
°°°°°
Kami kembali masuk ke kamar Dina, namun ayah Dina izin untuk pulang terlebih dahulu jadi hanya ada aku dan bunda Dina yang berjaga.
"Dina cerita kamu tadi belum selesai" Aku mengingatkan Dina untuk melanjutkan ceritanya.
"Tadi sampe mana ya?" Tanya Dina sepertinya dia kelupaan.
"Tadi sampe kamu disuruh masuk kamar Dita" Jelas ku.
"Oh iya lupa, nah jadi setelah aku masuk ke kamar Dita ternyata dia lagi demam badannya panas banget" Dina mulai melanjutkan ceritanya.
"Terus aku turun kebawah cari pembantunya untuk minta obat penurun demam sama kompres"
"Di kasihnya aku obat paracetamol, dan kompres air dingin oleh pembantu Dita. Aku suruh dia makan dulu terus dia minum obat, karena udah jam tujuh aku pamitan sama Dita mau berangkat ke kampus, karena gak mungkin dia berangkat hari itu" Sesekali cerita Dina berhenti karena menahan sesak dari kesedihannya ketika mengingat-ingat kejadian pada waktu itu.
"Tapi karena dia ada ujian jadi dia paksain buat tetap berangkat bareng aku, katanya badannya udah enakan dia gak mau nyusul ujian, memang demam nya udah agak menurun aku akui obat yang dia minum ampuh karena bekerja hanya dalam itungan menit" Dina kembali berhenti menelan saliva.
"Yaudah akhirnya aku suruh dia buat cepet mandi, karena ujian dimulai jam tujuh tiga puluh, secepat kilat dia mandi dan bersiap dia selesai jam tujuh lima belas"
"Kami berangkat keluar rumah dengan sisa waktu lima belas menit lagi harus sampai kampus sementara dari rumah Dita ke kampus kita harus menempuh waktu empat puluh menit menggunakan mobil, karena ini jam macet mungkin bisa lebih dari itu"
"Dita panik banget, dia ajak aku buat naik motor tapi aku bilang gak bisa nyetir dan dia bilang akan nyetir"
"Aku nolak karena dia lagi sakit, bahkan aku nenangin kepanikan dia gpp telat yang penting kita aman dan sampe tapi dia tetep kukuh sama keinginannya dia, bahkan satpam pun udah ngelarang bahkan nawarin buat anter kita berdua"
"Dan akhirnya setelah melewati drama panjang kita berangkat ke kampus dengan motor metiknya, kamu bayangin kurang lima menit lagi jam setengah delapan dia makin kesetanan narik gas motornya, sekencang mungkin aku pegangan pinggangnya dia nyalip nyelip mobil udah kayak banyak nyawa, setelah dekat alun-alun jam nunjukin pukul 07.35 menit berarti udah telat lima menit, dia semakin tancap gas dan akhirnya sampai lah dimana ada anak kecil nyebrang gak tau gimana ceritanya dari mana arahnya orangtuanya bisa ngebiarin anaknya mainan dijalan sendiri, terakhir yang aku inget Dita banting stir ke kiri terus gugup gak menginjak rem malah gas terus nabrak Pot bunga besar di alun-alun setelah itu aku terpental entah kemana dan Dita kemana"
__ADS_1
Aku syok mendengar cerita dari Dina, sungguh Tuhan maha melindungi. Mengalami kejadian hebat seperti itu mereka masih diberi kesempatan umur panjang.
"Kamu harus banyak bersyukur karena masih diberi kesempatan berumur panjang, denger ceritamu aku gak kuat membayangkannya posisi kalian jatuh" Aku terisak sambil menutup mulut dengan tanganku, ku peluk Dina sahabatku.
"Iya aku bersyukur banget sama tuhan masih kasih aku kesempatan untuk hidup Ti" Ucap Dina.
"Tante malah baru denger ceritanya sekarang ini nak, kalau gak ada kamu mungkin ntah kapan tante akan denger ceritanya, karena gak berani nanya takut sedih" Bunda Dina membuka suara.
"Tante yang sabar ya, kita saling nguatin untuk kesembuhan Dina".
Tidak terasa sudah satu jam setengah aku berada di kamar Dina, karena ingin bergantian menengok Dita aku pun berpamitan. Sebenarnya aku masih ingin berlama-lama karena mengingat saat kejadian aku hanya terfokus pada Dita bahkan belum sempat tau kabar Dina setelah dari ruang ICU.
•••••
Dikamar ruang inap Dita.
Aku tidak berani masuk ke dalam, hanya mengintip lewat Jendela besar disebelah pintunya, jika siang memang gordennya sengaja dibuka agar orangtuanya tetap dapat mengontrol keadaan Dita dari luar.
Tring....Tring....Tring....
Ponselku berdering kencang sekali karena aku lupa mengaktifkan mode senyap, aku meminta izin keluar kepada orangtua Dita untuk mengecek telpon yang tadi sempat aku reject, takut telpon penting.
Setelah keluar rumah sakit aku berjalan ke arah parkiran, aku baru ingat bahwa mobilku terparkir diluar.
"Ya ampun mobilku" Seketika aku menepuk jidat.
Aku berjalan cepat menuju tempat dimana mobilku terparkir, ternyata tukang parkir yang aku titipin tadi duduk disebelah bagian kiri mobilku dengan mengipas-ngipaskan topi ke arah wajahnya.
__ADS_1
"Pak maaf saya lupa kalau ninggalin mobil disini, bapak dari tadi?" Tanyaku merasa tak enak.
"Gpp mbak, udah tugas saya kok. gak lama mungkin dua puluh menit setelah mbak masuk tadi" Jelasnya merasa tidak keberatan.
"Yaampun pak itu lama banget, aku didalam udah hampir dua jam"
"Ndak masalah mbak, ya sudah saya lanjut jaga parkir didalam ya"
Aku mengeluarkan dompetku dan mengambil dua lembar uang berwarna merah untuk memberikannya kepada tukang parkir.
"Pak tunggu, terimakasih ya" aku mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan bapak itu. ditanganku sudah ada uang yang tadi aku ambil dari dompet namun aku lipat kecil, bapak itupun membalas salaman dariku.
"Eh loh apa ini mbak" tanyanya ketika tangan kami sudah lepas dari bersalaman.
"Itu rezeki bapak, karena sudah sabar menunggu saya keluar dan menjaga mobil saya"
"Mbak-mbak ini kan sudah tanggung jawab saya, saya bekerja dengan sepenuh hati tidak semata hanya untuk uangnya saja"
"Saya memberikannya juga sepenuh hati pak, ikhlas sangat ikhlas"
"Saya tidak bisa menerima nya mbak maaf"
"Pak jangan pernah menolak rezeki, anggap saja ini biaya parkir"
"Tapi kebanyakan mbak, palingan cuma sepuluh ribu kalau didalam"
"Udah terima saja, saya buru-buru mau pulang ya pak terimakasih"
__ADS_1
Aku kembali masuk ke mobil dan melaju ke arah pulang, sebelumnya aku sempat melihat ponselku ternyata tadi yang menelpon di dalam adalah Adam, sepertinya dia sudah merasa bahwa aku menghindar darinya.