
Setetes embun berjatuhan dari ujung daun. Bunyi kicauan burung kini terdengar, dan suara angin yang berhembus menerpa pepohonan besar.
Pagi itu Dena beserta Papanya dan Cahya menghabiskan waktu bersama dengan berjalan-jalan di sekitaran Villa. Cuaca dingin membuat Dena maupun Papanya memakai pakaian tebal, begitu juga dengan Cahya.
Mereka tampak mencoba berbaur dengan warga sekitar yang alhamdulillah orangnya ramah-ramah.
Tiba-tiba ada seorang wanita yang datang ke arah mereka. Penampilannya memang sopan, namun mereka tidak tau bagaimana sifat aslinya.
"Permisi. Kenalin nama saya Maya, anak kepala Dusun di sini. Kalian orang pendatang ya?" tanya wanita itu yang sekiranya seumuran dengan Cahya.
Wira yang memang sebagai orang tua merasa harus menanggapi itu, tidak nyaman kan kalau pendatang baru bersikap sombong.
Wira hanya mengangguk saja sambil memberikan senyuman yang dia bisa.
"Mas, ini adik-adiknya ya? Mas baik banget mau ajak saudaranya liburan ke sini. Kapan-kapan main ya ke rumah saya, barang kali tertarik." tawar wanita itu yang menyebut dirinya Maya.
Bahkan sebelum Wira menjawab pertanyaan itu, eh sudah diserobot lagi.
"Hai, Dek. Salam kenal ya? Panggil aja Kak Maya." sela Maya lagi sambil mengulurkan tangannya kepada Dena.
Dena hanya membalas jabatan tangan itu dengan sedikit ragu. Lalu setelah berkenalan dengan Dena, kini Maya berkenalan dengan Cahya yang berdiri tepat di samping Dena.
"Hai, kita pasti seumuran. Panggil nama aja. Nama kamu siapa?"
__ADS_1
"Cahya." jawab Cahya singkat sambil membalas jabatan tangan Maya dengan canggung.
"Owh, salam kenal, Cahya. Semoga betah liburan di sini." Cahya hanya mengangguk saja.
Dena memandang Maya dengan tatapan risihnya. Iya, gadis itu risih karena ada orang yang tiba-tiba datang dan bahkan dengan tidak tau malunya langsung memperkenalkan diri. Apalagi wanita itu menyebutnya sebagai adik dari Wira, Papanya sendiri.
"Maaf, dia anak saya." terang Wira membuat Maya memandangnya dengan tatapan tidak percaya.
"Anak? Padahal Mas masih muda loh. Masa udah punya anak sih? Apa dia anak hasil di luar nikah?" memang kalau dilihat dari mata telanjang, Wira tampak seperti pria yang baru berusia kepala dua. Wajahnya yang awet membuatnya selalu dikira anak muda, padahal umurnya sudah mencapai kepala tiga dan bahkan akan mencapai kepala empat. Bisa dikatakan Wira itu Om-om. Tapi, nyatanya dia adalah duda. Duda beranak satu.
Mendengar itu membuat dada Wira memanas. Dena, putri kesayangan dengan mendiang istrinya dulu kini dikatakan anak hasil hubungan di luar nikah dan lebih parahnya lagi itu dikatakan oleh orang asing yang baru saja mengenalkan dirinya.
Sedangkan Dena, matanya sudah memerah. Dia sama sekali belum pernah dikatakan seperti itu. Sementara itu, tampak Cahya mengelus pelan bahu Dena mencoba memberi kesabaran.
"Sayang, aku kita kembali ke villa." ucap Wira sambil menarik pelan tangan Dena setelah berkata seperti itu.
Maya di sana menggertakkan giginya geram. Bisa-bisanya laki-laki itu berkata seperti itu kepadanya.
"Maya, jangan membuat orang tidak nyaman dengan kehadiranmu. Sudahi kegilaanmu itu." seru seorang pria menasehati Maya. Ya, Maya. Wanita yang selalu membuat orang pendatang tidak nyaman dengannya. Apalagi pendatangnya adalah laki-laki.
"Papa gak pa-pa?" tanya Dena sedikit khawatir saat Papanya lebih banyak diam setelah kejadian itu.
Wira hanya memberikan senyum kepada putrinya.
__ADS_1
"Papa gak pa-pa, Sayang. Jangan khawatir. Masuk kamar gih! Istirahat." titah Wira yang dibalas anggukan pasrah oleh Dena.
Dena langsung kembali ke kamarnya setelah menemui Papanya di gazebo belakang. Mungkin laki-laki itu perlu ketenangan. Dia sedikit syok dan tidak terima tentunya. Dena putri kandungnya, darah dagingnya sendiri. Tapi, kenapa bisa orang dengan tidak tau sopannya langsung berkata hal yang menyakitkan baginya.
Setelah masuk ke kamar, Dena langsung menghempaskan bobot tubuhnya di atas kasur empuk. Lalu Cahya datang tiba-tiba dari arah pintu.
Wanita itu menemukan Dena yang termenung sambil memandangi langit kamar. Cahya langsung mendekat, kedatangan Cahya membuat Dena sedikit terkejut pasalnya saat dia memasuki kamar, kamar tersebut masih dalam keadaan sepi sementara Cahya tadi sempat pamit ke dapur sebentar.
"Jangan ambil hati ya omongan tadi?" Cahya memberanikan diri mengusap rambut Dena saat gadis itu sudah terduduk di atas kasur.
"Enggak kok. Dena cuma khawatir aja soal Papa. Papa pasti sedih denger omongan itu." balas Dena tanpa sabar merebahkan kepalanya di atas paha Cahya.
"Nanti Adek bisa lanjut lagi ngobrol sama Papa. Bujuk dia, ya?"
"Kak, apa nggak Kakak aja yang coba bujuk Papa? Kakak kan udah dewasa, pasti tau dong caranya." seru Dena membuat Cahya menghentikan pergerakan tangannya yang mengelus kepala Dena.
.
.
.
Hola ges, aku balik lagi nih😄semoga masih ada yang stay ya? Maafin aku yang udah lama gak update karna memang lagi males plus cape jadi nyatu😁Oke, novel ini bakal aku lanjutin. Makasih buat yang masih stay di sini nungguin aku 😍😍🥰🥰
__ADS_1