Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bab 84


__ADS_3

Baik Adel maupun Varel terdiam untuk beberapa saat lamanya. Tak ada yang berani bergerak sama sekali, takut kalau bergerak salah satu dari mereka akan merasa canggung dan berpikir yang aneh-aneh.


Entahlah, apa maksud Rasel menghadiahi kaset film seperti itu. Mungkin ia meragukan kemampuan Varel karena selama tiga puluh lima tahun dalam hidupnya, Varel terlihat selalu aman dan terkesan tak tertarik dengan hal begituan. Setidaknya begitulah yang rasel pikirkan.


"Gue bingung mau kasih lo kado apa, semuanya udah lo punya. Tapi, kalau yang satu ini gue yakin lo nggak punya. Bahkan nggak kepikiran buat beli sendirii,'' ujar Rasel kala memberikan sebuah kotak gepeng berbentuk persegi yang di bungkus dengan cantik, bahkan di hias dengan pita segala. Niat banget ngasih kado pokoknya.


"Apa ini?'' tanya Varel sembari membolak balik kado dari Rasel tersebut.


"Sesuatu yang pasti lo suka. Sangat bagus buat pengantin baru kayak lo dan Adel. Apalagi lo berdua sama-sama belum ada pengalaman," ujar Rasel sok paling berpengalaman. Padahal sendirinya lebih parah aslinya.


Varel terlihat mengernyit. Ia menduga-duga apa yang sahabat absurdnnya itu kasih.


" Udah, percaya sama gue. Lo akan berterima kasih sama gue kalau tahu isi dan kedahsyatan fungsinya. Langsung buka malam ini, oke?" Rasel menepuk bahu Varel. Sebenarnya Varel sudah curiga, tidak mungkin Rasel memberinya hadiah yang mainstream. Di lihat dari otaknya, pasti pria itu ngasih sesuatu yang absurd.


Dan terbukti sekarang bukan?


Varel melirik ke arah sang istri yang sudah gelisah tak menentu di sampingnya. Wanita itu sesekali meremat ujung selimut yang menutup tubuhnya. Duduknya pun semakin merasa tak nyaman.


"Kenapa?" tanya Varel.


"gerah, bang," sahut Adel tanpa berani menoleh pada suaminya.


"Iya, ya. Padahal ini kamar full AC. Buka aja selimutnya kalau kepanasan," ujar Varel.


Adel langsung menarik selimutnya hingga ke leher, mendengar ucapan suaminya, pikirannya yang memang sudah terkontaminasi sejak tadi langsung mengarah kemana-mana, "Nggak kok, nggak gerah. Dingin malah!" ucapnya sekenanya.


"Mau abang peluk," tawar Varel.


"Enggak, selimutnya tebal kok, udah cukup!" Adel merasa terjebak dengan omongannya sendiri.


Dari pada adegan pemersatu bangsa di layar, kini Varel lebih tertarik dengan pemandangan di sampingnya. Ekspresi Adel saat melihat adegan ekstrim di layar depan, membuatnya semakin gelisah.


Adel sampai harus merem dan menutup wajahnya saat dua orang di layar melakukan sesuatu yang menurutnya aneh dan mengelikan, bahkan mengerikan. Melebihi film horor pokoknya.

__ADS_1


"Adelia..." panggil Varel mesra.


Adel yang tadinya fokus ke depan, refleks menoleh. Pandangannya bertemu dengan Varel.


''maaf kalau aku banyak meminta, bukannya aku nggak tahu kamu capek. Tapi... "Varel diam. Tak melanjutkan kalimatnya.


" Tapi apa? abang mamu bilang apa?" tanya Adel.


"Kamu tahu kan, kalau umurku udah nggak muda lagi. Emm maksudku... Aku udah menunggu saat ini sangat lama. Kalau aku nggak bisa menahannya lebih lama lagi apa kamu bisa mengerti?"


"Abang menginginkannya malam ini?" tebak Adel.


Varel terkesiap mendengar pertanyaan blak-blakan sang istri.


"Kalau kamu tidak capek dan tidak keberatan. Tapi abng nggak maksa, masih banyak waktu lain kok. Abang hanya merasa..."


"Ayo lakukan sekarang!" ucap Adel, memotong kalimat Varel.


Sekarang atau besok atau lusa sama saja. Pada akhirnya harus terjadi juga demi kelangsungan populasi keturunan mereka.


''Abang boleh melakukannya sekarang. Aku udah sah jadi milik abang,"


Varel terharu mendengarnya.


" matikan aja filmnya, bang. Kita ikuti naluri saja, tidak perlu contoh," ucap adel. Varel segera mematikan televisi di depan mereka lali meletakkan remote di atas nakas.


Varel kembali menatap Adel, jujur meski sudah tiga puluh lima tahun hidup di dunia, tapi untuk hal seperti ini tetap membuatnya bingung dan canggung. Meskipun dulu mereka dekat dan sudah berciuman beberapa kali, tapi setelah sah sekarang malah rasanya aneh dan benar benar canggung. Bingung harus mulai dari mana.


