


Varel tak jadi masuk ke dalam kamarnya, ia memutar badan lalu kembali masuk ke dalam mobil. Cuaca malam itu mendung dan tak lama kemudian hujan turun cukup deras.


Sementata Adel masih sibuk sendiri di butiknya, Sahila dan karyawan lainnya sudah pulang terlebih dahulu sore tadi, karena memang jam pulang seharusnya tidak selarut itu. Ia bilang akan menyusul pulang setelah yang lain pulang namun kenyataannya ia masih sibuk membenahi gaun yang di pesan oleh Andini. Apalagi Andini meminta beberapa setail untuk di rombak, mengharuskan Adel bekerja lebih lagi. Ia ingin segera menyelesaikannya sehingga bisa memegang pekerjaan yang lain.


Jeder!


Terdengar suara petir diiringi Dengan turunnya hujan yang mana membuat Adel tersentak kaget. "Yah, kok hujan sih," gumamnya sembari mengelus dada. Ia melihat jam tangan di tangannya, "Ya ampun, ternyata udah malam banget. Mana belum makan malam," keluhnya. Ia mengambil ponselnya dan sialnya ternyata ponselnya kehabisan baterai.


Adel bangkit dari duduknya untuk mencharger ponselnya. Saat hendak kembali ke tempat duduknya, tiba-tiba listrik padam dan seluruh ruangan tersebut gelap gulita.


Varel yang baru saja sampai butik dan keluar dari mobil burur-buru berlari ke teras butik karena ia tidak membawa payung. Ia yakin jika Adel masih berada di butik karena sesaat setelah mobilnya sampai tadi ia melihat lantai atas butik masih menyaka lampunya sebelum akhirnya keadaan sekitar yang langsung gelap karena listrik padam.


Varel segera berlari menuju ke teras bermodal penerangan dari ponselnya. Setelah sampai di teras, ia lanhsung saja mencob memegang handle pintu yang ternyata tidak di kunci, "Ceroboh sekali," gumamnya sembari membuka pintu. Ia segera masuk karena mengkhawatirkan Adel. Ia tahu pasti gadis itu kini sedang ketakutan karena gelap.


Varel mengedarkan cahaya senter ponselnya ke sekeliling lantai satu, ia tak menemukn Adel di sana, lalu ia mengarahkan senter ponselnya ke lantai atas dan langsung menuju ke sana.


Adel benar-benar ketakutan karena ia memang takut gelap. Apalagi di tambah petir yang terus bersahutan. Ponselnya yang mati tak bisa ia jadikan penerang. Ia benar-benar tak berani bergerak dari tempatnya berdiri sekarang.


"Siapapun tolong aku, aku takut!" gumam Adel yang sudah gemetaran. Ia memag pobhia kegelapan sejak dulu.


Jeder!


Suara petir membuat Adel semakin ketakutan. Cahaya kilat di iringi petir membuatnya berteriak. Ia menutup wajahnya saat menyadari ada cahaya yang masuk selain kilat tadi mendekatinya. Adel benar-benar takut jika itu adalah orang jahat, perampok atau yang lainnya. Detik kemudian petir kembali berbunyi bersamaan dengan di tariknya tubuh Adel ke pelukan seseorang.


Adel hendak memberontak saat menyadari tubuhnya di peluk seseorang, namun ia langsung merasa lega saat orang itu bersuara, "Tenanglah, ini aku!" ucapnya.


"Om...?" gumam Adel yang mengenali suara itu.


"Iya, ini aku," sahut Varel. Untung saja ponselnya mati saat ia sudah menemukan Adel.


Keberadaan Varel mampu menenangkan Adel. Ia benar merasa aman dan nyaman dalam pelukan pria itu. Ia membalas pelukan Varel dengan erat. Varel pun tak kalah eratnya memeluk Adel. Ia bahkan terus mencium puncak kepala Adel. Betapa ia lega karena wanita yang ia cintai itu baik-baik saja.

__ADS_1


Tiba-tiba saja, lampu menyala kembali dan mereka masih dalam keadaan yang sama, berpelukan. Saat menyadari lampu menyala, Adel hendak melepaskan diri dari pelukan Varel, namun Varel menahannya tanpa kata. Adel pun membiarkan pria itu terus mendekapnya, sangat erat.


__ADS_2