Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 79


__ADS_3

Duduk satu mobil bersama Fairel adalah salah satu hal yang membuat Dena bergetar. Secara tidak langsung hatinya berkata sangat mengagumi pemuda itu. Dengan tampilannya seperti itu membuat Fairel seperti pembisnis muda. Belum lagi dengan wajahnya yang tampan. Seperti membius kalangan perempuan.


Pak Haryo yang menyetir merasa bagaikan patung yang melihat pemiliknya sama-sama terdiam, tidak ada yang berniat untuk membuka obrolan.


"Na." panggil Fairel terlebih dahulu membuka suara karena merasa suntuk hanya terdiam. Dena langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan tanda tanya.


"Makasih." ucap Fairel pelan.


"Apa?" beo Dena masih tidak mengerti.


"Makasih untuk semuanya." Fairel masih memandangnya lekat. Membuat Dena dilanda rasa gugup. Tanpa sadar ia ikut membalas tatapan mata Fairel.


Keduanya beradu pandangan. Saat itu juga Dena langsung memutus kontak mata mereka begitu saja. Ia tidak tahan untuk berlama-lama memandangi pemilik mata berwarna hitam pekat itu.


Fairel juga seakan tersadar. Ia berdehem singkat sembari menegakkan tubuhnya ke bersandar ke belakang.


Keduanya terdiam untuk sesaat. Mobil yang mereka tumpangi itu berjalan dengan kecepatan sedang. Saat sedang memandangi ke arah luar, dari arah jauh Dena sudah melihat pedagang kaki lima yang sepertinya menjual gulali.


Dena sontak memekik, meminta Pak Haryo untuk memberhentikan laju mobilnya.


"Ada apa, Non?" tanya Pak Haryo bingung saat anak majikannya meminta untuk berhenti. Padahal mereka belum sampai setengah perjalanan pulang.


"Tunggu di sini ya, Pak. Bentar doang kok." jawab Dena sambil melepas sabuk pengamannya.


"Ayok, Rel!" Fairel mengernyitkan dahinya bingung karena Dena mengajaknya untuk keluar. Hatinya bertanya-tanya, ada apa?


"Ngapain?" tanya Fairel bingung.


"Udah, ikut aja." Dena menarik-narik lengan jas yang dikenakan Fairel berharap agar pemuda itu menuruti perkataannya.


Fairel yang diperlakukan seperti itu pun luluh. Ia menghembuskan nafasnya panjang. "Ya udah, ayo!" ujar Fairel mengalah. Keduanya pun keluar secara bersamaan dari dua pintu yang berbeda.


Fairel berjalan mengitari mobil untuk mendekati Dena. "Mau itu, Rel." tunjuk Dena ke arah pedagang kaki lima yang berada di pinggir jalan. Gadis yang sedang antusias itu langsung menarik tangan Fairel.


Fairel cukup terkejut saat tangannya di tarik tiba-tiba. Bukan itu masalahnya, namun, yang menjadi masalah adalah tangan mereka yang bertaut. Sepanjang mereka melangkah, Fairel tidak fokus ke jalanan. Malah dirinya fokus kepada kedua tangan mereka yang saling menggenggam. Lebih tepatnya Dena yang menggenggamnya cukup erat. Tanpa sadar Fairel menarik kedua ujung bibirnya ke atas. Ia juga mengeratkan genggamannya tangannya.


Tidak sadar mereka sudah berada di depan gerobak pedagang kaki lima. Terdapat banyak gulali di dalam bungkus plastik putih digantung di besi-besi payung besar itu. "Gulalinya satu ya, Pak."


"Lo mau, Rel?" tanya Dena kepada Fairel yang masih terdiam. Jelas pemuda itu terdiam karena saat ini tautan tangan mereka belum juga terlepas.


"Lo aja." jawab Fairel menolak.


"Oke. Satu ya, Pak."


Bapak-bapak penjual gulali tersebut sedari tadi tersenyum ke arah mereka sejak keduanya datang. Si bapak pun menganggukkan kepalanya serasa tersenyum, ia menggunting tali yang mengikat gulali tersebut.


"Ini, neng." unjuk si bapak memberikan satu bungkus gulali berukuran sedang.


"Berapa, Pak?" tanya Dena merogoh tasnya. Otomatis tautan tangan mereka terlepas. Fairel yang merasakan itu langsung melihat tangannya yang terasa kosong. Ia pun menggerak-gerakkan jari-jari tangannya, lalu langsung ia masukkan ke dalam saku celananya.


"Lima ribu aja, neng."


