
"Arelllll, kiss me please!" Dena memajukan bibirnya ke hadapan Fairel.
Sejak hari pertamanya mengucapkan itu, Dena malah semakin menjadi-jadi. Setiap bertemu Fairel, gadis itu selalu meminta Fairel untuk memberikannya ciuman. Sebenarnya Dena hanya menggoda saja, ia sangat senang saat melihat Fairel berkeringat karena gugup.
"Nggak!" tekan Fairel langsung meletakkan jari telunjuknya di kening Dena dan mendorongnya sedikit. Fairel mati-matian untuk menahannya. Setiap berdekatan dengan Dena, gadis itu selalu menguji kesabarannya.
"Satu kali, Rel." bujuk Dena menunjukkan wajah imutnya.
"Enggak ya enggak! Otak lo jadi geser gini gara-gara liat yang aneh-aneh."
"Salahin aja papa." balas gadis itu lalu menegakkan tubuhnya kembali. Ia tidak lagi menggoda Fairel.
"Nah gitu diem kek." Fairel langsung berjalan perlahan, meninggalkan Dena yang berdiri di pinggir jalan.
"Relll!! Tungguin napa." teriak Dena langsung mengejar pemuda itu.
"Makanya cepetan. Udah mau sore." seru Fairel.
"Tas gue berat, Rel. Isinya buku semua." balas Dena yang mulai kelelahan menggendong tas sekolahnya.
Ya, gadis itu baru saja pulang sekolah. Dan yang lebih menyenangkan lagi yaitu Fairel menjemputnya. Saat baru saja tiba di gerbang sekolah, Dena melihat sosok pemuda yang berdiri di sisi luar gerbang. Dena awalnya ragu untuk menyapa karena ia takut salah orang. Namun, setelah mendekatinya, gadis itu baru sadar kalau itu adalah Fairel.
Awalnya Dena bingung karena tumben-tumbenan Fairel menjemputnya. Dan pemuda itu mengatakan bahwa ia telah izin kepada Wira untuk menjemput Dena sekolah dan mengajaknya jalan-jalan sebentar. Fairel juga mengatakan kepada Pak Haryo agar tidak menjemput Dena pulang karena gadis itu akan pulang bersamanya. Ini adalah kali pertamanya Fairel menjemput gadis itu dan ia rela menunggu di depan gerbang seperti orang tidak waras.
Fairel yang mendengar gadis itu mengeluh pun melambatkan langkah kakinya. Ia menangkap tas Dena dan mengangkatnya ke udara dalam keadaan tas tersebut masih berada di punggung Dena.
"Arell, tanggung banget." rengek Dena memprotes. Kenapa tidak sekalian saja pemuda itu membawakan tasnya. Kalau begini kan ia menjadi sudah berjalan, seakan-akan ia menjadi budak Fairel.
"Biar adil." jawab Fairel tanpa melepaskan tas Dena yang ia angkat sedikit ke atas. Gadis itu hanya mendengus kesal.
"Capek, Rel." adu Dena berhenti berjalan. Jelas gadis itu capek, selain capek fisik, ia juga capek pikiran karena seharian otaknya bekerja.
Fairel menatap Dena kasihan. Pemuda itu langsung melepaskan pegangannya di tas Dena. Membuat gadis itu seketika merasakan beban tasnya langsung terasa di punggungnya. Dena melirik Fairel yang berhenti.
Fairel yang saat itu mengenakan sweeternya pun langsung melepaskannya. "Tasnya lepas." suruh Fairel.
Dena yang dilanda bingung pun tidak langsung melepaskan tasnya yang ia gendong. "Apanya?" beo Dena. Gadis itu pikir kalau Fairel kepanasan makanya membuka sweeter tebalnya.
Fairel yang gemas pun langsung melepas paksa tas yang Dena gendong. "Pegang." ujarnya memberikan tas itu kepada pemiliknya. Dena bingung, namun, ia segera mengambil tas dari tangan Fairel.
Tiba-tiba Fairel memasangkan sweeternya ke tubuh Dena. Pipi Dena langsung merona saat lubang kepala sweeter itu lolos di kepalanya. "Tangannya masukin." pinta Fairel menuntun Dena memasukkan tangannya ke lengan sweeternya.
