
"Itu kan udah lama, Na. Jangan diungkit lah."
"Gue bukan ngungkit, Rel. Tapi, itukan emang kenyataan, fakta gitu loh."
"Sama aja. Gak ada bedanya."
"Beda."
"Sama."
"Beda."
"Sa--"
"Stop stop. Kalian bahas apaan dah pake beda sama segala?" potong Dewi dengan cepat. Sedari tadi dia hanya memperhatikan. Sudah seperti nyamuk aja. Dia sendirian sedangkan teman-temannya seperti mempunyai pasangan masing-masing. Dena-Fairel, Risty-Dicky, Anna-Rafael.
"Bahas cicak cicak di dinding." jawab Fairel.
"Diam diam merayap." sambung Dena.
"Datang seekor nyamuk."
Plakkk
"Adoiiii! Sakit, Na."
"Gak usah nyanyi. Garing banget tau gak."
"Kan lo juga nyambung ya gue sambungin lagi aja biar komplit."
"Ck! Gak usah ribut gitu. Cocok banget kalian." seru Dewi seraya menggelengkan kepalanya.
"Nggak!" sentak keduanya serempak.
"Tuh kan, barengan. Fix, cocok!" ujar Dewi titik no debat pokoknya.
"Kalian makannya udahan belum? Lanjut lagi nih." lerai Rafael yang sudah selesai.
"Iya, iya. Bentar, gue minum dulu." lanjut Dicky dengan cepat meneguk es tehnya yang tersisa setengah.
"Lo, Rel?"
"Udahan gue. Yaudah, yuk lanjut."
Para cowok kini mulai berkutat lagi membuat rumah pohon. Tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar. Intinya itu hanya untuk bersenang-senang saja. Mungkin kalau untuk muatan 7 orang cukup.
"Emangnya muat ya kalo kita semua masuk ke dalam?" gumam Dena sambil meneliti.
"Muat-muatin aja lah, Na. Hahaaa." balas Dewi tertawa.
"Ish! Bakalan roboh yang ada kalo dipaksa."
"Gak dipaksa. Kan biar gantian gitu masuknya kalo gak muat."
"Weh! Tumben otak lo pinter, Ris." celetuk Anna memuji Risty.
"Gue emang pinter. Lo nya aja yang rabun gak bisa ngeliat otak gue."
"Lah jelas lah, Ris. Orang otak lo aja di dalam kepala. Kalo di luar sih masih bisa diliat. Atauga kepala lo itu transparan gitu."
"Lo aja. Gue gak mau." balas Risty bergidik membayangkan kepala transparan.
__ADS_1
"Hahahahaa..."
.
.
.
Berjam-jam mereka di sana akhirnya rumah pohon itu akhirnya jadi. Para cewek cukup takjub dengan keahlian para lelaki. Biarpun nakal tapi semuanya bisa dilakukan dengan pengecualian.
Para gadis yang tujuan awalnya ingin ke perkebunan teh pun menjadi lupa karena keasikan. Sekarang mereka malah duduk di rerumputan di bawah pepohonan.
"Rel, itu rumah pohonnya kalian bikinnya kapan?" tanya Dena penasaran.
"Udah lama kok. Cuman sekarang baru bisa selesai." jawab Fairel yang dibalas anggukan oleh Dena.
"Hebat banget ya kalian. Bertiga ngerjainnya trus berhasil. Gue salut." puji Dena terang-terangan.
"Harus dong. Cowok mah harus bisa semuanya. Masak aja gue bisa apalagi nyuci."
"Ah masa sih, Rel. Gue kok ragu ya?"
"Terserah lo dah kalo gak percaya."
"Iya deh iya percaya."
"Lo kapan balik?" tanya Fairel sambil mendongakmenatap Dena yang saat itu duduk tegak sementara dirinya berbaring dengan lengannya sebagai bantalan.
"Mungkin minggu depan. Kenapa? Lo gak sabar ya pengen cepet-cepet ngeliat gue balik ke Jakarta?"
"Gak. Bukan gitu maksud gue. Gue kan cuman nanya aja. Salah ya?"
"Eh! Rel. Lo... ngapain?" Dena seketika gugup saat Fairel berpindah tempat. Kini pahanya dijadikan bantalan oleh pemuda itu.
"Tangan gue pegel. Numpang bentar ya?"
"I-iya."
Jantung gadis itu berdetak lebih cepat. Ia tidak tau rasa apa ini. Karena untuk pertama kalinya gadis itu diposisi yang cukup berdekatan. Dena pacaran, memang iya. Namun, hanya sebatas pegangan tangan saja. Tapi, rasanya sungguh berbeda tidak seperti rasa yang sekarang.