Dena pun mengambil uang lembaran berwarna ungu dan memberikannya kepada si bapak. Saat akan mengembalikan uang kembaliannya, Dena malah menolak. "Kembaliannya ambil aja, Pak. Semoga dagangannya laris. Kalau gitu kami pamit dulu ya, Pak. Assalamu'alaikum." Dena kembali menarik tangan Fairel untuk bergegas pergi dari sana karena ia takut Pak Haryo lama menunggu.


Si bapak langsung terbengong melihat kepergian dua remaja itu. "Wa'alaikumsalam." jawabnya lalu tersenyum melihat uang lembaran berwarna jingga yang ia pegang.


โ€ขโ€ขโ€ข

__ADS_1


Berbeda dengan Dena yang sedang bahagia-bahagianya, kini sang papa malah merasakan hatinya yang seakan terbakar. Ia berteriak memanggil Steve. Teriakan ketiga lah pria yang menjabat sebagai sekretarisnya itu baru menampakkan diri.


"Ada apa, Tuan?" tanya Steve kelabakan karena sebelumnya ia pergi menemui salah satu karyawannya untuk mengambil berkas yang telah di copy.


"Kau ke mana saja, hah!!?" amuk Wira dengan emosi yang tidak terkontrol.


Steve yang merasakan aura tidak bersahabat dari bosnya langsung meneguk ludahnya kasar. "S-saya dari lantai bawah, Tuan. Mengambil berkas yang sudah dicopy." jawab Steve terbata.


Wira melemparkan sebuah kertas yang berukuran sedang ke arah Steve. Steve yang melihat itu segera memungut kertas yang teronggok di lantai.


Sesaat keningnya mengernyit kala melihat tulisan di kertas itu, lebih tepatnya seperti sebuah kartu undangan.


"Maksdunya apa, Tuan?" tanya Steve masih tidak mengerti.


"Kau lihat nama yang tercantum di situ?" tanya balik Wira. Steve menganggukkan kepalanya.


"Apakah kau juga mendapatkannya?"


Steve langsung gugup seketika. Dengan ragu ia menganggukkan kepalanya. "I-iya, Tuan."


"Semua karyawan mendapatkan itu. Apakah hanya aku yang tidak mendapatkannya?" tutur Wira sembari mengontrol emosinya. Sebenarnya bukan masalah dirinya yang tidak mendapatkan kartu undangan tersebut. Tapi, masalahnya adalah sang pemilik nama undangan.


"S-saya tidak tau, Tuan."


"Panggil dia kemari."


"Haa? Siapa, Tuan?" beo Steve, karena yang ia tau nama di undangan tersebut ada dua nama. Apakah nama sang wanita atau nama sang pria.


"Untuk apa aku menyuruhmu memanggil nama pria bodoh itu!?"


"B-baik, Tuan." kalau sudah begini, Steve tidak bisa berkata-kata lagi. Dengan langkah kaki seribu ia langsung berlari menuju lantai lift. Pria itu segera memencet tombol angka 7. Dan tidak lama liftnya pun terbuka.


"Cahya Nabila!" teriak Steve dengan suaranya menggelegar memenuhi ruangan itu. Nafasnya ngos-ngosan karena sehabis berlari. Ya, walau jaraknya tidak terlalu jauh, namun, hal itu dapat menimbulkan debaram jantungnya yang kuat mengingat betapa garangnya wajah sang pemilik perusahaan.


Pemilik nama yang mendapat teriakan langsung berdiri spontan. "Saat, Pak." jawab wanita itu yakni Cahya.


"Kemari!" titah Steve menggerakkan ujung jari telunjuknya.


Bisik-bisik karyawan yang ditempatkan di ruangan itu langsung terdengar. Cahya yang mendengar perintah pria itu langsung beranjak dari tempat duduknya. Ia terlebih dahulu singgah di meja kerja temannya yang duduk di sampingnya. "Tolong lanjutkan itu. Aku ada urusan sebentar." pinta Cahya kepada temannya.


"Okay."


"Ada apa, Pak?" tanya Cahya setelah ia berada di hadapan Steve.


"Ikut aku!" Steve berjalan terlebih dahulu tanpa menunggu jawaban dari bawahannya. Cahya yang melihat itu sontak berlari mengejar Steve.


Meski hati dan pikirannya bertanya-tanya, wanita itu tidak mau banyak bertingkah karena takut dirinya diamuk. Lagi lagi Cahya dibuat bingung saat Steve membawanya ke lantai teratas, tempat ruangan bosnya.


"Aku tidak tau kau melakukan kesalahan apa hingga Pak Wira berubah menjadi singa." ujar Steve disela-sela perjalanan mereka menuju ruangan Wira.


Cahya yang mendengar itu sempat bingung. Ia merasa tidak melakukan kesalahan lagi. Dan untuk apa ia dibawa kemari.


"Kau tunggu di sini." pinta Steve setelah mereka berada di depan sebuah pintu.