Dena menurut, ia melepaskan sebelah tangannya yang memegang tas kemudian tangannya perlahan masuk ke dalam ronga-rongga lengan sweeter itu. Hal itu ia lakukan bergantian hingga kini sweeter kebesaran itu melekat di tubuhnya. Ujung sweeter itu bahkan hampir setara dengan rok abu selututnya. Badannya langsung ditelan oleh sweeter kebesaran itu.
"Makasih, Rel." ucap Dena sambil tersenyum. Fairel yang melihat itu pun segera mengalihkan pandangannya karena tidak kuat melihat senyuman manis gadis itu.
__ADS_1
Keduanya kembali berjalan menyusuri trotoar, melewati banyaknya toko-toko kue dan lainnya.
"COPETTTT COPETTTT!!!"
Seketika Dena melirik Fairel yang juga ternyata meliriknya juga. "Lo denger juga, Rel?"
"Iya." jawab Fairel semakin menajamkan kedua telinganya.
Suara itu kini kembali terdengar bahkan lebih jelas. Dena dan Fairel melihat seseorang yang berlari kencang. Tampilannya itu seperti mencurigakan karena dia mengenakan pakaian yang tertutup serba hitam. Saat pria itu berlari ke arah mereka, Fairel segera menarik tangan Dena untuk berlindung di belakangnya. Ia sudah mengambil ancang-ancang
Brukk
Tiba-tiba pria itu terjatuh tepat di dekat mereka saat Fairel mengulurkan kakinya yang panjang ke tengah-tengah trotoar, sedangkan Dena kini berada di belakangnya.
Pria itu sempat meringis lantaran terjatuh sempurna di jalan trotoar. Dia mengangkat wajahnya dan melirik Fairel yang dengan beraninya sudah menghadangnya. Beberapa kumpulan orang sudah mulai terlihat, namun, mereka tampak terdiam hanya memperhatikan tanpa adanya niat membantu.
Baik Dena dan Fairel juga sama-sama melihat sebuah dompet berukuran sedang yang tergeletak di trotoar, bertepatan dengan dengan kaki Fairel. Pemuda itu langsung mengambil dompet itu dan menepuk-nepuknya sedikit karena terkena debu.
Dena yang melihatnya lumayan takut dengan tatapan mengerikan si copet saat pria itu bangkit dan berdiri dengan tubuhnya yang penuh tato.
"Balikin!" ujar pria itu kepada Fairel agar segera mengembalikan dompetnya.
Fairel mengangkat sebelah alisnya dan menunjukkan dompet yang berada di tangannya. "Lo kalo mau nyopet jangan di tempat rame. Sonoh di hutan, gak bakal ada yang teriak-teriak kecopetan." sahut Fairel.
"Lo nantangin?" pria itu sedikit mengeraskan suaranya. Dan sekumpulan orang yang melihatnya langsung bergidik ngeri.
Pria itu langsung marah karena merasa dirinya diejek oleh Fairel. Ia melangkah maju dan bersiap-siap untuk menyerang Fairel. Namun, sebuah teriakan melengking langsung menyapa telinga mereka. Sampai-sampai pria pencopet itu terkejut.
"YAAAAKKKKKKK!!!"
Fairel sampai terjanjat kaget karena suara itu begitu jelas di telinganya. Ya, yang berteriak adalah Dena. Sungguh! Gadis itu tidak tahan dengan kondisi ini. Ia tidak rela kalau Fairek sampai dipukul babak belur. Padahal yang ia tau Fairel itu juga tidak kalah beringasnya kalau sedang bentrokan dengan penjahat.
"Udah tua masih aja nyopet. Ingat umur, tuh udah ubanan." ujar Dena sambil mengangkat tinggi tasnya untuk menggertak pria itu.
Namun, rupanya gertakan Dena tidak berhasil. Buktinya pria itu malah tersenyum sinis ke arahnya.
"Bocah ingusan jangan ikut campur! Balik aja ke rumah trus nangis-nangis sambil ngadu ke orang tua." ejek pria itu membuat Dena melototkan matanya.
"Kurang ajar!" Dena yang geram langsung bergerak cepat menubruk tubuh pria itu dengan keras menggunakan tasnya. Pria yang tidak menyangka akan mendapat perlakuan seperti itu pun terkejut dan tidak sempat untuk menghindar.
