Jodohku Di Kampung Kakek

Jodohku Di Kampung Kakek
Bab 71


__ADS_3

Jauh-jauh hari Dena sudah merencanakan hang out bersama orang terdekatnya yaitu Dewi dan Fairel. Sengaja Dena tidak mengajak sang papa karena Dena memilih memberikan waktu liburan papanya bersama Jihan. Ya, hubungan Dena dan Jihan terjalin dengan cukup baik. Dena juga cukup menangkap kesan baik dari sisi Jihan, tidak ada sifatnya yang berpura-pura jahat.


Setelah beberapa hari merencanakan hang out, akhirnya hari ini tercapai juga setelah banyaknya halangan dan sibuknya kehidupan mereka masing-masing.


Tampak Dena dan Dewi tengah bersiap-siap sambil menunggu Fairel datang lalu mereka akan berangkat bersama


"Kurang satu, Wi. Harusnya kamu ngajak Ridwan buat ikutan juga." celetuk Dena sambil membenahi poninya.


Dewi langsung menatapnya protes. "Ngapain ngajak orang luar. Yang ada nanti malah kacau." balas Dewi mencibikkan bibirnya karena Dena selalu mengodanya.


"Iya deh iya." Dena hanya mampu menahan senyumnya karena menurutnya respon Dewi sangat lucu.


Dewi tampak mengecek ponselnya setelah terdengar suara notifikasi pesan masuk. "Eh, eh! Kita ke depan yuk? Katanya Arel udah deket." kata Dewi memberitahu.


"Iya, duluan aja. Aku mau pamit sama papi bentar. Kayaknya mereka masih ada di bawah deh." sahut Dena.


"Oke, jangan lama." Dewi pun beranak keluar meninggalkan Dena yang membereskan tasnya.


Setelah Dewi keluar, Dena juga ikut keluar. Ia menuruni anak tangga perlahan sekaligus untuk berpamitan kepada papanya.


Setelah berjalan menuju ruang tamu, tidak ada tanda-tanda keberadaan sang papa dan Jihan. Dena berjalan lagi menuju kamar papanya. Untuk kedua kalinya ia tidak menemukan keberadaan Wira. Padahal gadis itu sudah capek-capek naik turun tangga. Entah kenapa feeling Dena saat ini tertuju pada gazebo belakang rumahnya yang berdekatan dengan kolam renang.


Setelah perjuangan yang cukup melelahkan, akhirnya Dena menemuka sang papa yang tengah mengobrol serius dengan Jihan. Dengan langkah pelan dan pasti, gadis itu mendekati keduanya tanpa menimbulkan suara. Samar-samar Dena mendengar percakapan serius antara Wira dan Jihan.


"Sekarang aku bingung mau gimana lagi, Mas."


"Kenapa dari awal gak kepikiran oleh kamu, Jihan. Waktu akan cepat berjalan, dan lama-kelamaan kabar tentang kehamilanmu akan tercium juga."


Bruk


Dena spontan menjatuhkan tasnya, padahal ponselnya belum ia masukkan ke dalam tasnya. Jantungnya berdebar kencang. Genangan air di matanya langsung mengembun membuat pandangannya kini kabur terhalang oleh genangan air matanya.


Sontak kedua orang yang tengah mengobrol serius itu langsung terkejut saat mereka tidak sengaja menangkap sebuah suara yang cukup jelas di telinganya.

__ADS_1


"S-sayang..." gagap Wira terbata saat melihat kehadiran Dena di belakang mereka. Pria itu bergegas mendekati putrinya yang tampak syok. Apakah Dena mendengar semua obrolan mereka? Jika iya, tamatlah riwayatnya.


"K-kenapa ada di sini, hm?" tanya Wira berusaha mengalihkan perhatian Dena. Namun, tampaknya Dena termenung dengan tatapan kosongnya.


"I-ini... ini semua gak bener kan, Pa? Dena salah denger kan?" lirih Dena seperti kehilangan arah.


Deg


Jantung Wira langsung berdetak kuat dengan tiba-tiba. Jadi, Dena mendengar semuanya? Jihan? Kehamilannya?


"Enggak, Sayang. Papa bisa jelasin semuanya ke kamu." bujuk Wira mencoba meraih tangan Dena. Tapi, secepat mungkin gadis itu menepisnya.


Tatapan penuh luka Dena tancapkan di kedua bola mata Wira. Sehingga pria itu merasakan sakit dan sesak di dadanya. Tatapan itu adalah pertama kalinya Dena perlihatkan.


Sebuah senyuman kecut Dena perlihatkan kepada dua orang di hadapannya saat ini. Terutama kepada pria yang selama ini menyayangi dan melindunginya segenap hati hingga gadis itu merasa dipenuhi akan cinta oleh seorang pria. "Dena kecewa sama papa." ujar gadis itu lemah.


