Jodoh Yang Tertunda

Jodoh Yang Tertunda
Bab 77


__ADS_3

Varel mengendarai mobilnya dengan kecepatan tingfi untuk melampiaskan rasa sesak di dadanya. Kecewa, marah, sedih, terluka menjadi satu. Kenapa takdir selalu mempermainkannya. Jika memang ia dan Adel tak bisa bersama kenapa mereka harus di pertemukan lagi dan lagi.


"Sekali lagi, Adelia. Aku mohon kita berjuang sekali lagi! Kita juga berhak dan pantas bahagia!" gumam Varel.


Tin tin! Varel memasuki halaman rumahnya. Ia langsung turun dari mobil.


Brak! Dengan kasar pria tersebut membanting pintu mobilnya. Pikirannya benar-benar kalut saat ini.


Saat berpapasan dengan bu Lidya, Varel langsung memeluk sang ibu.


" Ada apa lagi, nak?" tanya bu Lidya. Ia merasa emosional sang putra akhir-akhir ini seperti rolcoaster, naik turun tak stabil.


"Dia benar-benar menyerah sekarang, ma," ucap Varel lirih. Bu Lidya langsung tahu siapa yang di maksud oleh putranya. Ia mengusap punggung Varel penuh sayang.


"Dia memilih memulai dengan pria lain. Maaf kalau Varel gagal jadiin dia mantu buat mama,"


Sedih, sudah pasti bu Lidya rasakan. Kenapa perjalanan cinta putranya begitu tragis.


"Sudahlah, tak apa. Mungkin ini memang yang terbaik, nanti mama carikan kamu calon istri. Bukan Adelia tidak apa-apa," ucap Bu Lidya.


"Nggak! Aku maunya Adelia!" tolak Varel tegas.


"Dengar mama, sudah cukup kamu menderita selama ini. Kalau memang Adel bukan jodohmu, terima saja, Rel. Jangan persulit diri sendiri. Kalau Adel mau mencoba membuka hati untuk pria lain, kamu pun harus bisa melakukannya. Mama akan carikan kamu calon istri terbaik!"


"Maaf, ma. Tapi kali ini Varel nggak akan nyerah. Barel akan memperjuangkan Adelia. Tolong mama restui langkah Varel,"


"Tapi tadi kamu bilang Adel sudah memutuskn untuk memilih pria lain, mama nggak ingin kamu terluka lagi!"


"Varel justru akan menyesal kalau menyerh begitu saja sementara Varel tahu kalau Adelia juga masih menginginkan Varel,"


.


.


.


Sore harinya....


Adel dan Shahila baru saja pulang dari butik. Mereka langsung berpisah menuju kamar masing masing-masing untuk membersihkan diri.

__ADS_1


Sampai di kamar, Adel lamhsung duduk di tepi ranjang sembari meletakkan tasnya disisinya lalu menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Rasanya masih malas untuk mandi sekarang. Adel justru kembali teringat kata-kata Varel tadi.


"Kenapa om keras kepala, sih?" gumamnya. Ia ingat surat yang di berikan oleh Varel malam itu. Ia belum sempat membacanya.


Adel kembali bangun lalu mencari surat yang sudah berubah menjadi pesawat kertas tersebut.


Adel membuka lipatannya alu mulai membaca.


Dear, Adelia....


Jika surat ini sampai padamu, itu artinya aku sudah tak ada lagi di dunia ini dan aku tak sempat meminta maaf secara langsung denganmu.


Del, beribu-ribu maaf aku mohon padamu atas apa yang selama ini sudah aku lakukan. Tolong maafkan atas keegoisanku yang telah membuat kamu dan mas Varel terluka.


Sejak awal kedatanganmu di rumah itu, aku langsung mengerti jika kamulah orangnya. Wanita yang selama ini menjadi satu-satunya pemilik hati mas Varel. Namun, dengan egoisnya aku pura-pura tak tahu semata hanya karena tak ingin kehilangan mas Varel.


Aku benar-benar minta maaf karena keegoisan dan obsesiku terhadap mas Varel, kalian harus menderita. Maafkan aku, Adelia. Jujur, sebenarnya aku selalu merasa bersalah setiap detiknya.


