
Sore harinya, Andini benar-benar datang ke butik. Sebisa mungkin Adel tetap bersikap profesional. Meski dalam hati ia benar-benar merasa jahat. Sepenuh hati membuatkan gaun impian wanita yang kini sedang melihat hasil karyanya dengan mata berbinar karena puas dengan hasilnya.
Tapi, di belakang wanita itu, Adel menyimpan sebuah rahasia besar tentang perasaannya yang mungkin saja akan menghancurkan senyum Andini saat ini.
"Ini bagus banget, Del. Sesuai keinginan aku. Pas, perfect! Mas Varel pasti akan sangat menyukainya saat aku pakai ini nanti. Jadi nggak sabar buat pakainya di hari pernikahan kami nanti," seru Andini, saat ini ia sedang melihat bayangan dirinya yang sedang mencoba gaun itu di depan cermin besarnya di depannya.
Tanpa sadar, setetes air mata jatuh dari sudut mata Adel. Tegakah ia menghancurkan kebahagiaan wanita itu. Tapi, ia juga tak ingin Varel tersiksa dengan pernikahan itu. Jika pernikahan itu terjadi, bukan cuma dirinya dan Varel yang menderita, tapi Andini juga akan menderita. Buru-buru ia mengusap air matanya.
Adel tersenyum dan mendekati Andini, "Kamu pasti akan sangat cantik memakai gaun ini," ucapnya.
.
.
.
Adel terus melihat layar ponselnya, pasalnya hari ini Varel akan kembali dari luar kota. Tapi, pria itu sejak semalam tidak ada kabar, benar-benar membuatnya resah.
"Del, belum mau balik? Udah sore nih! Anak-anak juga udah oada pulang," ucap Shahila yang hanya menyembulkan kepalanya dari balik pintu.
"Oh, ini lagi siap-siap mau pulang. Lo duluan aja," jawab Ade
"Nggak mau gue antar aja?" tawar Shahila yang membawa mobil sendiri pemberian dari kakaknya.
"Nggak usah, gue udah pesan taksi. Bentar lagi datang kok,"
"Yaudah kalau gitu, gue duluan. Eh, ntar malam keluar yuk! Sejak gue balik kita kan belum hang out bareng,"
"Boleh," sahut Adel.
"Oke, ntar gue jemput jam delapan, bye beb!" Shahila kembali menghilang di balik pintu.
Adel buru-buru mengemasi barang-barangnya. Lalu meninggalkan ruangannya. Ia akan menunggu taksi online pesannnya di lantai bawah.
.
__ADS_1
.
.
Sampai rumah, Adel sedikit terkejut karena pintu tidak terkunci," Apa om Varel udah pulang ya? Tapi kok lampunya nggak di nyalain, udah gelap gini," gumamnya sambil melangkah masuk lalu menyalakan lampu ruang tamu. Di sofa ia melihat jas milik Varel tergeletak begitu saja, tumben pikirnya. Biasanya pria itu paling tidak suka berantakan.
Adel langsung menuju ke dapur untuk minum.
Saat hendak melangkah di tangga, ia menoleh, melihat ke arah kamar Varel. Pintunya sedikit terbuka, sepertinya pria itu benar-benar sudah pulang. Ia memilih melanjutkan langkahnya menuju kamarnya. Mengabaikan rasa penasarannya. Meski dalam hati ia kecewa, jika benar pria itu sudah pulang kenapa tidak menyapanya. Apa tidak merindukannya, pikirnya.
Hingga malam tiba, saat Adel tengah bersiap menunggu Shahila datang menjemputnya, ia tak juga melihat batang hidung pria yang dua hari lalu mendeklarasikan perasaannya tersebut.
Adel yang sedang duduk di sofa ruang tamu terus melihat ke arah kamar Varel, tapi pria itu tidak keluar juga padahal lehernya sampai pegal karena harus menoleh. Ia mengambil ponselnya dari dalam tas, masih tak ada chat maupun panggilan dari Varel.
Dalam hati ia mulai cemas dan takut. Takut jika Varel membatalkan niat untuk bicara dengan Andini. Yang seharusnya sudah pria itu lakukan siang tadi sesuai janjinya yang akan menemui Andini saat pulang. Ada rasa takut jika Varel mengurungkan keputusannya dan akan tetap menikah dengan Andini. Tapi, ia bisa apa kecuali pasrah dan menerima.
Merasa tak tenang, akhirnya Adel memilih untuk melihat pria itu di kamarnya karena memang pintunya tidak di kunci. Ia heran karena lampu kamar pria itu juga tidak menyala, "Om, di dalam? Kok Lampunya nggak di nyalain?" ucapnya sembari meraba dinding di samping pintu untuk mencari saklar.
