Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 99


__ADS_3

3 bulan kemudian...


Sejak kepulangan orang tuanya dari honeymoon, Dena tampak makin lengket dengan ibu sambungnya. Apalagi saat kabar bahagia datang. Dena yang usianya sudah 17 tahun baru akan mendapatkan seorang adik.


Jika dulu semua perhatiannya tertuju kepadanya, sekarang justru berbeda. Namun, hal itu tidak dapat membuat Dena iri sama sekali. Malahan Dena tidak sabar menantikan kehadiran tangisan seorang bayi di dalam rumahnya.


Pagi itu entah kenapa firasatnya tidak enak sedari tadi malam. Saat berangkat sekolah pun hatinya tidak tenang.


Drttttt


Drttttt


Getaran di ponselnya membuat belajar Dena sedikit terganggu. Ia menatap layar ponselnya dengan ikon nama sang papa tertulis di sana. Karena tidak ingin menganggu kenyamanan teman sekelasnya, Dena langsung pamit izin keluar kepada guru yang bersangkutan. Setelah mendapat izin Dena lekas berlari menuju tempat yang sepi.


"Iya, Pa?" ucap Dena begitu menerima telfonnya.


"Kamu lagi belajar, Sayang?" suara berat khas pria dewasa dari seberang sana membuat Dena terdiam. Bukan itu! Dena tau dari suara sang papa yang menandakan papanya seperti menahan tangis.


"Huumm... ada apa Papa nelfon?" tanya Dena berusaha menenangkan hatinya yang terasa gelisah.


"Papa udah izin ke guru kamu. Kamu siap-siap ya. Nanti ada Pak Haryo yang jemput. Mungkin sebentar lagi tiba."


Alis dan kening Dena mengerut sempurna. "Dena gak ngerti apa maksudnya."


"Kakek kamu ada di rumah sakit."


Hening


Dena mematung sempurna sampai-sampai ocehan sang papa pun tidak dapat ia dengar lagi.


"Sayang. Dena sayang, kamu dengar papa kan?"


"Ah! Eh, iya, Pa. Dena siap-siap sekarang." gadis itu langsung tersadar saat mendengar namanya dipanggil berulang kali.


"Nanti kalau udah sampai, kabarin Papa biar Papa jemput kamu di depan."


"Eh, enggak usah, Pa. Nanti kasih tau aja dimana ruangannya."


"Oke, Sayang. Papa tutup dulu. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Digenggamnya erat ponsel di tangannya. Jantungnya berdetak lebih cepat.


•••


"Pa, Papa. Gimana keadaan Kakek?" gadis itu langsung menodong pertanyaan saat baru saja sampai di depan ruang IGD.


Keringat tampak mengalir di dahinya.


"Duduk sini!" Wira menepuk-nepuk pelan bangku kosong di sampingnya.


"Kenapa bisa?" tanya Dena. Namun, pertanyaannya selalu dialihkan.


"Minum dulu, Sayang." tegur Cahya memberikan sebotol air mineral yang sudah dibuka segelnya kepada Dena.


"Kakek nggak kenapa-kenapa. Cuma drop aja." tutur wanita itu sambil mengelap keringat di dahi Dena menggunakan tisu.


"Nggak mungkin kalau drop sampai minta Dena buat pulang. Padahal kan sisa 2 jam lagi belajarnya." gadis itu menatap bingung kedua orang tuanya.


"Papa terlalu panik sampai gak sadar nelfon kamu." sahut Wira.


"Dena juga panik tau gara-gara papa bilang kalau kakek masuk rumah sakit."

__ADS_1


"Papa emangnya enggak kerja?" tanya Dena.


"Kerja. Tapi, tadi dapat telfon dari Bunda kamu."


"Dari semalam kakek udah ngeluh bilang capek. Makanya semalam kakek istirahat lebih awal."


"Huumm iya. Mungkin kakek terlalu capek karena akhir-akhir ini dia suka jalan-jalan sore di sekitar komplek."


"Bunda." panggil Dena.


"Iya?"


"Bunda pengen apa?" gadis itu selalu bersemangat jika mengingat ada yang menghuni rahim ibunya. Ia selalu menanyakan dan selalu memastikan apakah keadaannya baik-baik saja atau tidak.


"Enggak pengen apa-apa, Sayang. Bunda cuma pengen peluk aja."


"Yaudah, sini." Dena merentangkan tangannya bersiap-siap untuk memeluk Cahya.


"Kakak udah gede, masa masih manja." seru Wira merasa iri karena dirinya tidak diajak berpelukan ala teletubbies.


"Kata dedek biarin. Dia pengen dielus-elus dan dipeluk sama kakaknya yang cantik ini." dengan pedenya Dena mengibaskan rambutnya.