Ikuti naluri! benar, ia hanya perlu mengikuti nalurinya sebagai laki-laki. Apalagi tadi sudah di bantu sama Rasel untuk menghidupkan sesuatu miliknya. Varel mulai menatap mesra sang istri. Adel pun membalas tatapan Varel. Beberapa detik mereka diam tanpa kata dan hanya saling pandang. Mengungkapkan rasa cinta keduanya melalui sorot mata mereka masing-masing.


Semakin lama, tatapan keduanya semakin dalam. Ada gejolak yang semakin menuntut lebih karena sudah terbangun dari tadi saat menonton film pemersatu bangsa.


Entah siapa yang memulai, tapi kini keduanya sudah saling menyesal bibir pasangan masing-masing. Pelan dan lembut. Mengikuti naluri dan secara alamiah mempraktekkannya.

__ADS_1


Ciuman yang semula lembut penuh kemesraan itu kian menuntut dan berubah menjadi panas. Adel menegakkan tubuhnya supaya bisa mengalungkan tangannya di leher Varel yang posisinya kini berdiri dan menunduk kearahnya. Membiarkan selimut yang sejak tadi ia pegang untuk menutup tubuhnya melorot begitu saja. Yang mana membuat Varel bisa melihat dengan jelas tubuhnya yang hanya di balut oleh sebuah lingeri seksi berwarna merah pemberian Syafira.


Tentu saja, hal itu mmebuat Varel semakin panas dingin dan tak sabar untuk melakukan lebih. Tanpa melepas ciumannya, Varel membaringkan Adel. Tangannya mulai berkelana di rawa yang mulai banjir akibat siraman hujan.


Adel tersentak saat rawa miliknya di jajah oleh penduduk yang masih asing. Rasanya aneh. Seluruh tubuhnya terasa seperti di setrum. Namun ia mencoba menikmatinya dan lama-lama nikmat beneran.


Gunung kembar yang masih sangat asri dan menyejukkan matapun tak luput dari penjelajahan Varel. Membuat rawa semakin banjir saja akibat air kiriman dari gunung tersebut.


Merasa sesuatu semakin memberontak dari balik kain berbentuk segitiga yang dikenakan Varel, akhirnya sesuatu itu ia bebaskan.


Adel cukup takjub dengan ukuran sesuatu itu yang tak kalah dari milik pribadi film tadi. Sayang sekali, matanya sudah terkontaminasi oleh milik pria itu duluan, bukan punya suaminya. Semua gara-gara selamat memang.


Tak tahu apa yang harus ia lakukan pada benda Pusaka milik suaminya yang selama tiga puluh lima tahun ini nganggur tidak pernah di ajak-ajak berkelana ke gua manapun, Adel mencoba, mengingat yang tadi ia lihat. Mungkin bisa ia praktekkan.


Jadilah Adel berkaraoke. Sebenarnya ia merasa gimana gitu, tapi demi suami tercintalah, ya. Varel merasa sungguh luar biasa. Ia menyesal kenapa tidak dari dulu menikahi Adelia. Kan dulu bisa menculik wanita itu llu di nikahi secara paksa kalau tahu efeknya seluar biasa ini. Padahal baru gua yang ats, belum yang satunya.


'' uhuk-uhuk!"


"Udah jangan dipaksa kalau nggak bisa," Varel tak tega melihat sang istri yang hampir muntah karena mungkin belum terbiasa mulutnya kemasukan benda asing tersebut meskipun ia masih ingin karena nikmat.


Setelah berkelana, sampailah pada sebuah rawa yang banjir, dengan sangat hati-hati memasuki area tersebut. Takut merusak keindahannya.


''Maaf kalau ini akan menyakitimu,'' Varel kembali mencium bibir Adel. Ia tahu wanita itu tegang sekarang. Ia berusaha merilekskan dengan ciumannya sambil terus berusaha melakukan perjalanan masuk ke rawa. Di mana di dalamnya tersembunyi surga duniawi.


Krek!


"Aaachhh!"


Akhirnya ular itu sampai pada pintu yang selama Ini dijaga ketat oleh pemiliknya, terbukalah pintu itu sehingga si ular bisa masuk. Hal itu bersamaan dengan cengkeraman Adel yang sangat kuat bahkan kuku-kukunya sampai menancap di punggung Varel.


Varel mendiamkannya sejenak miliknya tetap pada tempatnya sekarang, ia tahu Kerasnya cengkeraman sang istri pada punggungnya menandakan jika wanita itu merasakan sakit yang sangat sakit akibat ulahnya barusan. Ia memberi jeda kepada sang istri untuk bernapas.


Namun, ia tak akan mundur, akan tetap melanjutkan perjalanannya menuju surga dunia, karena kalau berhenti, justru hanya akan membuat sang istri merasa sakit. Ia berjanji setelah ini akan mengganti rasa sakitnya dengan sebuah kenikmatan yang nanti bisa saja Adelia justru minta tambah lagi dan lagi.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2