Adel terkejut karena Varel tidur meringkuk di kasurnya, "Astaga, om..." ia langsung mendekat dan menyentuh kening pria itu, panas tinggi sekali, "Om demam? Sejak kapan? Kenapa nggak panggil aku, sih?" ucap Adel. Namun Varel tak menyahut.
"Aku panggil dokter, demanya tinggi banget ini," Adel hendak menelepon Rasel untuk meminta dipanggilkan dokter ke rumah, namun Varel mencegahnya dengan memegangi tangannya, "Tidak perlu, aku tidak apa-apa," ucapnya setengah sadar Sangking panasnya.
Varel menggeleng, "Aku nggak suka minum obat," ucapnya, "Please," lanjutnya memohon.
Akhirnya Adel mengurungkan niatnya menghubungi Rasel. Ia lalu menelepon Shahila dan membatalkan rencananya untuk pergi dengan sahabatnya tersebut.
Ia pergi ke dapur memgambil baskom kecil dan air untuk mengompres Varel.
Hari semakin larut, namun panas varel belum juga turun. Justru pria itu semakin tinggi demamnya sampai tak sadar mengigau. Ia menarik tangan Adel yang ingin meletakkan baskom tempat air di nakas karena baru saja mengganti kompress Varel.
"Del, jangan pergi, jangan tinggalin aku. Jangan pergi, aku cinta kamu, tapi kenapa kamu pergi, kamu tega. Kamu nggak cinta sama aku?" rancau Varel tak sadar.
Adel kembali duduk di tepi ranjang dan menggenggam tangan Varel yang mencengkeramnya kuat. Ia tak menyangka jika pria di depannya itu sebegitu terlukanya atas kepergiannya dulu,"Maafkin aku, om. Maaf. Aku juga cinta sama om, sejak dulu hingga sekarang, dan mungkin untuk ke depannya rasa ini akan semakin menumpuk," ucapnya. Tak terasa air matanya menetes begitu saja.
"Entah kemana kisah rumit ini akan berujung, aku tidak bisa yakin kita bisa bersama, om. Jika kita egois tetap bersama, maka akan ada wanita lain yang tersakiti, Andini akan terluka. Tapi, jika aku yang pergi lagi, kita bertiga akan sama-sama terluka pada akhirnya. Mana yang harus aku pilih?" batin Adel.
__ADS_1
.
.
.
Semalaman Adel merawat Varel, tak terasa ia tertidur di sisi pria yang masih belum membuka matanya tersebut.
Adel mengerjapkan matanya berkali-kali hingga kesadaranny pulih," Ya ampun, aku ketiduran," gumamnya. Tangannya mengambil handuk yang menempel di kening Varel lalu di sentuhnya kening pria itu, "Panasnya udah turun, tapi kenapa om belum bangun?" batinnya.
Adel masuk ke kamar mandi yang ada di kamar Varel untuk buang air kecil dan mencuci mukanya. Saat keluar dari kamar mandi, ia melihat Andini sudah berada di kamar Varel. Ia sedang duduk dan memegang tangan pria itu. Terlihat jelas jika Andini juga mengkhawatirkan Varel.
" Andini?" sapa Adel. Ia cukup terkejut melihat Andini yang sudah berada di sana. Jika hubungan mereka masih baik-baik saja, itu artinya belum ada pembicaraan serius antara Varel dan Andini soal pernikahan mereka. Mungkin emang Varel belum ada waktu untuk mengatakannya, pikir Adel mencoba tetap tenang.
Andini menoleh dan tersenyum, nmun senyuman itu terasa tak nyaman buat Adel, "Makasih udah jaga mas Varel, tapi seharusnya kamu hububgi aku semalam, biar aku yang urus calon suamiku," ucap Andini.
Adel merasa, nada bicara Andini sedikit berbeda, lebih sinis, namun bibir wanita itu tetap tersenyum.
"Kamu boleh pergi sekarang, biar aku yang urus mas Varel," lanjut Andini sebelum Adel sempat menjelaskan apapun.
"Baiklah kalau begitu, aku permisi!" pamit Adel.
"Hem," sahut Andini singkat. Ia mengacuhkan Adel yang melewati belakangnya.
Adel berhenti sejenak di depan pintu sebelum keluar, lalu menoleh, "Cepat sembuh om," batinnya.
Beberapa saat setelah Adel keluar, Varel mulai membuka matanya.
"Mas, udah bangun?" ucap Andini.
Varel tak menyahut, ia mengedarkan pandangannya untuk mencari Adel. Tak menemukan sosok itu, iapun menatap Andini.
"Kamu yang semalam di sini?" tanya Varel.
Andini mengangguk, "Tentu saja, aku yng semalaman rawat kamu, mas. Siapa lagi?" katanya.
__ADS_1
Varel hanya tersenyum tipis dan mengangguk, ia menatap ke arah pintu," Aneh, Apa aku hanya mimpi kamu di sini semalam, Del?" batinnya.
......