Wira dan Cahya yang melihatnya hanya saling pandang dengan kepala menggeleng.


"Masih lama kan ya?" tanya Dena dengan tatapan tertuju pada perut Cahya. Tangannya juga tampak mengelus lembut perut rata yang sedikit menonjol ituw.


"Lama, kakak." jawab Cahya menirukan suara anak kecil.


"Keburu dong. Kakak sebentar lagi lulus sekolah."


"Emangnya jadi mau lanjut di luar negeri?" tanya Wira.


"Jadi dong. Nanti Dena mau liatin ke adek kalau dia punya kakak yang hebat, cantik, apalagi pinter."


"Harus dong, Pa. Apalagi nanti kalau dia cewek. Pasti cantiknya sama kayak Dena dan Bunda. Papa nggak kebagian."


"Lahh, kok gitu? Kan yang bikinnya papa."


"Mas." tegur Cahya mencubit lengan suaminya.


"Awwss... sakit, Sayang. Kan emang bener. Lagian Dena juga udah dewasa. Bukan anak kecil lagi."


"Tapi, kan--"


"Syuttt. Jangan ribut di sini. Nanti kalau dedeknya mirip Dena, berarti nanti itu Dena yang ambil. Nah, papa tinggal bikin aja satu lagi biar semuanya mirip sama papa."


Pasangan suami istri itu sontak saling memandang dengan tatapan aneh.


Pintu ruangan IGD terbuka, menampakkan seorang dokter keluar setelah melakukan pemeriksaan.


"Dengan keluarga pasien?"


Wira langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri dokter itu.


"Saya anaknya, Dok."


"Ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan secara pribadi. Kita bisa mengobrol di ruangan saya. Mari."


"Baik, Dok."


"Tunggu di sini ya? Papa ke sana dulu." Wira mencium singkat kening dua perempuan yang sangat berharga di hidupnya.


"Oke." jawab keduanya kompak.

__ADS_1


•••


Wira tampak termenung di balkon kamarnya. Lalu tidak lama kemudian ada sepasang tangan yang memeluk tubuhnya dari belakang.


"Di luar dingin."


"Kenapa keluar?" Wira mengelus lembut tangan yang melingkar indah di perutnya.


"Dari tadi siang kamu melamun, Mas. Dena bahkan sampai bingung."


Sontak Wira melepas pelukan istrinya disusul dengan tubuhnya memutar menghadap wanita itu.


"Maaf membuat kalian khawatir. Jujur, aku hanya takut."


"Aku dan Dena ada di sini. Kenapa harus takut?"


"Aku takut ditinggalkan untuk yang kesekian kalinya. Orang-orang yang aku sayangi meninggalkan aku."


Cahya yang mengerti perasaan suaminya langsung menggenggam tangan pria itu. "Kami ada di sini. Mereka ingin melihat sosok pria panutan mereka terus tersenyum memberi kekuatan untuk mereka." mereka dalam arti maksudnya adalah Dena dan juga calon bayi yang sekarang masih berusia 2 bulan.


"Aku akan melakukan itu untuk mereka."


Keduanya saling pandang, lalu tidak lama senyum mereka terbit.


"Katanya dingin. Kenapa keluar? Kasian dedeknya." tangan Wira terulur menyentuh perut rata istrinya dan mengusapnya pelan.


"Dedek butuh pelukan dari papanya." balas Cahya.


"Ini yang manja dedek atau bundanya?" goda Wira. Namun, ia tetap menarik wanita itu masuk ke dalam pelukannya.


"Bundanya juga." Cahya menjauhkan wajahnya lalu tubuhnya sedikit menjinjit.


Cup


"Bunda nakal." Wira menatap istrinya penuh seringaian.


"Dedek butuh kehangatan dari papanya." Cahya menatapnya nakal.


"Dedek atau adek?" goda pria itu.


"Dedek."


"Dedek?" ulang Wira.


Cahya menganggukkan kepalanya.


Wira berjongkok di bawah istrinya dengan tangan memegang kedua sisi pinggang istrinya. "Bunda nakal ya, Sayang. Nanti kalau udah gede kamu jangan nakal ya?"


"Iya, Papa." Cahya menirukan suara anak kecil. Membuat Wira terkekeh pelan.


Pria itu bangkit dan langsung memeluk tubuh istrinya sambil mendaratkan kecupan bertubi-tubi di kening dan pipi Cahya.


"I want to spend every day, for the rest of my life with you." bisik Wira di telinga Cahya dengan lembut.


"Huumm... me too."


.


.


.


hola hai, aku comeback ya🤣maaf lama upnya soalnya udah jarang buka aplikasi ini😅🤣🤣

__ADS_1


kita absen dulu ya anak-anak. Silahkan ketik namanya di kolom komentar 🤣🤣


__ADS_2