Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bab 96


__ADS_3

Setelah bertanya pada Adel mau makan di restauran yang ada di hotel tersebut atau makan di kamar, mereka pergi ke restauran sesuai jawaban sang istri.


"Jauh-jauh ke sini masa di kurung di kamar aja, makan di luar dong, bar tahu suasana di hotel ini," jawab Adel saat di tanya oleh Varel tadi.


"Memang seharusnya abang kurung kamu di kamar sepanjang hari, biar cepat jadi Varel dan Adel dama bentuk sasetnya," ucap Varel.


"Saset saset! emang sampo?" protes Adel.


Varel tersenyum, "Ayo!" ia memposisikan tangannya untuk di gandeng oleh Adelia.


Varel memesan makanan dengan menggunakan salah satu dari empat bahasa nasional yang sering di gunakan di negara tersebut.


"Abang bisa bahasa Jerman?" tanya Adelia dengan mata berbinar setelah pelayan pergi dari hadapan mereka.


"Sedikit, kenapa?"


"Keren! Aku nggak tahu kalau abang sepintar ini. Aku yang lama tinggal di kuar negeri aja bisanya cuma bahasa inggris, itupun nggak bagu-bagus amat. Tapi, lihat cara abang bicara sama pelayan tadi, abang nggak cuma bisa sedikit, tapi banyak," ujar Adel berbisik di telinga suaminya.


Varel tersenyum mendengarnya," Kamu tahu, ada empat bahasa nasional yang digunakan di sini, ada Jerman, Perancis Italia dan juga Romansh. Dan suamimu ini bisa keempatnya. Ya, walaupun nggak banyak sih bisanya," jelas Varel yang mana membuat Adel semakin kagum menatap suaminya.


"Biasa aja, jangan terpesona begitu. Abang ini sebenarnya cerdas, hanya nggak suka pamer aja," ucap Varel lagi.


Adel tersenyum, "Makin cinta deh jadinya, gimana dong ini? Kayaknya aku udah kecanduan cintanya abang," sahut Adel.


Varell terkekeh, "Love you too, sayang," balasnya.


Tak lama kemudian, pesanan mereka datang. Tak mempedulikan pengunjung resturan yang lainnya, pasangan suami istri itu saling memanjakan satu sama lainnya.


Di tengag Sarapan kesiangan meteka, Tiba-tiba saja ponsel Varel berdering.


"Siapa?" tanya Adel saat melihat wajah sng sumi langsung berubah masam.


"Mama, ganggu aja sih. Baru juga semalam sampai, udah di gangguin aja," keluh Varel.


"Angkat aja, siapa tahu kan ada yang penting," saran adel.


"Justru takutnya kalau penting, kita jadi gagal honeymoonnya, sayang,"


Adel meminta ponsel Varel, ia angkat, "Assalamualaikum buk," sapa Adel ketika melihat wajah ibu mertuanya tersebut di layar ponsel.


"Waalaikumsalam, kalian udah sampai? Lancar kan perjalanannya?" tanya bu Lidya.


"Sudah bu, semalam sampainya. Alhamdulillah semuanya lancar kok," jawab Adelia.


"Suamimu mana?"


Adel pindah posisi duduknya teat di samping Varel.


"Apa sih ma? Ganggu aja deh!" keluh Varel.

__ADS_1


"Eh mama ganggu ya? Emang kalian lagi ngapain sih?" tanya bu Lidya.


"Ya ganggulah pasti! Pakai nanya lagi apa, lagi honeymoonlah, pertanyaannya kadang-kadang deh! Katanya mau cepat punya cucu!" ujar Varel.


"Abaaang," Adel memperingati suaminya.


"Kita lagi sarapan kok buk," ucap Adel pada bu Lidya.


"Ohhh... Ibuk tuh telepon karena dari tadi Tristan ngerengek terus minta video call abangnya," jelas Bu Lidya.


"Dih alasan! Bilang aja mama kepo sama urusan ranjang Varel. Iya kan? Ngaku!" tuduh Varel.


"Abaaaang!" tiba-tiba saja, wajah Tristan memenuhi layar ponselnya.


"Tlistan lindu!" ucap Tristan.


"Dih gayamu, bayik!" timpal Varel.


"Tlistan udah besal, ya! Udah mau jadi uncle! Abang tahu ndak...."


"Nggak tahu!" sela Varel cepat.


"Ih belum celesai bicala ini! Tlistan udah beli madu banaaaaaak banget! Syemua bolong cama Tlistan! Abang ndak kebagian! Abang beli madu kemana? Udah di beli Tlistan semuana! Noh liat!" anak itu mengarahkan kamera ponsel ibunya ke sudut ruangan dimana banyak sekali madu yang di beli anak itu.


" Astaga ma! Beneran di beli sebanyak itu?"


Adelia meringis miris memdengarnya, kasihan sekali Tristan yang masih saja salah paham.


"Bayikna belum beli Tlistan! Ndak ada cali-cali di mana-mana!" keluh Tristan.


"Tahu nggak sih, hampir aja mama di tuduh penculik, pagi tadi mama aja pergi belanja, ada anak bayi di taruh di kereta bayi, main di tarik aja sama dia kereta bayinya. Ampun deh adikmu gagal pahamnya parah banget. Di kira itu bayi di jual di tokonya," keluh Bu Lidya.


