
Sudah seminggu lebih sejak pertengkaran Dena dan sang papa, sampai saat ini pun gadis itu masih belum berbaikan. Sedangkan Wira yang tengah sibuk di kantor karena ada sedikit masalah pun tidak bisa melakukan hal banyak untuk membujuk putrinya. Setiap hari, pria itu selalu pulang malam. Dan sesampainya di rumah, semua orang di rumahnya sudah tidur. Dan setiap hari ini Wira selalu mendatangi kamar putrinya di tengah malam buta saat ia pulang dari kantor. Wira hanya bisa memandangi wajah teduh sang putri saat tertidur lelap. Pria itu selalu menyempatkan waktunya untuk mengecek kondisi Dena.
Sejak pembatalan kontrak secara sepihak rupanya membawa pengaruh yang lumayan besar terhadap perusahaannya. Pria itu selalu uring-uringan dan marah-marah tidak jelas di kantor. Membuat semua pegawainya merasa takut. Ya, akhir-akhir ini emosinya tidak stabil. Selain memikirkan pekerjaannya, Wira juga membagi pikirannya kepada sang putri.
Sampai saat ini pun Wira juga belum menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
Wajahnya yang dingin itu semakin menjadi saat ia melihat laporan keuangan perusahaan yang menurutnya ada kesalahan.
"Steve!" teriak Wira memanggil sekertarisnya.
Steve yang berada di luar pun langsung berlari masuk ke dalam saat mendengar suara bosnya. "Iya, Tuan?" ujar Steve siap sedia di samping mejanya.
"Panggil orang yang membuat laporan ini. Sekarang juga!" Wira melemparkan dokumen ke atas meja.
Steve langsung mengambil dokumen itu dan menelitinya. "Baik, Tuan." balas Steve meletakkan kembali dokumen tersebut ke atas meja lalu melenggang pergi untuk memanggil karyawan yang membuat laporan tersebut.
Di dalam ruangannya, Wira memijit kepalanya yang terasa pusing. Ia mengantuk karena semalam harus kembali lembur. Perusahaannya sekarang tidak stabil. Masalahnya ada ada di Tuan Williams. Produk perusahaannya yang baru akan ia luncurkan malah diplagiat oleh perusahaan milik Tuan Williams dengan kombinasi yang berbeda. Hal itu membuat semua investornya malah berpindah ke perusahaan Tuan Williams. Mengingat itu membuat Wira menggeram kesal. Saat ini ia masih menyelidiki dalang dari masalah tersebut.
Tok... tok... tok...
Steve kembali ke ruangan Wira. Pria itu mengatakan bahwa karyawan yang membuat laporan tersebut sudah berada di luar ruangan.
"Suruh masuk!" titah Wira menegakkan tubuhnya dan membenarkan dasi yang sempat ia kendurkan.
"Baik, Tuan." Steve pun pamit undur diri.
"Silahkan masuk." ujar Steve memberitahu kepada karyawan wanita itu.
"Baik, Pak." jawab wanita itu menganggukkan kepala. Ia pun masuk setelah dipersilahkan.
Kini wanita itu sudah berdiri di hadapan meja bosnya dengan perasaan gugup. "Maaf, Pak. Ada apa Bapak memanggil saya?" tanya wanita itu membuat Wira mendongakkan kepalanya. Senyum pria itu menyungging.
"Kamu tau apa kesalahanmu?" tanya Wira dingin.
"Maaf, Pak. Kalau boleh tau, di mana letak kesalahan saya?"
Wira mengambil dokumen yang tergeletak di atas mejanya dan menghempaskannya begitu saja.
"Kamu mau memperburuk suasana?" kata Wira.
__ADS_1
Wanita tersebut langsung mengambil dokumen itu dengan tangan yang bergetar. Ia membaca dengan teliti laporan tersebut. Sesaat, matanya langsung membulat.
"Kamu sudah tau?" ucap Wira.
"Maaf, Pak. Saya salah." balas wanita itu mengakui kesalahannya. Kepalanya menunduk karena saking takutnya melihat bosnya yang kian hari kian menyeramkan. Bahkan tidak segan Wira memarahi karyawannya yang tidak becus kerja. Yang sering menjadi korban adalah cleaning servis.
"Saya tidak mau tau. Kamu harus kembali membuat laporan tersebut dan ini..." Wira kembali menghempaskan empat dokumen tebal sekaligus. "Saya kasih kamu waktu satu hari untuk menyelesaikannya. Dan paling lambat besok pagi."
"A-apa? Sebanyak ini?" tanya wanita itu terkejut.
