Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bab 66


__ADS_3

Pagi yang sangat cerah di akhir pekan sama sekali tak membuat seorang pria yang kini masih bergelung di bawah selimut tergerak untuk segera menyudahi petualangannya di alam mimpi.


Pria itu benar-benar ingin memanfaatkan hari liburnya untuk bermalas-malasan. Karena hari-hari sebelumnya ia sudah di tuntu untuk bekerja keras.


Ceklek!


Pintu kamarnya terbuka, seorang anak laki-laki kecil berusia sekitar dua tahun yang baru saja bersusah payah meraih handle pintu kamarnya berdiri di di tengah-tengah pintu sambil mengamati ke dalam kamar.


"Papa, bangun!" Anak itu berjalan mendekati ranjang saat mendapati pria yang tak lain adalah Varel tersebut masih tidur menelungkup di atas bantalnya.


Teriakan anak itu tak membuat Varel membuka matanya, ia justru semakin merapatkan matanya, terlalu malas untuk meladeni anak itu sepagi ini, pikirnya.


Anak itu menoleh ke kanan dan kiri, pandagannya tertuju pada sebuah kertas yang ada di atas nakas samping tempat tidur Varel. Ia mengambilnya lalu mencoba naik ke atas ranjang.


Anak itu berhasil naik ke ranjang Varel setelah bersusah payah. Ia berdiri di samping pria tersebut. Diam beberapa saat sambil memperhatikan punggung Varel yang naik turun tersebut sampai akhirnya tangan mungilnya menyingkap selimut yang menutupi bagian pusar hingga kaki Varel.


"Papa! Bangun!" anak itu menggoyang-goyang punggung Varel.


Karena Varel tak kunjung menyahut, anak kecil tersebut naik dan duduk di punggung pria yang sejak tadi dipanggilnya papa tersebut.


"Bangun papa, bangun!" anak itu tak henti-hentinya mengoceh di atas punggung Varel seperti sedang menunggang kuda. Ia mengarahkan bibirnya di telinga Varel, hingga pria itu merasa gendang telinganya tak aman.


"Apa sih, brisik banget! Ini weekend Tristan!" Varel mengusap telinganya yang terasa seperti mau pecah karena teriakan anak bernama Tristan tersebut.


"Mau buat pecawat, papa!" ucap Tristan.


"Nanti, sekarang aku mau tidur, ngantuk nih. Baru juga merem berapa menit," keluh Varel. Padahal ia sudah tidur sejak pukul sepuluh malam.


"Turun, Tristan!" titahnya kemudian pada anak berusia dua tahun tersebut.


Bukanya menurut, Tristan justru semakin bertingkah di atas punggung Varel. Membuat prianitu benar-benar merasa terganggu.


"Pecawat keltas, pecawat papa, mau pecawat!" rengek Tristan tak henti.


"Astaga, anak siapa sih ini! Ngeselin amat! Iya-iya, tapi turun dulu, kalau nggak aku kibas ke lantai nih!" ancam Varel, tentu saja tak serius.


Tristan manut, dia turun dari menunggangi Varel, duduk bersila di sampingnya. Menunggu pria itu bangun. Namun, sepertinya Varel justru kembali merem.


" Pappa!!!"


" Ish, iya-iya! Bangun nih!" Varel terpaksa bangun dan dudui menghadap Tristan yang dengan sabar menunggu di buatkan pesawat mainan dari kertas yang sejak tadi di bawanya.


Tristan memberikan kertas tersebut, dengan manyun Varel menerimanya," Cuma buat ginian kenapa sampai haruse mengganggu tidurku, sih? Mamamu mana?" tanya Varel.


Ia masih kesal karena tidur nyenyak di hari liburnya terganggu oleh anak itu. Meski kesal, ia tetap membuatkan anak itu pesawat kertas seperti keinginnanya.


"Mama pelgi!" sahut Tristan.


Varel langsung melek sempurna, "Kemana?"


"Tidak tahu, Tlistan tidak kepo. Suluh di lumah cama papa, ya udah ndak tana-tana!" jawab anak itu.


Varel berdecak, "Kenapa kamu nggak ikut? Lagian kemana sih, pagi-pagi gini main pergi aja ninggalin buntutnya!"

__ADS_1


"Ini cudah ciank," ucap Tristan.


Varel melihat jam, ternyata memang sudah jam sepuluh, "Pantas pusing, kelamaan tidur ternyata," gumamnya.


"Nih!" Varel memberikan pesawat kertas yang sudah jadi pada Tristan.


Anak itu menerimanya dengan mata berbinar, "Telima kacih, papa!" ucapnya dengan senyum lebarnya.


"Panggil gitu lagi, aku piting kamu!"


Tristan mengatupkan bibirnya. Ia bersiap turun dari ranjang.


"Mau kemana, anak kecil?" Varel mencegahnya.


"Mau tulun, main pecawat!" jawab Tristan.


"Upahnya dulu, sini naik!" Varel kembali tengkurap. Ia meminta Tristan untuk naik dan berjalan di atasnya.


"Mau main!" tolak Tristan.


