
Dena tampak berbaring di paha sang bunda. Sesekali gadis itu menciumi perut Cahya yang sudah tampak membesar di kehamilannya yang sudah memasuki bulan ke-lima.
"Bun, ini cewek atau cowok?" tanya Dena mengelus pelan perut Cahya.
"Tanya aja langsung cewek atau cowok." bukannya menjawab, Cahya meminta putrinya untuk menanyakan langsung.
"Heemmmm... Dena mau cewek."
"Kenapa gitu?" Cahya memandang bingung.
"Biar ada temennya." jawab Dena kemudian merubah posisinya menjadi telentang.
"Kalau cowok kan bisa temenan juga."
"Beda atuh, Bun. Kalau cewek tuh bisa diajak shopping dan segala macem. Beda kalo cowok, paling mah nakal."
"Kalo dedeknya cowok gimana?"
"Gak apa-apa. Yang penting sehat."
"Perbedaan umur kalian itu cukup jauh. 18 tahun, Bunda gak ngebayangin kalau nanti mereka besar. Pasti orang-orang ngira kalau itu anak kamu."
"Enggak apa-apa deh. Bila perlu nanti Bunda kasih aku 3 adik." mendengar itu membuat Cahya mendelikkan matanya.
"Becanda, Bun. Pokoknya nanti sedikasihnya aja. "
"Kamu jadi berangkat minggu depan?"
"Jadi dong." balas Dena langsung bangkit dari posisinya.
"Bunda pasti kangen." ujar Cahya menatap sang putri sendu.
"Kalo kangen, Bunda nyusul aja ke sana. Sekaliam tinggal di sana nemenin Dena."
"Papa gimana?"
"Biarin lah. Orang udah gede juga."
"Apa-apaan heh! Masa Papa mau ditinggalin sendirian di sini?" seru Wira menyadarkan keduanya. Dena langsung menatap papanya dengan wajah tengilnya.
"Bunda itu punya Dena. Dena duluan yang dapetin Bunda. Inget gak pas dulu Papa gak di kasih restu sama Oma? Nah! Di situ Dena tuh yang luluhin hati Oma."
"Iya, iya. Tapi, yang nikahin Bunda kan Papa? Masa kamu yang ambil."
"Kan udah Dena bilang tadi, Bunda itu punya Dena. Papa bandel sih. Dulu pas pertama kali ketemu aja Dena pertama yang kenalan. Papa mah belakangan. Sok-sokan jutek-jutekan. Ujung-ujungnya bucin akut. Siapa lagi kalo bukan Papa." sindir Dena begitu menohok.
"Tapi--" perkataan Wira terpotong saat istrinya menaruh telunjuknya tepat di depan bibirnya.
"Bunda punya kalian. Jangan berantem, nih dedeknya denger kalau Kakak dan Papanya berantem." lerai Cahya yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah kenakan-kanakan di antara keduanya. Bahkan mereka tidak ada yang mau mengalah satu pun.
"Tuh! Dengerin! Wlekkk..."
"Ampun nih bocah." Wira yang gemas langsung menarik tubuh Dena dan mengapit kepala gadis itu di ketiaknya.
"Mau ngelawan lagi, haaa?"
Dena menganggukkan kepalanya.
"Aduh duhh duhhh!!" Wira meringis kala lengannya digigit oleh putrinya sendiri.
Begitu terlepas dari cengrakaman papanya, Dena langsung berhamburan memeluk sang bunda. Seolah-olah mengatakan bahwa wanita itu miliknya.
"Dedek, jangan nurutin kelakuan Papa ya? Turutin aja kakak yang baik ini." Dena berbisik tepat di depan perut Cahya.
"Kedua-duanya jangan. Ini anak Bunda, jelas mirip Bunda." ucap Cahya memancing keduanya.
Dena langsung melirik papanya yang kebetulan juga melihatnya. Alisnya turun naik seolah meminta untuk bekerja sama. Lalu, keduanya langsung memandang Cahya dengan sebuah senyum smirk.
"Bundaaaa..." sontak keduanya langsung berhamburan memeluk Cahya dan memberikan ciuman bertubi-tubi di pipi wanita itu hingga membuat Cahya kelabakan.
"Bwahahahhahahaa..."
Dua pelakunya hanya bisa tertawa puas begitu berhasil dengan rencana yang begitu dadakan itu.
•••
"Bundaaaaa, Dena pamit dulu yaa?" teriak Dena dari lantai bawah.
"Jadi keluarnya?" Cahya muncul dari dapur membuat Dena menyengir karena ia kira sang bunda berada di dalam kamar.
"Jadi, itu Arel udah ada di depan."
__ADS_1
"Gak disuruh masuk?"
"Enggak, hehe. Ini udah mau berangkat kok."
"Huumm..."
"Emangnya udah yakin?" lanjut Cahya.
Dena menganggukkan kepalanya.
"Ya udah kalau itu mau kamu. Hati-hati berangkatnya."
