Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 20


__ADS_3

"Tolong jagain yang lain. Tolong juga jagain Kakek gue. Bisa kan? Bantuin Kakek kalo ke kebun, ke sawah. Lo mau kan? Hehe..."


Yang diajak bicara hanya diam membisu membuat Dena salah tingkah. Percuma saja ia bicara panjang lebar kali tinggi, tapi yang diajak bicara malah diam, menatapnya dalam diam. Ingin sekali gadis itu mencongkel kedua bola mata yang tidak berkedip sama sekali itu. Hehehe.


"Rel... lo-dengerin gue gak sih?" tanya Dena menatap balik manik mata Fairel.


"Apa?"


'Astaghfirullah, ini orang bener-bener. Gue udah capek bicara panjang kali lebar kali tinggi, tapi responnya gini amat'


Dena hanya tersenyum kikuk. Ah, sudahlah. Gadis itu kembali membalikkan badannya membelakangi Fairel lalu berniat untuk mendekati teman-temannya.


"Kalo bicara jangan setengah-setengah!"


Deg


Jantungnya seakan melompat dari tempatnya. Apa ini? Tangannya ditarik hingga membuat gadis itu menghentikan langkahnya. Oh Tuhan... bisakah engkau memberikanku kekuatan. Dena membatin.


"K-kena-pa?"


"Gak pa-pa. Cuman mau bilang makasih."


"Makasih buat?" tanya balik Dena menatap Fairel.


"Makasih buat waktunya. Makasih udah mau temanan sama gue yang nakal."


Dena tersenyum menanggapi. "Makasih juga udah mau temanan sama gue, Rel. Lo baik meskipun rada ngeselin, keras kepala. Tapi, makasih juga buat waktunya yang berharga."


"Sama-sama." balas Fairel seraya tersenyum tipis.


"Gue pamit. Tolong pegang kata-kata gue tadi?" Fairel menganggukkan kepalanya.


Tampak Dena merogoh kocek jaket kebesarannya. Gadis itu mengeluarkan sebuah jam tangan lalu menyodorkannya ke arah Fairel.


"Buat lo." ujarnya.


"Makasih, bagus."

__ADS_1


"Sama-sama. Simpen ya?"


Fairel mengangguk sebagai respon. Memasukkan jam tangan itu ke dalam saku celananya.


Selang beberapa menit terdengar pengumuman keberangkatan pesawat (Boarding announcement). Dena segera berpamitan lalu meninggalkan tempat. Gadis itu melambaikan tangannya sambil tersenyum. Mereka semua membalas lambaian tangan Dena. Perlahan tubuh gadis itu tidak terlihat.


"Ouhh... mari, kita pulang, Kakek?"


"Ah, ya, ya. Kita pulang, ayo!" ajak Kakek lalu mereka semua meninggalkan bandara. Kembali pulang ke desanya.


.


.


.


Dena menempati kursi dibagian belakang. Gadis. itu tampak aman-aman saja duduk anteng di kursinya dengan sabuk pengaman yang sudah terpasang aman.


Dena duduk tepatnya di posisi jalan. Sedangkan di sampingnya itu kosong. Entahlah, penumpang di samping kursinya itu ada ataukah tidak. Dena sudah siap dengan bantalan lehernya dan juga penutup mata. Gadis itu mulai mengenakan penutup matanya lalu perlahan memejamkan kedua matanya. Suara-suara bising yang masuk ke telinganya bahkan tidak membuat ia terganggunya.


Dena tidak berniat untuk tidur, gadis itu hanya ingin memejamkan matanya sejenak.


Sontak Dena langsung membuka penutup matanya lalu menatap seorang wanita yang tengah berdiri di sampingnya. Dena tersadar, mungkin itu adalah penumpang di samping ia duduk.


"Oh, ya. Maaf, silahkan." Dena keluar terlebih dahulu agar memudahkan wanita itu masuk dan menduduki kursinya dengan nyaman.


"Makasih, Dek." ujar wanita menebak.


"Sama-sama, Kak." balas Dena yang kini sudah duduk di kursinya. Gadis itu sudah tidak mengenakan penutup matanya entah kenapa, ia hanya mengenakan bantalan leher agar lehernya nanti tidak terasa pegal.


"Sendirian, Dek?" tanya wanita yang umurnya kisaran dua puluhan.


"Hehe. Iya, Kak. Kakak juga sendiri?"


Wanita itu mengangguk sebagai respon. "Tujuan ke mana?"


"Jakarta, Kak."

__ADS_1


"Oh ya? Berarti kita sama dong. Kakak juga mau ke Jakarta."


"Kakak asli Jakarta juga?" tanya Dena.


"Iya, kamu?"


"Iya, Kak. Abis liburan di kampung Kakek, Kak. Jadinya sekarang mau pulang karna waktu libur udah mau habis. Kakak ke sini juga liburan? Atau pekerjaan?" cerca gadis itu dengan banyak pertanyaan.


Wanita itu tidak menjawab, hanya diam melamun.


"Ah, maaf, Kak. Karna udah bikin Kakak gak nyaman."


"Nggak pa-pa, Dek. Kakak ke sini cuman mau nyusulin pacar kok. Ralat, mantan maksudnya." jawab wanita itu.


"Kok mantan, Kak? Tadi katanya pacar. Yang bener yang mana nih?"


"Mantan kok, Dek. Karna Kakak baru aja putus tadi malam."


Tampak raut wajah terkejut Dena. Gadis itu cukup penasaran. Tidak apa-apa kan ia sedikit bertanya tentang urusan orang dewasa?


"Loh... kok putus, Kak?"


"Kakak boleh curhat gak? Gak pa-pa kan? Tapi, rahasia ya?"


Dena tersenyum menanggapi. Tidak perlu susah-susah ia mengajukan pertanyaan, tapi, orangnya mau menceritakan sendiri.


"Gak pa-pa kok, Kak. Anggap aja Adek sendiri, hehe. Oh ya. Nama Kakak siapa kalo boleh tau? Aku Denada, Kak. Panggil aja Dena." gadis itu mulai mengulurkan tangannya.


"Salam kenal kalau gitu, Dek. Nama Kakak Cahya Nabila. Terserah mau panggil apa, senyaman kamu aja." balas wanita yang bernama Cahya Nabila itu sambil membalas jabatan tangan Dena.


"Aku panggil Kak Cahya aja, hehe."


"Silahkan, Dek."


.


.

__ADS_1


.


Dek Dena boleh ikut kenalan ga? ๐Ÿคญ๐Ÿคฃ


__ADS_2