Berpegangan tangan pun Dena langsung ketahuan oleh sang Papa apalagi macam-macam. Mungkin ia akan dikurung di dalam rumah ataukah lebih dari itu.
Fairel di posisi itu cukup nyaman membuatnya memejamkan mata. Cukup rindu dengan pelukan seorang perempuan. Bayang-bayang itu tiba-tiba muncul di kepalanya.
Kedua orang tuanya bercerai. Fairel ikut bersama Ibunya dan tinggal menetap di desanya sedangkan Papanya, entahlah, Fairel tidak memikirkan keberadaan laki-laki itu. Mungkin sekarang sudah berumah tangga lagi. Pikirnya.
Bertahun-tahun Fairel hidup bersama Ibu dan Pamannya(adik Ibunya) lalu sang Ibu meninggal karena penyakit kanker yang dideritanya membuatnya meninggalkan sang anak.
Hidup dengan Paman berserta bibinya membuat Fairel bersyukur. Setidaknya masih ada orang-orang yang begitu menyayanginya. Bahkan Fairel memanggil Pamannya dengan sebutan Papa.
"Na." panggil Dewi.
"Hmmm..."
"Tidur?" tanya Dewi meneliti Fairel.
"Gak tau."
"Udah mau malam. Balik yuk! Sekalian anteri lo pulang."
"Eh! Iya, ternyata udah mau malam. Bentar, gue bangunin dia dulu."
__ADS_1
"Oke."
"Rel." Dena menggoyang lengan pemuda itu. Kakinya terasa kesemutan karena di terlalu lama diposisi itu apalagi ada Fairel yang menjadikan pahanya sebagai bantalan.
"Arel."
"Mmmmm." pemuda itu hanya bergumam.
"Udah mau malam... Fairel."
"Bangun, Rel. Pulang yuk!"
Dena menatap Dewi dengan penuh harap. Semoga temannya itu membantu atau memberi saran.
"Pegang keningnya. Ntar juga bangun." ucap Dewi yang sudah tau kebiasaan Fairel. Setiap pemuda itu tertidur pasti Dicky dan Rafael yang membangunkan dengan cara memegang keningnya.
Mereka berenam cukup dekat. Apalagi Dewi yang terikat hubungan keluarga dengan Fairel.
Dena menurut. Gadis itu meletakkan telapak tangannya di kening Fairel. Tidak lama pemuda itu membuka matanya.
"Maaf, Na. Lo pasti pegel ya?" ujar pemuda itu tidak enak. Niat hati ingin menumpang sebentar eh malah kebablasan tertidur.
"Gak pa-pa kok. Santai aja. Udah mau malam nih, gue mau pulang."
"Mau gue anterin gak?"
"Gak usah, Rel."
"Beneran? Lagain kalo mereka yang anterin pasti bolak balik karna gak searah. Lagian gue juga bawa motor kok."
Dena berpikir apakah menerima tawaran Fairel ataukah tidak. "Beneran? Gak ngerepotin kan?"
"Enggak kok. Santai aja, yaudah, yuk gue anterin."
"Gue pulang duluan ya?" pamit Dena kepada teman-temannya.
"Iya. Hati-hati, Na. Kapan-kapan kita ke sini lagi." sahut Dewi begitu juga dengan Anna dan Risty.
"Ky, Raf. Gue juga pulang."
"Iya. Hati-hati bawa motornya. Ngebonceng anak orang itu." celetuk Dicky.
Keduanya berpamitan duluan. Dena naik ke atas motor Fairel begitu pemuda itu siap. Fairel mengendarai motornya dengan pelan.
Tidak terasa motor yang dikendarai Fairel telah sampai di depan rumah Kakek Hari. Ternyata Kakek duduk di teras rumah sambil membaca koran. Mungkin menunggu sang cucu pulang.
"Maaf, Kek, kemalaman ngangerin cucu Kakek."
"Gak pa-pa. Makasih ya udah nganterin cucu Kakek. Kakek khawatir kalau pulangnya malam."
"Iya, Kek. Kalau gitu Arel pulang ya, Kek. Dahh Kakek... Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Pemuda itu berpamitan sopan. Lalu pulang ke rumahnya.
"Kek, tadi Papa nelfon nanyain Kakek. Trus Dena bilang kalo Kakek nggak ada."
"Yaudah. Gih! kamu mandi siap-siap ke masjid."
"Iya, Kek."
__ADS_1