"Siap, Bundaaa." Dena mengangkat tangannya hormat.
"Sana, keburu malam nanti."
"Iya, Bunda." jawab Dena lalu mencium singkat pipi bundanya dan mengalami tangan wanita itu.
"Eitsss... jangan kasih tau papa. Oke?"
"Oke." Cahya menunjukkan jarinya membentuk huruf O. Ada-ada saja tingkah gadis itu.
"Rel." panggil Dena begitu sampai di depan rumahnya. Pemuda itu langsung tersadar dari lamunannya.
"Udah?" tanya Fairel memastikan.
"Udah kok, mumpung gak ada papa."
"Ayok!" Fairel langsung memberikan helm cadangannya kepada Dena lalu langsung dipakai oleh gadis itu.
"Kita ke pasar malam waktu itu?" tanya Dena saat mereka dalam perjalanan.
"Iya, lo gak suka?" Fairel menaikkan sedikit suaranya karena berlawanan dengan angin.
"Suka kok. Nanti pas pulang mampir di toko kue ya? Gue mau beli cake."
"Oke."
Setelah berkendara selama beberapa saat, akhirnya mereka sampai di pasar malam. Pasar malam sama seperti dulu, namun, diadakan di tempat yang berbeda dari sebelumnya.
"Rel, lo inget ini nggak? Pas dulu kita naik, dan lo mual-mual."
"Jujur aja sih, Rel. Gak usah malu gitu. Gue tau kok lo malu." Dena menundukkan sedikit kepalanya, namun, matanya melihat Fairel tengil.
"Apasih." Fairel melongos meninggalkan Dena di tempatnya.
Begitu menyadari Fairel tidak ada di dekatnya, Dena segera menyusul pemuda itu dengan sedikit berlari.
"Rel, Rel."
"Hmmm, apa?" jawab Fairel.
"Ada yang pengen gue omongin."
Fairel menghentikan langkahnya sejenak.
"Ngomong aja langsung." balas Fairel lalu melanjutkan langkah kakinya.
"Rel." Dena mencekal tangan pemuda itu membuat Fairel tertahan.
"Kenapa?" tanya Fairel bingung.
"G- gue---"
"Gue tau. Besok ulang tahun lo yang ke-18 kan?" potong Fairel sebelum Dena melanjutkan perkataannya.
"Lo mau kado apa?"
Dena menggelengkan kepalanya pertanda itu bukanlah apa yang ingin ia sampaikan. Tangannya masih mencekal lengan baju Fairel.
"Terus?" melihat Dena terdiam membuat Fairel mengira bahwa gadis itu ingin segera menaiki wahana permainan. "Udah, nanti aja ngomongnya. Keburu larut malam ntar." tangannya langsung menarik tangan Dena, membawanya ke area wahana permainan.
Sementara itu Dena tampak terdiam. Seperti menahan sesuatu yang ingin ia utarakan, tapi, tubuhnya berkata lain. Ia hanya pasrah saat Fairel membawanya naik ke wahana kincir angin. Tatapan Dena kosong, pikiran dan hatinya berada di tempat yang berbeda.
"Indah kan pemandangan dari atas?" ujar Fairel sambil menunjuk ke arah bawah.
Dena hanya mengangguk.
"Gue pengen bilang, Rel. Tapi, gue takut dengan hari esok. Apa gue bisa kemana-mana sama lo? Seperti sekarang?"
Ingin sekali Dena mengutarakan, namun, itu semua tertahan akan ketakutan. Ketakutan yang membuatnya enggan dan ragu untuk menyampaikan.
__ADS_1
Fairel menolehkan kepalanya menatap Dena, namun, gadis itu masih melamun. "Kenapa? Lo gak suka naik ini?" tanya Fairel membuyarkan lamunan Dena.
Secepat mungkin gadis itu merubah ekspresinya menjadi tersenyum. "Suka kok. Cuaca dingin ya?" jawabnya tersenyum berusaha mengalihkan tapi pembicaraan.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah turun dan bahkan menaiki wahana lainnya. Keduanya berdiri di depan sebuah penjual kopi sambil menunggu pesanan.
"Lo banyak melamun. Ada apa?" tanya Fairel.
Denah mengeratkan jaket Fairel di tubuhnya. Sebelumnya jaket itu Fairel berikan saat mereka berada di atas wahana kincir angin.
Dena menggelengkan kepalanya seraya menampilkan senyum. "Gue lagi mikirin besok, katanya lo mau ngasih gue kado?"
"Bentar." ucapnya karena darinya harus mengambil pesanan kopi mereka. Lalu, pemuda itu kembali lagi setelah membayar. "Apa yang lo bilang tadi" tanya Fairel.
"Katanya lo mau ngasih gye kado?" ulang Dena dengan pertanyaan yang sama.
"Rahasia." jawab Fairel. "Ini!" ia memberikan satu gelas cup kopi berukuran sedang.