Dena sangat sangat marah. Ia meluapkan kemarahannya itu dengan memukuli pria itu menggunakan tasnya yang lumayan berat itu. "Rasain nih! Makan tuh bocah. Awas aja lo nunjukin muka lo yang kayak monyet itu. Cih! JELEK KAYAK KUALI GOSONG!!" teriak Dena tidak terkontrol. Ia memukuli pria itu dengan keras. Membuat sang pencopet meringis karena mendapat serangan bertubi-tubi. Bahkan ia tidak bisa membalasnya karena pergerakan Dena sangat lincah.
"Na, udah, Na. Ntar mati anak orang." lerai Fairel cukup takjub dengan keberanian gadis itu.
"Gue belum puas ya, Rel. Sampai pria jelek ini tobat!! Lo mau masuk neraka hah!! Gue masih baik ya kasih ceramah buat elo. Kesellll bangett gue!!!"
__ADS_1
*Bughh
Bughhh
Bughhh*
"Na, udah, udah. Biarin aja dia pergi. Yang penting dompetnya gak diambil." Fairel cukup dibuat kewalahan karena tenaga Dena cukup kuat. Tarikannya justru tidak membuat gerakan tangan Dena melemah.
Fairel harus segera melakukan sesuatu untuk menghentikan gadis itu. Fairel juga takut kalau pria pencopet itu justru mati konyol di tangan gadis berusia 17 tahun.
Fairel menarik kuat tangan Dena hingga gadis itu berbalik menghadapnya. Fairel langsung memeluk erat tubuh Dena dan mengunci pergerakan gadis itu yang masih meronta di pelukannya.
"Sssttt..." ringis pria itu dengan tubuh dan wajah sudah lebam di beberapa bagian. Ia menyentuh pipinya yang membiru karena pukulan dari Dena. Rupanya tidak sia-sia Dena membawa buku sebanyak itu. Ya, walaupun punggungnya cukup letih karena membawa beban itu.
"Pulang, Bang. Lo mau mati di sini?" tegur Fairel kepada pria yang terbaring lemah di atas trotoar. Pria pencopet itu langsung berlari terbirit-birit. Nasibnya sungguh sialll bertemu dua remaja itu. Yang satunya tidak takut kepadanya dan yang satunya lagi malah membuatnya babak belur.
Fairel menghembuskan nafasnya lega. Seketika ia menatap sekeliling di mana sekumpulan orang-orang sudah sebagian pergi dengan bisik yang mengatakan bahwa Dena itu sungguh hebat. Dalam hatinya Fairel tersenyum karena tingkah Dena yang berani dan tidak takut. Tapi, mungkin itu adalah pengalaman pertama, dan Fairel tidak akan mengizinkan hal itu terjadi lagi.
"Ngapain sih kayak gitu?" ucap Fairel pelan dengan kedua tangannya yang masih mendekap tubuh Dena yang sedikit bergetar.
Dena hanya menggelengkan kepalanya. Jujur, ia sedikit nyaman dengan posisinya sekarang. Ia dipeluk sangat erat oleh Fairel.
"Lain kali jangan gitu lagi. Bahaya! Iya kalo ada gue, kalo engga gimana? Gak yakin kalo lo bakal selamat." omel Fairel.
"Rel." lirih Dena memanggil.
"Apa lagi?" tanya Fairel.
"Kiss me." sontak Fairel langsung melepaskan pelukannya dan langsung menyentil dahi Dena cukup kuat hingga membuat gadis itu meringis.
"Awwwsssss... sakit, Rel." rintih Dena merasa dahinya sedikit panas.
Melihat itu membuat Fairel tidak tega. Ia beralih mengusap-usap dahi Fena yang sedikit memerah karena ulahnya. Tiba-tiba Fairel mendekatnya wajahnya.
Cup
Dena merasakan beberapa detik ketika benda kenyal itu menempel sempurna di keningnya. Membuat bola mata Dena melebar dengan mulut yang terngaga.
"Lunas." ujar Fairel menjauhkan wajahnya lalu langsung melenggang pergi meninggalkan Dena yang mematung. Fairel tidak benar-benar pergi, lebih tepatnya ia berjalan menuju seorang wanita paruh baya yang berdiri tidak jauh dari mereka. Fairel beranggapan bahwa dompet wanita tersebutlah yang sudah dicopet.
"Aaaakkkkkkk, mamaaaaa. Dena meleyot!!!" pekik Dena dalam hati. Ia memegang kedua pipinya yang terasa memanas. Mengingat momen singkat Fairel mengecup keningnya.
.
.
__ADS_1
.
lunas ya Na๐