"Demi Allah. Papa bisa jelasin semuanya." bujuk Wira dibalas gelengan kepala oleh Dena.


Hati Dena terasa hancur berkeping-keping hingga ke dasarnya. Ia tidak tahan lagi untuk membendung air matanya. Dengan gerakan cepat, gadis itu langsung melarikan diri.


"Sayang, papa bisa jelasin semuanya." teriak Wira berusaha mengejar putrinya.


Namun, sebuah tarikan di lengannya membuat pria itu menghentikan langkahnya. "Berikan Dena waktu. Dia pasti sangat syok. Ini semua salahku, Mas. Andai aja aku gak hadir di kehidupan kalian. Mungkin, kejadian ini gak bakalan terjadi."


"Syuttt. Kamu gak boleh ngomong gitu. Ini semuanya udah takdir. Aku sayang sama kamu. Kita cari jalan keluarnya sama-sama." mengucapkan kata sayang? Wira bahkan tidak merasakan hatinya bergetar seperti dulu saat ia mengucapkan kata-kata sayang kepada mendiang istrinya. Mungkin pria itu hanya menganggap Jihan sebagai seorang adik yang harus ia lindungi.


Sementara itu Dena langsung berlari cepat keluar dari dalam rumahnya. Ia bahkan mengabaikan pertanyaan-pertanyaan dari pada pelayan rumahnya. Dena sungguh sakit hati. Ia tidak terima.


"Eh! Na, mau ke mana?" teriak Dewi yang berada di luar pintu sambil menunggu kedatangan Fairel. Dan saat itu juga suara motor berhenti tepat di depan gerbang. Lalu, muncullah Fairel yang datang bersama ojek yang ia tumpangi.


Dena mengabaikan teriakan Dewi. Ia terus berlari cepat keluar dari kawasan rumahnya. Namun, saat berada tepat di gerbang rumahnya, tangannya langsung dicekal oleh seseorang yang Dena tidak tau ia siapa. Air matanya sudah mengalir deras. Ia sangat bingung, ia bingung mau belari ke arah mana. Hatinya sangat kacau.


"Na." panggil Fairel dengan suara bassnya. Pemuda itu bingung saat melihat Dena tiba-tiba keluar dari rumahnya dan berlari cepat. Bahkan teriakan Dewi saja sampai gadis itu abaikan.

__ADS_1


Mendengar suara yang tidak asing di telinganya, gadis itu segera mendongakkan kepalanya. Kucuran deras air matanya mengalir melewati kedua pipinya.


"Kenapa?" tanya Fairel khawatir saat melihat gadis itu menangis yang belum ia ketahui penyebabnya apa.


"Hiksssss..."


Dena kembali menangis deras. Bahkan sekarang ia tidak segan lagi untuk mengeluarkan suaranya saat menangis.


Greppp


Dena langsung memeluk tubuh Fairel dan mendekapnya cukup erat. Sedangkan Fairel saat ini langsung mematung, ia cukup terkejut dengan Dena yang tiba-tiba memeluknya sangat erat. Bahkan, perlahan ia merasakan baju kaos hitam yang ia kenakan perlahan basah.


Kebetulan saat itu Dewi sudah berada di belakang Dena. Fairel menatap sepupunya dengan tatapan penuh tanda tanya. Dewi yang memang tidak tau kenapa langsung mengangkat kedua bahunya ke atas.


"Ya udah, masuk ke dalam aja ya?" bujuk Fairel langsung mendapatkan gelengan kuat oleh Dena.


"K-kelu-ar..." ucap Dena terbata. Bahkan ia tidak melepaskan pelukannya. Sekarang adalah kali keduanya Dena memeluk Fairel. Yang pertama dulu saat mereka berada di kampung, saat itu Fairel bertengkar dengan anak desa sebelah hingga menimbulkan bentrokan diantara keduanya.


"Wi." panggil Fairel pelan.


"Ga tau gue. Tiba-tiba dia keluar udah mewek gitu." bisik Dewi yang masih terdengar.


"Na, gak malu apa diliatin orang gini?" ujar Fairel mencoba melepaskan pelukannya. Di sisi lain, Fairel merasakan hatinya yang seperti berjedagjedug tidak karuan. Fairel menahan gugupnya saat pelukan Dena kini malah semakin erat.


"Bawa keluar aja, Rel. Kita naik taksi." ujar Dewi yang mendapat anggukan kepala oleh Fairel. Dewi berpikir kalau Dena saat ini tengah bertengkar bersama papanya. Karena sebelum ia keluar tadi, Dena sempat berkata akan menemui papanya untuk berpamitan. Dan Dewi menduga itu adalah alasannya.


.


.


.


gimana konfliknya suka ga? atau malah kurang nyambung wkwk

__ADS_1


__ADS_2