Aku sempat ingin menyerah, karena aku tahu pada akhirnya aku yang akan benar-benar pergi dari hidup kalian.


namun sekali lagi egoku mengalahkan akal sehatku. Aku tak ingin perjuanganku selama dua tahun sia-sia begitu saja. Maafkan aku kalau pada akhirnya aku tetap ingin menikahi mas Varel.


Sekarang, aku kembalikan mas Varel kepadamu, sang pemilik cintanya yang sesungguhnya. Berbahagialah kalian layaknya munculnya pelangi setelah hujan. Raihlah kebahagian kalian berdua, meski sedikit terlambat. Namun, akan abadi selamanya.


Semoga semuanya belum terlambat supaya sedikit mengurangi rasa bersalahku terhadap kalian.


Andini.


Adel mengusap air matanya yang jatuh membasahi kertas yang memang sudah lecek akibat di buat mainan oleh Tristan tersebut.


"Aku udah mengecewakannya, Ndin. Aku menyakitinya," gumam Adelia.


.


.


.


Dua hari pasca membaca surat dari Andini, Adelia memutuskan untuk kembali bertemu dengan Reno. Ada sesuatu yang ia ingin bicarakan denga pria itu.

__ADS_1


Tak di sangka, saat ia dan Reno bertemu di sebuah restoran, bu Lidya juga berada di sana. Mereka berpapasan saat bu Lidya menunggu pesanannya, sementara Adel baru kembali dari toilet.


"Ibuk?"


"Loh, Adel? Di sini juga? Sama siapa?"


Adel menyalami tangan bu Lidya, tak lupa ia mencium punggung tangan wanita itu.


"Sama teman buk, tuh di sana. Ibuk mau gabung?" tawar Adelia.


Bu Lidya menoleh, ia melihat pria yang di tunjuk oleh Adelia, "Mendingan anak gue kemana-mana, menang lebih muda aja kayaknya!" batin bu Lidya menatap sebal pada Reno. Padahal pria itu tak salah apa-apa.


"Tidak, terima kasih. Ibuk cuma take away aja, soalnya nggak sempat masak padahal mau ada tamu spesial, calonnya Varel, jadi ya take away aja sekalian lewat sini soalnya," sahut bu Lidya. Detik kemudian pesanan bu Lidya sudah ready.


Bu Lidya sengaja mengatakannya hanya ingin tahu reaksi Adel.


"Oh, gitu... Kaku begitu Adel ke sana ya, buk. Temen Adel udah nunggu soalnya," Adel berusaha bersikap biasa saja, padahal hatinya sakit.


"Iya, ini ibu juga mau pulang kok," sahut bu Lidya tersenyum namun sebenarnya jiwa keponya sedang meronta-ronta. Sangat penasaran sebenarnya bagaimana perasaan Adel saat ini. Ia berharap Adel cemburu dengan calonnya Varel yang karang tadi.


.


.


.


Adel memutuskan kembali ke Jakarta setelah urusannya selesai di kota B. Apalagi setelah kemarin bu Lidya mengatakan jika Varel sudah memiliki calon. Adel buru-buru mengemasi barangnya. Ia ingin segera meninggalkan kita ini.


Sebenarnya kemarin ia bertemu dengan Reno karena untuk mengatakan jika mereka tidak bisa ke jenjang lebih lanjut lagi.


Adel memutuskn untuk berjuang bersama Varel untuk meraih restu Syafira. Tapi, ia malah mendengar kalau pria itu sudah memiliki calon. Secepat itukah pria itu berubah pikiran? Adel benar-benar sedih dan menyesal.


Kenapa kemarin ia harus mengatakan kalau ia akan memulai dengan pria lain dan mendoakan Varel menemukan wanita lain. Sekarang giliran terkabul, Adel sendiri yang galau.


Adel kini sudah berada di dalam pesawat. Ia tak tahu jika, Varel juga tengah bersiap untuk terbang menuju Jakarta dengan pesawat yang sama.


...****************...


Sampai ketemu di Jakarta....

__ADS_1


__ADS_2