"Sebentar aja, ntar aku beliin permen!"


Tristan menggeleng, "Pelmen kata mama bitin cakit didi,"


"Yaudah mobil-mobilan deh!" tawar Varel.


"Pecawat!" Tristan menawar balik.


Anak itu lekas naik ke atas punggung Varel, "Pelmici, maaf ya!" ucapnya sopan meminta ijin untuk naik.


"Iya-iya, pakai ijin segala, tadi aja duduk nggak permisi!" cibir Varel. Anak itu cuek ia mulai melangkahkan kakinya naik turun dengan pelan-pelan.


"Pelan-pelan aja, kalau jatuh aku yang dimarahin mamamu nanti!" peringat Varel.


"Iya-iya, papa bawel!" kata Tristan.


"Aku bukan papamu!"


.


.


.


Sesuai janjinya pada Tristan, siang itu Varel membawa anak itu ke toko mainan untuk membelikannya mainan pesawat. Meski sering sewot pada Tristan, sebenarnya Varel diam-diam sangat menyayangi adiknya tersebut.


Hanya saja, terkadang ia kesal jika mengibgat bu Lidya yang sudah berusia lima puluh lima tahun itu malah punya balita lagi. Dan dia yang kini sudah berusia tiga puluh lima tahun harus memiliki adik yang lebih pantas jadi anaknya.


Ia sempat tak percaya saat perut bu Lidya semakin hari semakin buncit, ia pikir kembung tapi ternyata ada bayi hasil cocok tanam dari om John.


Ya, bu Lidya dulu menikah saat usianya baru enam belas tahun. Karena pada jaman itu sangat lumrah wanita menikah diusia sangat muda, salah satunya bu Lidya. Ia melahirkan Olivia saat berusia tujuh belas tahun. Saat usianya dua puluh tahun, lahirlah Varel. Dan dua tahun lalu kembaki melahirkan seorang bayi laki-laki.


Varel dan Tristan sampai di mall dan langsung menuju toko mainan yang di maksud. Varel menurunkan Tristan dari gendongannya saat memasuki toko tersebut.

__ADS_1


"Selamat datang, tuan. Ada yang bisa kami bantu?" sapa penjaga toko ramah.


"Ngomong!" Varel memandang Tristan. Anak itu paham maksudnya.


"Pecawat tempul, papa!" ucap Tristan.


"Oh, putranya mau mencari pesawat tempur, mari silahkan ikut saya, di sebelah sini ada beberapa pilihan, bisa Anda lihat-lihat terlebih dahulu," ucap pelayan toko tersebut.


"Dia bukan...." ah sudahlah, menjelaskan siapa Tristan hanya akan sia-sia. Semua orang akan lebih percaya jika anak itu adalah putranya.


Varel mengikuti langkah pelayan toko sambil menuntun Tristan.


"Pilih mana yang kamu suka," ucap Varel. Ia memilih duduk dan membiarkan adiknya tersebut melihat-lihat surga dunia pada usianya saat ini, yaitu mainan.


Pada akhirnya Varel yang turun tangan untuk memilihkan mainan yang terbaik untuk Tristan, "Yang ini saja, bagus!" ucapnya. Tapi anak itu terlihat masih ragu karena banyak pilihan, rasanya ia ingin membawa pulang semua yang ada di sana.


"Mau itu!" Tristan menunjuk pesawat lain.


"Bagus yang ini," kekeuh Varel.


"Tlistan mau itu, telselah Tlistan yang mau main!"


"Di kasih yang bagus malah nolak!" cebik Varel.


"Yaudah mbak, yang ini sama itu tolong bungkus!" ucap Varel pada Pelayan.


"Baik, mohon tunggu sebentar tuan,"


Saat hendak melakukan transaksi pembayaran, tanpa sengaja Varel menoleh ke luar toko. Ia seperti melihat sosok yang sangat familiar berjalan melewati toko tersebut.


Refleks, Varel langsung melangkahkan kakinya, namun di tahan oleh pelayan toko," Anda belum menyelesaikan pembayarannya, tuan!" ucap pelayan toko.


Varel langsung mengeluarkan platinum cardnya dan menyerahkannya pada kasir.


Setelah selesai, Varel langsung membopong Tristan lalu menyambar paper bag besar berisi mainan anak tersebut.


Dengan tergesa, Varel keluar toko. Ia berjalan cepat menuju ke arah dimana bayangan sosok wanita yang sangat ia kenal tadi melangkah. Namun, ia tak menemukannya setelah mencari ke beberapa penjuru Mall tersebut.


Varel berhenti dan mengatur napasnya, terlihat raut wajahnya kecewa.


"Papa, tenapa?" tanya Tristan.


"Adelia," jawab Varel.


"Capa Adelia?"


"Wanita yang aku cintai," sahut Varel, lupa siapa yang ia ajak bicara. Tentu saja anak berusia dua tahun itu tidak paham dengan ucapan Varel. Tristan hanya menatapnya bingung.


"Apa karena aku terlalu merindukanmu, sampai aku berhalusinasi seperti ini, Adelia?" gumamnya.


...****************...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2