"Ya."
"Pak, kasih saya waktu lagi. Ini terlalu banyak, Pak, untuk diselesaikan dalam waktu singkat. Apa bapak sedang bercanda?"
"Ck! Kalau tidak bisa, kamu saya pecat!!" seru Wira menggelegar.
Sontak wajah cantik itu langsung memucat. "J-jangan, Pak. S-saya akan melakukannya. Tapi, berikan waktu lagi, Pak."
Wira terdiam sejenak sambil berpikir. "Baik. Saya kasih kamu waktu sampai besok malam. Dan dokumen-dokumen ini sudah harus ada di hadapan saya langsung."
"Maksudnya?"
"Apakah kau mengerti, Nona Cahya Nabila?"
Deg
Jantung Cahya langsung berdetak kuat. Wajahnya langsung memucat. Mati lah dirinya karena harus menyelesaikan empat dokumen tebal dalam waktu satu hari.
"M-mengerti, Pak." cicit Cahya pelan.
"Ya, silahkan keluar!" usir Wira.
Cahya hanya menganggukkan kepalanya. Ia langsung keluar dari ruangan Wira dengan lesu. Sesampainya di luar, ia melihat Steve yang menatapnya iba.
"Semangat!" ujar Steve mengepalkan tangannya ke udara.
Cahya mengangguk lemah. Ya, mungkin ini adalah resikonya. Tapi, Cahya tidak rela kalau hukumannya seberat ini. Padahal letak kesalahannya hanya satu. Yaitu salah meletakkan urutan.
Begitu Cahya keluar, Steve yang masuk. Ia melihat bosnya yang tengah tersenyum. "Pak, bukankah ini keterlaluan? Kesalahannya juga tidak terlalu fatal." ujar Steve mencoba membantu rekan kerjanya dengan cara membujuk bosnya.
__ADS_1
"Kau membelanya?" Steve langsung gelagapan. Sudahlah, ia lebih baik menyerah saja dari pada membangunkan singa yang sedang tidur nyenyak.
•••
Dirasa sudah cukup lelah, akhirnya Wira memutuskan untuk pulang. Ia bangkit dari kursinya lalu mengambil jasnya yang tersampir di sandaran kursinya.
Suasana malam sunyi ini membuatnya sedikit lebih tenang. Beberapa lampu di dalam ruangan dalam keadaan gelap. Tapi, Wira melihat satu ruangan yang terdapat cahaya dari salah satu meja.
Seakan penasaran, akhirnya Wira mendekat. Hatinya menjadi tidak tega saat melihat karyawan yang baru saja ia berikan hukuman. Ia sadar kalau hukuman tersebut sangat keterlaluan.
Tampak di dalam ruangan divisi administrasi, ada seorang wanita yang berkutat di hadapan layar komputer yang menyala. Sesekali ia melihat dokumen di tangannya. Tidak sering wanita tersebut menguap lantaran merasakan kantuk. Ya, bagaimana tidak mengantuk. Ini sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Mungkin jika dilihat, hanya ada wanita tersebut dan security yang berjaga.
Setelah cukup lama mengamati, Wira pun langsung pergi. Ia tidak sabar untuk segera sampai ke rumah dan mendatangi kasur empuknya.
Tepat jam sebelas malam, pintu kamar Dena diketui berulang kali. Gadis itu tertidur lelap itu langsung terusik. Dengan mata setengah terbuka dan langkah pelan, ia berjalan menuju pintu kamarnya.
"Bibik?" seru Dena dengan suara seraknya.
"Kenapa, Bik?" tanya Dena sambil menggosok kedua matanya.
Tampak wajah panik dari asisten rumah tangganya. Dena semakin bingung dibuatnya. Padahal ini masih di tengah malam buta.
"T-tuan, Non." ujar Bik Marsih terbata.
"Kenapa dengan papa?" tanya Dena yang tidak bisa menyembunyikan raut khawatirnya.
"Papa udah pulang kan, Bik?" ulang Dena mencoba bersikap tenang. Tidak dipungkiri hatinya yang kesal kepada sang papa kini berganti dengan rasa khawatir. Biar bagaimana pun juga Wira adalah sang papa, orang satu-satunya yang ia punya di kehidupannya.
"T-tuan ke-celaka-an, Non."
Deg
Mata yang awalnya sayup-sayup itu kini terbuka lebar. Rasa sesak di dadanya langsung mengeruak. Matanya langsung mengembun tanpa aba.
.
.
.
__ADS_1
karma itu nyata loh pak🤣 tp btw kasian juga yak😌