"Langsung pulang aja ya? Udah larut soalnya, takut lo dicariin."
Keduanya berjalan beriringan mejauhi area wahana permainan.
"Rel. Ada yang mau gue omongin." ucap Dena akhirnya memberanikan diri.
"Apa?" tanya Fairel menoleh dengan kedua alis terangkat serta memicingkan matanya.
"Sebelumnya gue mau ucapin terima kasih karena lo selalu nemenin gue kemanapun gue mau Makasih juga karena udah ngasih gue semangat."
Fairel menganggukkan kepalanya mendengar penuturan dari Dena. "Gue juga mau minta maaf kalau punya banyak kesalahan. Sebelum gue berangkat ke Paris minggu depan. Gue cuma mau bilang sesuatu yang selama ini ingin gue omongin."
"Mungkin selama ini lo selalu nganggap kita itu sebagai 'sahabat. Tapi, asal lo tau, gue gak nganggap kalau kita hanya sahabat."
"Maksudnya?" Fairel memandang Dena bingung.
"Gue suka sama lo."
Dena memberanikan diri untuk menatap bola mata Fairel. Menunggu reaksi pemuda itu. Dena mengungkapnya perasaannya. Gadis itu sudah berhasil melewati satu tantangan terbesar di hatinya.
Deg
Jantung Fairel berdetak cepat dengan tiba-tiba. Fairel tertegun sempurna. Ia membalas tatapan mata Dena. Alhasil kedua netra mata mereka bertaut. Saling menyelami perasaan satu sama lain.
Namun, seperdetik kemudian terdengar kekehan kecil dari Fairel. "Hahaha... jelas lo suka sama gue. Kalo lo gak suka, mana mungkin kita temenan."
"Enggak! Bukan itu maksud gue!" bela Dena berharap Fairel mengerti.
"Terus?"
"Gue suka sama lo, Rel!" tutur Dena.
"Gue juga suka..." awalnya mata Dena berbinar terang. Namun, semua harapannya langsung runtuh kala Fairel melanjutkan perkataannya. "Sebagai sahabat. Gue suka lo... sebagai sahabat." tekan Fairel.
Kedua bola mata Dena sudah berkaca-kaca. Bayangan Fairel mengucapkan kata "sahabat" selalu terngiang-ngiang jelas di telinganya.
"Udah ah! Kenapa jadi gini? Oh ya, masih ada waktu buat lo jalan-jalan sebelum berangkat ke Paris. Selama seminggu ini gue bakal anterin lo kemanapun lo mau."
"Owh. Oke."
Hati Dena kecewa. Andai waktu bisa diputar, ia akan memilih untuk tidak mengungkapkan isi hatinya. Kalau sudah begini kan kacau. Nasi sudah menjadi bubur. Kayu sudah menjadi arang.
"Gue ke sana duluan." Dena menunjuk parkiran. Meninggalkan Fairel yang mematung sempurna di tempatnya. Gadis itu berusaha tersenyum. Menutupi kekecewaan hatinya. Berusaha untuk tidak meneteskan air mata. Dadanya sesak, matanya seakan penuh oleh genangan air mata.
Fairel memandang Dena sendu. "Gue takut. Gue hanya takut. Gue belum berani. Maaf, Na... gak seharusnya lo jatuh cinta dengan cowok seperti gue." lirih Fairel sembari menarik nafas dalam. Dadanya tiba-tiba perih dan mendidih panas.
Malam itu adalah malam yang sangat gelap bagi Dena dan Fairel. Mereka berusaha untuk saling menguatkan hati. Berusaha menahan tetesan air mata agar tidak tumpah.
Namun, semuanya gagal. Air mata mereka tidak tertahankan lagi. Jatuh, mereka jatuh bersamaan dengan turunnya rintik hujan. Rintik-rintik itu kecil, lalu disusul dengan jatuhnya hujan deras, mengalahkan rintik kecil itu dalam sekejap. Tapi, kenyataannya berbeda. Justru hujan lebatlah yang kalah oleh rintik kecil. Hujan lebat akan reda, namun, rintik kecil belum tentu tiada.
Luka dan kecewa menyatu sempurna. Berusaha menerima kenyataan yang begitu menyakitkan. Berusaha melupakan namun gagal dalam ingatan.
.
.
.
wuiss bagus tak puisi dariku🤣🤣sesuatu janji, ini novel bakal aku tamatin pas di bab 105. Berarti besok ya🤫🤫atau ga nanti malam aku ketik kalau ga ketiduran ya kayak semalam 🤣
btw ini naskah kerja 2 kali loh. Pertama aku tulis langsung pake tangan di buku🤣trus aku ketik ulang.
Happy Reading yah🥰 Maaf nanti kalau di lapak ini mengecewakan. Tapii, kalian gak usah kecewa. Karena aku bakal bikin lanjutan kisah mereka di judul dan cerita yang berbeda tentunya. Nanti di bab akhir bakal aku share judul dan sinopsisnya 😉
__ADS_1