Cahya hanya mengangguk. Ia berdiri bagaikan anak kecil yang menunggu antrian mendapatkan permen.


"Tuan, dia sudah ada di depan." ujar Steve memberitahu.

__ADS_1


"Suruh dia masuk." balas Wira yang berada di kursinya. Ia mengendurkan dasinya yang terasa mencekik lehernya. Pria itu juga bangkit, berjalan di belakang Steve.


Saat pintu ditutup, ia berdiri tepat dibalik pintu. Menunggu kehadiran seseorang yang telah membuat hatinya panas dingin.


"Masuk aja, Pak Wira ada di dalam." ucap Steve menutup pintunya perlahan.


"Bapak mau ke mana?" tanya Cahya saat melihat Steve melangkah menjauh.


"Cari angin. Aku tidak ingin mendapatkan imbas atas semua kesalahanmu." jawab Steve setengah berteriak karena langkah kakinya sudah lumayan menjauh.


"Ya Allah. Kesalahan apa lagi yang kuperbuat." lirih Cahya merasakan debaran di dadanya semakin kencang. Ia merasakan aura dingin saat menyentuh gagang pintu itu.


Akhirnya wanita itu pun memberanikan diri untuk mendorong gagang pintu itu hingga kini pintunya terbuka perlahan. Saat pintu terbuka, tubuhnya pun masuk ke dalam ruangan itu perlahan. Ia tidak tau perasaan apa yang bersarang di dadanya. Tangannya langsung mendingin dan tubuhnya sedikit bergetar.


Cahya menutup pintu itu pelan. Saat ia mendongak, wanita itu merasakan sebuah tarikan di tangannya. Spontan ia memekik kaget. Tubuhnya di dorong hingga punggungnya menyentuh tembok yang lumayan dingin.


Mata yang awalnya terpejam kuat itu perlahan terbuka. Bagaikan petir yang menyambar di siang bolong, wanita itu terkejut karena melihat siapa orang yang telah menarik dan mendorongnya ke tembok. Bibirnya langsung terkunci rapat saat matanya tidak sengaja bertemu dengan bola mata yang begitu tajam seakan menusuk tubuhnya.


"B-bapak..." ucap Cahya terbata.


Di hadapannya ada Wira, sang bos yang begitu sangat menakutkan saat ini. Matanya menajam, serta wajahnya begitu datar. Cahya tidak tau kesalahan apa yang ia perbuat. Intinya, ia tidak lagi berurusan dengan pria itu.


Cahya menggerakkan tangannya yang dicekal cukup erat di samping tubuhnya. Namun, cekalan itu tidak juga terlepas. "K-kenapa?" tanya wanita itu. Perlahan Cahya membalas tatapan tajam pria itu yang sekaan menghunus tubuhnya.


"Aku sudah memberitahumu agar tidak berhubungan dengan pria itu. Tapi, nyatanya kau sudah mengabaikan perintahku." cetus Wira dengan nada bicara menekan.


"Hubungannya sama bapak apa?" tanya Cahya berani seakan menantang.


"Batalkan pertunangan sialann itu!" titah Wira.


Wanita di hadapannya langsung tersenyum sinis. "Itu hidup saya, bukan hidup bapak. Kenapa jadi sewot?"


"Pria itu bukan laki-laki baik."


"Saya tidak peduli. Sekalipun dia pembunuh."


"Jika aku mengatakan satu hal rahasia. Apa kau akan percaya?"


"Tergantung." balas Cahya langsung memutus kontak mata mereka.


"Asal kau tau. Dia adalah calon ayah dari bayi yang dikandung oleh seorang wanita." jelas Wira yang tidak menyebutkan siapa nama wanita itu.


Cahya langsung menatapnya cukup terkejut.


"Apa kau mau memisahkan calon bayi dan ayahnya? Dan aku beritahu sekali lagi. Tidak ada pria yang tidak menginginkan darah dagingnya sendiri meskipun dia itu seorang pembunuh. Bayangkan kalau kau ada di posisi bayi atau pria itu. Apakah kau mau dipisahkan dengan orang yang kau sayangi?"


Cahya menundukkan kepalanya. "Percuma, itu semua percuma kalau itu benar. Pertunangan itu akan terjadi." Cahya mengangkat wajahnya.


"Shitttt!!! Katakan, katakan apa masalahnya."


"Masalahnya itu ada di bapak. Bapak gak harus ikut campur urusan saya." Cahya memalingkan wajahnya ke samping. Jujur, ia bingung dengan situasi yang ia hadapi sekarang. Pertentangan antara hati dan logikanya membuatnya ingin sekali menghilang dari permukaan bumi.


.


.


.

__ADS_1


hanya teks jgn baper yah ges๐Ÿ˜‚๐Ÿคฃ


__ADS_2