Varel dan Adel tak berhenti tertawa mendengar tingkah absurd adik kecil mereka tersebut.


"Nanti abang pulang bawa adik bayi yang lucu buat Tristan. Tapi, Tristan harus jadi anak baik. Nggak boleh nakal, apalagi bikin ulah, kasihan mamanya udah tua, ya?" ucap Varel.


"Tuanya nggak usah di sebut juga kali, rel!" protes bu Lidya.


"Kalau udah tua tenapa, bang?" tanya Tristan.


"Gampang capek," jawab Varel.


"Kalau udah capek tenapa?"


"Nanti mama sakit," kali ini Adel yang menjawab.


"Kalau udah syakit?"


"Ya harus di periksa dokter!"

__ADS_1


"Oh pelikca doktel? Kilain meninggoy!" ucap Tristan santai tanpa beban.


"Astaga!" ucap Varel, Adel dan bu Lidya bersamaan.


"Tenapa Astaga? Kakau udah tua umul selatus kan meninggoy?"


"Tapi mama belum ada seratus, sayang. Dan semoga mama panjang umur biar bisa terus rawat dan jaga Tristan. Biar bisa lihat Tristan tumbuh dewasa jadi anak sholeh, baik, pinter," ucap bu Lidya lembut.


"Danteng kayak abang juga!" imbuh anak itu.


"Iya, ganteng kayak abang!" Varel ikut menimpali. Ia mengaminkan doa sang ibu tadi. Matanya memerah, hamoir saja runtuh pertahananannya. Harapan yang sama pun ia panjatkan, semoga ibunya di berikan kesehatan selalu dan umur yang panjang. Teringat betapa ia ikut stres saat mengetahui bu Lidya hamil Tristan dulu. Banyak kekhawatiran yang menghantui pikirannya. Sudah tua, waktunya istirahat menikmati usianya yang mukai senja, malah harus hamil dan melahirkan. Namun begitulah takdir, tidak ada yang tahu.


Adel yang tahu sisi melow suaminya langsung mengusap punggung sang suami lembut.


.


.


.


Selesai makan, Varel dan Adel jalan-jalan ke danau biru di pedesaan Swiss bernama Blausee. Danau yang berada di Distrik Frutigen, dekat dengan Desa Kandersteg ini menyuguhkan pemandangan yang sangat cantik dan indah.


Varel mengajak Adel untuk duduk sebentar setelah mereka berjalan mengelilingi danau yang sebenarnya tak berukuran besar tersebut.


"Sayang," panggil Varel.


"Hem?" sahut Adel hanya bergumam, ia begitu menikmati keindahan air jernih berwarna tosca di depannya tersebut.


"Tahu kenapa warna air di danau ini tosca?"


Adel menggeleng.


"Di balik keindahan danau ini, Ada sebuah cerita pilu atau legenda yang terjadi di danau ini. Mau dengar ceritanya?" tanya Varel.


Mendengarnya, Adel langsung menatap Varel, "Aku pengin dengar, bang. Ayo ceritakan!" katanya penasaran.


"Menurut legenda Blausee dulunya adalah sebuah danau jernih yang dijadikan tempat memancing oleh para warga di desa sekitar sini karena banyak ikan trout yang hidup disana. Ada seseorang gadis yang cantik dengan mata berwarna biru yang jatuh cinta dengan seorang penggembala. Singkat cerita, mereka berdua menjadi sepasang kekasih dan bertemu di danau ini setiap malamnya. Pasangan ini selalu memadu kasih di atas perahu sembari menikmati keindahan danau di bawah indahnya sinar bulan. Namun, pada suatu malam gadis cantik ini terus menunggu sang kekasih yang tak kunjung datang, hingga saat sinar pagi menyambut kabar duka pun juga datang, ternyata sang kekasih terjatuh ke tebing saat ingin menemui gadis itu di danau. Kejadian tersebut menimbulkan kesedihan yang me dalam bagi si gadis. Setiap hari ia mendatangi danau Blausee ini bahkan ia berniat untuk menyusul sang kekasih.


Pada suatu malam, sang gadis keluar rumah tanpa sepengetahuan orang tuanya dan menenggelamkan diri di dalam danau biru sehingga pada esok hari tubuh sang gadis ditemukan tidak bernyawa di dasar danau. Sejak saat itu, air danau yang awalnya berwarna biru jernih menjadi biru tosca seperti mata sang gadis, dan air danau itu menjadi simbol ketulusan cinta sang gadis kepada kekasihnya,"


Adel tertegun mendengar cerita suaminya tersebut," Itu beneran atau abang cuma mengarang bebas?" tanyanya.


" Beneran atau tidaknya abang tidak tahu, tapi begitulah cerita yang abang baca tentang danau ini. Keren ya, si gadis sampai rela mati begitu,"


"Aku pun Rela," sahut Adel cepat.


Dengan cepat Varel menggeleng, "Kita akan tetap bersama. Hidup bahagia bersama anak-anak kita kelak. Abang ingin hidup yang lama sama kamu dan anak-anak kita kelak," ucap Varel.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2